Bab 1
Namaku Althea Pratama.
Usiaku dua puluh sembilan tahun. Aku bekerja sebagai Operations Manager di sebuah perusahaan media di kawasan Sudirman, Jakarta.
Aku bukan tipe orang yang suka bertengkar.
Di kantor, setiap kali ada yang meminta bantuan, aku selalu berusaha membantu semampuku.
Memesan kendaraan.
Mencarikan restoran untuk meeting.
Mengatur jadwal rapat.
Membeli hadiah ulang tahun untuk atasan.
Kadang aku sendiri tidak mengerti kenapa aku terbiasa menjadi orang yang selalu bisa diandalkan semua orang.
Sampai perjalanan ke Bali itu terjadi.
Di sanalah aku akhirnya mengerti bahwa ada orang-orang yang di depanmu menyebutmu sebagai “keluarga kantor”…
Padahal sebenarnya mereka hanya menunggu kesempatan untuk melihat seberapa mudah dirimu dimanfaatkan.
Semuanya bermula pada suatu Kamis sore.
Baru saja rapat selesai ketika Dominic Wijaya tertawa keras di tengah kantor.
“Baiklah, teman-teman! Akhir bulan ini kita liburan ke Bali!”
Seluruh tim langsung bersorak.
Ada yang berteriak kegirangan.
Ada yang langsung membuka ponsel untuk mencari pakaian pantai.
Ada pula yang mulai membahas apakah mereka harus menyewa yacht atau berpesta di beach club Seminyak.
Dominic berdiri di tengah kerumunan seperti tokoh utama.
Dia adalah kepala tim penjualan.
Pandai berbicara.
Memiliki koneksi luas.
Dan sangat ahli mengambil hati para petinggi perusahaan.
Dia juga tipe orang yang sulit ditolak.
Tiba-tiba dia menoleh kepadaku.
“Althea.”
Saat aku mengangkat kepala, aku sadar semua orang sudah memandang ke arahku.
Aku langsung merasa tidak nyaman.
Dominic tersenyum.
“Kamu saja yang pesan resornya, ya.”
“Limit kartu kreditmu besar, kan?”
Beberapa orang tertawa.
“Iya, Althea saja. Dia paling bisa diandalkan.”
“Dia juga jago cari promo.”
Aku mengernyit.
“Berapa orang?”
Dominic melihat ponselnya.
“Dua belas.”
Aku hampir mengira salah dengar.
“Dua belas?”
“Iya. Vila mewah di pinggir pantai. Sekalian untuk beberapa klienku juga.”
Cara dia mengatakannya begitu santai, seolah hanya sedang memesan kopi.
Aku membuka aplikasi reservasi.
Sebuah vila pribadi di kawasan Nusa Dua.
Kolam renang pribadi.
Tiga hari dua malam.
Saat harga muncul di layar, aku langsung terdiam.
Rp100.000.000.
Aku menunjukkan layar itu kepada Dominic.
“Lihat dulu.”
Dia hanya melirik sebentar lalu tersenyum.
“Aku tahu.”
“Kamu bayar dulu. Nanti malam langsung aku transfer.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kartu kredit itu sebenarnya kusiapkan untuk biaya pengobatan ibuku bulan depan.
Jika kupakai sekarang…
Hampir seluruh limitku akan habis.
Melihat aku ragu, Dominic langsung mengubah nadanya.
Tidak keras.
Namun cukup jelas untuk didengar seluruh kantor.
“Kamu tidak sedang curiga padaku, kan?”
Suasana di ruangan langsung berubah.
Aku sangat membenci situasi seperti itu.
Seolah-olah jika aku menolak…
Aku yang akan terlihat pelit dan egois.
Dominic tersenyum lagi.
“Aku sudah jadi team leader bertahun-tahun di sini.”
“Masa kamu pikir aku akan kabur membawa uangmu?”
Beberapa rekan kerja tertawa.
“Dominic itu orangnya royal.”
“Iya, mana mungkin dia menipu.”
Aku menatap wajahnya yang penuh keyakinan.
Dan pada akhirnya…
Aku tetap memasukkan password kartu kreditku.
TING!
Notifikasi bank langsung masuk.
“Transaksi sebesar Rp100.000.000 berhasil diproses…”
Dadaku terasa diremas.
Dominic langsung menepuk bahuku.
“Nah, begitu.”
“Aku tahu kamu orang yang paling bisa diandalkan.”
“Malam ini langsung aku transfer.”
Setelah mengatakan itu, dia kembali bercanda dengan rekan-rekan lain.
Sedangkan aku…
Masih menatap layar ponselku tanpa bergerak.
Malam tiba.
Tidak ada satu rupiah pun yang masuk ke rekeningku.
Pukul sepuluh malam, aku mengirim pesan kepada Dominic.
“Pak Dominic, transfernya belum saya terima.”
Pesanku langsung dibaca.
Tetapi lima menit kemudian baru dibalas.
“Aku lagi sama klien. Nanti ya.”
Disertai emoji tertawa.
Aku mencoba bersabar.
Satu jam berlalu.
Masih tidak ada apa-apa.
Aku meneleponnya.
Telepon berdering lama sebelum akhirnya diangkat.
Suara musik keras terdengar dari seberang.
Jelas sekali dia sedang berada di bar.
“Halo?”
Suaranya terdengar mabuk.
“Pak, transfernya belum masuk.”
“Aduh…” katanya sambil tertawa.
“Berapa kali sih kamu mau tanya?”
“Itu cuma uang segitu.”
Aku terdiam.
Cuma uang segitu?
Rp100 juta adalah hasil tabunganku hampir satu tahun.
Tapi baginya…
Itu hanya “uang segitu”.
Aku menarik napas panjang.
“Bisakah ditransfer malam ini? Aku butuh limit kartuku kembali.”
Dominic menghela napas kesal.
“Kamu merusak suasana hatiku, Althea.”
Dari belakang terdengar seseorang berteriak.
“Dominic! Tambah satu botol lagi!”
Dia tertawa dan menjawab mereka.
Lalu kembali berbicara dengan nada dingin.
“Besok aku transfer.”
“Jangan bertingkah seolah aku menipumu.”
Dan setelah itu…
Dia langsung menutup telepon.
Aku duduk terpaku di apartemen kecilku di Jakarta.
Di luar jendela, hujan mulai turun.
Lampu kendaraan memantul di jalanan yang basah.
Tiba-tiba layar ponselku menyala lagi.
Dominic mengunggah Instagram Story.
Dalam video itu, dia sedang bersulang dengan segelas sampanye bersama para klien.
Caption-nya singkat:
“Life is good.”
Aku menatap layar itu cukup lama.
Lalu perlahan tersenyum dingin.
Senyuman yang bahkan membuat diriku sendiri merasa asing.
Keesokan harinya.
Aku kembali menghubunginya.
Tidak ada jawaban.
Siang hari.
Aku menelepon.
Tidak diangkat.
Menjelang sore…
Aku baru sadar bahwa dia telah memblokirku.
WhatsApp.
Telegram.
Nomor telepon.
Semuanya.
Aku tidak bisa menghubunginya lagi.
Sementara di kantor, rekan-rekanku masih sibuk membicarakan liburan ke Bali.
“Katanya sunset dari vila itu luar biasa.”
“Dominic memang dermawan banget.”
“Liburan ini pasti seru!”
Tidak ada yang tahu…
Akulah yang membayar semuanya.
Tidak ada yang tahu…
Bahwa orang yang mengaku sebagai penyelenggara perjalanan itu telah menghilang bersama utang Rp100 juta.
Saat itulah sebuah email masuk.
Subject: Online Check-in Confirmation – Bali Group Booking
Aku melihat jadwal penerbangan.
Pukul 06.00 pagi besok.
Perlahan, sebuah ide dingin muncul di kepalaku.
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu mengambil ponsel.
Dan menelepon pihak resor.
“Halo. Saya ingin membatalkan seluruh reservasi.”
Hening sejenak.
“Maaf, Bu. Reservasi Anda adalah vila VIP untuk dua belas orang. Jika dibatalkan sekarang, akan ada biaya pembatalan sebesar 40%.”
Empat puluh persen.
Artinya aku akan kehilangan hampir Rp40 juta.
Sakit.
Sangat sakit.
Namun aku menatap hujan di luar jendela.
Lalu berkata dengan tenang:
“Saya konfirmasi pembatalannya.”
Suara keyboard terdengar dari seberang.
“Baik, Bu. Reservasi telah dibatalkan.”
“Semua kode pemesanan sudah tidak berlaku lagi.”
Aku memejamkan mata beberapa detik.
Lalu menyimpan rekaman panggilan itu.
Nama file:
“Pelajaran Pertama”
Malam itu…
Aku tidur jauh lebih nyenyak daripada biasanya.
Keesokan paginya.
Tepat pukul 04.52.
Ponselku mulai bergetar tanpa henti.
Nomor tidak dikenal.
Lalu nomor lain.
Dan nomor lainnya lagi.
Sepuluh panggilan.
Dua puluh.
Empat puluh.
Sampai panggilan ke tujuh puluh tiga…
Barulah aku mengangkat telepon.
Suara Dominic langsung meledak di telingaku.
“ALTHEA! APA KAMU SUDAH GILA?!”
Di belakangnya terdengar kekacauan Bandara Soekarno-Hatta.
Suara koper diseret.
Pengumuman bandara.
Orang-orang mengeluh dengan marah.
Dominic hampir kehilangan kendali.
“KENAPA PIHAK RESOR BILANG RESERVASINYA DIBATALKAN?!”
“KLIENKU SUDAH BERDIRI DI KONTER CHECK-IN!”
“KAMU TAHU TIDAK BETAPA MALUNYA AKU SEKARANG?!”
Aku mendengarkan semua teriakannya dengan tenang.
Menunggu sampai napasnya mulai terengah-engah.
Lalu perlahan mendekatkan ponsel ke telinga.
Dan bertanya dengan suara pelan:
“Maaf…”
“Siapa mereka?”

Dominic terdiam.
Suara bising bandara di belakangnya seolah menghilang selama beberapa detik.
“Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada marah.
Aku tersenyum tipis.
“Maaf, Pak Dominic. Saya hanya ingin tahu, siapa sebenarnya mereka?”
“Klien-klienmu?”
“Teman-teman kantor?”
“Atau orang-orang yang kau ajak liburan menggunakan uangku?”
Napas Dominic terdengar berat.
“Jangan main-main, Althea!”
“Aku tidak sedang main-main.”
Aku membuka laptop dan mengirim satu email yang sudah kusiapkan sejak malam sebelumnya.
Beberapa detik kemudian, ponsel Dominic berbunyi.
“Apa itu?” tanyanya.
“Coba buka email kantor.”
Terdengar suara ketukan tergesa-gesa.
Lalu hening.
Aku bisa membayangkan wajahnya yang perlahan memucat.
Karena email itu bukan hanya dikirim kepadanya.
Melainkan kepada seluruh manajemen perusahaan.
Kepada HR.
Kepada direktur keuangan.
Bahkan kepada CEO.
Di dalamnya ada:
- Bukti pembayaran resort sebesar Rp95 juta rupiah Indonesia (setara biaya perjalanan yang telah kukeluarkan).
- Rekaman telepon saat Dominic berjanji akan mengganti uang tersebut.
- Tangkapan layar percakapan.
- Bukti bahwa ia memblokir semua jalur komunikasiku setelah menerima pembayaran.
Lengkap.
Rapi.
Tidak terbantahkan.
“Althea…” suaranya mulai bergetar.
“Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”
Aku tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa sangat tenang.
“Aneh ya, Pak Dominic.”
“Dua hari lalu ketika aku memohon agar uangku dikembalikan, kau bilang aku merusak suasana hatimu.”
“Sekarang giliran suasana hatimu yang rusak, kau ingin bicara baik-baik?”
“Althea!”
“Kau menghancurkan karierku!”
“Tidak.”
Aku memotongnya.
“Kariermu dihancurkan oleh keputusanmu sendiri.”
Di seberang sana, terdengar suara salah satu kliennya.
“Dominic, ada masalah?”
Yang lain mulai bertanya-tanya.
Beberapa rekan kantor yang ikut dalam perjalanan itu juga mulai menerima email yang sama.
Satu per satu.
Mereka akhirnya tahu siapa yang sebenarnya membayar seluruh perjalanan.
Dan siapa yang menghilang membawa utang.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak:
“Jadi selama ini Althea yang bayar semuanya?!”
“Dominic, serius?”
“Astaga…”
Kekacauan langsung pecah.
Aku menutup mata sejenak.
Dulu aku takut dibenci orang.
Takut dianggap tidak kooperatif.
Takut mengecewakan orang lain.
Karena itulah aku selalu mengalah.
Selalu membantu.
Selalu berkata iya.
Sampai akhirnya seseorang menganggap kebaikanku sebagai kelemahan.
Namun pagi itu aku belajar sesuatu.
Orang baik tidak harus menjadi orang yang bisa dimanfaatkan.
Kadang-kadang, menghentikan seseorang menyakitimu adalah bentuk penghormatan terhadap dirimu sendiri.
“Althea…” suara Dominic kini hampir memohon.
“Aku akan transfer uangnya.”
“Tolong tarik email itu.”
Aku menatap hujan yang masih turun di luar jendela apartemenku.
Kemudian menjawab dengan tenang.
“Tidak.”
“Karena sekarang ini bukan lagi soal uang.”
“Ini soal konsekuensi.”
Lalu aku menutup telepon.
Seminggu kemudian, Dominic diskors dari pekerjaannya sambil menunggu investigasi internal.
Dua minggu kemudian, seluruh uangku dikembalikan.
Lengkap.
Termasuk biaya pembatalan resort yang sebelumnya harus kutanggung.
Sebulan kemudian, aku mendapat promosi yang selama bertahun-tahun tertunda.
CEO perusahaan bahkan berkata kepadaku dalam rapat evaluasi:
“Kami membutuhkan orang yang bertanggung jawab seperti Anda.”
Hari itu, saat meninggalkan ruang rapat, aku menerima notifikasi transfer terakhir dari Dominic.
Di kolom keterangan hanya ada satu kalimat:
“Aku minta maaf.”
Aku menatap layar beberapa detik.
Lalu menghapus notifikasi itu.
Tidak ada rasa puas.
Tidak ada dendam.
Tidak ada kemarahan lagi.
Karena beberapa orang memang datang dalam hidup kita bukan untuk tinggal.
Mereka datang untuk mengajarkan pelajaran yang mahal.
Dan pelajaran seharga puluhan juta rupiah itu akhirnya mengajarkanku satu hal:
Jangan pernah menyerahkan ketenangan hidupmu kepada orang yang bahkan tidak menghargai kepercayaanmu.
Aku menutup aplikasi bank.
Mengambil secangkir kopi hangat.
Lalu kembali bekerja.
Kali ini bukan sebagai orang yang selalu berkata “ya”.
Melainkan sebagai seseorang yang akhirnya belajar menghargai dirinya sendiri.