Namun bahkan sebelum aku keluar dari bandara, sebuah telepon dari rumah sakit menghancurkan seluruh hidupku.
“Apakah Anda Ibu Isabel Wijaya? Kami masih membutuhkan tanda tangan ibu pada dokumen rumah sakit bayi yang ditangani oleh suami Anda.”
Duniaku seakan berhenti berputar.
Karena selama empat tahun aku menikah dengan suamiku…
Kami bahkan belum memiliki anak.
Namaku Isabel Wijaya.
Empat tahun lalu aku menikah dengan Dr. Rafael Pratama — seorang dokter spesialis jantung terkenal di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.
Setelah menikah, Rafael dipindahkan ke Surabaya sebagai kepala dokter di cabang baru rumah sakit tersebut.
Sementara aku tetap tinggal di Jakarta untuk merawat ibu mertuaku yang terkena stroke.
Setiap kali aku menelepon Rafael, jawabannya selalu sama.
— “Aku baru selesai jaga.”
— “Dokter di sini masih kurang.”
— “Kalau semuanya sudah stabil, aku akan membawamu ke Surabaya.”
Aku mempercayai semuanya.
Sampai hari itu tiba.
Aku baru saja mendarat di Bandara Internasional Juanda ketika rumah sakit menelepon.
Suara perawat di seberang terdengar sopan.
— “Apakah Anda Ibu Isabel Pratama?”
Aku tersenyum kecil.
— “Ya.”
— “Oh… ini mengenai dokumen persalinan pasien beberapa hari lalu. Kami masih membutuhkan tanda tangan ibu kandung bayi. Karena nama Anda dicantumkan oleh Dr. Rafael sebagai wali sah.”
Tubuhku langsung terasa dingin.
— “Dokumen… persalinan?”
Mungkin perawat itu mengira aku belum mengerti, sehingga ia segera menjelaskan.
— “Ya, Bu. Bayi laki-laki itu masih berada di ruang NICU sekarang.”
Dadaku terasa sesak.
— “Anda yakin tidak salah orang?”
Dengan cepat dia membacakan detailnya.
— “Ayah bayi: Dr. Rafael Pratama. Alamat: Jakarta. Wali ibu bayi: Isabel Pratama.”
Setelah itu, dia mengirim foto formulir rumah sakit.
Dan di sana aku melihat nama suamiku…
Tepat di bawah kolom “Ayah Bayi”.
Aku terpaku di tengah bandara.
Pengumuman penerbangan terus terdengar di sekitarku.
Namun aku tidak bisa mendengar apa pun.
Beberapa menit kemudian, aku langsung naik taksi menuju rumah sakit.
Di tengah perjalanan, Rafael masih sempat mengirim pesan.
【Sayang, ada operasi darurat. Kamu pulang saja dulu ke apartemen. Aku akan pulang malam nanti.】
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu tertawa.
Tawa yang jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.
…
Bangsal maternitas berada di lantai delapan.
Begitu pintu lift terbuka, aku langsung mendengar suara tawa.
Seorang wanita muda mengenakan gaun putih sambil memegang buket bunga.
Dia dikelilingi para perawat dan dokter muda.
Salah seorang dokter menggoda.
— “Sepertinya sebentar lagi jadi Nyonya Pratama sungguhan nih!”
Wajah wanita itu memerah.
— “Sudahlah, jangan bercanda.”
Orang lain ikut tertawa.
— “Siapa sih yang tidak tahu kalau Dokter Rafael sangat memanjakanmu?”
— “Setiap hari dia ada di bangsal maternitas.”
— “Bahkan kamar istirahatnya sekarang ada di lantai ini juga!”
Tawa mereka semakin keras.
Seluruh tubuhku perlahan membeku.
Dan kemudian aku mendengar…
Suara yang paling kukenal sepanjang hidupku.
— “Kenapa kamu keluar? Kamu baru saja melahirkan.”
Aku mengangkat kepala.
Rafael.
Di pelukannya ada seorang bayi.
Dan tatapannya kepada bayi itu…
Penuh kasih sayang.
Sementara salah satu tangannya…
Melingkar alami di pinggang wanita itu.
Napasanku terhenti.
Pria yang pernah berjanji akan mencintaiku seumur hidup…
Kini tampak seperti suami dan ayah yang sempurna di hadapanku.
Wanita itu menyandarkan kepala di bahunya.
— “Aku hanya ingin berfoto bersama mereka.”
Rafael tersenyum sambil menatapnya.
— “Baiklah. Setelah itu kita kembali ke kamar.”
Seseorang berteriak dari belakang.
— “Kapan kalian menikah?”
— “Anak kalian sudah lahir, lho!”
Rafael hanya tersenyum.
Dia tidak menyangkal.
Tidak juga menjelaskan.
Dan pada saat itu…
Hatiku benar-benar hancur.
Karena kalung perak yang dikenakan wanita itu…
Adalah hadiah yang kubelikan sendiri untuk Rafael saat ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.
Aku menghabiskan dua hari mencari hadiah itu di pusat perbelanjaan Jakarta.
Saat itu dia berkata bahwa itu adalah benda favoritnya.
Aku tidak pernah tahu…
Bahwa suatu hari hadiah itu akan diberikan kepada wanita lain.
Aku menggenggam tas begitu erat hingga tanganku gemetar.
Tiba-tiba seorang perawat melihatku.
— “Eh… siapa beliau?”
Rafael menoleh.
Dan ketika melihatku…
Senyum di wajahnya langsung menghilang.
Bayi di pelukannya mulai menangis.
Seluruh lorong mendadak sunyi.
Wanita itu memandangku.
— “Sayang… siapa dia?”
Rafael tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatapku.
Dan untuk pertama kalinya selama empat tahun pernikahan kami…
Aku melihat rasa takut di matanya.
Perlahan aku melangkah mendekat.
Aku melihat bayi dalam pelukannya.
Lalu wanita itu.
Kemudian aku mengeluarkan akta nikah kami yang sudah kusut dari dalam tas.
Aku berbicara dengan suara pelan.
Sangat pelan.
Namun cukup untuk membuat seluruh lantai terdiam.
— “Aku juga ingin bertanya…”
— “Siapa wanita yang memeluk suamiku itu?”
Baca kelanjutan cerita di bagian komentar. Pada kolom komentar, pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat lanjutan kisahnya… 👇

Seluruh lorong rumah sakit menjadi sunyi.
Wajah Rafael pucat pasi.
Sementara wanita yang berdiri di sampingnya menatapku dengan bingung.
“Apa maksudnya… suami?” tanyanya pelan.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menyerahkan surat nikah kami ke tangannya.
Beberapa detik kemudian, wajah wanita itu berubah.
Tangannya mulai gemetar.
“Aku… aku tidak tahu…”
Dia menoleh ke Rafael.
“Kau bilang sudah bercerai tiga tahun lalu.”
Rafael langsung membeku.
Dan pada saat itu, semua orang akhirnya mengerti.
Bukan hanya aku yang dibohongi.
Wanita itu juga.
Air mata mulai mengalir di wajahnya.
“Kau bilang istrimu meninggalkanmu…”
“Kau bilang kau hidup sendirian…”
“Kau bilang aku satu-satunya wanita yang kau cintai…”
Bayi di pelukan Rafael menangis semakin keras.
Namun tidak ada seorang pun yang bergerak.
Karena semua orang sedang menatap pria yang selama ini mereka kagumi.
Dokter hebat.
Dokter teladan.
Dan ternyata seorang pembohong.
Perceraian kami selesai enam bulan kemudian.
Rafael kehilangan banyak hal.
Reputasinya.
Kepercayaanku.
Dan keluarga yang selama ini diam-diam ia bangun dengan kebohongan.
Wanita itu pergi membawa anaknya dan pindah ke kota lain.
Sedangkan aku kembali ke Jakarta.
Aku menjual apartemen yang dulu kami beli bersama.
Lalu menggunakan uang bagianku untuk membuka sebuah pusat rehabilitasi jantung kecil.
Tempat yang sejak lama ingin kudirikan.
Tempat yang dulu selalu dianggap Rafael sebagai mimpi yang tidak penting.
Tiga tahun kemudian.
Pusat rehabilitasi itu berkembang menjadi salah satu klinik terbaik di Jakarta.
Hari itu aku sedang menghadiri acara peresmian gedung baru.
Para wartawan dan tamu undangan memenuhi aula.
Ketika acara hampir selesai, seseorang muncul di pintu masuk.
Rafael.
Untuk sesaat seluruh ruangan terdiam.
Dia terlihat jauh berbeda.
Lebih kurus.
Lebih tua.
Dan jauh lebih lelah.
Dia berjalan menghampiriku.
Lalu menyerahkan sebuah amplop.
“Aku tidak datang untuk meminta kesempatan kedua.”
Aku menerimanya tanpa bicara.
“Aku hanya ingin mengucapkan selamat.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat dokumen donasi.
Lima miliar rupiah.
Untuk membantu pasien kurang mampu di klinikku.
Aku menatapnya terkejut.
Rafael tersenyum tipis.
“Dulu kau pernah bilang bahwa dokter terbaik bukan yang paling terkenal.”
“Melainkan yang paling banyak membantu orang.”
“Aku menertawakanmu saat itu.”
Matanya memerah.
“Sekarang aku baru mengerti.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi merasakan marah.
Tidak juga sakit.
Yang tersisa hanyalah ketenangan.
Rafael menundukkan kepala.
“Aku kehilangan wanita terbaik dalam hidupku karena kebohonganku sendiri.”
“Tapi aku bersyukur setidaknya kau menemukan kebahagiaan yang pantas kau dapatkan.”
Setelah mengatakan itu, dia berbalik pergi.
Tanpa meminta maaf lagi.
Tanpa meminta untuk kembali.
Karena akhirnya dia mengerti.
Ada kesalahan yang bisa dimaafkan.
Tetapi ada kepercayaan yang sekali hancur, tidak akan pernah kembali utuh.
Malam itu aku berdiri di balkon gedung klinik.
Menatap lampu-lampu Jakarta yang berkilauan.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari ibuku.
“Apakah kamu bahagia sekarang?”
Aku tersenyum.
Lalu melihat ke dalam gedung.
Para pasien sedang tertawa bersama keluarga mereka.
Para dokter muda yang kubimbing sedang bekerja dengan penuh semangat.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Aku tidak lagi merasa kehilangan apa pun.
Aku membalas pesan itu singkat.
“Ya, Bu.”
“Sangat bahagia.”
Karena terkadang akhir yang paling indah bukanlah ketika seseorang kembali kepada kita.
Melainkan ketika kita akhirnya menyadari bahwa kita tidak lagi membutuhkannya untuk bahagia.