Ruangan itu langsung ricuh.
“Apa maksudnya menangkap saya?!” bentak Arga panik.
Dua polisi berpakaian sipil masuk bersama beberapa petugas lain.
Wajah mereka serius.
Salah satu pria menunjukkan kartu identitas.
“Kami dari unit tindak pidana ekonomi.”
Bu Ratih langsung maju dengan wajah ketakutan.
“Pasti ada salah paham! Anak saya direktur perusahaan besar!”
Petugas itu menatap datar.
“Justru karena itu kami datang.”
Arga mulai mundur pelan.
“Aku nggak melakukan apa-apa…”
Namun polisi tersebut langsung mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Ada dugaan penggelapan dana perusahaan, pencucian uang, dan penggunaan rekening ilegal atas nama PT Pramesti Group.”
Tubuh Arga langsung dingin.
Ia menoleh cepat ke arah Nadira.
“Na… kamu laporin aku?”
Nadira diam beberapa detik.
Lalu menjawab tenang.
“Aku hanya mengambil kembali hakku.”
“Tapi aku suamimu!” suara Arga pecah.
“Dan kamu lupa memperlakukanku sebagai istrimu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.
—
Keira mulai menangis lagi.
Bu Ratih bahkan hampir pingsan.
Namun kekacauan belum selesai.
Karena salah satu polisi tiba-tiba berkata—
“Kami juga mencari seorang pria bernama Rudi Hartono.”
Semua langsung tegang.
“Itu sopir kami…” gumam Bu Ratih.
Petugas itu mengangguk.
“Kami mendapat laporan bahwa dia membawa dana perusahaan dan melarikan diri pagi tadi.”
Arga langsung menunjuk Keira dengan emosi meledak-ledak.
“Perempuan itu terlibat!”
Keira histeris.
“Saya nggak tahu apa-apa!”
“BOHONG!”
“CUKUP!”
Bentakan Nadira membuat semua orang terdiam.
Ia menatap polisi itu dingin.
“Kalau ingin menangkap pelaku utama, kalian terlambat.”
Petugas mengernyit.
“Maksud Anda?”
Nadira menarik napas pelan.
“Rudi bukan otak dari semua ini.”
DEG.
Arga langsung menoleh cepat.
“Apa maksudmu?”
Nadira belum menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada Bu Ratih.
Dan untuk pertama kalinya sejak polisi datang…
Wajah wanita tua itu terlihat benar-benar ketakutan.
—
Setengah jam kemudian…
Arga duduk di ruang tamu dengan wajah hancur sementara polisi memeriksa dokumen perusahaan.
Keira gemetar di sudut sofa.
Bu Ratih mondar-mandir sambil terus berdoa pelan.
Sedangkan Nadira berdiri di dekat jendela besar menghadap taman.

Tenang.
Terlalu tenang.
“Bu Nadira.”
Salah satu polisi mendekat.
“Kami menemukan beberapa transfer rutin ke rekening atas nama Rudi Hartono.”
Nadira mengangguk kecil.
“Berapa jumlahnya?”
“Total hampir tiga miliar selama dua tahun terakhir.”
Arga langsung membelalak.
“APA?!”
Petugas itu membuka berkas.
“Dan semua transfer itu disetujui oleh satu orang.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Ratih mulai pucat.
“Siapa?” tanya Arga tegang.
Petugas menatap lembar terakhir.
Lalu menyebut nama itu pelan.
“Ratih Mahendra.”
DEG.
Keheningan pecah.
Arga menoleh lambat ke arah ibunya.
“Mama…?”
Bu Ratih langsung gemetar.
“Itu… itu fitnah…”
Namun Nadira tertawa kecil.
“Akhirnya ketahuan juga.”
“NA!” bentak Bu Ratih panik. “Kamu jebak saya?!”
Nadira menatap lurus wanita itu.
“Bukan aku yang menyuruh Rudi mencuri uang perusahaan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.”
Air muka Arga berubah total.
“Mama… jadi selama ini…”
Bu Ratih mulai menangis histeris.
“Mama cuma mau menjaga keluarga kita!”
“Dengan mencuri?!” Arga membentak balik.
“Papa kamu meninggalkan utang besar!” teriak Bu Ratih. “Kalau Mama nggak ambil uang itu, kita sudah jadi gelandangan dari dulu!”
Arga langsung membeku.
Dan di situlah…
Potongan demi potongan kenyataan mulai tersusun.
Ayahnya bangkrut.
Ibunya mencuri uang perusahaan diam-diam.
Nadira menyelamatkan semuanya.
Namun mereka justru menghancurkan perempuan itu perlahan-lahan.
—
Tiba-tiba…
Ponsel salah satu polisi berdering.
Pria itu mengangkat telepon sebentar lalu wajahnya berubah serius.
“Apa?!”
Semua langsung menoleh.
“Ada apa?” tanya rekannya.
Petugas itu menurunkan ponselnya perlahan.
“Kami baru dapat kabar…”
Nadira menyipitkan mata.
“Rudi ditemukan.”
Keira langsung berdiri panik.
“Di mana dia?!”
Namun jawaban polisi berikutnya membuat seluruh isi rumah langsung membeku.
“Mobilnya ditemukan di jurang kawasan Puncak.”
“Dan tubuh Rudi…”
Pria itu menelan ludah.
“…sudah tidak bernyawa.”