Ibuku sendiri mengusirku demi adikku yang tidak pernah berkontribusi apa pun… mereka tidak tahu bahwa akulah yang membayar semuanya, dan ada kontrak rahasia yang akan menghantam mereka di akhir bulan.
Matahari siang menyengat di Jakarta Timur. Panasnya terasa membakar aspal dan membuat udara di dalam rumah kecil kami semakin sesak.
Aku, Mai Santos, 27 tahun, bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan logistik. Selama lebih dari dua tahun, diam-diam akulah yang menopang seluruh keluarga tanpa ada satu pun yang mau mengakuinya.
Ibuku, Lilia, senang bercerita kepada para tetangga bahwa “meskipun kami tidak kaya, keluarga kami selalu saling membantu.”
Namun kenyataannya, akulah yang membayar kontrakan rumah, cicilan utang dari warung kelontong ayah yang bangkrut, bahkan tagihan listrik dan air.
Siang hari aku bekerja di kantor.
Malam hari aku mengambil pekerjaan freelance.
Sampai-sampai aku hampir tidak punya waktu untuk tidur.
Sementara itu, adikku, Jun, selalu punya alasan baru.
Kadang katanya ada peluang bisnis besar yang akan datang.
Kadang katanya usahanya sebentar lagi akan meledak.
Tetapi yang benar-benar bertambah hanyalah koleksi sepatunya dan malam-malam yang ia habiskan di luar rumah seolah tidak memiliki tanggung jawab apa pun.
Masalah memuncak ketika suatu hari ia pulang bersama istrinya, Carla.
Mereka membawa koper-koper besar dan sebuah televisi yang dibungkus selimut, lalu masuk ke rumah seperti pemilik tempat itu.
Carla memandang sekeliling dengan tatapan menghakimi terhadap barang-barang yang bahkan tidak pernah ia bantu beli.
— Hanya sementara kok.
Kata Ibu dengan wajah yang nyaris tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Seolah yang datang adalah tamu istimewa, bukan tambahan beban dalam rumah yang sudah penuh masalah.
Aku tahu betul arti kata “sementara” di rumah ini.
Biasanya berarti berbulan-bulan.
Atau bahkan lebih lama.
Terutama jika tidak ada yang berani membicarakan kondisi keuangan yang sebenarnya.
Saat makan malam, Jun terus bercerita tentang bisnis online yang katanya akan segera sukses besar.
Sementara Carla mengeluh tentang mahalnya biaya sewa apartemen di Jakarta dan betapa mereka membutuhkan tempat tinggal yang stabil untuk memulai hidup baru.
Seolah-olah kami berkewajiban memberikannya kepada mereka.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya menatap buku catatan berisi daftar tagihan.
Bertanya-tanya sampai kapan aku masih mampu menanggung semuanya sementara orang lain berpura-pura tidak memiliki tanggung jawab.
Dua hari kemudian, saat pulang kerja, aku langsung berhenti di depan kamarku.
Pintunya terbuka.
Barang-barangku berserakan di lorong.
Seolah seseorang membuangnya begitu saja tanpa rasa bersalah.
Di dalam kamar, Carla sedang memegang salah satu bajuku dengan ekspresi jijik seakan sedang memegang sesuatu yang kotor.
Sementara Ibu berdiri di ambang pintu dengan tangan bertolak pinggang dan tatapan dingin.
Tatapan yang menunjukkan bahwa keputusan ini sudah lama dibuat.
— Keluarkan semua barangmu.
Perintahnya tanpa ragu.
— Berikan kamar ini untuk adikmu. Mereka butuh ruang pribadi.
Aku terdiam sesaat.
Awalnya kupikir ia bercanda.
Tetapi melihat keseriusan di wajahnya, aku langsung sadar bahwa itu bukan permintaan.
Itu perintah yang ia harapkan akan kupatuhi.
— Tidak.
Jawabku pelan namun tegas.
— Kalau mereka mau kamar sendiri, mereka bisa menyewa tempat tinggal. Aku juga membayar untuk rumah ini, dan jumlahnya tidak sedikit.
Ruangan langsung sunyi.
Ketegangan terasa memenuhi udara.
Wajah Ibu memerah karena marah.
Sementara Jun berdiri di belakangnya dengan senyum santai.
Senyum seseorang yang tahu ada orang lain yang akan bertarung untuknya.
— Berani sekali kamu bicara seperti itu di rumahku?!
Bentak Ibu.
Aku menatapnya langsung.
Berusaha tetap tenang meskipun jantungku berdebar keras.
Karena aku tahu inilah saat yang tidak bisa lagi kuhindari.
— Rumah Ibu?
Aku menarik napas panjang.
— Bu, kalau aku berhenti membayar semua tagihan, dalam dua minggu saja pihak bank sudah datang mengetuk pintu rumah ini.
Tamparan keras mendarat di wajahku.
Suara benturannya menggema ke seluruh rumah.
Kepalaku terlempar ke samping dan tubuhku hampir kehilangan keseimbangan.
Pipiku langsung terasa panas dan perih.
— Waktumu sudah habis! Keluar dari rumah ini!
Teriaknya sambil menunjuk pintu.
Seolah aku tidak punya hak untuk tinggal di rumah yang selama ini kuhidupi.
Jun tidak mengatakan apa-apa.
Carla juga tidak.
Dan pada saat itu, aku menyadari dengan sangat jelas bahwa aku tidak memiliki siapa pun di rumah itu.
Tidak peduli berapa banyak yang telah kukorbankan untuk mereka.
Aku masuk ke kamar dengan tenang.
Mengemasi barang-barang penting ke dalam koper tua.
Berusaha tidak menunjukkan emosi apa pun saat memasukkan satu per satu barang yang kubeli dengan uangku sendiri.
Sebelum pergi, aku meninggalkan sebuah amplop tebal di meja ruang tamu.
Di dalamnya terdapat seluruh kebenaran.
Kontrak sewa rumah.
Bukti transfer bank.
Dokumen pinjaman.
Dan semua bukti bahwa selama ini akulah yang menopang kehidupan mereka.
Ibu bahkan tidak melirik amplop itu.
Sementara aku menarik koper keluar rumah dan menutup pintu di belakangku.
Seolah menutup satu bab panjang dalam hidupku.
Hanya ada satu pikiran di kepalaku saat berjalan pergi tanpa menoleh.
Aku tahu akan datang saatnya mereka tidak bisa lagi menyangkal kenyataan.

Biarkan saja mereka menikmati rumah itu selama masih bisa.
Karena pada akhir bulan ini, rahasia yang selama ini kusimpan akan terungkap.
Dan ketika hari itu tiba, mereka akhirnya akan mengerti siapa yang sebenarnya memegang kendali atas semuanya.
Suara pintu depan yang kututup dengan keras menjadi penanda akhir dari babak pembodohan dalam hidupku. Di luar, aspal Jakarta Timur masih memantulkan panas yang menyengat, tetapi di dalam dadaku, segalanya mendadak terasa dingin dan lapang.
Aku melangkah menuju jalan raya, menaikkan koperku ke dalam taksi yang sudah kupesan, lalu melaju menuju sebuah apartemen studio kecil dekat kantorku yang sudah kusewa secara diam-diam sejak minggu lalu.
Dua Minggu Kemudian…
Telepon pertamaku dari Ibu masuk tepat di pertengahan bulan. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh amarah seperti hari ketika ia menampar wajahku. Ada nada panik yang ditahan.
— Mai… Kamu di mana? Kenapa tagihan listrik bulan ini belum dibayar? Orang PLN baru saja datang ke rumah mau memutus meteran. Telepon kamu juga susah sekali dihubungi.
Aku bersandar di kursi kerjaku, menatap layar komputer yang menampilkan laporan keuangan perusahaan logistik tempatku bekerja. Aku tersenyum tipis.
— Oh, ya? Ibu kan punya Jun. Suruh Jun yang bayar, Bu. Bisnis online-nya kan sebentar lagi meledak, bukan begitu?
— Mai! Jangan kekanak-kanakan! Uang Jun masih berputar di modal usaha. Cepat transfer uangnya ke rekening Ibu, malu dilihat tetangga kalau listrik sampai diputus!
— Maaf, Bu. Uangku sudah habis untuk membayar sewa tempat tinggalku yang baru.
Aku langsung menutup telepon tanpa menunggu makiannya. Itu baru permulaan. Mereka mengira amplop tebal yang kutinggalkan di meja ruang tamu hanyalah gertakan sambal. Mereka bahkan tidak repot-repot membuka dan membaca isinya dengan teliti. Jika mereka membacanya, mereka akan tahu bahwa badai yang sesungguhnya bukan sekadar pemutusan listrik.
Akhir Bulan, Hari Penentuan…
Hari itu adalah tanggal 31. Sesuai dengan tanggal yang tertera pada dokumen di dalam amplop tersebut, kontrak rahasia yang kutandatangani dua bulan lalu akhirnya jatuh tempo.
Sejak awal, pemilik asli rumah yang kami tempati sudah berniat menjual asetnya karena membutuhkan dana cepat. Selama ini, aku memperpanjang sewa per enam bulan atas namaku sendiri. Namun, ketika aku tahu Jun dan Carla berencana menumpang hidup selamanya di sana, aku mengambil keputusan besar. Aku menggunakan seluruh tabungan freelance-ku untuk membayar uang muka pembelian rumah tersebut ke pihak bank, bukan sebagai hadiah untuk keluarga, melainkan sebagai investasi atas namaku sendiri: Mai Santos.
Kontrak rahasia itu menyatakan bahwa hak sewa rumah resmi berakhir pada akhir bulan ini, dan kepemilikan mutlak jatuh ke tanganku. Dan sebagai pemilik baru, aku punya hak penuh untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di sana.
Pukul sepuluh pagi, ponselku bergetar tanpa henti. Kali ini bukan hanya Ibu, tetapi Jun dan Carla bergantian meneleponku. Aku sengaja membiarkannya sampai panggilan kesepuluh, baru mengangkatnya.
Suara Ibu terdengar histeris di seberang telepon, diiringi suara Carla yang memaki-maki di latar belakang.
— MAI! APA-APAAN INI?! Ada tiga orang pria berbadan besar datang membawa surat penyitaan dan pengosongan rumah! Mereka bilang rumah ini sudah dijual dan kami harus keluar hari ini juga! Cepat bicara pada mereka, Mai! Katakan kalau ini rumah kita!
Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati momen yang sudah lama kunantikan.
— Ibu salah dengar. Pria-pria itu bukan menyita rumah. Mereka adalah petugas dari agen properti yang kusewa untuk mengosongkan rumah milikku.
Suara di seberang sana mendadak hening. Hanya terdengar deru napas Ibu yang memburu karena syok.
— M-Maksudmu apa, Mai? Jangan bercanda!
— Aku tidak bercanda, Bu. Buka amplop tebal yang kutinggalkan di meja dua minggu lalu. Di lembar paling belakang, ada sertifikat kepemilikan rumah atas namaku, lengkap dengan surat perintah pengosongan. Selama dua tahun ini, akulah yang membayar setiap jengkal tanah yang Ibu injak. Dan hari ketika Ibu menamparku demi membela anak kesayangan Ibu yang tidak berguna itu… hari itu juga aku memutuskan untuk berhenti menjadi penopang kalian.
Jun tiba-tiba merebut ponsel dari tangan Ibu, suaranya terdengar gemetar penuh ketakutan yang nyata.
— Kak! Kamu tidak bisa mengusir kami seperti ini! Kami mau tinggal di mana?! Carla sedang hamil! Kamu kejam sekali pada adikmu sendiri!
— Kamu punya banyak koleksi sepatu mahal, kan, Jun? Jual saja semuanya untuk menyewa apartemen,” kataku dengan nada sedatar mungkin. “Lagipula, bukankah usahamu sebentar lagi meledak? Ini saatnya kamu membuktikan ucapanmu pada Ibu. Tunjukkan pada Ibu bagaimana cara seorang laki-laki bertanggung jawab, jangan hanya berani bersembunyi di balik punggung seorang wanita tua.
— Mai! Kamu anak durhaka! Ibu yang melahirkanmu!
Suara Ibu kembali terdengar, menangis histeris, mencoba menggunakan kartu rasa bersalah yang selama ini selalu berhasil membuatku tunduk.
Namun kali ini, hatiku sudah sekeras batu.
— Aku sudah melunasi utang melahirkan itu dengan menanggung hidup kalian selama sepuluh tahun tanpa pernah dihargai, Bu. Hari ini, rumah itu akan dikunci dan digembok. Silakan bawa Jun dan Carla keluar dari sana.
Aku memutuskan sambungan telepon, lalu mematikan ponselku sepenuhnya.
Sore harinya, aku berdiri di depan jendela apartemenku, memandang langit Jakarta yang perlahan berubah jingga. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pundakku terasa ringan. Tidak ada lagi daftar tagihan yang mencekik, tidak ada lagi pekerjaan freelance hingga larut malam hanya untuk membiayai kemalasan orang lain.
Kudengar dari kerabat jauh, sore itu Ibu, Jun, dan Carla terpaksa mengemas koper-koper mereka di bawah tontonan para tetangga—hal yang paling ditakuti oleh Ibuku yang gila hormat. Mereka kini harus menumpang di rumah petak sempit milik saudara Carla, hidup berdesakan tanpa kemewahan palsu yang dulu kubiayai.
Ibuku sendiri mengusirku demi anak yang tidak pernah berkontribusi apa pun. Mereka mengira mereka bisa membuangku setelah mengambil semuanya. Namun mereka lupa, akulah yang memegang fondasi tempat mereka berdiri. Dan ketika fondasi itu kutarik, seluruh dunia mereka runtuh tanpa sisa.