AKU DIAM-DIAM MEMBATALKAN PERNIKAHAN KAMI SETELAH MENGETAHUI BAHWA SETIAP TAHUN TUNANGANKU SELALU MENGAJAK “SAUDARI ANGKATNYA” BERLIBUR KE LABUAN BAJO…

Staf resort di Labuan Bajo tampak terkejut ketika aku meminta pembatalan reservasi pesta pernikahan pantai kami.

“Bu… apakah Anda yakin? Reservasinya sudah hampir lunas sepenuhnya. Apa Anda tidak ingin menunggu tunangan Anda datang?”

Dengan tenang aku melepas cincin pertunanganku dan meletakkannya di atas meja resepsionis.

“Tidak perlu. Dia masih sibuk menikmati matahari terbenam di Raja Ampat bersama wanita lain.”

Kami sudah berpacaran selama lima tahun.

Setiap musim liburan, dia selalu mengatakan bahwa dirinya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya.

Tapi dari kamera waterproof lamanya yang lupa dia sinkronkan keluar dari iPad miliknya, aku menemukan ratusan foto.

Satu wanita.

Satu laut.

Satu sudut pengambilan gambar yang sama di bawah pohon kelapa.

Bali.

Labuan Bajo.

Raja Ampat.

Setiap tahun dia bersamanya.

Sementara perjalanan terjauh kami berdua…

Hanya empat jam naik mobil dari Jakarta menuju Bandung untuk melihat apartemen yang akan kami cicil bersama.

Hari itu aku bahkan sedang demam karena kelelahan.

Dia merangkul bahuku dan tertawa.

— Setelah kita menikah nanti, kita masih harus bayar apartemen. Tidak usah buang-buang uang untuk liburan romantis yang berlebihan.

Aku mempercayainya.

Aku mempercayainya sampai menghabiskan seluruh tabunganku untuk uang muka apartemen.

Aku mempercayainya sampai memilih sendiri tirai, seprai, dan warna cat untuk rumah masa depan kami.

Sampai tadi malam.

Aku membuka kamera lamanya.

Ada video pesta kembang api di pantai Labuan Bajo.

Dan terdengar suara seorang wanita tertawa pelan.

— Bagaimana kalau suatu hari nanti kamu menikah dengan wanita lain?

Adrian ikut tertawa.

— Kalau begitu, sebelum itu terjadi, aku akan membawamu ke tempat seperti ini lebih sering lagi.

Aku hampir tidak bisa bergerak selama satu jam setelah mendengar kalimat itu.

Keesokan harinya, ketika pulang ke apartemen untuk berkemas, aku menemukan sepasang sandal wanita di depan pintu.

Ukurannya lebih kecil daripada kakiku.

Ada juga sekotak obat di dapur dan sebuah catatan kecil.

“Mas Adrian, lain kali jangan beli udang ya. Aku alergi :(”

Mas Adrian.

Selama lima tahun berpacaran, dia bahkan tidak pernah mengizinkanku memanggilnya dengan nama sayang apa pun.

Dia selalu berkata:

— Adrian saja sudah cukup.

Aku masuk ke kamar.

Laptopnya masih terbuka.

Di layar terlihat konfirmasi reservasi sebuah resort pribadi.

“Private Sunset Dinner for Two — Advance Birthday Surprise for Camila.”

Ulang tahun Camila jatuh pada 12 Juni.

Sedangkan ulang tahunku 28 Juli.

Tahun lalu, tepat di hari ulang tahunku, baru lewat tengah malam dia mengirim pesan.

“Masih ada meeting dengan klien. Tidurlah dulu.”

Aku menunggu sampai pukul dua dini hari bersama kue kecil yang kubeli sendiri.

Lapisan krimnya meleleh begitu saja selama aku menunggu.

Dan baru malam ini aku tahu…

Bahwa saat itu dia sebenarnya sedang berada di Bali bersama Camila.

Aku membuka album cloud miliknya.

Lebih dari empat ribu foto.

Kurang dari sepuluh foto tentang diriku.

Tapi folder yang dia beri nama “Summer”…

Semuanya berisi Camila.

Camila mengenakan gaun putih di tepi pantai.

Camila makan malam di bawah cahaya lilin.

Camila tertidur di bahunya saat berada di kapal.

Semua fotonya diambil dengan pencahayaan sempurna dan sudut yang begitu hati-hati, seperti foto majalah profesional.

Aku teringat pernah berkata:

— Hasil fotomu jelek sekali kalau memotret aku.

Dia hanya tertawa.

— Hanya foto iseng kok. Tidak harus selalu bagus.

Tidak harus selalu bagus.

Itulah jawaban yang selalu dia berikan kepadaku.

Malam harinya, dia melakukan video call.

Di belakangnya terlihat lautan dari balkon hotel.

— Sudah makan?

— Sudah.

— Aku punya oleh-oleh untukmu.

— Apa?

— Gantungan kunci berbentuk bajaj. Lucu sekali.

Tiba-tiba terdengar suara wanita dari belakang.

— Adrian! Kembang apinya sudah mulai!

Aku langsung mengenali suara itu.

Camila.

Adrian menoleh dengan sangat santai.

— Sebentar.

Lalu dia kembali menatapku seolah tidak ada yang salah.

— Kebetulan saja Camila juga sedang berada di sini.

Aku tersenyum pahit.

Lima tahun.

Lima tahun penuh dengan kata “kebetulan”.

Setelah panggilan berakhir, aku membuka kulkas.

Penuh dengan oleh-oleh murah yang setiap tahun dia bawa untukku.

Magnet kulkas.

Gantungan kunci.

Kartu pos.

Semuanya terlihat seperti dibeli tergesa-gesa di bandara.

Sementara wanita lain…

Mendapat resort pribadi.

Mendapat makan malam dengan kembang api.

Mendapat liburan rahasia berulang kali bersamanya.

Aku berdiri lama di depan kulkas.

Lalu menelepon resort untuk membatalkan pernikahan.

Aku juga mengajukan surat pengunduran diri.

Besok malam aku akan meninggalkan Jakarta.

Aku belum tahu akan pergi ke mana.

Mungkin ke Yogyakarta.

Mungkin ke Lombok.

Atau ke mana saja, selama jauh dari orang-orang yang mengenalku sebagai “tunangan Adrian.”

Aku sedang menarik koper ke ruang tamu ketika layar ponselku menyala.

Pesan dari ibu Adrian.

“Nak, tadi Camila mampir ke rumah membantu Tante memilih rasa kue pernikahan. Anak itu perhatian sekali.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Tak lama kemudian muncul pesan kedua.

“Sejujurnya, Camila memang lebih cocok untuk Adrian…”

Tepat pada saat itu, pintu apartemen terbuka.

Aku menoleh.

Adrian berdiri di sana.

Namun di belakangnya…

Camila.

Dia mengenakan hoodie kebesaran milik Adrian sambil menarik koper putih yang terasa sangat familiar bagiku.

Dan Adrian…

Langsung pucat ketika melihat koperku di tengah ruang tamu.

“Sayang… kamu mau ke mana?”

Malam itu, apartemen terasa sunyi.

Adrian berdiri membeku di dekat pintu. Wajahnya pucat saat melihat koper besar milikku di tengah ruang tamu.

“Sayang… kamu mau ke mana?”

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku tidak menjawab panggilan itu.

Aku hanya menatap Camilla yang berdiri di belakangnya, masih mengenakan hoodie milik Adrian.

Hoodie yang bahkan tidak pernah dipinjamkan Adrian kepadaku.

Camilla tampak gugup.

“Ka Kak Alya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan—”

“Aku tahu persis seperti apa ini.”

Suaraku tenang.

Terlalu tenang.

Dan justru itu yang membuat Adrian mulai panik.

“Alya, dengarkan aku dulu.”

“Aku sudah mendengarkanmu selama lima tahun.”

Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto-foto dari kamera lama itu.

Pantai.

Matahari terbenam.

Makan malam romantis.

Liburan pribadi.

Tahun demi tahun.

Dengan orang yang sama.

Camilla.

Wajah Adrian langsung kehilangan warna.

“Aku bisa menjelaskan.”

Aku tersenyum kecil.

“Lucu sekali. Lima tahun, dan sekarang kamu baru ingin menjelaskan?”

Ruangan itu hening.

Lalu aku mengeluarkan cincin tunangan dari saku.

Cincin yang dulu membuatku menangis bahagia saat Adrian melamarku di sebuah restoran sederhana di Jakarta.

Tanpa ragu, aku meletakkannya di atas meja.

“Alya…”

Suara Adrian bergetar.

“Aku tidak pernah berselingkuh.”

“Benarkah?”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, kenapa semua kenangan terindahmu ada bersama dia?”

Dia tidak bisa menjawab.

Karena kami berdua tahu kebenarannya.

Perselingkuhan tidak selalu dimulai dari sentuhan.

Kadang dimulai saat seseorang memberikan waktu, perhatian, dan tempat di hatinya kepada orang lain.

Dan Adrian telah melakukannya selama bertahun-tahun.

Air mata mulai menggenang di mata Camilla.

“Aku tidak pernah berniat merebut dia…”

Aku menggeleng pelan.

“Yang paling menyedihkan bukan karena kamu merebutnya.”

“Kamu bahkan tidak perlu merebut apa pun.”

“Karena sejak awal, dia sudah memilihmu.”

Kalimat itu membuat Adrian menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa bersalah yang sesungguhnya di wajahnya.

Namun semuanya sudah terlambat.


Keesokan paginya, aku meninggalkan Jakarta.

Tanpa pesta perpisahan.

Tanpa pengumuman.

Tanpa drama.

Aku pindah ke Bali dan menerima pekerjaan baru di sebuah perusahaan desain internasional.

Aku menyewa rumah kecil yang menghadap laut.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku belajar hidup untuk diriku sendiri.

Bukan sebagai tunangan seseorang.

Bukan sebagai calon istri seseorang.

Hanya sebagai Alya.

Dan ternyata…

Hidup terasa jauh lebih ringan.


Enam bulan kemudian.

Aku sedang menikmati kopi di tepi pantai ketika ponselku bergetar.

Pesan dari mantan ibu calon mertuaku.

Aku hampir menghapusnya tanpa membaca.

Namun rasa penasaran membuatku membuka pesan itu.

“Adrian membatalkan semua proyek pernikahan.”

“Camilla sudah pindah ke kota lain.”

“Dia sering datang ke rumah hanya untuk duduk diam di kamar lamanya.”

“Aku belum pernah melihatnya sehancur itu.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu menghapusnya.

Tanpa membalas.

Karena beberapa cerita memang tidak membutuhkan akhir yang rumit.


Setahun kemudian.

Aku menerima undangan pembukaan galeri seni milik seorang teman.

Saat berjalan keluar dari gedung, seseorang memanggil namaku.

“Alya.”

Aku menoleh.

Adrian.

Tubuhnya masih sama.

Wajahnya masih sama.

Namun matanya berbeda.

Tidak ada lagi kesombongan yang dulu sering kulihat.

Hanya penyesalan.

Dia tersenyum pahit.

“Aku dengar kamu bahagia sekarang.”

“Aku memang bahagia.”

Aku menjawab jujur.

Dan jawaban itu tampaknya lebih menyakitkan daripada kemarahan apa pun.

Dia menunduk sesaat.

Lalu berkata pelan,

“Aku kehilangan orang terbaik dalam hidupku.”

Aku tersenyum.

Bukan senyum kemenangan.

Bukan juga senyum balas dendam.

Hanya senyum seseorang yang akhirnya sembuh.

“Tidak, Adrian.”

“Kamu tidak kehilangan aku hari itu.”

“Kamu kehilangan aku sedikit demi sedikit setiap kali memilih orang lain daripada aku.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

Tapi kali ini, aku tidak ikut menangis.

Karena perempuan yang dulu menunggu pesan sampai tengah malam…

Perempuan yang rela mengorbankan mimpi dan tabungannya demi masa depan bersama…

Sudah tidak ada lagi.

Aku mengulurkan tangan.

Bukan untuk kembali.

Hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

“Terima kasih untuk pelajarannya.”

“Karena berkat kamu, aku belajar bahwa cinta yang benar tidak membuat seseorang merasa menjadi pilihan kedua.”

Lalu aku berbalik.

Melangkah pergi.

Tanpa menoleh lagi.

Di belakangku, matahari sore perlahan tenggelam di ufuk.

Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun…

Aku tidak lagi kehilangan siapa pun.

Karena akhirnya, aku menemukan diriku sendiri.