DIAMBIL OLEH ANAK ANGKAT ITU SELURUH MASA DEPANKU—TAPI MEREKA TIDAK TAHU, AKU SEBENARNYA AHLI WARIS RAHASIA DARI YAYASAN PENDIDIKAN TERBESAR DI INDONESIA

Hasil ujian masuk universitas diumumkan tepat pukul dua belas malam.

Bersamaan dengan itu, ponsel lamaku bergetar di kamar kos kecilku di daerah Senen, Jakarta.

“Bu Ibu” tertulis di layar.

Sudah enam bulan dia tidak menghubungiku.

Tapi begitu aku mengangkat telepon, tidak ada kata “apa kabar” sama sekali.

“Sudah keluar hasilnya. Jangan bilang kamu gagal lagi.”

Aku terdiam menatap langit-langit kamar.

Atapnya bocor.

Kipas angin berisik.

Di atas tempat tidur masih berserakan buku-buku latihan karena aku baru pulang kerja les privat di Jakarta Timur.

Dan di atas meja…

ada surat penerimaan dari Universitas Indonesia.

Beasiswa penuh.

Tapi aku belum memberitahu siapa pun.

“Aku tidak diterima di Universitas Kedokteran St. Maria,” jawabku pelan.

Di seberang sana hening.

Lalu satu helaan napas berat.

“Aku sudah tahu.” Suaranya penuh kekecewaan. “Chloe saja lebih jelas arah hidupnya, meski dia bukan anak kandungku.”

Aku menutup mata.

Chloe Ramadhani.

Anak yang dibawa ibuku dari panti asuhan di Bali saat aku berusia 16 tahun.

Katanya dulu:

“Untuk sementara, sampai kita menemukan sponsor.”

Tapi “sementara” itu berubah menjadi selamanya.

Pelan-pelan, dia mengambil semuanya dariku.

Kamar ku.

Barang-barangku.

Dan bahkan ibuku.

“Kasihan Chloe,” lanjut ibu di telepon. “Dia tumbuh tanpa keluarga. Kamu harus belajar berbagi.”

Aku tersenyum pahit.

“Aku juga kehilangan keluarga.”

“Apa maksudmu?”

“Sejak dia datang.”

Suara ibu langsung berubah tajam.

“Kamu masih egois? Pantas hidupmu tidak maju!”

Tanganku menggenggam ponsel erat.

Aku teringat malam ketika Chloe menghancurkan kotak musik peninggalan ayahku.

Di dalamnya ada perekam suara kecil.

Suara ayah masih tersimpan di sana:

“Putriku… Ayah sangat mencintaimu.”

Recorder itu jatuh.

Hancur.

Dan suara ayah hilang selamanya.

Aku menangis semalaman.

Tapi ibu malah marah.

“Itu cuma barang!” teriaknya.

Sementara Chloe menangis di sudut, pura-pura gemetar.

“Ibu… maaf… aku tidak sengaja…”

Dan seperti biasa…

aku lagi-lagi jadi pihak yang disalahkan.

Sejak itu, Chloe adalah “anak malang yang harus dimengerti”.

Sedangkan aku:

“Sombong.”

“Tidak tahu terima kasih.”

“Egois.”

Saat SMA, ibu bahkan memberikan akses rekening bank milikku kepada Chloe dengan alasan “biar aku belajar mengatur uang”.

Jadi bahkan untuk ongkos sekolah, aku harus kirim bukti kehadiran dulu baru dapat uang.

Suatu kali aku mengalami serangan asma di sekolah di Jakarta Selatan.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Aku gemetar di ruang UKS.

Aku mengirim pesan ke Chloe untuk minta uang inhaler.

Dibaca.

Lima menit kemudian dia membalas:

“Buktikan dulu kamu tidak bohong.”

Guru yang akhirnya membelikanku obat.

Saat aku ceritakan ke ibu…

jawabannya hanya:

“Drama kamu terlalu berlebihan.”

Saat wisuda SMA, Chloe sengaja tidak mengirim uang sewa toga untukku.

Sementara teman-temanku bersiap di aula Universitas Indonesia…

aku menangis di toilet mal, meminjam uang dari teman yang bahkan tidak terlalu dekat denganku.

Tapi malamnya, Chloe yang diposting ibu di media sosial.

Caption:

“Anak terkuatku. Bangga sekali.”

Tanpa aku di dalam foto.

Hingga suatu bulan lalu, saat ibu mengatakan dana pendidikan dari ayah yang ditujukan untukku akan dipakai Chloe…

rasanya ada sesuatu dalam diriku yang mati.

“Ibu,” suaraku bergetar, “itu uang yang ayah kumpulkan untuk masa depanku.”

“Dia juga keluarga!”

“Tapi aku anak kandungnya!”

Chloe berdiri dari sofa.

Matanya merah.

“Kak… tidak apa kalau kamu tidak mau berbagi…” katanya sambil menangis. “Aku sudah biasa ditinggalkan…”

Dan sebelum aku sempat berkata apa-apa—

tamparan keras mendarat di pipiku.

“Plak!”

“Jahat sekali kamu!” teriak ibu. “Pantas semua orang meninggalkanmu!”

Hari itu aku pergi dari rumah.

Mereka tidak mencariku.

Tidak menghubungiku.

Sampai malam ini.

“Pulang minggu depan,” kata ibu di telepon. “Ada gala yayasan pendidikan. Chloe ikut. Ketua Yayasan Pak Arman juga ingin bertemu kamu.”

Aku mengernyit.

Ketua Arman.

Sahabat ayah dulu.

Dan pemilik Yayasan Pendidikan terbesar di Indonesia.

“Untuk apa aku datang?”

“Dukung Chloe sekali saja.”

Aku menarik napas dalam.

Mereka tidak tahu…

tiga hari lalu aku menerima surat langsung dari kantor Ketua Arman.

Bukan tentang Chloe.

Tapi tentang aku.

“Tentu,” jawabku dingin. “Aku akan datang.”


Seminggu kemudian di Jakarta, aku tiba di gedung mewah hotel di kawasan Sudirman.

Dan seperti biasa, perbedaan itu langsung terlihat.

Chloe memakai gaun desainer.

Gelang berlian.

Dan iPhone terbaru.

Sementara aku hanya memakai blus putih sederhana dan sepatu lama yang sudah dua kali diperbaiki di Pasar Baru.

Begitu masuk ballroom megah Hotel Indonesia Kempinski, ibu menatapku dari atas ke bawah.

“Perbaiki posturmu,” bisiknya. “Jangan mempermalukan kami.”

Chloe tertawa sambil minum wine.

Santai sekali.

“Tenang saja, Bu. Jangan-jangan orang kira Kakak itu pelayan.”

Aku tidak menjawab.

Sudah biasa.

Di tengah ballroom, layar LED besar menampilkan nama-nama penerima beasiswa terbaik dari Yayasan Pendidikan Nusantara.

Media hadir.

Pengusaha.

Politisi.

Anak-anak orang kaya.

Dan di tengah semuanya…

duduk Ketua Arman.

Usianya sudah tua.

Tapi tatapannya masih tajam.

Tiba-tiba dia menatap ke arahku.

Lalu berhenti.

Bukan ke Chloe.

Bukan ke ibuku.

Tapi ke aku.

Dia berdiri perlahan.

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan.

“Ada apa?”

“Dia kenal perempuan itu?”

Tangan ibu mulai bergetar.

Chloe mulai pucat.

Ketua Arman berjalan mendekat.

Dan sebelum sampai di meja kami—

tiba-tiba layar LED berubah.

“SATU-SATUNYA AHLI WARIS DARI TRUST PENDIDIKAN DE LA VEGA…”

Ruangan langsung sunyi.

Dan kemudian…

fotoku muncul di layar besar itu.

Aku adalah pewaris utama yayasan pendidikan terbesar di Indonesia.

Seluruh ballroom gempar.

Dan saat itu juga—

hidupku yang sebenarnya baru saja dimulai.

Ketika namaku muncul di layar besar itu, seluruh ruangan seperti kehilangan suara.

Yang terdengar hanya denting gelas yang jatuh dari tangan seseorang—entah siapa.

Aku berdiri diam.

Tapi di dalam diriku… ada sesuatu yang akhirnya tidak lagi bersembunyi.

Ketua Arman melangkah maju, suaranya tegas namun bergetar.

“Selama ini kamu di mana saja?”

Aku menatapnya.

Lalu pelan menjawab,

“Di tempat orang tidak pernah mau mencari aku.”

Bisik-bisik langsung pecah di seluruh ballroom.

“Dia pewaris yayasan itu?”
“Yang benar?”
“Bukankah dia anak yang selalu… disingkirkan?”

Aku bisa merasakan tatapan ibu menembus punggungku.

Tapi kali ini… tidak ada rasa takut.

Hanya kosong.

Dan kejelasan.

Chloe mundur selangkah.

Suara lembutnya yang dulu selalu dibuat-buat kini pecah.

“Ini… ini tidak mungkin…”

Aku menoleh padanya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihatnya sebagai “pengganti”.

Aku hanya melihat seseorang yang selama ini berdiri di atas hidupku yang diambil paksa.

“Semua fasilitas yang kamu pakai,” kataku pelan, “rekening yang kamu akses… bahkan nama yang kamu banggakan…”

Aku berhenti sejenak.

“Semua itu bukan milikmu.”

Wajah ibu langsung pucat.

“Tidak… itu tidak benar… kamu pasti salah paham…”

Ketua Arman mengangkat dokumen di tangannya.

“Ini surat wasiat asli dari almarhum ayahmu. Dan juga keputusan legal terakhir sebelum yayasan diaktifkan kembali.”

Ia menatap seluruh ruangan.

“Seluruh aset pendidikan De La Vega Trust memang ditujukan untuk satu orang—putrinya.”

Sunyi kembali jatuh.

Lalu kalimat berikutnya menghantam lebih keras dari apa pun.

“Dan orang itu adalah dia.”

Tangannya menunjuk ke arahku.

Chloe tiba-tiba tertawa kecil—tapi itu bukan tawa bahagia.

Lebih seperti retakan yang tidak bisa ditahan lagi.

“Jadi… selama ini aku apa?” suaranya bergetar. “Aku ini siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena tidak ada jawaban yang bisa menyelamatkan kebohongan panjang itu.

Ibu melangkah maju, matanya merah.

“Kamu tidak boleh melakukan ini… dia sudah seperti anakku sendiri…”

Aku menatapnya lama.

Bukan marah.

Bukan juga sedih.

Hanya lelah yang sudah terlalu lama hidup di dalam dada.

“Dan aku?” tanyaku pelan. “Aku anakmu juga… tapi kapan terakhir kali kamu memilih aku?”

Tidak ada jawaban.

Hanya diam.

Dan diam itu… akhirnya cukup.

Aku mengeluarkan amplop yang sejak tadi kusimpan di tas.

“Ini keputusan pertamaku sebagai pemegang yayasan.”

Semua orang menahan napas.

Aku menatap ibu, lalu Chloe.

“Mulai hari ini, semua akses pribadi yang disalahgunakan akan ditutup. Semua dana yang tidak sesuai mandat akan diaudit.”

Aku berhenti.

Lalu menambahkan dengan suara tenang,

“Dan tidak ada lagi yang bisa mengambil hidup orang lain dengan alasan ‘keluarga’.”

Chloe jatuh terduduk.

Bukan karena kekayaan yang hilang.

Tapi karena seluruh cerita yang ia percaya… runtuh sekaligus.

Ibu menutup mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tapi akhirnya tidak ada suara yang keluar.

Untuk pertama kalinya…

dia tidak punya kata untuk membenarkan apa pun.

Aku berbalik.

Langkahku menuju pintu terasa ringan—seperti sesuatu yang selama ini mengikat kakiku akhirnya putus.

Di belakangku, gemuruh ballroom mulai kembali hidup.

Tapi hidupku sendiri sudah berpindah arah.

Saat pintu besar itu terbuka, cahaya dari luar masuk menyilaukan.

Ketua Arman berdiri di sampingku.

“Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya pelan.

Aku menatap jalan di depan.

Jakarta malam itu terlihat berbeda.

Bukan lebih indah.

Tapi lebih jujur.

“Aku akan membangun sesuatu yang dulu tidak pernah aku punya.”

Aku berhenti sejenak.

“Tempat untuk anak-anak yang tidak pernah dipilih.”

Lalu aku melangkah keluar.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku tidak lagi berjalan di belakang siapa pun.