Istana yang Tak Pernah Tidur
Namaku Arka Pratama Wijaya, tiga puluh lima tahun, CEO kerajaan bisnis teknologi dan kesehatan terbesar di Indonesia.
Aku memiliki segalanya—uang, kekuasaan, dan pengaruh.
Namun saat itu, aku merasa seperti ayah paling gagal di dunia.
Sebulan yang lalu, istriku tercinta, Clara Wijaya, meninggal karena komplikasi saat melahirkan.
Ia meninggalkan kami berdua bayi kembar: Leon dan Luna.
Sejak Clara pergi, rumah megah kami di kawasan elit Jakarta Selatan berubah menjadi neraka yang tak pernah tidur.
Leon dan Luna menangis siang malam tanpa henti.
Mereka sulit tidur.
Menolak minum susu.
Tubuh kecil mereka semakin lemah dari hari ke hari.
Aku menghabiskan miliaran rupiah untuk mencari bantuan.
Aku mendatangkan dokter anak terbaik dari Singapura dan Amerika.
Aku menyewa perawat bayi kelas dunia dengan gaji ratusan juta rupiah per bulan.
Tetapi semuanya menyerah.
Tak seorang pun mampu menenangkan Leon dan Luna.
Menurut para dokter, kedua bayi itu merasakan kehilangan yang begitu dalam terhadap ibu mereka.
Karena kurang tidur dan depresi berat, aku berubah menjadi atasan yang dingin dan kejam.
Petugas Kebersihan yang Diremehkan
Karena situasi di rumah semakin kacau, Kepala Perawat kami, Agatha Santoso, merekrut beberapa asisten rumah tangga dan petugas kebersihan baru.
Salah satunya adalah Elara Putri, wanita berusia dua puluh enam tahun.
Tubuhnya kurus.
Selalu menunduk.
Dan hampir selalu mengenakan seragam longgar yang kebesaran.
“Elara! Cepat sedikit! Mengepel saja tidak becus!” bentak Agatha suatu malam di koridor dekat kamar bayi.
“Dan ingat baik-baik! Jangan pernah masuk ke kamar anak-anak Pak Arka! Tanganmu penuh kuman karena kerja bersih-bersih!”
“I-Iya, Bu…” jawab Elara dengan suara gemetar sambil terus mengepel lantai.
Dari dalam kamar bayi, tangisan Leon dan Luna kembali menggema.
Tangisan mereka begitu keras hingga wajah mereka memerah dan napas mereka hampir habis.
Para perawat mahal di dalam ruangan panik.
Mereka menggendong dan mengayun-ayunkan bayi-bayi itu.
Namun semakin mereka mencoba, semakin keras tangisan itu terdengar.
Saat itu aku berada di ruang kerja di sebelah kamar bayi.
Aku memegangi kepala sendiri.
Mata merah karena menangis.
Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Naluri Seorang Ibu
Di luar ruangan, Elara sudah tidak tahan mendengar tangisan kedua bayi itu.
Ia meletakkan pelnya.
Tanpa ragu sedikit pun, ia mendorong pintu kamar bayi.
“Hei! Apa yang kau lakukan?!” teriak Agatha sambil mencoba menarik lengannya.
“Kau sudah gila?! Petugas kebersihan tidak boleh masuk ke sini!”
“Lepaskan saya!” balas Elara dengan berani.
“Kalau begini terus, bayi-bayi itu bisa sakit!”
Dengan satu gerakan, Elara melepaskan diri dari cengkeraman Agatha.
Ia berlari menuju dua boks bayi mewah yang berdiri di tengah ruangan.
Sebelum para perawat sempat menghentikannya, Elara mengangkat Leon dengan tangan kanan dan Luna dengan tangan kirinya.
Lalu…
Dengan sangat lembut…
Ia memeluk kedua bayi itu erat ke dadanya.
Dan tepat pada saat itulah…
Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun mulai terjadi.
Bersambung… 👇

Bab Terakhir: Wanita yang Membawa Pulang Hati yang Hilang
Begitu Leon dan Luna dipeluk Elara, keajaiban terjadi.
Tangisan yang selama satu bulan mengguncang seluruh mansion tiba-tiba berhenti.
Sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak Clara meninggal.
Semua orang terpaku.
Para perawat saling menatap.
Agatha bahkan lupa bernapas.
Leon yang biasanya menangis sampai wajahnya merah kini menempel erat di dada Elara.
Sementara Luna menggenggam seragam wanita itu dengan jari-jari mungilnya.
Seolah mereka akhirnya menemukan seseorang yang selama ini mereka cari.
“A-apa yang terjadi…?” bisik salah satu dokter.
Saat itulah seorang dokter wanita melihat sesuatu pada seragam Elara.
Noda basah.
Tepat di bagian dadanya.
Dokter itu langsung membeku.
Lalu wajahnya berubah pucat.
“Tuan Arka…”
“Saya rasa wanita ini masih memproduksi ASI.”
Ruangan langsung gempar.
Agatha berteriak.
“Itu tidak mungkin!”
“Tidak mungkin!”
Namun dokter itu menggeleng.
“Saya yakin.”
“Sangat yakin.”
Aku menatap Elara.
Tatapan kami bertemu.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat kesedihan yang jauh lebih dalam daripada milikku.
“Kamu pernah punya bayi?” tanyaku pelan.
Air mata langsung jatuh dari matanya.
Ia mengangguk.
“Ya, Pak.”
“Seorang bayi perempuan.”
“Namanya Aluna.”
Suara Elara pecah.
“Dia meninggal satu bulan yang lalu.”
Dadaku terasa sesak.
Satu bulan lalu.
Tanggal yang sama saat Clara meninggal.
Tangannya bergetar hebat.
Lalu akhirnya ia mengungkapkan rahasia yang selama ini disembunyikannya.
“Tiga tahun lalu…”
“Saya menjadi ibu pengganti.”
Seluruh ruangan membeku.
“Saya membutuhkan uang untuk operasi jantung adik saya.”
“Perusahaan medis milik Grup Wijaya menawarkan program surrogate mother.”
“Saya menyetujuinya.”
Air mata terus mengalir.
“Sembilan bulan saya mengandung dua bayi.”
“Sembilan bulan saya berbicara dengan mereka setiap malam.”
“Sembilan bulan saya menyanyikan lagu sebelum tidur.”
Elara memeluk Leon dan Luna lebih erat.
Dan suara berikutnya membuat seluruh dunia seakan berhenti berputar.
“Dua bayi itu adalah Leon dan Luna.”
Aku tidak bisa bernapas.
Para dokter terdiam.
Para perawat menutup mulut mereka.
Agatha jatuh terduduk.
Sementara aku hanya bisa menatap wanita yang berdiri di depanku.
Wanita yang selama ini dianggap tidak lebih dari petugas kebersihan.
Ternyata pernah menjadi rumah pertama bagi anak-anakku.
Ternyata suara jantungnya adalah suara pertama yang mereka dengar.
Ternyata pelukannya adalah tempat pertama mereka merasa aman.
Air mata yang selama ini kutahan akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Aku berlutut.
Bukan sebagai miliarder.
Bukan sebagai CEO.
Melainkan sebagai seorang ayah yang terlambat memahami segalanya.
“Maafkan aku…”
Suara itu nyaris tak terdengar.
Elara menangis semakin keras.
“Aku tidak pernah ingin mengambil mereka dari Clara.”
“Aku hanya…”
Ia menatap kedua bayi itu.
“Aku hanya merindukan mereka.”
Saat itulah Leon membuka matanya.
Ia menatap Elara.
Lalu tersenyum.
Senyuman pertama yang muncul sejak Clara meninggal.
Luna ikut tertawa kecil.
Ruangan yang selama satu bulan dipenuhi tangisan akhirnya dipenuhi suara lain.
Tawa bayi.
Malam itu, aku membuat keputusan terbesar dalam hidupku.
Aku meminta Elara tetap tinggal.
Bukan sebagai petugas kebersihan.
Bukan sebagai pembantu.
Tetapi sebagai bagian dari keluarga.
Bulan demi bulan berlalu.
Leon dan Luna tumbuh sehat.
Mereka memanggilku “Papa.”
Dan memanggil Elara dengan satu nama yang membuat matanya selalu berkaca-kaca.
“Mama Ela.”
Tidak ada yang berusaha menggantikan Clara.
Karena cinta tidak pernah bisa digantikan.
Tetapi hati yang hancur bisa disembuhkan.
Tiga tahun kemudian.
Di taman belakang mansion yang dipenuhi bunga putih kesukaan Clara.
Leon dan Luna berlari sambil tertawa.
Aku berdiri di samping Elara.
Melihat anak-anak kami bermain di bawah matahari sore.
“Ayah…”
kata Leon sambil menunjuk langit.
“Menurut Ayah, Mama Clara bisa melihat kita?”
Aku tersenyum.
Lalu mengangguk.
“Bisa.”
“Dan Mama Clara pasti bahagia.”
Luna memegang tangan Elara.
“Karena sekarang kami punya dua malaikat.”
Elara langsung menangis.
Aku menggenggam tangannya erat.
Memandang langit yang perlahan berubah jingga.
Untuk pertama kalinya setelah kehilangan besar itu…
Rumah kami bukan lagi istana yang dipenuhi kesedihan.
Melainkan rumah yang kembali dipenuhi cinta.
Dan terkadang…
Keajaiban terbesar tidak datang dari uang, kekuasaan, atau teknologi.
Melainkan dari seorang wanita sederhana yang diam-diam membawa pulang hati yang hilang.