Untuk mendukung proyek medis Dr. Dimas Pratama, aku menginvestasikan hampir Rp280 miliar untuk membangun ruang operasi paling modern di Jakarta.

Namun setiap kali kami bertemu di rumah sakit, dia selalu bersikap dingin seolah keberadaanku mengganggunya.

Aku mengira itulah sifat seorang akademisi yang terlalu fokus pada pekerjaannya.

Sampai hari ketika dia menggunakan ruang operasi yang kubangun untuk operasi usus buntu seorang mahasiswi bernama Laras.

Di depan semua orang, Dimas memakaikan baju operasi untuk Laras dengan penuh perhatian.

“Jangan takut. Aku ada di sini. Semuanya akan baik-baik saja.”

Saat Kepala Bedah mengingatkan bahwa operasi sederhana itu bisa dilakukan di ruang operasi biasa, Dimas hanya menjawab dingin:

“Aku bilang bisa dilakukan di sini, berarti dilakukan di sini.”

Lalu saat melewatiku, dia berbisik pelan:

“Sebanyak apa pun uang yang kau keluarkan, kau tidak akan pernah bisa menghilangkan bau uang dari dirimu. Tempat ini bukan untuk orang sepertimu.”

Aku tidak membalas.

Aku langsung menuju kantor direktur rumah sakit.

Hari itu juga, seluruh proyek penelitian yang selama ini kudanai untuk Dimas kualihkan kepada dokter muda yang selama lima tahun selalu dia remehkan—Dr. Arga Wijaya.

Kalau dia begitu membenci uangku, maka dia tidak akan mendapatkan satu rupiah pun lagi.


Malam itu, seminar internal rumah sakit akhirnya dimulai.

Semua profesor, investor, peneliti, dan dokter senior hadir.

Dimas kembali menjadi pusat perhatian.

Dia berdiri di atas panggung, menerima tepuk tangan panjang.

Namun di tengah pidatonya, layar utama auditorium tiba-tiba menyala.

Bukan presentasi penelitian.

Melainkan laporan keuangan.

Satu demi satu transaksi muncul.

Pembelian mobil mewah.

Renovasi vila orang tuanya di Bandung.

Perhiasan berlian dari lelang di Paris.

Liburan eksklusif ke Swiss.

Semua dibayar menggunakan kartu dana penelitian yang selama ini kuberikan.

Ruangan langsung sunyi.

Wajah Dimas memucat.

“Matikan layar itu!” teriaknya.

Tetapi layar tidak mati.

Karena data itu berasal dari audit resmi yang baru saja selesai satu jam sebelumnya.

Direktur rumah sakit berdiri.

Dengan suara tegas, ia mengumumkan:

“Mulai hari ini, seluruh jabatan penelitian Dr. Dimas Pratama dibekukan sampai proses investigasi selesai.”

Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

Laras yang berdiri di samping Dimas ikut pucat.

Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang membelanya.

Dimas menoleh ke arahku.

Tatapannya penuh kemarahan.

“Kau menghancurkan hidupku!”

Aku tersenyum tipis.

“Tidak.”

“Aku hanya berhenti menyelamatkan hidupmu.”


Lalu aku berdiri dan naik ke panggung.

Di sampingku, Arga terlihat gugup.

Aku mengambil mikrofon.

“Mulai hari ini, seluruh dana penelitian senilai Rp500 miliar akan dialihkan ke Program Inovasi Medis Nasional yang dipimpin Dr. Arga Wijaya.”

Seluruh ruangan terkejut.

Arga membeku.

Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.

“Aku memilih orang yang menghargai ilmu pengetahuan, bukan orang yang menggunakan ilmu sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.”

Tepuk tangan perlahan terdengar.

Lalu semakin keras.

Dan semakin keras.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, nama Arga disebut dengan hormat.

Bukan sebagai bayangan seseorang.

Tetapi sebagai pemimpin.


Saat acara berakhir, Dimas duduk sendirian di kursinya.

Tidak ada lagi orang yang mengelilinginya.

Tidak ada lagi pujian.

Tidak ada lagi kekaguman.

Yang tersisa hanya kenyataan.

Bahwa kesombongan telah membuatnya kehilangan semua yang pernah dia banggakan.

Sementara itu, Arga berjalan bersamaku keluar dari auditorium.

“Terima kasih karena sudah percaya pada saya,” katanya pelan.

Aku menggeleng.

“Bukan aku yang membuatmu layak dipercaya.”

“Kamu yang melakukannya sendiri.”

Di luar gedung, lampu-lampu Jakarta berkilauan di bawah langit malam.

Aku menatap kota itu dan akhirnya merasa lega.

Kadang kehilangan seseorang bukanlah kegagalan.

Kadang itu adalah cara hidup mengembalikan harga diri yang selama ini kita serahkan kepada orang yang salah.

Dan malam itu, aku tidak kehilangan apa pun.

Aku hanya berhenti memberikan segalanya kepada orang yang tidak pernah menghargainya.

Namun cerita itu belum benar-benar berakhir.

Enam bulan kemudian, Program Inovasi Medis Nasional yang dipimpin Arga menjadi proyek penelitian paling sukses di Indonesia.

Timnya berhasil mengembangkan teknologi bedah baru yang menarik perhatian banyak rumah sakit internasional.

Nama Arga muncul di berbagai jurnal medis bergengsi.

Sementara itu, investigasi terhadap Dimas akhirnya selesai.

Hasilnya lebih buruk daripada yang dibayangkan siapa pun.

Bukan hanya penyalahgunaan dana penelitian.

Ternyata selama bertahun-tahun ia juga memanipulasi hasil evaluasi beberapa dokter muda demi mempertahankan posisinya sebagai “bintang” rumah sakit.

Gelar-gelarnya dicabut.

Jabatannya hilang.

Dan orang-orang yang dulu selalu memujinya perlahan menghilang satu per satu.

Tidak ada yang lebih cepat meninggalkan seseorang selain mereka yang hanya mencintai kesuksesannya.

Suatu sore, saat aku sedang menghadiri peresmian pusat penelitian baru, seseorang memanggil namaku.

Aku menoleh.

Dimas.

Tubuhnya tampak lebih kurus.

Matanya kehilangan kesombongan yang dulu selalu ia banggakan.

Untuk beberapa saat, kami hanya saling diam.

“Aku dulu berpikir bahwa uangmu adalah penghinaan bagiku,” katanya pelan.

“Tapi sekarang aku sadar… yang sebenarnya menghina diriku sendiri adalah aku.”

Aku tidak menjawab.

Karena beberapa penyesalan datang terlambat.

Sangat terlambat.

“Aku kehilangan semuanya,” lanjutnya dengan suara serak.

“Dan baru sekarang aku mengerti siapa yang selalu berdiri di belakangku.”

Angin sore berembus pelan.

Aku menatap pria yang dulu pernah menjadi pusat hidupku.

Anehnya, aku tidak lagi marah.

Tidak juga sedih.

Aku hanya merasa asing.

Seolah sedang melihat seseorang yang pernah kukenal dalam kehidupan lain.

“Aku memaafkanmu, Dimas,” kataku akhirnya.

Wajahnya terangkat penuh harapan.

Tetapi aku melanjutkan:

“Namun memaafkan bukan berarti kembali.”

Harapan itu perlahan menghilang dari matanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti.

Ada pintu yang bisa diketuk berkali-kali.

Tetapi ada juga pintu yang, sekali tertutup, tidak akan pernah terbuka lagi.

Dimas menunduk.

Lalu pergi tanpa berkata apa-apa.

Aku memperhatikannya sampai sosoknya menghilang di ujung jalan.

Kemudian aku berbalik.

Di depan sana, Arga dan timnya sedang menungguku untuk memulai peresmian gedung baru.

Mereka tersenyum.

Mereka percaya pada masa depan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku juga begitu.

Karena aku akhirnya mengerti sesuatu:

Kehilangan orang yang tidak menghargaimu bukanlah tragedi.

Tragedi yang sesungguhnya adalah terus bertahan di sisi mereka sambil kehilangan dirimu sendiri.

Untungnya, aku pergi tepat waktu.

Dan karena itu, hidup memberiku akhir yang jauh lebih indah daripada yang pernah kubayangkan.