DIBERI UANG 500 RIBU PESO SETIAP BULAN OLEH IBUKU—TAPI AKU HANYA MINUM AIR KERAN DI ASRAMA JAKARTA…Hingga hari ketika kakekku datang dan menanyakan satu hal yang membuat wajah ibuku langsung pucat.

Saat aku sedang antre mengambil makanan gratis terakhir di kafetaria St. Gabriel High School di Jakarta, tiba-tiba kepala sekolah datang bersama tim inspeksi dari Kementerian Pendidikan.

Hujan deras turun hari itu.

Aroma ayam goreng dari kantin membuat perutku semakin sakit karena lapar.

Di tray-ku hanya ada semangkuk bubur encer dan segelas air putih.

Kepala sekolah mengerutkan dahi.

“Kamu tidak beli makanan lain?”

Aku memegang erat tray yang sudah retak.

“Saya tidak punya uang.”

Seluruh kafetaria langsung hening.

Beberapa siswa menoleh, lalu tertawa kecil.

Karena di sekolah ini… semua orang tahu aku adalah Althea Villacorta, anak dari keluarga kaya pemilik jaringan hotel besar di Jakarta.


Malamnya di asrama putri, ponselku bergetar terus.

Ibu menelepon.

Begitu aku angkat, suaranya langsung membentak.

“Althea Villacorta! Kamu pandai sekali berpura-pura miskin!”

“Kenapa harus mempermalukan aku di depan sekolah?”

“Seluruh Jakarta bisa menertawakan kita!”

Aku duduk diam di ranjang tingkat, suara kipas tua berderit di langit-langit.

“Bu… aku memang tidak punya uang.”

“Aku memberimu 500.000 peso setiap bulan!” potongnya tajam. “Kurang apa lagi?”

Aku menggigit bibir sampai berdarah.

Benar.

Setiap bulan memang ada 500.000 peso masuk ke rekeningku.

Tapi itu dana trust keluarga Villacorta Family Trust Fund.

Dan aku baru bisa mengaksesnya saat berusia 25 tahun.

Sekarang aku baru 16 tahun.


“Aku tidak bisa menggunakan uang itu sekarang…” suaraku bergetar.

“Bersyukurlah!” bentaknya lagi. “Kamu anak orang kaya, jangan banyak drama!”

Aku tertawa kecil.

Tawa yang bahkan terdengar asing bagi diriku sendiri.

Sepupuku Isabella dua kali sebulan ganti tas branded.

Sedangkan Dylan—anak angkat ibu—punya akses kartu hitam tanpa batas.

Tapi aku…

anak kandungnya sendiri…

harus minum air keran di asrama agar tidak pingsan karena lapar.


“Althea, berhenti bersikap lemah,” suara ibu semakin dingin.

“Aku paling tidak suka anak perempuan yang suka mengemis simpati.”

“Sejak kecil kamu memang mirip nenekmu.”

Dadaku langsung sesak.

Nama nenek adalah topik terlarang di keluarga Villacorta.

Dulu, nenek menentang pernikahan ibu dengan ayah karena ibu berasal dari keluarga miskin di Tondo.

Setelah aku lahir, hubungan mereka hancur.

Dan sejak itu… aku seperti ikut dibenci.


Telepon tiba-tiba ditutup.

Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi masuk.

Transfer 500.000 peso lagi ke trust fund.

Tidak bisa kugunakan.

Lalu pesan dari ibu muncul:

[Sudah aku transfer lagi. Jangan bikin malu lagi.]


Aku menatap layar itu lama sekali.

Di luar jendela asrama, hujan Jakarta masih turun deras.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku merasa bahwa “uang banyak” tidak selalu berarti “hidup yang dimiliki sendiri.”

Aku menatap layar ponsel itu lama sekali.

Notifikasi transfer masih belum hilang, seolah-olah angka 500.000 peso itu sedang mengejekku.

Di luar jendela asrama, hujan Jakarta Jakarta masih turun deras, memantulkan lampu jalan seperti pecahan kaca.

Aku menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya… aku tidak menangis.

Aku hanya merasa lelah.

Bukan lelah karena lapar.

Tapi lelah karena selalu dianggap “tidak pernah kekurangan apa pun”, padahal aku bahkan tidak pernah benar-benar punya hak atas hidupku sendiri.


Tiba-tiba…

TOK TOK TOK.

Pintu asrama diketuk keras.

Teman sekamarku membuka pintu, lalu terdengar suara seorang pria tua.

“Althea Villacorta ada di sini?”

Namaku dipanggil.

Dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya—tenang, tapi berwibawa.

Aku berjalan keluar.

Dan di sana… berdiri seorang pria tua dengan jas sederhana, tapi aura yang membuat semua penghuni asrama langsung terdiam.

Dia menatapku lama.

Lalu berkata pelan:

“Jadi kamu benar-benar di sini… hidup seperti ini?”

Aku mengernyit.

“Siapa Bapak?”

Pria itu mengeluarkan sebuah dokumen dari map hitam.

“Nama saya tidak penting.”

Yang penting adalah kalimat berikutnya.

“Ceritakan pada ibumu… bahwa aku sudah menemukan cucu perempuanku.”

Dunia seperti berhenti.


Tanganku gemetar.

“Cucu?”

Pria itu mengangguk.

“Selama ini dia menyembunyikanmu dari keluarga besar Villacorta.”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Dia yang menyembunyikan aku… atau dia yang membuang aku?”

Pria itu tidak menjawab.

Tapi matanya berkata cukup.


Malam itu, aku dibawa ke sebuah rumah besar di kawasan elit Menteng.

Rumah yang bahkan hujan pun terasa tidak berani menyentuhnya.

Dan di ruang tamu itu…

ibu sudah berdiri lebih dulu.

Wajahnya pucat.

Tangannya gemetar.

“Papa…” suaranya hampir tidak keluar.

Pria tua itu—kakekku—hanya menatapnya dingin.

“Kenapa kamu sembunyikan anak ini?”

Sunyi.

Ibu tidak bisa menjawab.


Aku berdiri di tengah ruangan itu, masih memakai seragam asrama yang basah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ibuku tidak sebagai “ibu yang marah”.

Tapi sebagai seseorang yang ketakutan.

Kakek menoleh ke arahku.

“Sejak hari ini, semua dana trust fund atas namamu tidak lagi dikendalikan ibumu.”

Lalu dia menambahkan pelan:

“Dan kamu tidak akan lagi minum air keran untuk bertahan hidup.”

Aku terdiam.

Bukan karena uang.

Tapi karena satu hal sederhana yang selama ini tidak pernah aku punya:

kendali atas hidupku sendiri.


Ibu melangkah mendekat.

“Althea… dengarkan Mama…”

Aku menatapnya lama.

Lalu berkata pelan:

“Selama ini… Mama tidak pernah benar-benar mendengarkanku.”

Dia membeku.


Aku berbalik.

Melihat jendela besar rumah itu.

Hujan masih turun.

Tapi kali ini… aku tidak lagi berada di luar.


Dan di dalam kepalaku, aku hanya punya satu pikiran:

Jika seluruh hidupku selama ini adalah kebohongan yang dibungkus uang…

maka mulai hari ini—

aku yang akan menulis ulang ceritanya sendiri.