Posted in

Selama sepuluh tahun, aku mengirim uang untuk keluargaku. Aku pikir mereka hidup berkecukupan… sampai aku pulang tanpa memberi tahu siapa pun dan mendengar satu kalimat yang mengubah segalanya.

Selama sepuluh tahun, aku mengirim uang untuk keluargaku. Aku pikir mereka hidup berkecukupan… sampai aku pulang tanpa memberi tahu siapa pun dan mendengar satu kalimat yang mengubah segalanya.

Selama sepuluh tahun, aku bekerja di proyek-proyek konstruksi, dari Dubai hingga Doha. Aku menerima kontrak apa pun yang menawarkan penghasilan lebih besar, sambil menahan lelah, kesepian, dan rindu pada keluarga.

Aku tidur di barak sempit, makan apa saja yang murah dan cepat didapat, serta melewatkan ulang tahun dan acara sekolah anakku. Dalam pikiranku, semua pengorbanan itu akan terbayar dengan kehidupan yang layak bagi mereka.

Setiap bulan, aku mengirim uang ke Cebu, cukup untuk menafkahi istriku, Liza, putra kami Andrei, kedua orang tuaku, bahkan keluarga istriku ketika mereka membutuhkan bantuan.

Saat pertama kali merantau, Liza belum terbiasa mengelola keuangan. Karena itu, seluruh kiriman uang kukirim melalui ibuku, Mama Carmen, karena aku percaya sepenuhnya bahwa ia akan menjaga keluargaku.

Setiap kali kami berbicara lewat telepon, jawabannya selalu sama. Lama-kelamaan, kata-kata itu menjadi pegangan yang membantuku bertahan menjalani hari-hari jauh dari rumah.

— Kami baik-baik saja di sini. Jangan khawatir. Liza tidak kekurangan apa pun. Andrei juga sehat dan ceria.

Aku memilih mempercayainya tanpa keraguan.

Karena jika tidak, mungkin aku akan kehilangan semangat di tengah gurun dan deru mesin yang menemani hidupku setiap hari.

Suatu hari, kontrakku selesai lebih cepat dari perkiraan.

Alih-alih memberi kabar, aku memutuskan pulang diam-diam agar bisa melihat reaksi mereka yang sebenarnya.

Aku membeli kalung emas untuk Liza, mobil mainan remote control untuk Andrei, dan sebotol rum mahal untuk ayahku.

Sepanjang perjalanan pulang, aku membayangkan kebahagiaan saat bertemu kembali.

Saat mendekati rumah yang kubangun selama tiga tahun dengan hasil jerih payahku, jantungku berdebar penuh harapan.

Aku membayangkan Andrei berlari memelukku, sementara Liza menangis bahagia di depan pintu.

Namun ketika aku tiba menjelang senja, langkahku terhenti.

Empat mobil mewah terparkir di halaman.

Seluruh rumah terang benderang seperti sedang mengadakan pesta besar.

Musik keras dan suara tawa terdengar dari dalam.

Aku sempat berpikir mungkin ada acara keluarga yang lupa mereka ceritakan kepadaku.

Aku duduk beberapa detik di dalam mobil, mencoba memahami keadaan.

Lalu aku mengambil hadiah-hadiah itu dan berjalan perlahan ke belakang rumah, berniat memberi kejutan kepada mereka.

Tetapi sebelum sampai di dapur, aku mendengar suara seorang anak yang terdengar lemah dan kelaparan.

Dalam sekejap, hatiku terasa diremas.

— Mama… aku masih lapar…

Lalu terdengar suara Liza.

Pelan, hampir berbisik.

Dan ada ketakutan dalam suaranya yang belum pernah kudengar sebelumnya.

— Makanlah pelan-pelan, Nak… tolong… kalau Nenek mendengar kita minta lagi, dia akan marah lagi.

Duniaku seakan berhenti berputar.

Aku mendekat perlahan dan mengintip melalui pintu yang sedikit terbuka.

Apa yang kulihat adalah pemandangan yang tak pernah kubayangkan terjadi pada keluargaku sendiri.

Liza duduk di bangku plastik rendah.

Ia menyuapi Andrei dengan nasi dingin dan sisa lauk.

Anakku tampak kurus dan ketakutan.

Ia makan perlahan seolah seseorang akan merebut makanannya kapan saja.

Di samping mereka ada dua tas tua, sebuah tikar tipis, dan kipas angin rusak.

Semuanya menunjukkan satu kenyataan yang menyakitkan.

Mereka tinggal di sana.

Di belakang rumah.

Di rumah yang kubangun dengan susah payah untuk mereka.

Aku bahkan belum sempat bergerak ketika pintu dapur tiba-tiba terbuka.

Adik perempuanku, Marites, keluar sambil membawa nampan berisi daging panggang dan hidangan laut.

Ia tampak sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu di dalam rumah.

Melihat Liza dan Andrei, ia menyeringai.

Tidak ada sedikit pun belas kasihan dalam suaranya.

— Jangan sentuh makanan untuk tamu. Tunggu sampai mereka selesai makan baru kalian boleh makan sisanya.

Lalu ia mengangkat kepalanya.

Mata kami bertemu.

Dalam sekejap, tangannya gemetar.

Nampan itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara keras.

Wajahnya langsung pucat.

Sementara aku tetap berdiri di tempat.

Masih menggenggam hadiah-hadiah yang beberapa jam lalu kubeli dengan penuh kebahagiaan, tetapi sekarang terasa tidak berarti sama sekali.

Dan hanya ada satu pertanyaan yang terus berteriak di dalam kepalaku.

Selama sepuluh tahun…

Siapa sebenarnya yang menjadi raja di rumahku?

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian dari cerita tersebut:

Suara nampan yang jatuh berdentang keras di lantai semen dapur memecah keheningan senja. Daging panggang dan hidangan laut berserakan di dekat kaki Marites yang kini gemetar hebat.

“A… Abang?” suara Marites tercekat di tenggorokan. Wajahnya yang tadi angkuh berubah menjadi pias, seolah baru saja melihat hantu.

Mendengar teriakan Marites, Liza mendongak. Begitu matanya menangkap sosokku yang berdiri di kegelapan pintu belakang, mangkuk di tangannya terlepas. Air matanya luruh seketika. Ia tidak menjerit bahagia; ia justru memeluk Andrei erat-erat, seolah takut kehadiran diriku akan mendatangkan kemarahan yang lebih besar dari orang-orang di dalam rumah.

“Kuya?” Andrei kecil menatapku dengan mata bulatnya yang cekung. Dia bahkan terlalu muda untuk mengingat wajah ayah kandungnya yang hanya ia lihat lewat layar ponsel.

Aku melangkah maju. Setiap entakan sepatuku di lantai dapur terasa berat dan dingin. Aku menjatuhkan kantong berisi kalung emas, mainan, dan minuman mahal itu begitu saja di atas meja kotor. Mataku terpaku pada Andrei yang kurus dan pakaian Liza yang pudar, sangat kontras dengan gaun mahal yang dipakai Marites.

“Sepuluh tahun, Marites…” suaraku rendah, namun bergetar menahan badai amarah yang siap meledak. “Sepuluh tahun aku memeras keringat di bawah terik matahari 50 derajat Celsius. Kiriman uangku ratusan ribu peso setiap bulan. Di mana semuanya?”

Sebelum Marites sempat menjawab, pintu penghubung ruang utama terbuka. Ibuku, Mama Carmen, melangkah masuk dengan senyum lebar yang langsung membeku begitu melihatku. Di lehernya melingkar kalung berlian, dan jemarinya dipenuhi cincin emas—semuanya dibeli dengan uang yang kukirim untuk menghidupi anak dan istriku.

“Oh, anakku! Kamu pulang tidak bilang-bilang!” Mama Carmen mencoba membuka lengan untuk memelukku, berakting seolah tidak ada yang terjadi. “Ayo masuk, di dalam ada pesta ulang tahun sepupumu. Semua orang merayakan kesuksesan keluarga kita!”

Aku mundur satu langkah, menolak pelukannya. Tatapanku beralih dari perhiasan di tubuh ibuku, ke arah piring nasi dingin di depan Liza.

“Keluarga kita, Ma? Atau keluarga Mama?” tanyaku dengan nada yang teramat dingin. “Aku mengirim uang lewat Mama karena aku percaya Mama akan memastikan Liza dan Andrei tidak kekurangan. Tapi apa ini? Kenapa istri dan anakku diperlakukan seperti pembantu di rumah yang kubayar dengan darah dan keringatku sendiri?!”

Mama Carmen berdeham, mencoba menguasai keadaan dengan keangkuhan lamanya. “Ramon, dengar dulu. Liza itu tidak tahu cara mengelola uang. Kalau semua dipegang dia, uangmu pasti habis untuk keluarganya di kampung! Lagi pula, sebagai anak, sudah kewajibanmu membahagiakan orang tua dan saudara-saudaramu yang sudah membesarkanmu!”

“Membahagiakan saudara sampai membuat anakku kelaparan?!” teriakku, akhirnya meledak. Suaraku menggelegar hingga musik di ruang depan mendadak mati. Beberapa kerabat mengintip dari balik pintu dengan wajah ketakutan.

Aku berjalan mendekati Liza, berlutut di depannya, dan menggenggam tangannya yang kasar dan pecah-pecah karena terlalu banyak bekerja kasar. “Maafkan aku, Liza… Maafkan aku yang terlalu buta selama ini.”

Liza menggeleng sambil terisak, “Mereka mengambil semua kartu ATM-mu, Ramon… Mereka bilang kalau aku mengadu padamu, mereka akan menyuruhmu menceraikanku dan membuangku ke jalanan bersama Andrei. Aku tidak punya pilihan…”

Tiga Hari Kemudian…

Pesta malam itu berakhir menjadi mimpi buruk bagi seluruh keluarga besarku. Tidak ada ampun. Malam itu juga, aku mengusir Marites, orang tuaku, dan seluruh kerabat yang menumpang hidup dari uangku keluar dari rumah tersebut. Mama Carmen menangis dan mengutukku sebagai anak durhaka, tetapi hatiku sudah mati rasa. Rasa hormatku sebagai anak telah habis bersama air mata anak dan istriku.

Aku menyewa pengacara terbaik di Cebu untuk mengaudit seluruh rekening bank atas nama ibuku. Dari sana terungkap bahwa selama sepuluh tahun, lebih dari 80% uang yang kukirim digunakan untuk membeli mobil-mobil mewah yang terparkir di halaman, membiayai gaya hidup mewah Marites, dan membangun bisnis gagal untuk paman-pamanku. Sementara istri dan anakku hanya diberi jatah 5.000 peso (sekitar Rp1,3 juta) per bulan untuk bertahan hidup.

Aku langsung memblokir seluruh aliran dana dan menyita semua aset yang dibeli menggunakan uangku, termasuk empat mobil mewah yang langsung kujual untuk membersihkan nama dan keuangan keluargaku.

Satu Bulan Kemudian…

Rumah besar itu kini terasa berbeda. Tidak ada lagi musik keras, tidak ada lagi kemewahan palsu dari orang-orang parasit. Rumah itu kini sunyi, tetapi dipenuhi oleh kehangatan yang sesungguhnya.

Sore itu, aku duduk di beranda depan menyaksikan Andrei yang mulai tampak berisi dan sehat, sedang asyik merakit mobil remote control yang kubelikan. Di sampingnya, Liza duduk dengan anggun, mengenakan kalung emas pemberianku, tersenyum tanpa ada lagi beban ketakutan di wajahnya.

Aku memutuskan tidak akan pernah kembali ke Timur Tengah. Tabungan sisa penjualan aset dan sisa investasiku yang berhasil kuselamatkan lebih dari cukup untuk membuka usaha toko material di pusat kota Cebu.

Mama Carmen dan Marites beberapa kali mengirim pesan, menangis meminta maaf karena kini mereka harus tinggal di kontrakan sempit dan dikejar utang akibat gaya hidup mereka yang tidak bisa lagi kutopang. Namun, aku menghapus pesan-pesan itu tanpa ragu.

Selama sepuluh tahun aku mengira aku bekerja untuk membuat keluargaku menjadi raja. Aku keliru. Tetapi mulai hari ini, di rumah yang sesungguhnya ini, aku akan memastikan bahwa istri dan anakku tidak akan pernah lagi mengemis untuk kebahagiaan yang seharus menjadi milik mereka sejak awal.