Dia memegang sebatang rokok.
Di sampingnya ada seorang sekretaris muda.
Dan di tanganku ada laporan medis yang bisa menghancurkan semua kebohongannya.
Namun saat melihatku berdiri di ambang pintu, Adrian Pratama tidak lagi panik seperti dulu.
Dia tidak menjauh dari wanita di sampingnya.
Tidak terburu-buru memberi penjelasan.
Dengan tenang dia mematikan rokoknya di asbak, lalu menyeringai.
“Apa lagi sekarang, Mira?” katanya dengan nada lelah. “Drama apa yang akan kamu buat kali ini?”
Drama.
Seolah tujuh tahun hubungan kami hanyalah gangguan dalam hidupnya.
Tanganku menggenggam erat amplop cokelat yang kubawa.
Di dalamnya ada hasil CT scan paru-parunya dari sebuah rumah sakit ternama di Jakarta.
Dia tidak tahu aku sudah mengambil hasilnya pagi ini.
Dia tidak tahu aku sudah berbicara langsung dengan dokternya.
Dan dia tidak tahu bahwa sepanjang perjalanan menuju Kantor Catatan Sipil Jakarta Pusat, aku gemetar bukan karena takut dikhianati.
Tetapi karena takut kehilangan dirinya selamanya.
Namun pria yang duduk di hadapanku sekarang tampak tidak peduli.
Kemeja putihnya terbuka beberapa kancing.
Rokok masih berbau tajam di udara.
Dan di sampingnya duduk seorang wanita muda bernama Yuna Kartika.
Usianya baru dua puluh satu tahun.
Sekretaris baru di perusahaan Adrian.
Yuna mengembuskan asap rokok perlahan.
“Mbak Mira,” katanya dengan senyum mengejek yang dibungkus kesopanan. “Pak Adrian cuma merokok satu batang bersama saya. Kami tidak selingkuh. Kenapa dibesar-besarkan?”
Adrian berdiri.
Aku mengira dia akan menghampiriku.
Tetapi justru dia melangkah sedikit ke depan, seolah melindungi Yuna dariku.
“Mira,” katanya pelan, “umurmu sudah tiga puluh tahun. Tidak pantas bertengkar dengan anak kecil.”
Anak kecil.
Pantas saja dia selalu dimaafkan.
Pantas saja saat aku terluka, aku dianggap berlebihan.
Pantas saja ketika Adrian salah, aku yang harus mengerti.
Aku menatap wajahnya.
Masih wajah pria yang kucintai sejak dia belum memiliki mobil mewah.
Belum punya apartemen.
Belum punya perusahaan.
Wajah pria yang dulu gemetar saat memberiku permen karena sedang berusaha berhenti merokok.
Tujuh tahun lalu dia pernah berjanji.
“Aku mungkin bukan pria sempurna,” katanya saat kami masih tinggal di apartemen kecil sewaan di Rawamangun. “Kalau suatu hari aku melakukan kesalahan, jangan langsung meninggalkanku. Beri aku tiga kesempatan.”
Dan aku setuju.
Karena saat itu dia adalah orang yang menyelamatkan hidupku.
Dia melindungiku dari ayahku yang pemabuk.
Dia bekerja siang malam ketika aku mengalami gangguan kecemasan.
Dia adalah satu-satunya cahaya dalam hidupku yang penuh luka.
Karena itu, saat pertama kali aku memergokinya merokok bersama Yuna di hotel, aku memaafkannya.
Saat kedua kali, aku menangis dan marah.
Dan sekarang…
Ini yang ketiga.
Kesempatan terakhir.
Adrian mengeluarkan dua permen lolipop dari sakunya.
Rasa jeruk.
Favoritku.
“Nih,” katanya sambil menyodorkannya. “Tanda damai.”
Dadaku terasa nyeri.
Dulu aku yang selalu menyiapkan permen untuknya.
Lima batang sehari.
Setiap kali ingin merokok, dia menggantinya dengan permen.
Dan setiap kali selesai, dia akan tertawa lalu menciumku.
“Agar manisnya tidak terbuang,” katanya dulu.
Kupikir itu hanya milik kami.
Kupikir ada hal-hal yang tidak akan pernah dia bagikan dengan orang lain.
Dia menyodorkan lolipop pertama.
Aku tidak mengambilnya.
Amplop di tanganku terjatuh ke lantai.
Tidak ada yang peduli.
“Pak,” tiba-tiba Yuna berkata manja. “Kalau saya mana?”
Aku langsung menoleh.
Adrian tertawa kecil.
“Kamu memang banyak maunya.”
Untuk sesaat aku masih berharap.
Masih berharap ada batas yang tidak akan dia lewati.
Namun Adrian membuka lolipop kedua.
Lalu tanpa ragu memasukkannya ke mulut Yuna.
Begitu saja.
Seolah itu kebiasaan yang sudah sering mereka lakukan.
“Rasa leci,” katanya sambil tersenyum. “Favoritmu.”
Yuna tersenyum puas.
“Ingatan Bapak bagus juga. Besok traktir saya rokok lagi ya.”
“Siap, Yang Mulia,” jawab Adrian bercanda.
Saat itu aku merasa seperti orang asing dalam hidupnya.
Melihat wajahku yang pucat, Adrian buru-buru berkata,
“Mira, itu cuma bercanda. Yuna memang manja. Tidak ada apa-apa.”
Tidak ada apa-apa.
Rokok, tidak ada apa-apa.
Kamar hotel, tidak ada apa-apa.
Permen, tidak ada apa-apa.
Membela wanita lain, tidak ada apa-apa.
Menghancurkan hatiku, juga tidak ada apa-apa.
Aku membungkuk mengambil amplop itu.
Lalu meletakkannya di atas meja.
“Aku tidak marah,” kataku.
Dia mengerutkan kening.
“Serius?”
“Serius.”
Aku menatap mata pria yang selama ini kuanggap rumah.
“Aku hanya sudah tidak membutuhkanmu lagi, Adrian.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Sebelum aku sempat mengulanginya, Yuna tiba-tiba memegangi perutnya.
“Pak… perut saya sakit.”
Adrian langsung menghampirinya.
“Ada apa lagi sekarang?”
“Sakit sekali…”
“Lihat? Aku sedang bicara dengan tunanganku.”
“Tapi memang sakit…” keluhnya. “Mungkin gara-gara permen dari Bapak. Harus tanggung jawab dong.”
Tanggung jawab.
Kata itu menghantamku seperti pisau.
Adrian tertawa dan menarik permen setengah habis dari mulut Yuna.
Lalu memakannya sendiri.
“Permennya tidak bermasalah. Aku makan ini setiap hari.”
“Tapi kalau aku hamil bagaimana?” canda Yuna.
Wajah Adrian langsung menegang.
“Jangan bercanda seperti itu.”
Namun yang terdengar bukan kemarahan.
Melainkan ketakutan.
Ketakutan seseorang yang menyimpan rahasia.
Adrian lalu mengangkat Yuna ke dalam pelukannya.
Saat melihatku masih berdiri di sana, wajahnya semakin pucat.
“Mira, ini darurat. Aku cuma mengantarnya ke rumah sakit. Jangan berpikir macam-macam.”
“Adrian.”
Dia menghela napas.
“Tolong. Jangan bertengkar sekarang. Nanti setelah aku kembali, kita bicarakan semuanya.”
Aku menggigit bibir.
“Masih ingat janjimu?”
Dia diam.
“Ini sudah yang ketiga.”
Yuna meringis kesakitan di pelukannya.
Dan Adrian memilih pergi tanpa menjawab.
Saat mereka keluar dari kamar hotel, sesuatu jatuh dari saku blazer Yuna.
Sebuah struk klinik.
Aku mengambilnya.
Lalu membaca satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku membeku.
HASIL TES KEHAMILAN — POSITIF
Baca kelanjutan cerita di kolom komentar… 👇

Tanganku gemetar saat memegang hasil tes itu.
POSITIF.
Untuk sesaat, dunia di sekitarku terasa sunyi.
Aku tidak menangis.
Tidak berteriak.
Tidak mengejar mereka.
Aku hanya berdiri di tengah kamar hotel yang seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari hari pernikahanku.
Lalu perlahan aku membuka amplop cokelat yang selama ini kugenggam.
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan paru-paru Adrian.
Dokter mengatakan ada bercak yang mengkhawatirkan.
Jika dia terus merokok seperti sekarang, kondisinya bisa berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.
Selama berbulan-bulan aku memohon padanya untuk berhenti.
Selama berbulan-bulan aku mengawasi pola makannya.
Mengingatkannya minum obat.
Mengatur jadwal pemeriksaannya.
Sementara dia…
Sibuk menyembunyikan wanita lain.
Aku tertawa kecil.
Tawa yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
Kemudian aku merobek undangan pernikahan yang ada di dalam tasku.
Satu per satu.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun…
Aku memilih diriku sendiri.
Dua jam kemudian, ponselku tidak berhenti berdering.
Adrian menelepon.
Sepuluh kali.
Dua puluh kali.
Lima puluh kali.
Aku tidak mengangkat satu pun.
Hingga akhirnya sebuah pesan masuk.
“Mira, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tidak membalas.
Lalu pesan berikutnya.
“Yuna memang hamil, tapi aku baru tahu hari ini.”
Aku masih diam.
Beberapa menit kemudian.
“Tolong angkat telepon. Pernikahan bisa kita jelaskan nanti.”
Menjelaskan?
Apa yang masih bisa dijelaskan?
Bahwa tunanganku menghabiskan waktu berdua di hotel dengan sekretarisnya?
Bahwa wanita itu sedang mengandung?
Bahwa aku baru mengetahuinya beberapa jam sebelum pernikahan kami?
Tidak ada penjelasan yang cukup untuk memperbaiki itu.
Keesokan paginya.
Kabar pembatalan pernikahan menyebar ke seluruh keluarga.
Ibuku menangis.
Ayahku marah.
Teman-teman kami terkejut.
Namun yang paling mengejutkan adalah kabar yang datang tiga hari kemudian.
Yuna ternyata tidak hanya menjalin hubungan dengan Adrian.
Dia juga menjalin hubungan dengan salah satu investor perusahaan.
Dan seorang manajer cabang.
Bahkan tes DNA yang dilakukan beberapa minggu kemudian menunjukkan bahwa Adrian bukan ayah dari bayi yang dikandungnya.
Saat mendengar kabar itu, aku hanya duduk diam.
Tidak merasa puas.
Tidak juga merasa senang.
Karena luka yang ditinggalkan pengkhianatan tidak hilang hanya karena pelakunya mendapat balasan.
Sebulan kemudian.
Adrian datang ke apartemenku.
Wajahnya jauh lebih kurus.
Matanya merah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat pria itu benar-benar hancur.
“Mira…”
Suaranya serak.
“Aku kehilangan semuanya.”
Aku memandangnya tanpa ekspresi.
Perusahaannya sedang bermasalah.
Investornya menarik diri.
Reputasinya rusak.
Dan yang paling menyakitkan…
Dia akhirnya membaca sendiri laporan medis yang dulu ingin kuberikan.
Tangannya gemetar saat memegang hasil pemeriksaan itu.
“Kamu sudah tahu selama ini?”
Aku mengangguk.
“Aku ingin memberitahumu hari pernikahan kita.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu datang ke hotel karena ini?”
Aku kembali mengangguk.
“Ya.”
“Aku tidak datang untuk memergokimu.”
“Aku datang karena takut kehilanganmu.”
Air mata akhirnya jatuh dari matanya.
Pria yang selama bertahun-tahun terlihat begitu kuat kini menangis seperti anak kecil.
Namun kali ini…
Hatiku tidak lagi bergerak.
Karena cinta yang terus-menerus disakiti akhirnya akan kelelahan.
Tiga tahun kemudian.
Aku berdiri di balkon kantor pusat perusahaan desain interior yang berhasil kubangun sendiri.
Di bawah sana, lampu-lampu Jakarta berkilauan.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari sahabatku.
“Kamu dengar kabar Adrian?”
Aku membaca pesan berikutnya.
“Dia akhirnya berhenti merokok.”
Aku tersenyum kecil.
Lalu memandang langit malam.
Ada rasa lega yang sulit dijelaskan.
Bukan karena aku masih mencintainya.
Bukan karena aku berharap dia kembali.
Tetapi karena pria yang pernah kucintai akhirnya memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan aku juga telah menyelamatkan diriku.
Malam itu aku menyadari satu hal.
Kadang-kadang, akhir yang bahagia bukanlah menikah dengan orang yang kita cintai.
Bukan juga ketika orang yang menyakiti kita menderita.
Akhir yang bahagia adalah saat kita berhenti mengejar seseorang yang tidak lagi memilih kita…
Dan mulai memilih diri sendiri.
Karena cinta sejati tidak pernah meminta kita mengorbankan harga diri.
Dan orang yang benar-benar mencintai kita…
Tidak akan membuat kita berdiri sendirian pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup kita.