Posted in

Gundik suamiku, ternyata selingkuhan ayahnya sendiri. Akan aku bongkar setelah suamiku resmi menikahinya. Ku ingin lihat, bagaimana reaksinya….

***

“Aduh, Mbak Tiara… kok hadiahnya kecil banget sih?”

Tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang.

Seorang wanita dengan kebaya pengantin putih, dan rambut disanggul elegan berjalan berlenggak-lenggok mendekat.

Tentu saja…

Siapa lagi kalau bukan Riana.

“Mbak,” ucapnya sambil melirik kotak kecil di tanganku, dengan tatapan meremehkan.

“Ibu mertua kita ini orang kaya dan terhormat. Masa cuma dikasih hadiah sekecil itu? Jangan malu-maluin keluarga Mahendra dong, Mbak.”

Aku menggeleng pelan sambil menaikkan sudut bibir. Aku tak percaya ucapan itu keluar dari mukutnya, sungguh tidak tahu diri.

“Apa kata kamu tadi?” tanyaku pelan. “Malu-maluin keluarga Mahendra?”

“Iya…” Riana mengangguk sok polos, sambil sedikit mengedipkan mata.

Melihat ekspresi itu justru membuat hatiku tergelitik.

“Yang malu-maluin keluarga Mahendra sebenarnya siapa, heumh?” Aku tertawa kecil. “Dasar Salome.”

Degh!

Riana langsung melotot ke arahku.

Jelas dia merasa tersindir.

Sementara aku hanya melipat tangan di dada, sambil menatapnya tajam tanpa takut sedikit pun.

“Tiara!”

Bu Yulia langsung menegur keras.

“Jaga bicaramu! Jangan seperti orang kampung!” bentaknya.

“Sudah beberapa tahun kamu jadi menantu keluarga Mahendra, apa kamu nggak tahu cara beretika saat bicara?”

Aku langsung tertawa kecil mendengar ucapan itu.

“Etika?” ulangku pelan.

Tatapanku bergantian menatap mereka.

“Lalu bagaimana dengan Bu Yulia sendiri? Yang selalu merendahkan orang lain, tapi bertopeng dengan kata-kata elegan. sindirku dingin. “Munafik banget.”

“Tiara kamu—”

Namun belum sempat Bu Yulia melanjutkan ucapannya, tiba-tiba suara Tuan Harlan terdengar dari belakang.

“Hey! Kenapa kalian masih ngumpul di sini?”

Pria itu berjalan mendekat sambil tersenyum lebar.

“Ayo, ayo… langsung aja ke meja penghulu.”

Dan yang membuatku muak…

Ia terang-terangan langsung merangkul pundak Riana dengan begitu akrab.

Benar-benar seperti pria cabul berkedok ayah mertua yang berwibawa.

“Tiara, simpan saja hadiah kecilmu itu,” ucap Bu Yulia dingin.

Aku langsung menegang mendengar penolakan itu.

“Tapi, Bu… ini…”

Namun mereka lebih dulu pergi sebelum aku sempat melanjutkan kata-kataku.

Aku mendengus kesal, melihat punggung mereka yang semakin menjauh.

“Aduh… gimana ini?” bisikku pelan sambil menggenggam kotak hadiah di tanganku dengan erat.

“Kalau Bu Yulia nggak mau nerima hadiah ini, gimana aku bisa ngebongkar kebusukan Riana dan Tuan Harlan?” aku mulai gelisah.

Tapi tiba-tiba…

“Kenapa, Tiara?”

Aku menoleh.

Zay kini berdiri di sampingku, sambil memasukkan tangan ke saku celana.

Aku langsung menggeleng cepat.

“Nggak… nggak apa-apa.”

Nada suaraku jelas terdengar sesak.

Tentu saja aku tidak mungkin bercerita sembarangan padanya.

Namun tiba-tiba pria itu berkata santai,

“Kenapa? Kamu mau ngasih flashdisk itu ke Bu Yulia?”

Degh!

Aku langsung melotot ke arahnya.

“Kok kamu tahu isi kotak ini flashdisk?!”

Zay hanya mengangkat bahu dengan santai.

“Oh… Jadi bener ya? Kalo itu flash disk?” tanyanya balik.

“Tunggu-tunggu!” Aku langsung panik. “Kamu tahu dari mana? Perasaan, aku nggak pernah nunjukin ini ke siapa-siapa. Bahkan ke karyawan butikku pun nggak!Aku selalu simpan ini baik-baik di dalam tas.”

“Nggak penting aku tahu dari mana,” jawab Zay santai. “Yang penting… Kalau kamu mau, aku bisa bantu mutarin flashdisk itu di depan semua orang.”

“Apa?!”

Aku benar-benar tercekat.

“Kamu bisa?”

“Yah…” Ia tersenyum kecil. “Aku bisa.”

Aku menatap pria itu lama.

Pikiranku langsung penuh tanda tanya.

Bagaimana mungkin dia tahu niatku?

Dan bagaimana dia tahu isi kotak itu adalah flashdisk?

Aku jelas tidak boleh terlalu mudah percaya pada orang asing.

Tapi…

Aku juga tidak punya pilihan lain.

“Baik…” ucapku akhirnya. “Tapi apa rencana kamu?”

“Mudah.”

Zay menunjuk layar monitor besar di depan ballroom, yang sedang menampilkan suasana pesta secara langsung.

“Kita putar videonya di layar itu,” sarannya.

Aku langsung menoleh ke arah monitor besar tersebut.

“Menarik…. Tapi gimana caranya?” tanyaku lagi.

Zay malah terkekeh kecil.

“Kalau itu biar jadi urusanku. Yang penting kamu bilang ke mereka, kalau hadiah besar akan diputar di layar itu, gimana? Bisa?”

Aku terdiam sambil berpikir.

Percaya padanya memang berisiko. Apalagi aku baru mengenal pria ini.

Namun kalau aku terus ragu, maka usahaku selama ini juga akan sia-sia.

Maka dari itu, aku pertaruhkan semuanya di sini. Jika Zay serius mau membantu, maka ini keberuntungan bagiku. Tapi jika ternyata dia berkhianat. Maka habislah sudah.

“Ok.” Aku akhirnya mengangguk pelan. “Aku setuju. Tapi jangan minta bayaran mahal-mahal ya!”

Pria itu langsung tertawa kecil.

“Tapi tunggu dulu, sampai akad nikahnya selesai.” kata Zay.

“Lho?” Aku mengernyit bingung. “Kenapa?”

“Karena kalau sebelum akad nikah…” Zay tersenyum tipis, “pasti kurang seru.”

Ia mendekat sedikit lalu berbisik pelan,

“Tapi kalau Riana sudah sah jadi istrinya Rey Mahendra. Bukankah itu jauh lebih menghancurkan?”

Degh.

Aku langsung terdiam.

Benar juga.

Kalau perselingkuhan itu kubongkar sebelum akad…

Sama saja aku menyelamatkan Rey Mahendra dari pernikahan rumit ini.

Tidak. Bukan itu niatku.

Biarkan saja dia masuk lebih dulu ke dalam jebakan itu.

Aku perlahan tersenyum tipis.

“Pintar…” gumamku puas. “Oke. Aku setuju.”

***

Aku menatap ke arah meja akad.

Di sana, Mas Rey sedang menjabat tangan seorang pria tua, yang katanya adalah Pak Sasongko—pengusaha batu bara terkaya dari Pulau seberang yang merupakan ayah Riana.

Semua orang tersenyum bangga melihat pemandangan itu.

Benar-benar seperti keluarga besar yang terhormat.

“Cih…”

Tiba-tiba Zay mendecih pelan di sampingku.

“Apa pernikahan ini bisa dibilang sah, ya?”

Aku langsung menoleh heran ke arahnya.

“Kenapa, Zay?”

Pria itu tersenyum miring sambil tetap menatap ke arah depan.

“Karena… Dia bukan ayahnya Riana.”

Degh!

Aku langsung membelalak.

“Apa?!”

Aku spontan menoleh lagi ke arah pria tua itu.

“Dia bukan ayahnya Riana?” tanyaku bingung.

Namun Zay hanya mengangguk santai.

“Yah… benar.”

“Tapi dari mana kamu tahu?”

Aku semakin bingung dengan pria di sampingku ini.

Sebenarnya siapa dia?

Dan kenapa rasanya dia jauh lebih mengenal Riana, dibanding keluarga Mahendra sendiri?

Namun Zay malah mengibaskan tangan malas.

“Udahlah, nggak usah dibahas. Kamu dengar? Dagunya menunjuk meja akad. “Akad nikahnya udah selesai.”

Aku langsung menoleh.

Dan benar saja…

Suara tepuk tangan mulai terdengar memenuhi ballroom.

“Sekarang waktunya. Mana flashdisk itu?” pinta Zay.

Degh.

Jantungku langsung berdebar keras.

Aku menatap pria itu beberapa detik sambil menelan saliva gugup.

Entah kenapa aku masih ragu.

Namun semuanya sudah terlalu jauh untuk dihentikan sekarang.

Akhirnya aku menarik napas panjang, lalu menyerahkan kotak berpita emas itu ke tangan Zay.

Dan begitu menerimanya… pria itu langsung pergi begitu saja meninggalkanku.

Cepat.

Tanpa penjelasan apa pun.

Sementara aku hanya bisa berdiri diam memandangi punggungnya dengan perasaan semakin tidak tenang.

***

Beberapa saat kemudian, Mas Rey datang menghampiriku dengan wajah penuh kemenangan.

“Tiara…” senyumnya tipis meremehkan. “Katanya kamu mau kasih hadiah besar buat kami. Mana?”

“Cih!” Bu Yulia langsung ikut menyahut. “Hadiah besar apaan? Tadi dia cuma kasih Mama kotak kecil segede cincin.”

Aku terdiam sesaat sambil menatap ke sekitar ballroom.

‘Duh…Zay…Jangan-jangan dia bohongin aku.’ gumamku agak gelisah.

“Kenapa diem?” ejek Mas Rey lagi. “Apa sekarang kamu nyesel, lihat aku udah bersanding sama perempuan lain?”

“Amit-amit…” seruku spontan.

“Seujung kuku pun aku nggak nyesel, Mas.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Kalian tunggu aja. Hadiah besar buat keluarga Mahendra, benar-benar udah aku siapkan kok.”

“Ya mana?” tantang Bu Yulia sinis.

Dan tiba-tiba…

Klik!

Lampu ballroom mendadak mati.

“Ah!”

Beberapa tamu langsung berseru kaget.

Suasana ballroom seketika ricuh.

“Ada apa ini?”

“Listriknya mati?”

Namun bersamaan dengan itu…

Layar monitor besar di depan panggung tiba-tiba menyala terang.

Degh!

Mataku langsung membelalak.

Dan saat itulah aku sadar, kalau ini lah waktunya.

Aku perlahan tersenyum tipis.

“Nah… Ini dia…” seruku.

Aku menunjuk layar besar di depan.

“Hadiah besar yang aku maksudkan, untuk keluarga Mahendra.”

_______

Baca selanjutnya di KBM ya

Judul : Gundikmu itu, Selingkuhan Ayahmu, Mas