SETIAP HARI ADA YANG MENGIRIMKAN UANG KE AKUN GCASH SAYA… SAAT SAYA MENCARI SIAPA DI BALIKNYA, SAYA TIBA-TIBA MENANGIS

Hujan di Sampaloc, Manila, pada malam pertama uang itu masuk ke akun GCash saya.
Saat itu saya tinggal di sebuah kos kecil dekat universitas.

Kamar terasa panas.
Air menetes dari atap yang bocor.
Dan hanya tersisa setengah bungkus mi instan untuk makanan saya selama seminggu itu.

Saya duduk diam di lantai sambil terus melihat isi dompet saya berulang kali.
₱43.

Itu saja yang tersisa.

Tiga hari lagi gajian saya sebagai pekerja di kedai milk tea.
Dan dua minggu lagi masa ujian dimulai.

Saya sangat lelah saat itu.

Saya mahasiswa teknik di East Harbor University.
Beasiswa.

Berasal dari kampung di Masbate.
Dan pertama kalinya hidup sendiri di Manila.

Awalnya saya sangat bersemangat.
Karena itu adalah impian ibu saya, Aling Rosa.

“Anak,” katanya sambil memotong ikan di pasar, “meskipun kita miskin, tetaplah sekolah.”

Tapi saat saya di tahun kedua kuliah…
ibu saya terkena stroke.

Dan hampir semua tabungan kami habis untuk obat-obatan.

Sejak saat itu…
saya harus membiayai hidup saya sendiri.

Pekerja malam.
Mahasiswa di pagi hari.

Kadang hanya tidur dua jam.
Dan ada hari-hari ketika saya hanya makan air dan roti.

Malam itu, saat saya memikirkan bagaimana mengatur ₱43 itu…
tiba-tiba ponsel saya berbunyi.

Notifikasi GCash.

“₱1,500 telah dikirim ke akun Anda.”

Saya langsung dingin.

Saya membaca ulang berkali-kali.

Pengirim tidak dikenal.

Dan hanya ada catatan:
“Untuk membeli makananmu.”

Saya duduk lama menatap layar ponsel itu, jari saya gemetar.

₱1,500.

Jumlah itu tidak besar bagi sebagian orang di Manila… tapi bagi saya, itu seperti pintu kecil yang tiba-tiba terbuka di tengah gelap.

Saya mencoba mencari logika.
Saya cek riwayat transaksi.
Saya cek nomor pengirim.
Tidak ada nama. Tidak ada jejak.

Hanya satu pesan yang terus terulang di kepala saya:
“Untuk membeli makananmu.”

Malam itu saya tetap tidak tidur.
Bukan karena cemas… tapi karena bingung siapa yang masih peduli pada hidup saya sejauh ini.

Hari berikutnya, uang itu saya pakai sangat hati-hati.
Saya beli nasi, telur, dan air minum.
Hal sederhana, tapi rasanya seperti mewah setelah berhari-hari hanya mi instan dan air keran.

Dan anehnya… keesokan harinya, uang itu masuk lagi.
₱1,500.
Pengirim yang sama.
Pesan yang sama.

Hari ketiga.
Masih sama.

Saya mulai takut.
Bukan takut karena uangnya… tapi karena seseorang tahu kondisi saya terlalu detail.

Saya akhirnya memutuskan bertanya di grup kampus, lalu ke teman kerja, bahkan ke admin kos.
Tidak ada yang mengaku.

Sampai suatu sore, saat saya sedang bekerja di milk tea shop, seorang pelanggan tua masuk.
Ia duduk lama, tidak memesan apa pun selain teh panas.

Sebelum pergi, dia menatap saya lama sekali.
Lalu berkata pelan:

“Anak… kamu masih makan kan?”

Saya tersenyum sopan. “Iya, Pak.”

Dia mengangguk, lalu pergi.

Tapi di meja kasir, saya menemukan amplop kecil.
Di dalamnya ada catatan tulisan tangan yang sudah agak pudar:

“Aku pernah melihat ibumu di pasar Masbate. Dia selalu bilang, satu-satunya harapannya adalah kamu tidak berhenti sekolah.”

Saya langsung kaku.

Nama pengirim GCash itu akhirnya saya mengerti.

Bukan orang asing.

Tapi seseorang dari masa lalu ibu saya… yang diam-diam menjaga janji yang tidak pernah saya tahu.

Malam itu saya berdiri lama di depan kos, menatap langit Manila yang masih hujan ringan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

saya tidak merasa sendirian lagi.

Karena ternyata, bahkan ketika ibu saya tidak lagi di sisi saya…
doanya masih terus menemukan jalan pulang.