Tiga bulan aku hamil ketika aku sendiri yang memutuskan hubungan dengan tunanganku yang kaya raya di Jakarta.

Dia duduk di ruang tamu penthouse mewahnya di kawasan SCBD, mengernyit sambil menatapku seolah aku hanya sedang mencari perhatian.

— Apa lagi yang kamu pikirkan, Alina?

Perlahan aku meletakkan hasil USG di atas meja.

— Tidak ada. Aku hanya tidak ingin menikah lagi.

— Hanya karena Mama bilang kehamilanmu jangan diumumkan dulu ke publik?

Aku mengangguk pelan.

— Iya.

Gabriel Wijaya langsung memijat pelipisnya.

— Aku sudah bilang, Mama hanya memikirkan dampaknya terhadap perusahaan. Setelah pesta pertunangan kakakku selesai, baru kita umumkan. Apa semua hal harus kamu besar-besarkan?

Aku menatap pria yang kucintai selama enam tahun.

Pria yang semalam masih memelukku.

Tetapi juga pria yang membiarkan ibunya memperlakukan bayi dalam kandunganku seolah sebuah skandal.

Aku tersenyum pahit.

— Aku tidak membesar-besarkannya. Aku hanya lelah.

Belum sempat dia menjawab, ponselnya berdering.

Asistennya menelepon.

Dia berdiri dan langsung mengangkat telepon di depanku.

— Baik, pesan saja resort di Bali… pastikan kamarnya menghadap laut.

Setelah menutup telepon, dia menatapku.

— Akhir pekan ini aku harus ke Bali.

Dengan suara pelan aku bertanya:

— Dengan siapa?

Dia terdiam sesaat.

— Serena baru kembali ke Indonesia. Kondisinya sedang tidak baik. Aku hanya akan menemaninya berlibur.

Serena Hartono.

Teman masa kecilnya.

Putri dari rekan bisnis lama keluarga Wijaya.

Baru tiga bulan sejak dia kembali dari Amerika setelah perceraiannya.

Dan sejak saat itu, dia selalu berada di sekitar Gabriel.

Aku memegang perutku.

Gabriel tidak tahu…

Aku tidak mengandung satu bayi.

Melainkan bayi kembar.

Diam-diam aku menelepon bibiku di Kanada.

— Tante… bisakah Tante membantu aku pergi ke Vancouver secepat mungkin?

Dia terdiam.

— Kamu sudah yakin?

Aku melirik Gabriel yang sibuk membalas pesan Serena.

— Ya, Tante.

— Bagaimana dengan ayah anak-anak itu?

Aku mengusap perutku perlahan.

— Mulai sekarang… dia tidak ada hubungannya lagi dengan kami.

Pukul sepuluh malam ketika Gabriel pulang.

Begitu masuk, dia langsung melihat koper di samping pintu.

— Kamu mau ke mana?

— Aku ingin menjauh dari Jakarta untuk sementara.

— Kamu masih marah soal Bali?

Aku tidak menjawab.

Dia melepaskan jam tangannya dan mendekat untuk memelukku.

Aku mundur.

Dia mengernyit.

— Alina, bisakah kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan?

— Aku yang kekanak-kanakan?

— Serena baru saja bercerai. Keadaannya tidak baik. Aku hanya menganggapnya sebagai teman.

— Perlu memesan resort mewah di Bali untuk seorang teman?

— Kamu memeriksa ponselku?

— Aku mendengarnya sendiri.

Dia menghela napas panjang.

— Baiklah. Maaf kalau aku tidak memikirkan perasaanmu. Tapi aku juga berharap kamu bisa mengerti aku.

Aku tertawa kecil.

— Seperti Serena yang mengerti kamu?

Dia tampak terdiam sesaat.

Saat itu juga ponselnya kembali berdering.

Nama Serena muncul di layar.

Dia menatapku sebelum berkata:

— Dia masih belum bisa tidur sejak bercerai. Aku hanya akan menjawab teleponnya sebentar.

Dia keluar ke balkon.

Meskipun pintu kaca tertutup, aku masih bisa mendengar suaranya yang lembut.

— Ada apa lagi? Kamu menangis lagi?

Aku berdiri lama di ruang tamu.

Lalu diam-diam menarik koper keluar.

Saat pintu lift menutup, ponselku bergetar.

Pesan dari Serena.

“Halo Kak Alina, aku memasakkan bubur seafood untuk kalian. Gabriel bilang Kakak sulit makan karena sedang hamil. Aku titipkan di lobi ya.”

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Lalu memblokir nomornya.

Keesokan harinya, saat mengurus visa di Jakarta Selatan, ibu Gabriel menelepon.

Suaranya dingin.

— Alina, apakah kamu sedang menekan Gabriel?

Aku tersenyum pahit.

Sampai sekarang pun, dia tidak pernah memperlakukanku sebagai bagian dari keluarga.

— Saya tidak menekannya.

— Kalau begitu kenapa kamu pergi?

— Karena saya ingin mengakhiri semuanya.

— Jangan berpikir hanya karena kamu hamil, kamu bisa melakukan apa saja sesukamu.

Aku menggenggam map dokumenku erat.

— Saya tidak pernah menggunakan anak-anak ini untuk memanipulasinya.

— Tapi kamu mempermalukan keluarga kami. Pengumuman pertunangan akan segera dirilis media. Kalau kamu menghilang sekarang, apa kata orang?

Aku tertawa pelan.

Sampai saat ini…

Yang dia pikirkan tetap reputasi keluarga Wijaya.

Bukan aku.

Bukan juga anak-anak ini.

Aku menutup telepon.

Begitu keluar dari pusat visa, sebuah Mercedes hitam berhenti di depanku.

Pintunya terbuka.

Dan Serena turun.

Dia mengenakan gaun putih, anggun seperti perempuan sosialita Jakarta pada umumnya.

Di tangannya ada tas makanan hangat.

— Kak Alina.

Aku menatapnya dingin.

— Ada apa?

— Aku hanya khawatir. Gabriel bilang Kakak pergi dari rumah. Aku membawakan sup.

— Tidak perlu.

Dia tetap tersenyum.

— Jangan marah pada Gabriel lagi. Tadi malam dia bahkan berada di apartemenku sampai hampir jam tiga pagi karena sangat mengkhawatirkan Kakak.

Aku terdiam.

Dia buru-buru menutup mulutnya.

— Maaf… aku tidak seharusnya mengatakan itu…

Aku menatapnya lama.

Lalu bertanya perlahan:

— Serena… kamu mencintainya, bukan?

Senyumnya menghilang sesaat.

Namun segera dia menunduk seolah mengasihani dirinya sendiri.

— Aku hanya tidak ingin melihatnya terluka.

— Benarkah?

— Kak Alina… pasti Kakak tahu kalau keluarga Wijaya sejak dulu berharap aku dan Gabriel bersama…

Aku menggenggam hasil USG di dalam tas.

Tiba-tiba aku memahami semuanya.

Sejak awal…

Akulah orang yang tidak pernah benar-benar termasuk dalam dunia mereka.

Serena mendekat dan berkata pelan.

— Kalau Kakak benar-benar mencintainya… Kakak juga harus mengerti tekanan yang dia hadapi.

Aku tersenyum pahit.

— Kamu benar.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka foto hasil USG bayi kembar itu.

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

Lalu menghapusnya.

Serena sempat melihatnya dan wajahnya langsung berubah.

— Kamu hamil?!

Aku tidak menjawab.

Dia segera memegang lenganku.

— Gabriel tahu?

Tepat saat itu, ponselnya berdering.

Aku melihat nama yang muncul di layar.

“Mama Wijaya”

Serena langsung pucat dan buru-buru hendak menolak panggilan itu.

Namun sudah terlambat.

Aku sudah melihatnya.

Perlahan aku menatapnya.

Dan pada saat itu…

Aku akhirnya mengerti semuanya.

Serena dan ibu Gabriel ternyata sudah lama berhubungan.

Mungkin bahkan lebih lama daripada hubungan aku dan Gabriel.

Saat Serena melihat tatapanku, wajahnya semakin pucat.

Belum sempat dia berbicara, ponselku mulai berdering tanpa henti.

Gabriel.

Satu panggilan.

Dua.

Sepuluh.

Dan pesan terakhirnya berbunyi:

“Alina, kamu di mana? Serena bilang kamu sudah tahu semuanya. Angkat teleponku sekarang juga!”

Pada saat yang sama…

Di seberang jalan, Gabriel turun dari Porsche hitamnya di tengah hujan deras Jakarta.

Dia melihat lembar hasil USG di tanganku.

Dan tepat pada detik itu…

Angin kencang menerbangkannya ke tengah jalan.

Baca kelanjutan cerita di bagian komentar. Pada kolom komentar, pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat lanjutan kisahnya… 👇

Gabriel berlari menerobos hujan tanpa mempedulikan pakaiannya yang basah kuyup.

Lembar hasil USG itu sudah berada di tengah jalan.

Tanpa ragu, dia mengejarnya.

Namun sebelum sempat meraihnya, sebuah mobil melintas dan membuat kertas itu terhempas ke trotoar seberang.

Gabriel mengambilnya dengan tangan gemetar.

Detik berikutnya, wajahnya memucat.

Di bagian bawah hasil pemeriksaan itu tertulis jelas:

“Kehamilan kembar.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Kembar.

Alina mengandung dua anaknya.

Dan dia sama sekali tidak mengetahuinya.

Matanya langsung mencari sosok Alina.

Namun wanita itu hanya berdiri diam di bawah halte, menatapnya dengan mata yang sudah kehilangan harapan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gabriel merasa benar-benar takut.

Bukan takut kehilangan perusahaan.

Bukan takut pada ibunya.

Tetapi takut kehilangan wanita yang selama ini selalu berada di sisinya.

Ia berlari mendekat.

“Alina… kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Air hujan bercampur dengan air mata di wajah Alina.

“Aku mencoba memberitahumu berkali-kali.”

Suara wanita itu terdengar tenang.

Terlalu tenang.

“Setiap kali aku membutuhkanmu, kamu memilih orang lain.”

Gabriel membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Karena untuk pertama kalinya, dia sadar bahwa Alina benar.

Selama ini dia selalu meminta Alina mengerti dirinya.

Tetapi tidak pernah benar-benar berusaha memahami Alina.

Saat itu juga, sebuah mobil berhenti di dekat mereka.

Seorang pria paruh baya turun dan memayungi Alina.

Pria itu adalah paman Alina yang datang untuk mengantarnya ke bandara.

Gabriel langsung memegang tangan Alina.

“Jangan pergi.”

Alina menatap tangan itu beberapa detik.

Dulu, sentuhan itu selalu membuatnya merasa aman.

Namun sekarang tidak lagi.

Perlahan ia melepaskan genggaman Gabriel.

“Aku pernah menunggumu memilihku.”

Suara Alina bergetar.

“Tapi sekarang aku memilih diriku sendiri… dan anak-anak kami.”

Untuk pertama kalinya, Gabriel menangis di depan banyak orang.

Namun Alina tidak menoleh lagi.

Dia masuk ke dalam mobil.

Dan pergi.


Dua tahun kemudian.

Vancouver.

Salju turun perlahan di luar jendela sebuah kafe kecil.

Alina sedang membantu putranya menyusun balok mainan sementara putrinya tertidur di pangkuannya.

Hidupnya tidak sempurna.

Tetapi damai.

Dan itu lebih dari cukup.

Saat ia sedang tersenyum melihat kedua anaknya, seseorang berdiri di depan meja.

Alina mengangkat kepala.

Gabriel.

Pria itu tampak jauh berbeda.

Lebih dewasa.

Lebih tenang.

Tidak ada lagi kesombongan yang dulu melekat padanya.

Ia meletakkan sebuah amplop di atas meja.

“Aku tidak datang untuk memintamu kembali.”

Alina terdiam.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

“Terima kasih untuk apa?”

Gabriel tersenyum tipis sambil memandang kedua anak mereka.

“Karena kehilanganmu membuatku belajar menjadi manusia yang lebih baik.”

Ia menyerahkan amplop itu.

Di dalamnya terdapat dokumen yang menunjukkan bahwa ia telah mengundurkan diri dari posisi direktur perusahaan keluarga dan mendirikan yayasan pendidikan untuk anak-anak kurang mampu.

Hal yang dulu selalu ingin dilakukan Alina.

Tetapi tidak pernah didukung keluarganya.

Gabriel berdiri.

“Aku tidak berharap dimaafkan.”

Lalu ia menatap Alina untuk terakhir kalinya.

“Aku hanya berharap suatu hari nanti, ketika anak-anak bertanya tentang ayah mereka, kamu bisa mengatakan bahwa aku akhirnya belajar dari kesalahanku.”

Setelah mengatakan itu, dia pergi.

Alina duduk diam cukup lama.

Kemudian putrinya yang baru berusia dua tahun membuka mata dan bertanya dengan suara polos:

“Mama… itu siapa?”

Alina memandang ke arah pintu yang perlahan tertutup.

Lalu tersenyum.

Senyum yang akhirnya bebas dari rasa sakit.

“Itu seseorang yang pernah Mama cintai.”

Ia memeluk kedua anaknya erat-erat.

Di luar, salju terus turun.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alina menyadari satu hal:

Kadang-kadang akhir yang bahagia bukanlah mendapatkan kembali orang yang kita cintai.

Melainkan menemukan kembali diri sendiri yang pernah hilang karena terlalu mencintai seseorang.