Posted in

Suami rasisku tertawa puas saat membuang seluruh barang-barangku ke luar rumah ketika aku baru saja melahirkan bayi kembar kami di rumah sakit. Ibu mertuaku bahkan tega mengunci pintu dan berteriak bahwa anak melarat như aku tidak pantas membawa sial ke dalam keluarga terhormat mereka. Namun, tawa mereka seketika lenyap ketika sebuah helikopter pribadi mendarat tepat di halaman rumah, dan puluhan pengawal bersetelan hitam turun untuk menjemputku.

Hujan deras mengguyur kota Surabaya siang itu, namun hatiku jauh lebih dingin. Aku, Amara, duduk lemas di teras rumah dengan menggendong dua bayi kembarku yang baru berusia tiga hari.

Brak! Pintu rumah mewah itu terbuka. Baim, suamiku, keluar bersama ibunya, Ibu Sarah. Mereka menatapku penuh kebencian.

“Pergi kamu dari sini, Amara! Bawa anak-anak sial ini!” bentak Baim sambil menendang tas pakaianku hingga jatuh ke tanah dan basah kuyup.

“Tega kamu, Baim? Ini anak-anakmu! Aku baru saja keluar dari rumah sakit!” tangisku sambil mendekap erat kedua bayiku yang mulai menangis kedinginan.

Ibu Sarah maju dan meludah ke samping. “Anak-anakmu itu pembawa sial! Sejak Baim menikah dengan perempuan miskin sepertimu, bisnis keluarga kami selalu rugi. Pergi! Cari bapak baru yang melarat sana!”

“Tapi aku tidak punya tempat tinggal, Ibu…” lirihku, memohon belas kasihan demi kedua darah dagingku.

“Bukan urusan kami! Kunci pintunya, Baim!” teriak Ibu Sarah tanpa perasaan. Pintu besi yang kokoh itu tertutup rapat di depan mataku.

Tiba-tiba, suara gemuruh yang sangat keras memecah langit. Angin kencang bertiup membuat pepohonan di halaman rumah mewah itu bergoyang hebat.

Sebuah helikopter mewah berwarna hitam dengan logo emas “Suryoningrat Group” mendarat darurat tepat di halaman luas rumah Baim.

Pintu helikopter terbuka. Belasan pria tegap berpakaian setelan hitam langsung berlari keluar, membentuk barisan barikade. Di tengah-tengah mereka, muncul seorang pria tua berwibawa yang sangat disegani di negeri ini: Sang Konglomerat, Baskoro Suryoningrat.

Baim dan Ibu Sarah yang mengintip dari jendela langsung berlari keluar dengan wajah pucat pasi. Mereka tahu siapa pria itu. Dia adalah pemilik jaringan bisnis terbesar yang memegang seluruh utang perusahaan Baim.

Namun, langkah kaki pria tua itu bukan menuju ke arah Baim. Dia langsung berlari kearahku, lalu berlutut di tanah yang basah tanpa memedulikan pakaian mahalnya.

“Putriku… Amara! Maafkan Ayah baru menemukanmu sekarang!” ucap Pak Baskoro dengan mata berkaca-kaca, memelukku dan kedua bayiku.

Baim dan Ibu Sarah membeku. Lidah mereka mendadak kelu, jantung mereka serasa berhenti berdetak.

“Pu… Putri? Amara anak tunggal penguasa Suryoningrat Group yang hilang?!” bisik Baim dengan tubuh gemetar hebat.

Pak Baskoro berdiri, menatap Baim dan ibunya dengan tatapan membunuh. “Kalian… telah menyentuh milikku yang paling berharga.”