“Nikahilah Putraku yang Mengidap Penyakit Berat, dan Aku Akan Memberimu Uang yang Cukup untuk Mengubah Hidupmu.”
Kalimat itu diucapkan dengan tenang oleh pengusaha paling berkuasa di kota itu, seolah-olah yang dibicarakannya hanyalah sebuah kesepakatan biasa.
Namun gadis muda yang duduk di hadapannya mengajukan satu pertanyaan yang langsung membuat seluruh ruangan terdiam.
“Kalau suatu hari nanti dia sembuh… apakah Anda benar-benar akan membiarkannya menjalani hidup sesuai keinginannya sendiri?”
Di luar mansion yang berdiri megah di kawasan perbukitan kota, hujan turun tanpa henti.
Cahaya kuning dari lampu kristal memantul di atas meja panjang di perpustakaan yang luas, menciptakan suasana dingin dan berat.
Don Alejandro perlahan meletakkan cangkir tehnya.
“Siapa namamu?”
“Isabella Reyes.”
“Kau tahu kondisi putraku?”
“Ya, Pak.”
“Dan kau tetap setuju?”
Isabella mengangguk pelan.
“Saya sudah lama merawat pasien.”
Pria tua itu menatapnya cukup lama.
“Kau membutuhkan uang?”
“Ya.”
“Banyak?”
“Cukup untuk membiayai pengobatan ibu angkat saya.”
Don Alejandro tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan dalam senyuman itu.
Sudah terlalu banyak orang yang mendekati keluarganya demi uang.
Namun gadis yang duduk di depannya terasa berbeda.
Pakaiannya sederhana.
Tasnya sudah usang.
Tetapi tatapannya teguh.
Tidak gemetar. Tidak pula berpura-pura.
“Bagus.”
Ia berdiri.
“Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini.”
—
Lantai tiga mansion itu sangat sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar menghantam jendela.
Seorang pelayan berbicara pelan saat mereka berjalan melewati koridor panjang.
“Jangan membuat Tuan Gabriel terluka.”
“Apakah dia orang yang sulit didekati?”
Wanita itu ragu sejenak sebelum menjawab.
“Tidak juga…”
“Hanya saja sepertinya dia sudah tidak ingin berbicara dengan siapa pun.”
Mereka berhenti di depan pintu terakhir di ujung lorong.
Saat pintu dibuka, tampak sebuah kamar luas namun gelap.
Hanya satu lampu yang menyala di dekat jendela.
Seorang pria duduk di sana membelakangi pintu.
Ia mengenakan sweater gelap.
Bahunya tampak kurus.
Di meja sampingnya tersusun berbagai obat dan dokumen rumah sakit.
Pelayan itu berkata pelan,
“Tuan Gabriel… orang yang dikirim Don Alejandro sudah datang.”
Beberapa detik berlalu sebelum pria itu menjawab.
“Aku tidak ingin bertemu siapa pun.”
Namun Isabella tetap melangkah masuk.
“Saya sudah di sini.”
Pria itu perlahan menoleh.
Isabella sempat terpaku.
Selama ini ia mengira seseorang yang lama menderita penyakit berat pasti tampak lemah dan rapuh.
Namun Gabriel berbeda.
Meski wajahnya pucat, ia tetap sangat tampan.
Dan matanya…
Penuh kelelahan dan dingin, seolah sudah terlalu sering dikecewakan oleh hidup.
“Jadi kau yang berikutnya?” tanyanya dingin.
“Maksudnya?”
“Perempuan yang dikirim ayahku untuk membuatku merasa lebih baik.”
Isabella duduk di hadapannya.
“Mungkin… saya yang terakhir.”
Gabriel tertawa pelan.
Kalau bukan karena suasana kamar yang begitu sunyi, suara itu mungkin tak akan terdengar.
“Kalau kau pintar, kau akan pergi sekarang juga.”
“Kenapa?”
“Karena tinggal di sini terasa menyesakkan.”
Isabella memandang sekeliling.
Tirai selalu tertutup.
Udara terasa dingin.
Dan seluruh ruangan seakan kehilangan kehidupan.
Ia bertanya dengan lembut,
“Kamu tidak mau membuka jendela?”
“Tidak.”
“Atau mungkin kamu memang sudah tidak ingin melihat apa pun lagi?”
Gabriel langsung menatapnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berbicara kepadanya secara terus terang.
Tanpa rasa kasihan.
Tanpa rasa takut.
Dan tanpa kepura-puraan.
“Kau pikir kau mengerti aku?” tanyanya.
“Tidak.”
Isabella tersenyum tipis.
“Tapi saya tahu bagaimana rasanya melihat seseorang yang perlahan mengurung dirinya sendiri dalam kesedihan.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Hujan di luar terdengar semakin deras.
Gabriel menatapnya lama sebelum akhirnya berbicara lagi.
“Jadi kau di sini karena uang… atau karena ingin menyelamatkan seseorang?”
Isabella terdiam sesaat.
“Ada orang-orang yang… meskipun hanya bisa tersenyum sedikit lagi, itu tetap berharga.”
Jari Gabriel mencengkeram sandaran kursinya lebih erat.
Dan tepat pada saat itu—
BRAK!
Suara keras terdengar dari lantai bawah.
Disusul langkah kaki dan teriakan yang bergema di sepanjang koridor.
Pintu kamar mendadak terbuka.
Seorang petugas keamanan masuk dengan napas terengah-engah.
“Tuan Gabriel… ada orang-orang yang menerobos masuk ke mansion!”
“Mereka mencari sesuatu yang sudah lama disembunyikan oleh Don Alejandro!”
Wajah Gabriel langsung menegang.
Namun Isabella lebih terkejut lagi ketika sesuatu jatuh dari saku petugas keamanan itu.

Sebuah kalung tua.
Dan simbol yang terukir di kalung tersebut…
Persis sama dengan satu-satunya kenang-kenangan yang ditinggalkan ibu kandungnya sebelum menghilang bertahun-tahun lalu.
Suasana di dalam kamar mendadak membeku. Suara hujan yang deras di luar seolah tenggelam oleh detak jantung Isabella yang berdegup kencang.
Mata Isabella terpaku pada kalung perak tua yang tergeletak di lantai kayu. Simbol matahari dengan bulan sabit di tengahnya—sebuah ukiran yang sangat langka. Selama puluhan tahun, Isabella menyimpan replika persis seperti itu di dalam dompet usangnya, satu-satunya petunjuk tentang wanita yang telah melahirkannya.
Gabriel, meskipun tubuhnya lemah, memiliki ketajaman insting yang luar biasa. Ia menyadari perubahan drastis pada raut wajah Isabella.
“Isabella? Ada apa?” tanya Gabriel, suaranya beralih dari dingin menjadi penuh selidik.
Sebelum Isabella sempat menjawab, petugas keamanan itu menyadari kecerobohannya. Dengan wajah panik, ia buru-buru membungkuk untuk mengambil kalung itu, namun gerakan Isabella lebih cepat. Isabella menginjak ujung rantai kalung tersebut, memaksa si petugas mendongak menatapnya dengan tatapan mengancam.
“Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?” tanya Isabella, suaranya bergetar namun sarat akan tuntutan.
“Ini bukan urusanmu, Nona! Kita harus keluar dari sini sekarang! Mansion ini sudah tidak aman!” bentak petugas itu, mencoba menarik kalung tersebut.
Serangan di Lantai Bawah
BRAK! BANG!
Suara tembakan terdengar dari arah tangga utama, disusul jeritan para pelayan. Don Alejandro mungkin pria paling berkuasa di kota ini, tetapi malam ini, musuh-musuhnya telah menemukan celah untuk menghancurkannya.
“Mereka tidak mencari uang Ayah,” bisik Gabriel tiba-tiba. Wajahnya yang pucat tampak mengeras. Ia mencengkeram lengan kursi roda, mencoba menegakkan tubuhnya yang didera rasa sakit. “Mereka mencari Proyek Aurora… penelitian medis ilegal yang dibiayai Ayah untuk menyembuhkanku. Dan wanita yang memimpin penelitian itu…”
Gabriel menatap Isabella, lalu beralih pada kalung di bawah kaki gadis itu.
“Wanita itu menghilang lima belas tahun lalu setelah mengkhianati Ayah. Nama belakangnya… Reyes.”
Bagai disambar petir di malam hari, Isabella mundur satu langkah. Ibu kandungnya bukan meninggalkannya karena tidak sayang, melainkan karena melarikan diri dari cengkeraman Don Alejandro. Dan pernikahan ini… kesepakatan ini… apakah ini semua benar-benar kebetulan? Atau Don Alejandro sengaja menjebaknya untuk memancing ibunya keluar?
“Tuan Muda, maafkan saya,” petugas keamanan itu tiba-tiba mencabut pisau belati dari balik seragamnya. Matanya memancarkan keputusasaan. “Don Alejandro harus membayar apa yang dia lakukan pada keluarga kami. Dan Anda… adalah bayaran terbaik.”
Perlindungan di Tengah Badai
Petugas itu menerjang ke arah Gabriel. Di dalam kamar yang gelap, penyakit Gabriel membuatnya mustahil untuk menghindar dengan cepat.
Namun, Isabella tidak tinggal diam. Instingnya sebagai seorang perawat yang terbiasa menghadapi situasi darurat langsung mengambil alih. Ia menyambar lampu meja kristal di dekatnya dan menghantamkannya tepat ke punggung petugas tersebut.
PRANG!
Lampu itu hancur, membuat petugas itu terhuyung dan jatuh ke lantai, tak sadarkan diri.
Napas Isabella memburu. Di tangannya yang gemetar, ia memungut kalung tua itu dan menggenggamnya erat. Ia menatap Gabriel, yang kini memandangnya dengan tatapan yang sepenuhnya berubah—tidak ada lagi keangkuhan, yang ada hanyalah rasa hormat dan… rasa ingin tahu yang mendalam.
“Kau… kau putri dari Elena Reyes, bukan?” tanya Gabriel dengan suara serak.
“Aku datang ke sini untuk menyelamatkan ibu angkatku,” kata Isabella dengan air mata yang mulai mengenang, namun tatapannya tetap tajam. “Tapi sepertinya, mansion ini menyimpan jawaban atas seluruh hidupku.”
Gabriel memegang tangan Isabella. Tangannya dingin, tetapi genggamannya sangat kuat.
“Kalau begitu, jangan pergi,” kata Gabriel, matanya berkilat di tengah kegelapan. “Menikahlah denganku, Isabella. Bukan demi uang Ayahku, tapi demi menghancurkan rahasia pria tua itu bersama-sama. Aku ingin bebas dari penyakit ini, dan kau ingin tahu kebenarannya.”
Di luar, suara sirine polisi mulai terdengar bersahut-shutan dengan suara badai. Pintu kamar mereka digedor dari luar oleh pengawal pribadi Don Alejandro yang tersisa.
Isabella melihat ke arah pintu, lalu kembali menatap pria di hadapannya. Gabriel bukan lagi pria sakit yang tidak berdaya; di balik tubuhnya yang rapuh, ada sekutu yang paling berbahaya yang bisa ia miliki.
Isabella tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menandakan akhir dari kepasrahannya terhadap takdir.
“Baiklah, Gabriel. Mari kita mulai pernikahan ini.”