AKU MENYERAHKAN TEMPAT DUDUKKU KEPADA “ASISTEN MUDA” TUNANGANKU DI TENGAH PESTA ULANG TAHUN KELUARGA MILIARDER DI JAKARTA

Sampai seorang kepala pelayan turun membawa sebuah map rahasia… dan wajah tunanganku langsung pucat pasi…

1

Alunan musik akustik terdengar lembut di taman luas kediaman keluarga Wijaya di kawasan elite Menteng, Jakarta.

Lampu-lampu kristal berwarna keemasan menerangi seluruh halaman malam itu.

Hari ini adalah ulang tahun ke-70 Nyonya Ratna Wijaya, perempuan berpengaruh yang membangun salah satu kerajaan properti terbesar di Indonesia.

Aku duduk tenang di sampingnya sambil memotong salmon di piringku menjadi bagian-bagian kecil.

Kursi di sebelahku masih kosong.

Kursi yang seharusnya ditempati oleh Arga.

Tunangan yang sudah lima hari menghilang tanpa kabar.

Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar dari gerbang utama.

Beberapa saat kemudian, Arga masuk ke area pesta mengenakan kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka.

Wajahnya tampak lelah setelah penerbangan dari Bali, tetapi tetap terlihat tampan dan percaya diri.

Dan di sampingnya…

Seorang gadis muda mengenakan gaun krem yang pas di tubuhnya.

Tangannya bahkan masih menggenggam lengan Arga.

Suasana meja makan langsung hening.

Namun Arga hanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

— “Maaf semuanya, penerbangan saya terlambat.”

Lalu ia membungkuk dan memeluk Nyonya Ratna.

— “Selamat ulang tahun, Oma.”

Tatapan perempuan tua itu tetap dingin.

— “Kamu masih ingat jalan pulang rupanya.”

Arga tertawa kecil.

— “Cuma perjalanan bisnis, Oma.”

Setelah itu, ia menarik gadis di sampingnya ke depan.

— “Oh ya, kenalkan. Ini Celine. Intern baru di perusahaan.”

Gadis itu membungkuk sopan.

— “Selamat malam semuanya.”

Aku bahkan tidak menoleh.

Sampai Arga berbicara kepadaku.

— “Nadia, bisa pindah duduk sebentar ke sana?”

Ia menunjuk kursi di seberang meja.

— “Celine agak malu dengan orang yang belum dikenalnya. Selama beberapa hari terakhir dia sudah terbiasa duduk di sampingku.”

Semua orang langsung terdiam.

Bahkan para pelayan di belakang ikut menatapku.

Aku meletakkan garpu dan pisau dengan tenang.

Tidak marah.

Tidak bertanya.

Tidak membuat keributan seperti yang mungkin diharapkan Arga.

Aku hanya berdiri perlahan dan berpindah ke kursi di samping Nyonya Ratna.

Alis Arga sedikit terangkat.

Mungkin ia mengira aku akan mengamuk.

Tetapi tidak.

Karena sepuluh menit sebelum ia datang…

Aku sudah mengembalikan cincin pertunanganku kepada Nyonya Ratna.

Perempuan tua itu menatapku lama sebelum bertanya:

— “Kamu sudah yakin, Nak?”

Aku hanya tersenyum.

— “Aku lelah, Oma.”

Dan ia mengangguk pelan.

Tidak mencoba menghentikanku.


Arga menarik kursi untuk Celine.

Gadis itu bahkan tersipu malu.

— “Apa saya benar-benar duduk di sini?”

Arga tertawa.

— “Tentu saja.”

Ponselku bergetar.

Pesan dari Arga.

[Kamu marah lagi?]

Aku tidak membalas.

Pesan kedua langsung menyusul.

[Aku cuma mengajak dia ke Bali supaya bisa refreshing. Jangan berpikir macam-macam.]

Aku tersenyum tipis.

Dari meja seberang, Arga melihat senyumku dan ekspresinya langsung terlihat lega.

Mungkin dia mengira aku sudah memaafkannya.

Padahal arti senyum itu justru sebaliknya.

Dia tidak perlu lagi meminta maaf.

Karena semuanya sudah berakhir.


Tiba-tiba Nyonya Ratna meletakkan gelas anggurnya dengan keras.

— “Arga.”

Senyumnya langsung menghilang.

— “Ya, Oma?”

— “Kamu masih ingat kalau kamu punya tunangan?”

Celine segera menundukkan kepala.

Kening Arga berkerut.

— “Dia cuma intern saya.”

— “Intern yang kamu ajak ke pulau selama lima hari? Intern yang menginap satu resor denganmu? Intern yang setiap malam mengunggah foto bersamamu?”

Aku menggenggam gelas airku lebih erat.

Arga langsung menoleh kepadaku.

— “Kamu mengadu ke Oma?”

Sebelum aku menjawab, Nyonya Ratna berkata dingin:

— “Anak itu bahkan tidak pernah menyebut namamu.”

Wajah Arga mulai menunjukkan ketidaksabaran.

— “Itu memang perjalanan bisnis.”

Aku tertawa pelan.

Semua orang menoleh.

Arga mengerutkan dahi.

— “Apa yang lucu?”

Aku menatapnya.

— “Kamu tahu sendiri kenapa lokasi perjalanan bisnis itu tiba-tiba dipindahkan ke Bali.”

Sebenarnya kontrak kerja sama dengan perusahaan keluargaku di Jakarta sudah siap ditandatangani.

Namun hanya karena Celine pernah mengunggah status bahwa ia ingin berlibur ke Bali sebelum kembali kuliah…

Arga membatalkan seluruh rencana.

Ia mencari mitra bisnis baru di Bali.

Dan menjadikan perjalanan itu alasan untuk membawanya ikut.

Dalam lima hari…

Celine mengunggah tiga puluh dua postingan.

Makanan mewah.

Minuman koktail.

Foto-foto di infinity pool menghadap laut.

Bahkan ada satu unggahan yang dipasang paling atas.

“Semoga semua orang punya bos sebaik ini. Hanya karena aku bilang ingin ke Bali, lokasi perjalanan bisnis langsung dipindahkan.”

Di foto itu…

Terlihat punggung Arga sedang berdiri di balkon hotel.

Seseorang berkomentar:

“Kalian satu kamar?”

Dan Celine hanya membalas dengan emoji wajah tersipu malu.

Sementara Arga…

Tidak membalas satu pun pesanku selama lima hari.

Sampai malam terakhir.

Aku meneleponnya untuk terakhir kali.

Namun yang mengangkat justru Celine.

Dengan suara pelan dan malu-malu ia berkata:

— “Mbak Nadia mencari Pak Arga? Beliau masih mandi…”

Hanya satu kalimat.

Tetapi cukup untuk mengakhiri hubungan kami yang sudah berlangsung dua belas tahun.


Arga menatapku lama.

— “Kamu sampai menguntit media sosial Celine?”

Aku tertawa.

— “Perlu menguntit? Semua orang bisa melihatnya.”

Mata Celine langsung memerah.

— “Maaf… saya tidak tahu kalau ini menyebabkan kesalahpahaman sebesar ini…”

Arga segera mengambil tisu dan memberikannya.

— “Tidak apa-apa. Jangan menangis.”

Lalu ia menatapku.

Penuh kekecewaan.

— “Nadia, kamu benar-benar berubah.”

Aku hanya memandangnya diam.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku merasa pria itu adalah orang asing.

Pria yang dulu rela menungguku empat jam di bawah hujan saat kuliah di Jakarta…

Pria yang membuatkan ayunan di taman hanya karena aku pernah bilang menyukainya…

Pria yang pernah memelukku dan berkata:

— “Apa pun yang terjadi, aku akan selalu memilihmu.”

Seolah sudah lama menghilang.


Tiba-tiba Nyonya Ratna berdiri.

— “Pesta selesai.”

Tak seorang pun berani berbicara.

Beliau berjalan perlahan dengan tongkatnya.

Saat melewati Arga, ia berhenti sejenak.

Lalu berkata dengan dingin:

— “Besok datang ke ruang kerja saya.”

Wajah Arga berubah sedikit.

Seolah ia mulai merasakan ada sesuatu yang salah.

Namun pada saat itu—

Ponselku bergetar.

Notifikasi penerbangan dari Jakarta menuju Singapura muncul di layar.

Tinggal dua jam lagi sebelum keberangkatan.

Aku berdiri.

Mengambil tasku.

Tiba-tiba Arga menggenggam pergelangan tanganku.

— “Kamu mau ke mana?”

Aku menatap tangannya.

Lalu melepaskannya perlahan.

— “Ke tempat yang tidak ada kamu di sana.”

Untuk pertama kalinya malam itu…

Aku melihat ketakutan yang nyata di matanya.

— “Nadia…”

Dan tepat pada detik itu—

Terdengar teriakan dari tangga lantai dua.

— “Nyonya! Ada masalah besar!”

Semua orang menoleh.

Kepala pelayan berdiri dengan wajah pucat sambil membawa sebuah map hitam.

Saat Arga melihat logo di bagian depan map itu…

Seluruh warna di wajahnya menghilang.

Karena itu adalah berkas investigasi internal Grup Wijaya.

Dan nama pertama yang tertulis di halaman depan…

Adalah namanya.

Lanjutan kisah ini ada di kolom komentar…👇👇👇

Arga berdiri membeku.

Tangannya gemetar saat mengambil map hitam itu dari tangan kepala pelayan.

Ruangan yang tadi dipenuhi tawa kini berubah sunyi.

Semua mata tertuju kepadanya.

“Buka saja,” kata Nyonya Ratna dengan dingin.

Arga membuka halaman pertama.

Wajahnya langsung pucat.

Lalu semakin pucat.

Dan semakin pucat.

Karena isi dokumen itu bukan sekadar laporan audit biasa.

Di dalamnya terdapat bukti transfer dana perusahaan selama tiga tahun terakhir.

Dana yang seharusnya digunakan untuk proyek pembangunan perumahan rakyat.

Namun sebagian besar uang itu ternyata mengalir ke rekening-rekening pribadi yang terkait dengan Arga.

Ada pembelian mobil mewah.

Apartemen di Bali.

Liburan ke luar negeri.

Bahkan biaya hidup beberapa wanita yang selama ini disembunyikannya.

“Tidak mungkin…” gumam Arga.

“Ini pasti salah.”

Nyonya Ratna tersenyum tipis.

“Sayangnya tidak.”

“Kami sudah menyelidikinya selama enam bulan.”

Seluruh tubuh Arga terasa lemas.

Ia menoleh ke arahku.

Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada kesombongan di matanya.

Hanya ketakutan.

“Nadia… kamu tahu soal ini?”

Aku mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

“Dan aku yang menyerahkan bukti terakhir kepada tim investigasi.”

Suara napas para tamu terdengar bersamaan.

Mereka akhirnya mengerti.

Alasan aku begitu tenang malam itu.

Alasan aku mengembalikan cincin pertunangan.

Alasan aku tidak marah saat kursiku diberikan kepada Celine.

Karena hubungan kami sudah berakhir jauh sebelum pesta dimulai.

Arga melangkah ke arahku.

“Nadia, dengarkan aku…”

“Aku bisa menjelaskan semuanya.”

Aku tersenyum.

Senyum yang sangat tenang.

“Dulu, selama dua belas tahun, aku selalu memberimu kesempatan untuk menjelaskan.”

“Tapi setiap kesempatan hanya kau gunakan untuk berbohong.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Kali ini aku benar-benar mencintaimu.”

Aku tertawa pelan.

“Kalau itu cinta, seharusnya aku tidak perlu bersaing dengan intern perusahaanmu.”

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan.

Di belakangnya, Celine juga mulai menangis.

Namun tak ada seorang pun yang peduli.

Nyonya Ratna mengetukkan tongkatnya ke lantai.

“Mulai malam ini, Arga diberhentikan dari seluruh jabatan di Grup Wijaya.”

“Seluruh aset dan akses perusahaan dibekukan sampai proses hukum selesai.”

Dunia Arga runtuh dalam satu kalimat.

Beberapa menit kemudian petugas keamanan mengantarnya keluar dari pesta.

Saat melewati pintu taman, ia menoleh untuk terakhir kalinya.

“Nadia…”

Aku tidak menjawab.

Tidak melambaikan tangan.

Tidak menoleh.

Karena pria yang pernah kucintai sudah lama menghilang.

Yang tersisa hanyalah seseorang yang tidak lagi kukenal.

Dua jam kemudian, pesawat menuju Singapura lepas landas.

Aku duduk di dekat jendela.

Melihat lampu-lampu Jakarta perlahan mengecil di bawah sana.

Ponselku bergetar sekali.

Pesan terakhir dari Arga.

“Aku menyesal.”

Aku membaca pesan itu beberapa detik.

Lalu menghapusnya.

Tanpa membalas.

Karena beberapa penyesalan datang terlambat.

Dan beberapa pintu, ketika sudah tertutup, tidak akan pernah terbuka lagi.

Aku memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Aku tidak kehilangan siapa pun.

Aku hanya mendapatkan kembali diriku sendiri.