Aku menjual diriku demi menyelamatkan ayahku…
Dan aku mengira akan dipeluk oleh seorang taipan sejati yang benar-benar mencintaiku.
Sampai “mantan kekasihnya” muncul…
Sofia Ramirez baru berusia sembilan belas tahun ketika ia terpaksa menandatangani sebuah perjanjian rahasia demi membayar tagihan rumah sakit ayahnya yang sangat besar setelah terkena stroke.
Pria yang menolongnya adalah Alejandro Villareal.
Salah satu pengusaha paling berkuasa di kota itu.
Dikenal dingin, kejam, dan tidak tahu cara mencintai.
Tapi kepada Sofia…
dia begitu lembut sampai hampir tidak masuk akal.
Kadang, Sofia hanya bercanda bahwa ia menyukai kue coconut caramel dari sebuah toko kecil dekat pantai.
Keesokan harinya—
Alejandro membeli seluruh toko kue itu.
Sejak saat itu, setiap pagi selalu ada kue baru yang dikirim hanya untuknya.
Suatu malam, Sofia demam tinggi setelah kehujanan.
Alejandro, yang saat itu sedang perjalanan bisnis ke luar negeri, langsung membatalkan semua pertemuan dan terbang pulang malam itu juga.
Sepanjang malam ia berjaga di samping tempat tidur Sofia.
Ia terus mengganti kompres di dahi Sofia sambil pelan mencoba memberinya obat.
Dengan suara serak ia berbisik:
“Kalau sesuatu terjadi padamu… aku bisa gila.”
Dan Sofia percaya.
Ia percaya bahwa pria itu benar-benar mencintainya.
Sampai suatu hari…
seorang wanita mendekatinya.
Elegan, mengenakan gaun putih, dengan senyum penuh percaya diri.
“Aku Veronica.”
“Aku wanita yang dulu paling dicintai Alejandro.”
Tangan Sofia tiba-tiba menjadi dingin.
Veronica perlahan menyeruput kopi sebelum melanjutkan:
“Tujuh tahun lalu, Alejandro melamarku.”
“Tapi aku memilih pergi ke luar negeri untuk karierku.”
“Sekarang… aku sudah kembali.”
Ia menatap Sofia langsung.
“Dan aku tahu, ketika aku kembali, aku masih akan dipilih olehnya.”
Lalu ia mengeluarkan sebuah cek.
Sofia menegang saat melihat jumlahnya.
“Lima puluh juta peso Filipina (±Rp14 miliar).”
“Ambil ini dan hilang dari hidupnya.”
Sofia berusaha tetap tenang.
“Kamu pikir dia masih mencintaimu?”
Veronica tertawa.
“Kamu tahu kenapa dia sangat memanjakanmu?”
“Karena kamu mirip denganku dulu.”
Dada Sofia terasa sesak.
Veronica mengambil ponselnya.
“Ayo kita taruhan.”
“Aku akan mengirim pesan ke Alejandro bahwa mobilku rusak.”
“Dan kamu, bilang bahwa kamu kecelakaan.”
“Kita lihat siapa yang dia pilih.”
Sofia menggigit bibirnya.
Ada bagian dari dirinya yang ingin mundur.
Tapi pada akhirnya…
ia mengangguk.
Dua pesan dikirim bersamaan.
Setiap detik penantian terasa seperti penyiksaan.
Sofia tidak melepaskan pandangannya dari ponsel.
Kenangan bersama Alejandro berputar di kepalanya.
Saat ia menangis kesakitan dan Alejandro memijat perutnya semalaman.
Saat malam Natal, Alejandro memeluknya erat sambil menonton kembang api dari jendela penthouse.
Dan bisikannya:
“Kalau bisa… aku ingin bersamamu selamanya.”
Dan di ulang tahun ke-20 Sofia…
Alejandro membawanya ke tempat dingin di utara untuk melihat aurora.
Di bawah cahaya langit berwarna-warni, Alejandro mencium tangannya dan berkata:
“Mulai sekarang… setiap ulang tahunmu, aku akan bersamamu.”
Mata Sofia memerah saat mengingat itu.
Sampai—
ponsel Veronica berbunyi.
Ia tersenyum dan mengaktifkan loudspeaker.
“Di mana kamu?”
Suara rendah Alejandro terdengar.
Sofia langsung menegang.
Veronica tersenyum kecil.
“Kamu sibuk?”
Hening beberapa detik.
Lalu Alejandro menjawab cepat:
“Tidak.”
“Kirim lokasimu.”
Dalam sekejap—
Sofia pucat.
Ponselnya tetap diam.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada pesan.
Veronica tersenyum menang.
“Kamu lihat?”
“Dia masih memilih aku.”
Sofia berbisik:
“Sebegitu besarnya dia mencintaimu dulu?”
Veronica tertawa.
“Sangat.”
“Dia membeli satu toko kue untukku.”
“Dia membawaku melihat aurora.”
“Bahkan saat dia alergi kucing, dia tetap mengizinkan kucing peliharaanku tidur di kamar kami.”
Setiap kata—
seperti pisau yang menancap di hati Sofia.
Saat itu ia sadar—
semua cinta yang diberikan Alejandro padanya…
ternyata adalah bayangan dari masa lalu wanita lain.
Veronica kembali mendorong cek itu.
“Kalau kamu kalah, kamu harus tahu kapan mundur.”
Sofia menunduk lama.
Lalu akhirnya ia mengambil cek itu.
“Baik.”
“Aku akan pergi.”
Di luar hujan deras.
Sofia berjalan pulang tanpa arah, basah kuyup dan gemetar.
Sesampainya di mansion, ponselnya berbunyi.
Dosen pembimbingnya.
“Sofia, kamu yakin menerima beasiswa ke Eropa?”
“Itu kesempatan besar.”
Sofia menatap hujan di jendela.
Lalu pelan menjawab:
“Iya.”
“Aku akan pergi.”
“Bagus, penerbanganmu sudah dipesan.”
“Sepuluh hari lagi.”
Sepuluh hari.
Tepat di hari ulang tahun Alejandro.
Sofia melingkari tanggal itu di kalender.
Lalu membuka lemari.
Di sana ada jas yang ia jahit sendiri selama tiga bulan untuk hadiah ulang tahun Alejandro.
Setiap jahitan…
penuh cinta.
Tapi sekarang—
semua itu tidak berarti lagi.
Ia membuang jas itu ke tempat sampah.
Dan berbaring demam sambil menggigil.
Beberapa jam kemudian…
ia samar-samar mendengar pintu mansion terbuka keras.
Langkah kaki tergesa.
Lalu pintu kamar terbuka.
Sebuah tangan dingin menggenggamnya kuat.
Dengan suara serak dan hampir kehilangan kendali, Alejandro berkata:
“Sofia!”
“Siapa yang mengizinkanmu meninggalkanku?!”
Di tengah demam dan pusing…
Sofia belum sempat membuka mata ketika ia mendengar tawa yang familiar dari belakang.

“Alejandro…”
“Sudah datang ya.”
Dan saat itu—
udara di ruangan langsung terasa berat.
Bab Terakhir: Melepaskan Sang Ilusi
Udara di dalam kamar seketika membeku. Sofia membuka matanya yang berat karena demam, mendapati Alejandro berdiri di sisi tempat tidurnya dengan napas memburu dan pakaian yang basah oleh air hujan. Namun, tatapan Alejandro tidak lagi tertuju pada Sofia.
Pandangannya telah beralih ke ambang pintu, tempat Veronica berdiri dengan senyum kemenangan yang anggun.
“Veronica? Mengapa kamu ada di sini?” suara Alejandro terdengar tertahan, ada riak emosi yang tak bisa Sofia artikan.
“Mobilku mogok di dekat sini, dan aku tahu Sofia sedang sakit, jadi aku datang menemaninya,” dusta Veronica dengan sangat mulus. Ia melangkah mendekat, seolah-olah kamar ini adalah wilayah kekuasaannya. “Kamu panik sekali, Alejandro. Bukankah tadi kamu bilang sedang sibuk?”
Sofia memandangi keduanya. Di dalam dada Sofia, sesuatu yang selama ini ia sebut ‘harapan’ akhirnya hancur sepenuhnya. Alejandro tidak membalas pesan daruratnya tentang kecelakaan bukan karena pria itu tidak melihatnya, melainkan karena perhatiannya langsung tersita begitu nama Veronica muncul di layarnya.
“Keluar, Veronica,” perintah Alejandro dingin, namun ada kegelisahan yang menyelimuti suaranya.
“Baiklah. Aku hanya ingin memastikan gadismu baik-baik saja,” Veronica mengedipkan sebelah mata ke arah Sofia, sebuah isyarat rahasia bahwa taruhan mereka telah selesai. Veronica berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan keheningan yang mencekik di antara Sofia dan Alejandro.
Sepuluh Hari Sandiwara
Alejandro segera berlutut di samping tempat tidur Sofia, mencoba menyentuh dahinya yang panas. “Kenapa kamu bisa basah kuyup? Kenapa tidak meneleponku?”
Sofia menarik kepalanya perlahan, menghindari sentuhan tangan yang dulu begitu ia puja. “Ponselku mati,” bisik Sofia lirih, berbohong demi menyembunyikan luka yang teramat dalam.
Alejandro menghela napas berat, lalu dengan telaten mengganti kompres di dahi Sofia, persis seperti yang sering ia lakukan dulu. Namun, bagi Sofia, kelembutan ini tidak lagi terasa hangat. Setiap sentuhan Alejandro kini terasa seperti racun. Sofia tahu, pria ini tidak sedang merawat Sofia Ramirez—dia sedang merawat memori tentang Veronica yang mengidap demam di masa lalu.
Selama sepuluh hari berikutnya, Sofia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia memakan kue coconut caramel yang dikirim setiap pagi, meskipun rasanya kini hambar di lidahnya. Ia membiarkan Alejandro memeluknya di malam hari, mendengarkan detak jantung pria itu yang ternyata tidak pernah berdetak untuknya. Sofia hanya menghitung hari, mengemasi barang-barangnya sedikit demi sedikit saat Alejandro pergi bekerja.
Sampai hari kesepuluh tiba. Hari ulang tahun Alejandro.
Hadiah Ulang Tahun Terakhir
Malam itu, penthouse Alejandro dihiasi lilin-lilin kecil. Sofia memasak makanan kesukaan Alejandro. Pria itu pulang dengan senyum yang jarang memperlihatkan dirinya, tampak bahagia karena bisa menghabiskan hari jadinya bersama Sofia.
“Kamu memasak semua ini sendiri?” Alejandro memeluk Sofia dari belakang, menghirup aroma rambutnya. “Aku punya hadiah untukmu. Besok, aku akan membawamu ke Paris.”
Sofia tersenyum tipis, berbalik di dalam pelukannya. “Aku juga punya hadiah untukmu, Alejandro. Tapi, kamu hanya boleh membukanya setelah aku tidur.”
“Mengapa begitu misterius?” Alejandro terkekeh, mengecup kening Sofia lama.
Tepat pukul sembilan malam, Sofia pamit ke kamar dengan alasan mengantuk karena efek obat demamnya. Alejandro membiarkannya, beralih ke meja makan tempat sebuah kotak hadiah berwarna hitam elegan diletakkan.
Saat Alejandro membuka kotak tersebut, jantungnya mendadak berhenti berdetak.
Di dalam kotak itu tidak ada jas mewah yang dijahit Sofia selama tiga bulan—karena jas itu telah berakhir di tempat pembuangan sampah. Di dalam kotak itu hanya ada tiga benda:
- Cek senilai 50 juta peso yang diberikan oleh Veronica.
- Surat perjanjian rahasia kontrak mereka, yang sudah dirobek menjadi dua.
- Sebuah surat singkat dengan tulisan tangan Sofia yang rapi.
Untuk Alejandro Villareal,
Terima kasih telah menyelamatkan ayahku. Uang kontrakmu sudah kulunasi seluruhnya menggunakan cek dari Veronica di dalam kotak ini. Hubungan kita telah impas.
Terima kasih juga telah menjadikanku ‘pemeran pengganti’ yang baik selama ini. Kue caramel, aurora, dan semua perhatianmu… aku mengembalikannya kepada pemilik aslinya. Veronica sudah kembali, dan kamu tidak perlu lagi mencari bayangannya pada diriku.
Jangan mencariku. Karena Sofia Ramirez yang bodoh dan mencintaimu, sudah mati sejak sepuluh hari yang lalu.
Kepergian dan Penyesalan
“Sofia!”
Suara Alejandro menggelegar di seluruh penthouse. Dengan kepanikan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, ia berlari menuju kamar tidur.
Pintu dibuka kasar. Kamar itu kosong.
Lemari pakaian Sofia terbuka, menyisakan gantungan baju yang kosong. Di atas meja rias, tergeletak cincin pemberian Alejandro. Di sudut ruangan, sebuah koper yang biasa Sofia gunakan sudah tidak ada.
Alejandro merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, mencoba menghubungi nomor Sofia.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi…”
Ia beralih menghubungi sekertarisnya, suaranya naik beberapa oktav, dipenuhi keputusasaan yang liar. “Lacak paspor Sofia Ramirez! Cari tahu ke mana dia pergi sekarang juga!! Sediakan jet pribadi!”
Dua puluh menit kemudian, sebuah pesan masuk dari sekretarisnya:
“Tuan Villareal, Nona Sofia Ramirez telah naik ke pesawat tujuan London satu jam yang lalu. Penerbangannya baru saja lepas landas.”
Alejandro terduduk di lantai kamar yang dingin. Ponselnya terlepas dari genggaman.
Matanya menatap kalender di dinding, di mana tanggal hari ini dilingkari oleh Sofia dengan spidol merah, dan di bawahnya tertulis: Selamat tinggal, Ilusiku.
Pada saat itulah, Alejandro menyadari satu hal yang terlambat. Saat ia bergegas menemui Veronica sepuluh hari lalu, itu bukanlah karena cinta, melainkan karena ia ingin menyelesaikan urusan masa lalunya agar bisa sepenuhnya berkomitmen pada Sofia. Namun, egonya yang dingin telah menghancurkan satu-satunya wanita yang benar-benar tulus mencintainya.
Di bawah langit malam kota yang diguyur hujan, sang taipan kejam itu akhirnya meneteskan air mata. Ia telah mendapatkan kembali masa lalunya, namun ia telah kehilangan masa depannya secara permanen.
Sementara itu, ribuan kaki di udara, Sofia Ramirez menatap keluar jendela pesawat. Air matanya menetes untuk terakhir kali sebelum ia menghapusnya dengan tegas. Di atas benua yang baru, ia tidak akan lagi menjadi bayangan siapapun. Ia akan menjadi dirinya sendiri.