BAB 1
Saat hotel manager menyerahkan struk itu padaku, aku pikir dia salah.
Karena angka di sana tidak masuk akal.
Aku menatapnya tiga kali sebelum benar-benar paham.
62.480.000 peso.
Tanganku gemetar.
Di lobby The Aurelia Manila, musik biola masih terdengar, chandelier masih berkilau, tapi di kepalaku seperti ada ledakan besar.
“Ma’am Celina…”
Suara manager terdengar ragu.
“Dua jam yang lalu, adik ipar Anda menggunakan nama Anda untuk membuka VIP room di lantai 16.”
“Ada 34 orang.”
“Dan semua biaya dibebankan ke akun Anda.”
Aku menoleh.
Di kejauhan, ibu mertuaku Lourdes sedang tertawa bersama keluarga.
Suamiku Adrian berdiri dengan champagne di tangan.
Dan Vanessa…
sudah tidak terlihat.
Padahal tadi dia masih menggenggam lenganku sambil tersenyum.
“Senang sekali punya sister-in-law sepertimu.”
Aku pikir dia tulus.
Ternyata tidak.
Struk itu menunjukkan:
- A5 Wagyu Jepang 34 porsi
- 12 botol Romanée-Conti
- 5 botol Louis XIII
- jamuan seafood mewah
- kue emas
- dan…
Perhiasan 7.800.000 peso
“Perhiasan apa?” tanyaku.
Manager menunduk.
“Diamond necklace dan 6 jam Rolex, Ma’am.”
“Katanya hadiah untuk teman-temannya.”
Aku terdiam.
Itu bukan hadiah.
Itu pesta.
Dengan uangku.
“Di mana Vanessa?” tanyaku.
“Di rooftop bar, Ma’am.”
Aku menoleh ke Adrian.
“Kamu tahu ini?”
Dia mengangguk santai.
“Ya.”
Hanya itu.
Dunia dalam diriku langsung dingin.
Ibuku mertua berkata:
“Jangan berlebihan, Celina. Ini cuma kebahagiaan kecil Vanessa.”
“Pesta kecil?”
Aku tertawa.
“62 juta peso itu kecil?”
Adrian menghela napas.
“Celina, kamu terlalu hitung-hitungan.”
Aku hampir tidak percaya.
Uang itu adalah hasil kerja dua tahun penelitianku.
Nol tidur.
Proyek gagal.
Rumah sakit.
Dan mereka menyebutku “pelit”.
Lalu tiba-tiba…
CCTV diputar.
Dan di layar itu—
Vanessa duduk di pangkuan pria asing.
Tertawa keras.
“Gimana pun juga, kerjaan kakak iparku itu ya cuma cari uang buat kami!”
Semua orang tertawa.
Tapi yang paling menghancurkanku…
Adrian.
Dia juga tertawa.
Seperti setuju.
Tanganku menggenggam ponsel.
Lalu sebuah pesan masuk.
Foto.
Vanessa bersama sekretaris pribadi Adrian.
Di bawahnya tertulis:
“Apakah kamu pikir ini hanya pesta?”
“Ini adalah perayaan anak yang dikandung istri suamimu.”
AKHIR BAGIAN
Aku menatap layar itu lama.
Tidak bergerak.
Tidak menangis.
Hanya diam.
Lalu aku berkata pelan:
“Jadi… ini bukan sekadar pesta.”
Aku mengangkat kepala.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
mataku benar-benar berubah dingin.
“Ini perang.”

Ruangan lobby The Aurelia Manila terasa semakin dingin, meskipun musik biola masih terus mengalun seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku berdiri di sana.
Diam.
Tapi bukan kosong.
Lebih seperti seseorang yang baru saja melihat seluruh potongan puzzle jatuh ke tempat yang sebenarnya.
Adrian masih menatapku.
Tapi kali ini… tidak ada ketenangan di wajahnya.
Hanya sesuatu yang mulai retak.
“Celina…” suaranya pelan. “Kamu jangan berpikir berlebihan—”
Aku mengangkat tangan.
Dan dia berhenti bicara.
Bukan karena aku berteriak.
Tapi karena untuk pertama kalinya… dia melihat aku benar-benar tidak lagi sama.
Hotel manager menelan ludah.
“Ma’am… CCTV tadi sudah kami simpan sebagai bukti internal…”
Aku mengangguk pelan.
“Bagus.”
Lalu aku menoleh ke layar lagi.
Vanessa.
Tertawa.
Menghina.
Menggunakan namaku seperti itu adalah hal yang wajar.
Dan Adrian…
orang yang dulu berjanji akan menjadi rumahku…
hanya duduk di sana, ikut tertawa.
Aku menarik napas panjang.
Pelan.
Tenang.
Dan sangat dingin.
“Hubungi legal team,” kataku pada manager.
Dia langsung terdiam.
“Sekarang, Ma’am?”
“Sekarang.”
BEBERAPA JAM KEMUDIAN – PRIVATE OFFICE, MAKATI
Lampu ruangan tidak terlalu terang.
Tapi cukup untuk melihat dokumen yang terus dicetak tanpa henti.
Pengacara keluarga berdiri di depan meja.
“Ma’am… jika kita mulai proses ini, tidak ada jalan damai lagi.”
Aku membuka folder pertama.
Struktur akun.
Transfer.
Penggunaan nama.
Semua bukti sudah rapi.
“Aku tidak mencari damai,” jawabku.
Aku berhenti sebentar.
“Aku mencari kebenaran.”
Ponselku bergetar.
Pesan dari Adrian:
“Kamu terlalu jauh. Kita bisa bicarakan ini di rumah.”
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya.
Tapi bukan senyum hangat.
Lebih seperti akhir dari sesuatu.
Aku mengetik balasan:
“Rumah?”
“Kamu sudah menjualnya sejak kamu membiarkan orang lain menggunakannya.”
KEESOKAN HARINYA – ROOFTOP HOTEL
Vanessa sedang tertawa.
Masih merasa menang.
“Tenang aja, Celina paling cuma marah sehari dua hari,” katanya.
“Dia itu terlalu emosional.”
Adrian berdiri di sampingnya.
Diam.
Tapi kali ini… matanya tidak sama.
Dia mulai menerima sesuatu yang terlambat ia pahami.
Bahwa semuanya bukan permainan kecil lagi.
Tiba-tiba—
telepon Vanessa berdering.
Dia mengangkat santai.
“Hello?”
Beberapa detik kemudian…
senyumnya hilang.
“APA?”
Suara di seberang hanya satu kalimat:
“Seluruh akun hotel, kartu perusahaan, dan akses nama Celina Santos telah dibekukan.”
Vanessa langsung berdiri.
“Tidak mungkin! Adrian yang mengizinkan—”
Dia menoleh ke Adrian.
Untuk pertama kalinya…
Adrian tidak menjawab.
Dia tidak membantah.
Dia hanya diam.
Dan itu lebih buruk dari pengkhianatan apa pun.
DI WAKTU YANG SAMA – PRIVATE CONTROL ROOM
Aku menatap layar besar.
Semua akses keuangan sudah berpindah.
Nama Celina Santos muncul kembali sebagai satu-satunya pemilik valid.
Pengacara di sampingku berbicara pelan:
“Semua sudah kembali ke tangan Anda, Ma’am.”
Aku mengangguk.
“Belum.”
Aku berdiri.
“Ini baru langkah pertama.”
AKHIR CERITA
Di rooftop hotel itu, Vanessa mulai panik.
Adrian akhirnya membuka suara.
“Celina… kamu tidak perlu sejauh ini.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menatap mereka dari jauh, melalui laporan yang muncul di layar ponselku.
Lalu aku berkata pelan:
“Ini bukan tentang uang.”
“Ini tentang siapa yang kalian pikir bisa kalian hancurkan tanpa konsekuensi.”
Aku berhenti.
Dan menutup dokumen terakhir.
“Sekarang kalian tahu jawabannya.”
Di bawah langit Manila yang mulai gelap…
semua tawa yang kemarin terdengar di VIP room itu…
sudah tidak ada lagi.
Yang tersisa hanya satu hal:
perhitungan yang baru saja dimulai.