AKU MEMBATALKAN PERNIKAHANKU SETELAH TUNANGANKU MENYERAHKAN MIMPI TERBESARKU KEPADA ANAK EMAS KELUARGANYA…

Namun pada malam sebelum aku meninggalkan Indonesia, dia berlutut di tengah hujan sambil memegang tiket sekali jalan milikku dengan tangan yang gemetar.

Ruang rapat di Universitas Indonesia, Depok terasa sangat dingin malam itu.

Jari-jariku hampir membeku saat menatap layar besar di depan ruangan.

Logo program pertukaran internasional bersama University of Melbourne masih terpampang jelas.

Beasiswa itu…

Aku memperjuangkannya selama delapan tahun.

Delapan tahun begadang di perpustakaan.

Delapan tahun mengajar les malam di Jakarta Selatan sambil menjadi asisten peneliti demi membeli buku dan melanjutkan studiku.

Delapan tahun untuk membuktikan bahwa meskipun aku hanya dianggap “tambahan” dalam keluarga Santoso, aku tetap bisa menjadi yang terbaik di departemen.

Tapi pada akhirnya…

“Setelah evaluasi akhir, dewan memutuskan untuk memberikan Visiting Research Fellowship kepada Nadia Pratama.”

Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

Hanya aku yang tetap duduk diam.

Tubuhku bahkan tidak bergerak.

Nama Nadia Pratama yang terpampang di layar terasa seperti tamparan yang terus berulang.

Dia duduk hanya dua kursi dariku.

Dia adalah putri dari ibu tiriku.

Sejak kecil, dia selalu menjadi putri kesayangan keluarga Pratama karena wajahnya sangat mirip dengan mendiang istri ayah tiriku.

Bahkan pria yang akan menikah denganku…

Memilih berpihak padanya.

“Dan seluruh pendanaan program ini akan diberikan oleh Wijaya Group Holdings.”

Dekan mengumumkannya.

Sementara pria yang duduk di ujung meja rapat…

Adalah tunanganku.

Arga Wijaya.

Pria yang kucintai selama tujuh tahun.

Aku menggenggam pena hingga buku-buku jariku memutih.

Sudah tiga hari aku mengetahui semua ini.

Aku melihat tanda tangan Arga pada dokumen persetujuan.

Dialah yang memiliki keputusan akhir.

Dan dia memilih Nadia.

“Kak Alina, jangan sedih ya.”

Nadia menghampiriku setelah rapat selesai.

Dia mengenakan gaun putih dengan rambut bergelombang lembut, terlihat begitu polos di mata semua orang.

Dia tersenyum tipis.

“Toh sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Wijaya.”

Lalu dia mendekat ke telingaku.

“Kamu tidak perlu bekerja keras untuk hal-hal seperti ini lagi.”

“Dari dulu sampai sekarang, semua hal yang kamu perjuangkan bertahun-tahun… cukup kudapatkan dengan beberapa tetes air mata.”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku lelah berebut.

Lelah bertanya kenapa.

Karena akhirnya aku mengerti.

Jika seseorang benar-benar mencintaimu…

Dia tidak akan membiarkan orang lain merebut mimpimu di depan matanya.

Arga berdiri di koridor saat aku keluar dari ruang rapat.

Dia mengenakan setelan hitam yang membuatnya tampak menonjol di bawah lampu kuning kampus.

Masih tampan.

Masih membuat siapa pun terpesona.

Sayangnya…

Aku sudah terlalu lama menatapnya selama tujuh tahun terakhir.

“Alina.”

Panggilannya terdengar pelan.

Aku berhenti.

“Itu keputusan dewan.”

Aku hampir tertawa.

Kalau dia ingin berbohong…

Setidaknya lakukan dengan lebih baik.

“Aku tahu.”

Dia tampak tidak terbiasa melihatku setenang ini.

Keningnya sedikit berkerut.

“Nadia masih muda. Dia butuh rekam jejak yang bagus.”

“Sedangkan kamu…” katanya sambil menatapku lama, “sebentar lagi akan menjadi istriku. Kamu tidak perlu bersusah payah lagi.”

Dulu…

Kalimat “kamu akan menjadi istriku” sudah cukup membuatku bahagia selama seminggu.

Tapi malam ini…

Yang kurasakan hanya kelelahan.

“Baiklah.”

Aku melewatinya.

Aku tidak lagi menarik lengan bajunya seperti dulu.

Aku tidak bertanya jam berapa dia pulang.

Aku juga tidak bertanya apakah dia masih mencintaiku.

“Pulanglah lebih awal nanti,” katanya dari belakang.

“Kita akan membahas undangan pernikahan bersama Papa.”

Undangan pernikahan.

Aku langsung teringat tumpukan kartu undangan merah di apartemen kami di SCBD Jakarta.

Aku sendiri yang memilih desainnya.

Aku sendiri yang memesan tulisan emasnya.

Dulu aku pikir…

Aku adalah wanita paling bahagia di Jakarta.

Sampai malam ini.


Pukul sepuluh malam.

Penthouse Arga terasa sunyi sementara lampu-lampu Jakarta berkilauan di balik jendela.

Aku membuka laci paling bawah.

Semua undangan pernikahan masih ada di sana.

Aku mengambil satu.

Menatapnya cukup lama.

Lalu memasukkannya ke mesin penghancur kertas.

Suara mesin bergema di seluruh ruang tamu.

Tulisan emas nama kami hancur menjadi serpihan.

“Alina Santoso & Arga Wijaya.”

Ternyata tujuh tahun hubungan kami juga bisa hancur semudah itu.

Tiba-tiba laptopku bergetar.

Email baru.

Aku menarik napas panjang sebelum membukanya.

“Congratulations. Your application to the University of British Columbia has been officially approved.”

Aku terdiam cukup lama.

Sudah dua bulan aku menyembunyikan aplikasi itu.

Tidak ada yang tahu aku mendaftar ke Kanada.

Tidak ada yang tahu aku sedang mempersiapkan kepergian dari Indonesia.

Dan terlebih lagi…

Tidak ada yang tahu bahwa aku sudah lama mempertimbangkan untuk meninggalkan Arga.

Hujan mulai turun di luar jendela.

Aku menarik koper dari bawah tempat tidur.

Melipat pakaian satu per satu.

Tepat saat itu pintu terbuka.

Arga masuk.

Ujung lengan kemejanya sedikit basah oleh hujan.

“Nadia masuk rumah sakit,” katanya sambil meletakkan jam tangannya di meja. “Aku mengantarnya ke IGD.”

Aku tidak menjawab.

Pandangannya jatuh ke koperku.

Lalu ke serpihan undangan pernikahan di samping mesin penghancur kertas.

Keheningan langsung memenuhi apartemen.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku menutup resleting koper.

“Aku akan pergi.”

Keningnya langsung berkerut.

“Ke mana?”

Aku tidak langsung menjawab.

Perlahan, aku mengeluarkan tiket pesawat dari laci.

Lalu meletakkannya di depannya.

Jakarta — Vancouver

06.40 WIB

One Way Ticket

Saat dia membacanya…

Wajahnya langsung berubah.

“Alina…”

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di matanya.

Tangannya sedikit gemetar saat memegang tiket itu.

“Apakah… kamu benar-benar meninggalkanku?”

Air mata perlahan menggenang di mata Arga.

Namun kali ini, aku tidak lagi merasakan kemenangan, kepuasan, ataupun sakit hati.

Yang tersisa hanyalah ketenangan.

Ketenangan seseorang yang akhirnya berhenti menunggu.

“Alina… jangan pergi.”

Suaranya serak.

Aku tersenyum tipis.

“Bukankah selama ini kamu yang mengajariku untuk pergi?”

Dia membeku.

Aku melanjutkan:

“Setiap kali aku membutuhkanmu, kamu memilih Nadia.”

“Setiap kali aku berjuang, kamu menyuruhku mengalah.”

“Dan ketika impian terbesarku berada tepat di depan mata, kamu sendiri yang memberikannya kepada orang lain.”

Hujan semakin deras di luar jendela.

Arga menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dia tidak punya alasan.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada penjelasan.

Karena dia tahu aku mengatakan yang sebenarnya.

“Aku pikir aku melindungimu,” bisiknya.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak. Kamu hanya melindungi orang yang lebih ingin kamu lindungi.”

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian, Arga perlahan duduk di sofa.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan beberapa jam sebelumnya.

“Aku mencintaimu, Alina.”

Kalimat yang dulu paling ingin kudengar.

Kalimat yang dulu sanggup membuatku bertahan melewati malam-malam paling berat.

Namun kini…

Tidak lagi.

“Kalau benar begitu,” kataku pelan, “kamu tidak akan membuatku terus-menerus membuktikan bahwa aku pantas dipilih.”

Air mata akhirnya jatuh dari matanya.

Dan itu adalah pertama kalinya aku melihat Arga Wijaya menangis.


Pukul empat pagi.

Aku menutup koper terakhir.

Di ruang tamu, Arga masih duduk di tempat yang sama.

Semalaman.

Tanpa tidur.

Tanpa berbicara.

Saat aku menarik koper menuju pintu, dia berdiri.

“Kalau aku membatalkan semuanya?”

Aku berhenti.

“Kalau aku mengambil kembali fellowship itu untukmu?”

Aku tersenyum sedih.

“Terlambat.”

“Kalau aku menjauh dari Nadia?”

“Terlambat.”

“Kalau aku memilihmu sekarang?”

Aku menatapnya cukup lama.

Lalu menjawab dengan jujur.

“Arga, aku tidak pernah meminta untuk dipilih sekarang.”

Suaraku bergetar untuk pertama kalinya.

“Aku hanya ingin dipilih saat itu.”

Saat beasiswa itu dirampas.

Saat mimpiku diremehkan.

Saat aku masih berdiri di sisimu dan percaya bahwa kita adalah tim.

Namun saat itu…

Dia tidak memilihku.

Dan sekarang, aku sudah memilih diriku sendiri.


Bandara Soekarno-Hatta.

Langit Jakarta masih gelap ketika aku menyelesaikan proses check-in.

Ponselku terus bergetar.

Puluhan panggilan.

Ratusan pesan.

Semuanya dari Arga.

Aku tidak membukanya.

Sampai satu pesan terakhir masuk.

Hanya satu kalimat.

“Aku akan menunggumu pulang, berapa pun lamanya.”

Aku membaca pesan itu.

Lalu mematikannya.

Bukan karena marah.

Bukan karena benci.

Tetapi karena akhirnya aku mengerti sesuatu.

Tidak semua cinta harus berakhir dengan kebersamaan.

Kadang-kadang cinta datang untuk mengajarkan keberanian meninggalkan sesuatu yang sudah tidak lagi menghargai kita.


Dua tahun kemudian.

Vancouver.

Salju turun perlahan di luar jendela kampus.

Aku berdiri di depan aula besar setelah menyelesaikan presentasi penelitianku.

Para profesor dan mahasiswa berdiri memberikan tepuk tangan.

Di layar belakangku terpampang namaku:

Dr. Alina Santoso

Peneliti Internasional Bidang Bioteknologi.

Mimpi yang dulu dianggap tidak penting.

Kini menjadi kenyataanku.

Saat semua orang mulai meninggalkan aula, seorang staf menghampiriku.

“Dr. Alina, ada seseorang yang meninggalkan ini untuk Anda.”

Sebuah kotak kecil.

Aku membukanya perlahan.

Di dalamnya ada pena fountain hitam yang dulu selalu digunakan Arga saat menandatangani dokumen penting.

Bersama sebuah kartu sederhana.

Tulisan tangannya masih sama.

Rapi.

Dan sedikit kaku.

“Terima kasih karena pernah mengajariku arti kehilangan.”

“Aku akhirnya menjadi orang yang seharusnya sejak dulu kau miliki.”

“Tapi aku terlambat.”

“Aku harap dunia memperlakukanmu sebaik yang seharusnya.”

— Arga

Aku menatap kartu itu lama sekali.

Kemudian tersenyum.

Bukan senyum penuh penyesalan.

Melainkan senyum seseorang yang sudah benar-benar sembuh.

Aku menutup kotak itu.

Lalu berjalan keluar menuju hamparan salju putih.

Ke masa depan yang kubangun sendiri.

Tanpa kebencian.

Tanpa penyesalan.

Dan tanpa perlu menunggu siapa pun lagi.

Karena terkadang, akhir yang paling indah bukanlah ketika seseorang kembali.

Melainkan ketika kita akhirnya menemukan kebahagiaan tanpa mereka.