Posted in

Dengan hati-hati aku membuka pintu, dan langsung disambut oleh pemandangan kacau di ruang tamu.

Dengan hati-hati aku membuka pintu, dan langsung disambut oleh pemandangan kacau di ruang tamu.

Meja kaca besar di tengah sudah pecah.

Doña Teresa berdiri di tengah berantakan itu, memegangi dadanya sambil terengah-engah. Di lantai, cucunya Nico menangis keras, sementara pecahan kaca berserakan di sekelilingnya.

—Apa yang terjadi? —tanyaku, cepat menilai situasi.

—Nico terpeleset! —teriak Liza sambil memeluk anak itu.—Darah! Ada darah!

Marco mendekat ke arahku seperti otomatis berharap aku yang menyelesaikan masalah ini.

—Anna, tolong kami!

Aku menatapnya beberapa detik.

Lima hari.

Lima hari mereka menunjukkan betapa mudahnya membuat seseorang merasa tidak berguna ketika sudah tidak dibutuhkan lagi.

Tapi aku tidak bisa membiarkan seorang anak terluka.

Aku cepat mengambil kotak P3K dan berlutut di depan Nico.

—Tenang ya, lukanya kecil.

Tangis anak itu perlahan mereda saat aku membersihkan luka di lututnya.

Beberapa menit kemudian, kondisinya sudah lebih baik.

Namun Doña Teresa masih duduk, wajahnya pucat.

—Mama? —tanya Marco cemas.

Dia tidak menjawab.

Saat itulah aku melihat tangannya sedikit bergetar.

—Sejak kapan tekanan darahnya tinggi?

Marco dan Liza saling berpandangan.

Tidak ada yang menjawab.

Dan dari situ aku langsung mengerti jawabannya.

Mereka tidak tahu.

Karena selama lima hari terakhir mereka sibuk mengeluh dan bergantung pada orang lain, bahkan kondisi ibu mereka sendiri pun mereka tidak perhatikan.

—Dia punya obat rutin? —tanyaku.

—Sepertinya ada… —jawab Marco pelan.

—Sepertinya?

Dia diam.

Aku menarik napas panjang.

—Di mana obatnya?

Kami mencari di barang-barang Doña Teresa sampai akhirnya menemukan botol obat rutin itu.

Aku membaca labelnya.

Sudah tiga minggu tidak diminum.

Mataku membesar.

—Marco.

—Apa?

—Sudah tiga minggu ibumu tidak minum obat.

Seperti disiram air dingin, Marco terdiam.

—Tidak mungkin.

Aku menunjukkan botol itu.

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

Bahkan Doña Teresa menunduk.

—Aku pikir… sudah ada yang membelinya… —katanya pelan.

Tidak ada yang berbicara.

Karena kami semua tahu siapa yang biasanya melakukannya.

Aku.

Aku yang mengisi ulang obatnya.

Aku yang membayar.

Aku yang mengingatkan jadwalnya.

Aku yang memperhatikan.

Dan saat Marco mengatakan “kita masing-masing urus diri sendiri,” dia bahkan tidak menyadari berapa banyak hal yang diam-diam aku tangani setiap hari.

Pelan-pelan Marco duduk di sofa.

Seperti baru melihat gambaran besar untuk pertama kalinya.

Ternyata bukan hanya uang yang hilang ketika aku berhenti membantu.

Tapi juga semua hal yang selama ini tidak ia sadari.

Hal-hal sederhana yang membuat rumah tetap berjalan.

Tagihan.

Jadwal.

Obat.

Kebutuhan.

Ketenangan.

Semua itu sudah lama aku pikul tanpa keluhan.

Dan sekarang, semuanya runtuh satu per satu di depan matanya.

Keesokan harinya, aku terkejut melihat Marco bangun lebih pagi.

Dia yang memasak.

Dia yang mencuci piring.

Dia yang mengantar ibunya ke klinik.

Dia yang membeli obat.

Aku hanya mengamati dalam diam.

Malamnya, dia mengetuk pintu kamarku.

Tidak seperti biasanya, tidak ada lagi kesombongan di wajahnya.

Hanya kelelahan.

Dan sesuatu yang sudah lama tidak kulihat.

Pemahaman.

—Anna.

Aku tidak menjawab.

—Boleh kita bicara?

Pelan-pelan aku menutup laptop.

Di layar masih terbuka file berjudul “Record.”

Hari ke-6.

Untuk pertama kalinya, Marco mulai merasakan beratnya tanggung jawab yang selama ini ia lemparkan ke orang lain.

Aku membaca kalimat itu dalam hati sebelum menatapnya.

— Masuklah, kuncinya tidak dikunci, — kataku pelan.

Marco mendorong pintu kamar dengan ragu-ragu. Langkah kakinya terasa berat, sangat kontras dengan langkah angkuh yang biasa ia tunjukkan selama lima hari terakhir ini. Dia tidak langsung duduk, melainkan berdiri di dekat ujung tempat tidur, meremas kedua tangannya sendiri.

— Anna… aku mau minta maaf, — suaranya serak, nyaris tenggelam oleh keheningan malam. — Hari ini… hari ini adalah hari paling melelahkan dalam hidupku. Dan aku baru sadar, ini adalah hari-hari biasa yang kamu jalani setiap hari selama bertahun-tahun kita bersama.

Aku bersandar pada sandaran kursi, melipat tangan di dada, dan menatapnya dengan pandangan datar. Tidak ada amarah, tidak ada air mata. Hanya ada kekosongan yang teramat sangat.

— Aku harus mengantre dua jam di klinik, berdebat dengan petugas asuransi yang rumit, lalu syok saat melihat total harga obat Mama di apotek, — lanjut Marco, tawa pahit lolos dari bibirnya. — Selama ini aku pikir uang bulanan yang kuberikan sudah lebih dari cukup untuk semuanya. Aku tidak pernah tahu kalau biaya medis Mama, pecahan piring yang diganti, hingga detergen di kamar mandi… semuanya ditutupi oleh uangmu. Dan yang paling membuatku merasa bodoh… adalah waktu dan tenagamu.

— Kamu baru merasakannya satu hari, Marco, — ujarku tenang, memotong kalimatnya. — Aku melakukannya selama tiga tahun. Tanpa ucapan terima kasih, dan berakhir dengan kalimat ‘kita masing-masing urus diri sendiri’ dari mulutmu saat kamu merasa sudah di atas angin.

Marco menunduk dalam-dalam. Bahunya bergetar. — Aku tahu aku brengsek, Anna. Aku membiarkan Liza dan Mama menginjak-injak posisimu di rumah ini. Aku pikir, dengan membiarkan mereka mengambil alih urusan rumah, aku bisa mendapat ketenangan. Tapi ternyata… rumah ini lumpuh tanpa kamu.

Dia melangkah mendekat, lalu berlutut di samping kursiku, mencoba meraih tanganku. Namun dengan halus, aku menarik tanganku menjauh dan meletakkannya di atas pangkuan.

Penolakan itu membuat Marco membeku. Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan memohon.

— Beri aku kesempatan lagi, Anna. Tolong. Aku akan menyuruh Liza dan Nico pindah besok pagi. Aku akan menegaskan pada Mama untuk tidak lagi mencampuri urusan kita. Aku akan belajar memasak, mencuci, dan membagi semua beban ini bersamamu. Jangan pergi… aku tidak bisa mengelola hidupku tanpamu.

Aku menatap pria di hadapanku ini. Penyesalannya nyata. Kelelahannya asli. Tapi sayangnya, pemahaman itu datang bukan karena dia menyayangiku, melainkan karena dia menyadari betapa mahalnya “fasilitas” hidup yang hilang ketika aku berhenti peduli.

Dia merindukan kenyamanan yang kuberikan, bukan diriku sebagai istrinya.

— Marco, — panggilku lembut, untuk terakhir kalinya. — Kamu tahu kenapa aku mencatat setiap hari di file ‘Record’ ini?

Marco melirik layar laptopku yang masih menyala samar.

— Awalnya, aku mencatatnya untuk melihat apakah kamu akan menyadari ketidakhadiranku dalam hal-hal kecil di rumah ini. Hari pertama, kamu mengeluh karena kopi tidak siap. Hari ketiga, kamu marah karena kemejamu belum disetrika. Dan hari kelima… ibumu hampir celaka karena tidak ada yang memeriksa obatnya.

Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin malam itu memenuhi dadaku.

— Catatan ini adalah caraku untuk melepaskan rasa bersalah. Dulu aku selalu berpikir, jika aku pergi, bagaimana hidup kalian? Siapa yang akan mengurus Mama? Siapa yang akan menengahi kalian? Tapi hari ini, melihatmu bangun pagi, memasak, dan pergi ke klinik… aku akhirnya mendapatkan jawabanku.

Aku menatapnya dengan seulas senyum tipis—senyum perpisahan.

— Kamu bisa, Marco. Kamu hanya malas selama ada aku yang bisa kamu babat habis tenaganya. Kamu tidak butuh aku untuk mengurus hidupmu. Kamu hanya perlu tumbuh dewasa.

— Anna, tidak… jangan bicara begitu, — air mata Marco akhirnya luruh. Dia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini.

— Gugatan cerai kita akan dikirim oleh pengacaraku besok siang, — kataku sambil menutup layar laptopku dengan bunyi klik yang tegas. — Rumah ini adalah milik bersama, jadi aku akan tinggal di hotel mulai malam ini sampai proses hukum membagi aset kita selesai.

Aku berdiri, meraih tas kerja dan koper kecil yang sudah kusiapkan di sudut kamar sejak sore tadi. Aku berjalan melewati Marco yang masih terpaku di lantai, hancur oleh realitas yang baru saja menghantamnya.

Saat aku membuka pintu kamar dan melangkah ke ruang tamu, Doña Teresa dan Liza sedang duduk di sana dengan wajah tegang. Tidak ada lagi tatapan sinis atau perintah ketus yang biasanya mereka lemparkan padaku. Yang ada hanyalah tatapan penuh kecemasan dari orang-orang yang tahu bahwa masa-masa nyaman mereka telah usai.

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun pada mereka. Aku melangkah keluar, menutup pintu rumah itu di belakangku, dan menyambut angin malam yang terasa begitu melegakan.

Tanggung jawabku pada mereka telah selesai. Kini, saatnya aku mengurus hidupku sendiri.