“Ibumu dulu seorang simpanan… jadi nasibmu juga hanya akan menjadi simpanan!”

Tepat pada hari ketika tunanganku memasangkan cincin pertunangan di jariku, dia mengatakan bahwa wanita lainlah yang akan dinikahinya.

Namun ketika aku memutuskan meninggalkan Indonesia, sebuah rahasia mengejutkan tentang ibuku tiba-tiba terungkap.

Alunan biola masih terdengar.

Lilin-lilin di atas meja masih berkelap-kelip.

Tetapi rasanya seluruh dunia mendadak menjadi sunyi bagiku.

Aku menatapnya dengan tidak percaya.

“Apa yang baru saja kamu katakan?”

Adrian Pratama bersandar di kursinya dan tersenyum dingin.

“Maksudku… kamu seharusnya bisa mengerti, Mara.”

Perlahan ia mengusap punggung tanganku.

“Kamu juga tahu, latar belakangmu tidak bersih.”

Tubuhku seketika terasa membeku.

Sepuluh tahun lalu, seluruh Indonesia diguncang skandal besar ketika terungkap bahwa ibuku adalah wanita simpanan seorang senator terkenal dari Jakarta.

Tak lama setelah skandal itu meledak, istri sah sang senator dikabarkan bunuh diri di sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman.

Berita itu menggemparkan seluruh negeri.

Media sosial dipenuhi hinaan dan kebencian terhadap ibuku.

Dan aku…

Aku menjadi anak dari perempuan yang dianggap telah menghancurkan sebuah keluarga.

Sampai hari ini, rasa malu itu masih terus menghantuiku.

Aku selalu berpikir Adrian adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menghakimiku.

Dia yang dulu melindungiku ketika mahasiswa lain melempariku dengan botol air di kampus.

Dia juga yang memelukku sepanjang malam ketika ibuku dikabarkan melompat dari lantai tiga belas sebuah apartemen di Jakarta Selatan.

Aku pikir…

Dialah satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku.

Namun kini, sambil tersenyum, dia berkata:

“Kami baru saja merekrut direktur komunikasi baru di perusahaan.”

“Namanya Sofia.”

Dia menunjukkan foto wanita itu di ponselnya.

Cantik.

Rambut panjang berwarna cokelat kastanye.

Terlihat seperti putri yang dibesarkan dalam keluarga konglomerat Jakarta.

“Keluarganya sangat berpengaruh.”

“Ayahnya memiliki jaringan hotel besar di Bali dan Surabaya.”

“Kalau aku menikahinya, investasi perusahaan akan meningkat berkali-kali lipat.”

Aku sampai kehilangan suara.

“Lalu… bagaimana denganku?”

tanyaku lirih.

Dia menatapku seolah semuanya sangat normal.

“Kamu tetap bisa berada di sisiku.”

“Aku akan membelikanmu rumah.”

“Aku akan memberimu uang.”

“Kamu hanya perlu tetap berada di balik bayangan.”

Aku tertawa.

Tetapi tawaku bergetar.

“Maksudmu… kamu ingin aku menjadi simpananmu?”

“Kamu terlalu kasar memilih kata-kata.”

Adrian mengernyit.

“Kalau ibumu dulu bisa merebut suami orang, kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama?”

Aku menatapnya lama.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku merasa tidak pernah benar-benar mengenalnya.

“Adrian…”

“Aku bukan ibuku.”

Dia terdiam sesaat lalu tersenyum dingin.

“Kalau kamu tidak bisa menerima ini, kita putus saja.”

“Baik.”

Perlahan aku melepaskan cincin pertunangan itu dan meletakkannya di atas meja.

“Kita putus.”

Dia tampak tidak menyangka aku akan menyetujuinya secepat itu.

Sesaat dia terdiam sebelum menggelengkan kepala.

“Berhenti bersikap kekanak-kanakan.”

“Bagaimana kamu akan hidup tanpa aku?”

“Menurutmu masih ada pria lain yang mau menerima masa lalumu?”

Lalu dia membungkuk dan berbisik di dekat telingaku.

“Setiap kali orang melihatmu, mereka teringat pada ibumu.”

“Kalau tidak ada aku, seluruh dunia akan menertawakanmu lagi.”

Aku mengepalkan kedua tangan erat-erat.

Kalau dulu…

Mungkin aku benar-benar akan takut.

Namun ada satu hal yang tidak diketahui Adrian.

Dua minggu lalu, bibiku menghubungiku.

Dia adalah adik kandung ibuku.

Sejak lama dia tinggal di Amerika Serikat setelah berselisih dengan keluarga kami.

Kini dia adalah seorang pengusaha sukses di California.

Dia memiliki kerajaan kosmetik besar dan saham di beberapa perusahaan media di Asia.

Saat itu dia berkata kepadaku:

“Kalau kamu mau, ikutlah denganku ke Amerika.”

“Tidak akan ada lagi yang merendahkanmu.”

Saat itu aku menolak.

Karena Adrian.

Tetapi sekarang…

Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan.

[Bibi… aku akan ikut ke Amerika.]

Hanya beberapa detik kemudian, balasannya datang.

[Aku sudah lama menunggu kamu mengatakan itu.]

[Tiga hari lagi, jet pribadiku akan menjemputmu di Jakarta.]

Air mata langsung mengalir dari mataku.

Ketika melihat itu, Adrian mengira aku sedang merajuk.

“Sayang…”

“Jangan marah lagi.”

Dia mengusap kepalaku seperti sedang menenangkan seorang anak kecil.

“Aku janji, meskipun aku menikahi Sofia, aku tetap akan mencintaimu.”

“Kamu tetap pengecualianku.”

Tanpa berkata apa-apa, aku menjauhkan diriku dari sentuhannya.

Saat kami keluar dari restoran, hujan deras mengguyur Jakarta.

Dia mengantarku dengan Porsche hitam miliknya.

Namun ketika kami mendekati kawasan SCBD, dia tiba-tiba menghentikan mobil.

“Oh ya, hampir lupa.”

Dia menoleh kepadaku.

“Mulai sekarang, kamu duduk di kursi belakang.”

Napas seolah berhenti di tenggorokanku.

“Sofia tidak suka ada perempuan lain duduk di kursi penumpang.”

“Aku sudah berjanji padanya.”

Dia bahkan masih tersenyum lembut.

“Kamu mengerti, kan?”

“Sofia itu manja sejak kecil.”

“Dia jauh lebih sulit dibujuk daripada kamu.”

Aku tidak menjawab.

Diam-diam aku melepas sabuk pengaman.

Namun saat tanganku menyentuh kursi, benda tajam menusuk telapak tanganku.

“Ah!”

Darah langsung mengalir.

Ketika kulihat—

sebuah anting berlian.

Mungkin milik Sofia yang tertinggal.

Wajah Adrian langsung berubah.

“Oh my God!”

“Kamu ceroboh sekali!”

Aku menatapnya.

Dan selama satu detik, aku mengira dia akan mengkhawatirkanku.

Namun kalimat berikutnya benar-benar menghancurkan hatiku.

“Itu anting favorit Sofia.”

“Kalau dia tahu anting itu terkena darahmu, dia pasti marah.”

Darah terus menetes dari telapak tanganku.

Sementara Adrian…

mengambil tisu basah dan membersihkan anting itu dengan sangat hati-hati.

Begitu lembut.

Begitu penuh perhatian.

Seolah itulah benda paling berharga di dunia.

Sedangkan aku…

hanyalah sesuatu yang kotor dan bisa dibuang kapan saja.

Aku duduk diam di dalam mobil.

Di luar, hujan semakin deras.

Lampu-lampu Jakarta berubah menjadi garis-garis kabur di balik kaca.

Setelah menyimpan anting itu ke dalam kotak beludru, barulah dia menatapku.

“Turunlah.”

“Aku masih harus menghadiri fitting pernikahan bersama Sofia.”

“Pulang saja naik taksi.”

Dan benar-benar…

dia meninggalkanku di tengah hujan deras.

Tanpa payung.

Tanpa menoleh sekali pun.

Porsche hitamnya segera menghilang di tengah kemacetan Jakarta.

Aku berdiri lama di bawah hujan.

Hingga ponselku kembali bergetar.

Pesan dari Bibi.

[Mara.]

[Aku menemukan sesuatu tentang Adrian Pratama.]

[Kamu harus segera meninggalkan Jakarta.]

Aku mengernyit sambil membaca pesan berikutnya.

Namun ketika membaca baris terakhir…

seluruh tubuhku terasa membeku.

Karena Bibi menulis:

[Wanita yang dikabarkan bunuh diri sepuluh tahun lalu…]

[Sebenarnya tidak pernah meninggal.]

[Dan dia baru saja kembali ke Indonesia.]

Malam itu, aku tidak pulang ke apartemen.

Aku langsung menuju bandara.

Namun sebelum pesawatku berangkat ke California, sebuah berita besar mengguncang seluruh Indonesia.

Sebuah konferensi pers mendadak disiarkan oleh hampir semua stasiun televisi nasional.

Di layar, muncul seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun.

Wajahnya pucat.

Rambutnya mulai memutih.

Tetapi aku langsung mengenalinya.

Veronica Santoso.

Wanita yang selama sepuluh tahun dianggap telah meninggal dunia.

Mantan istri sah senator yang pernah menghancurkan hidup ibuku.

Seluruh negeri terdiam.

Lalu wanita itu mulai berbicara.

“Aku tidak pernah bunuh diri.”

Kalimat pertama itu saja sudah membuat publik gempar.

Air matanya mengalir ketika ia melanjutkan.

“Sepuluh tahun lalu, aku memilih menghilang karena tidak sanggup menghadapi kebohongan yang dibangun keluargaku sendiri.”

Kemudian ia mengeluarkan setumpuk dokumen.

Dokumen pernikahan.

Surat perjanjian.

Rekening bank.

Dan bukti-bukti yang selama ini disembunyikan.

Kebenaran akhirnya terungkap.

Ibuku bukan perebut suami orang.

Ibuku bukan simpanan.

Bahkan ketika ibuku bertemu sang senator, Veronica dan pria itu sudah lama berpisah secara hukum.

Mereka hanya merahasiakannya demi karier politik.

Ketika skandal meledak, keluarganya membutuhkan kambing hitam.

Dan ibuku dipilih untuk memikul seluruh dosa itu.

Selama sepuluh tahun…

Ibuku dihina untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Dan aku…

Aku tumbuh membawa aib yang bukan milikku.

Seluruh Indonesia geger.

Media yang dulu menghancurkan nama ibuku kini meminta maaf.

Orang-orang yang dulu mencaci mulai menghapus komentar mereka.

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Karena orang yang paling ingin mendengar kebenaran itu sudah tidak ada.

Aku menangis sepanjang penerbangan menuju Amerika.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku bisa mengangkat kepala tanpa rasa malu.

Sementara itu, kehidupan Adrian mulai runtuh.

Satu per satu masalah muncul.

Keluarga Sofia membatalkan pernikahan mereka setelah mengetahui bahwa Adrian selama bertahun-tahun memanipulasi laporan keuangan perusahaannya demi menarik investor.

Lebih buruk lagi, beberapa transaksi ilegal yang selama ini ia sembunyikan mulai diselidiki pihak berwenang.

Dalam waktu beberapa bulan saja, perusahaan yang ia banggakan kehilangan sebagian besar investornya.

Orang-orang yang dulu mengelilinginya perlahan menghilang.

Termasuk Sofia.

Wanita yang ia pilih dibandingkan aku.

Suatu malam di California, hampir setahun setelah aku meninggalkan Indonesia, sebuah email masuk ke kotakku.

Pengirimnya: Adrian Pratama.

Tanganku sempat bergetar.

Tetapi ketika kubuka, hanya ada satu kalimat.

“Mara, aku baru sadar bahwa aku telah kehilangan orang terbaik dalam hidupku.”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu tersenyum.

Dan menghapus email itu.

Tanpa membalas satu kata pun.

Karena beberapa penyesalan memang pantas datang terlambat.

Hari-hariku kini berbeda.

Bersama bibiku, aku membantu mengembangkan perusahaan kosmetik kami hingga masuk ke pasar internasional.

Untuk pertama kalinya, aku dikenal karena kemampuanku.

Bukan karena masa lalu ibuku.

Bukan karena seorang pria.

Bukan karena sebuah skandal.

Suatu sore, saat berdiri di balkon kantor pusat kami di Los Angeles dan memandangi matahari terbenam, aku memegang foto lama ibuku.

Aku tersenyum sambil berbisik pelan.

“Bu… akhirnya dunia tahu kebenarannya.”

Air mata jatuh di pipiku.

Tetapi kali ini bukan air mata kesedihan.

Melainkan air mata kebebasan.

Karena aku akhirnya mengerti satu hal:

Kita tidak bisa memilih masa lalu yang diberikan kepada kita.

Tetapi kita bisa memilih masa depan yang akan kita bangun.

Dan pada hari aku berhenti hidup dalam bayang-bayang orang lain…

Aku akhirnya menemukan cahayaku sendiri.

Tamat.