**VIRAL DI RADIO: Sopir Travel yang Dianggap Lemah Ternyata Menyimpan Kartu As!**
Perjalanan yang awalnya biasa saja berubah menjadi tegang ketika kendaraan yang dikemudikan Mang Rodel dihentikan oleh polisi-polisi korup. Mereka mengira sopir itu akan mudah diperas, tetapi mereka tidak tahu masa lalu yang kelam dan berani yang selalu ia bawa dalam tas selempangnya. Saksikan bagaimana tangan para petugas mulai gemetar saat mendengar suara yang keluar dari radio tua milik Mang Rodel!
Pagi-pagi sekali, travel yang dikemudikan Mang Rodel sudah melaju di jalan. Hari bahkan belum setengah berjalan, tetapi panas dan kemacetan di sepanjang jalan raya sudah terasa berat. Dari kaca spion, ia melihat para penumpang duduk diam—ada mahasiswa yang menunduk menatap ponsel, seorang ibu yang menggendong anaknya, dan seorang pria berseragam yang tampak kelelahan setelah bekerja shift malam.
“Pak, kita masih sempat sampai tepat waktu?” tanya seorang penumpang dengan cemas.
“Iya, Bu. Asal kita tidak terjebak di pos pemeriksaan,” jawab Mang Rodel sambil memaksakan senyum.
Namun seolah takdir memang menginginkannya terjadi. Di depan terlihat kerucut pembatas jalan, lampu peringatan, dan empat polisi yang menghadang kendaraan. Seorang petugas bertubuh tegap melambaikan tangan lalu menunjuk ke pinggir jalan.
“Travel! Minggir!”
Mang Rodel segera menghentikan kendaraan.
“Selamat pagi, Pak. Memangnya ada pelanggaran apa?” tanyanya.
“Turun dulu,” perintah polisi itu dengan dingin. “Ada laporan bahwa kendaraanmu beroperasi ilegal.”
Para penumpang terkejut.
“Pak, ilegal?” bisik seorang ibu di kursi belakang sambil memeluk anaknya.
“Pak, kendaraan ini punya izin resmi. Semua dokumen lengkap,” jawab Mang Rodel sambil mengambil map berisi STNK, surat izin, dan identitas operator.
Namun sebelum sempat dibuka, polisi itu langsung merampas map tersebut dan membolak-balik isinya seolah sedang mencari kesalahan.
“Kenapa buru-buru sekali? Ada yang disembunyikan?”
“Tidak ada, Pak. Saya masih ada perjalanan. Penumpang juga sedang terburu-buru.”
Polisi lain mendekat sambil menyeringai.
“Banyak alasan. Kalau tidak mau kendaraanmu disita, ya kamu pasti tahu caranya.”
Rahang Mang Rodel langsung mengeras. Kalimat itu bukan pertama kali ia dengar. Tetapi kali ini ada banyak orang yang bergantung padanya di dalam kendaraan—terutama seorang anak yang sedang demam dan bersandar lemah di bahu ibunya.
“Maaf, Pak. Saya tidak memberi uang pelicin,” katanya tenang namun tegas.
Wajah polisi itu langsung berubah.
“Oh? Berani juga kamu. Baiklah, kita tahan kendaraan ini.”
Para penumpang mulai panik.
“Pak, bagaimana dengan kami?”
“Saya akan terlambat kerja!”
“Anak saya sedang sakit!”
“Jangan ikut campur!” bentak polisi kepada mereka. “Tidak boleh ada yang turun!”
Lalu polisi itu mencabut kunci kontak kendaraan.
Ada sesuatu yang bergetar di dada Mang Rodel—bukan rasa takut, melainkan rasa terhina di depan orang-orang yang tidak bersalah.
Ia menarik napas perlahan.
Di dalam tas selempangnya terdapat sebuah radio genggam tua yang selalu ia bawa. Bukan untuk gaya-gayaan. Radio itu disimpan untuk keadaan darurat.
Ia menatap polisi itu.
“Pak, boleh saya menghubungi seseorang? Ada penumpang yang sakit.”
“Silakan saja,” jawab polisi itu dengan nada mengejek. “Hubungi siapa pun yang kamu mau. Tidak ada yang bisa menolongmu.”
Saat itulah Mang Rodel menekan tombol radionya. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar sedikit bergetar saat berbisik:

“Base… base… ini Rodel. Saya butuh bantuan.”
Dan jawaban yang terdengar bukanlah suara operator travel.
Melainkan suara yang tegas, jelas, dan membuat bulu kuduk meremang:
**“Diterima, Rodel. Ini Pusat Operasi Kantor Kepolisian Regional. Apa situasinya?”**
Suasana di dalam kabin travel mendadak hening seketika.
Suara berkeresek khas radio panggil itu menggema kuat melalui speaker yang sengaja dinyalakan Mang Rodel dengan volume maksimal. Kalimat “Pusat Operasi Kantor Kepolisian Regional” yang keluar dari benda tua tersebut bagaikan petir di siang bolong bagi empat petugas di luar.
Polisi bertubuh tegap yang memegang kunci kontak langsung menghentikan seringainya. Matanya membelalak menatap radio genggam hitam di tangan Mang Rodel.
“Rodel, ulangi. Di mana posisimu sekarang dan siapa yang menahan kendaraamu?” suara di seberang radio kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih tegas dan dingin.
Mang Rodel menatap lurus ke dalam manik mata polisi di depannya yang mulai berkeringat dingin.
“Saya berada di Jalur Lintas Timur, KM 42, Komandan,” jawab Mang Rodel dengan nada suara yang berubah total—tenang, tak ada lagi kesan lelah, berganti dengan ketegasan seorang profesional. “Kendaraan saya dihentikan oleh empat personel yang mengaku dari satuan lalu lintas wilayah. Mereka menuduh armada kita ilegal, menyita kunci kontak, dan meminta sejumlah uang pelicin. Di sini ada anak kecil yang sedang demam tinggi, tetapi petugas menolak melepas kami.”
“Siapa nama petugas di lapangan? Sebutkan nomor lencana mereka,” perintah suara dari radio.
Mendengar instruksi itu, polisi tegap yang tadi begitu arogan refleks mundur satu langkah. Tangannya yang memegang map dokumen milik Mang Rodel mulai bergetar. Dua polisi lainnya yang berjaga di dekat kerucut jalan saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.
Mereka tahu persis suara siapa itu. Itu adalah suara Kombes Polisi Yanuar, Kepala Biro Ops Polda Regional yang terkenal tanpa ampun menyapu bersih aparat nakal.
“K-kamu… siapa kamu sebenarnya?” bisik polisi tegap itu, suaranya parau dan kehilangan semua keberaniannya.
Mang Rodel tidak menjawab. Ia hanya merogoh kantong dalam tas selempangnya, mengeluarkan sebuah kartu identitas berlapis mika tebal, dan menunjukkannya tepat di depan wajah sang petugas.
Di kartu itu tertera foto Mang Rodel dengan seragam lengkap, lengkap dengan lambang Satuan Intelijen dan Keamanan (Satintelkam) Mabes Polri, dengan status: Purnawirawan / Agen Khusus Investigasi Internal.
“Saya Rodel. Lima tahun lalu saya yang memimpin operasi pembersihan pungli di wilayah barat,” kata Mang Rodel pelan, namun setiap katanya menancap seperti belati. “Saya menarik diri dari lapangan dan memilih narik travel untuk ketenangan masa tua saya. Tapi sepertinya, kalian belum kapok juga mengotori seragam yang kalian pakai.”
“M-Mang… eh, siap, mohon maaf, Komandan!” Polisi tegap itu mendadak tegak lurus, melakukan hormat dengan tangan yang gemetar hebat. “Kami tidak tahu… kami hanya… ini salah paham, Komandan!”
“Salah paham?” Mang Rodel tersenyum dingin. “Kembalikan kunci saya.”
Dengan gerakan patah-patah karena panik, polisi itu segera menyerahkan kembali kunci kontak dan map dokumen ke tangan Mang Rodel.
“Rodel, tim Provost dan Propam Polda sudah bergerak ke koordinatmu. Lima menit sampai,” suara dari radio kembali memecah ketegangan.
“Diterima, Komandan. Terima kasih. Biarkan anak-anak nakal ini menunggu mereka di sini,” jawab Mang Rodel sebelum mematikan radionya.
Mang Rodel berbalik menatap para penumpang yang sedari tadi menahan napas. Mahasiswa, sang ibu, dan pria berseragam shift malam itu menatap Mang Rodel dengan pandangan takjub seolah baru saja melihat pahlawan super dalam kehidupan nyata.
“Mohon maaf atas keterlambatannya, Bapak, Ibu,” kata Mang Rodel sambil memasukkan kembali radionya ke dalam tas selempang. “Kita lanjutkan perjalanan. Tenang saja, anak Ibu akan segera sampai ke rumah sakit.”
Mang Rodel naik ke kursi kemudi, memutar kunci kontak, dan menghidupkan mesin travelnya. Saat mobil mulai melaju membelah jalanan, dari kaca spion ia melihat empat polisi korup itu berdiri kaku di pinggir jalan, menunggu sirine mobil Propam yang mulai terdengar meraung-raung dari kejauhan.
Kartu as Mang Rodel hari itu tidak hanya menyelamatkan perjalanannya, tetapi juga membersihkan jalanan dari mereka yang hobi memakan hak orang-orang kecil.