Posted in

“Selama ini kan aku yang bantu keluargamu tiap ada masalah keu- angan. Kok kamu bicara gitu sih ke orang-orang?!” ucapku ketika mendengar suami dan mertua meren- dahkan aku di depan orang lain

“Mereka taunya aku yang sukses, malu lah kalau semua orang tau siapa dona- tur yang sebenarnya. Sekarang lunasin semua t4gihan biaya nikah adekku ya.”

Dengan tegas kutolak permintaan suamiku, dan responnya ….

“Nala! Jaga mulutmu ya! Kurang ajar sekali kamu bicara begitu sama Mama! Di mana sopan santun kamu sebagai menantu, hah?!”

Keheningan seketika menyergap ruang tengah. Semua pasang mata, termasuk Tante Laura yang sejak tadi sibuk berbisik, kini tertuju penuh pada kami.

Mas Reno masih berdiri dengan dada naik-turun menahan emosi, menanti reaksi histeris atau tangisan dariku yang biasanya langsung mengalah setiap kali dia sudah naik nada tinggi.

Namun, alih-alih gemetar ketakutan, aku justru terkekeh pelan. Kutatap wajah suamiku yang memerah padam itu tanpa minat sedikit pun, lalu maju satu langkah untuk mengikis jarak di antara kami.

“Bicaranya pelan saja, Sayang, jangan pakai otot. Masih muda, kalau kamu kena stroke siapa yang akan jadi tulang punggungku dan keluargamu,” ucapku santai, sengaja menekankan kata *keluargamu* sembari melirik ke arah Mama mertua yang sempat tersenyum penuh kemenangan. Namun senyum itu mendadak pudar saat mendengar ucapanku.

Wajah Mas Reno seketika menegang. Urat di lehernya yang tadi menonjol keras mendadak kaku, seolah kata-kataku baru saja menampar harga dirinya telak-telak di depan umum.

“Nala! Kamu—”

“Kenapa? Aku salah?” potongku cepat sebelum dia kembali meluapkan urat lehernya. Tatapan tajam kami saling beradu.

“Kamu baru datang, kamu gak tau apa yang sudah Mama kamu lakukan. Pernah aku gak sopan sama Mama kamu? Kalau Mama kamu gak keterlaluan, aku juga gak bakalan kayak gini.” Kujeda ucapanku lalu menarik napas dalam-dalam.

“Aku ini cuma cermin, Mas. Hanya bisa memantulkan apa yang ada di depanku. Jadi jangan harap mendapat rasa hormat dan sopan santun, kalau caramu dan Mamamu memperlakukanku saja sekotor itu.”

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiriku, memicu rasa panas yang menjalar cepat hingga ke telinga. Efek hantaman tangan Mas Reno membuat kepalaku sempat terenggut ke samping.

Suasana ruang tengah yang tadinya senyap kini berubah menjadi pekikan kaget dari beberapa kerabat. Tante Laura bahkan refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Aku tidak menangis. Jangankan air mata, ringisan kesakitan pun tidak akan kusuguhkan untuk memuaskan ego lelaki di depanku ini.

Sambil tersenyum sinis, kuusap sudut bibirku yang terasa sedikit perih, lalu kembali menatap lurus ke dalam manik mata Mas Reno yang bergetar—antara puas telah meluapkan emosi dan ketakutan setelah menyadari apa yang baru saja dia lakukan.

“Keluar kamu dari rumah ini, Nala! Keluar!” bentak Mas Reno, jarinya menunjuk lurus ke arah pintu utama dengan gemetar. “Keluar kamu sekarang juga!”

Kutatap wajah suamiku, lalu beralih ke wajah Mama mertua yang kini diam-diam menyunggingkan senyum puas di belakang tubuh anaknya. Mereka benar-benar berpikir bahwa mengusirku adalah sebuah hukuman yang akan membuatku bersujud memohon ampun.

Apa itu akan terjadi? Oh tentu saja tidak!

Haram bagiku bersujud dan meminta maaf, sementara aku tidak salah. Tak mengapa meski aku menjadi janda sekali pun, aku perempuan mandiri, punya usaha, aku pun juga berasal dari keluarga yang mampu, tidak memiliki suami pun tidak menjadi masalah besar bagi perempuan sepertiku.

Tanpa membuang kata lagi, aku berbalik dan melangkah lebar masuk ke dalam kamar. Kudengar pintu kamar dihantam menutup di belakangku. Aku segera mengeluarkan koper besar dari atas lemari, lalu memasukkan pakaian dan barang-barang pentingku ke dalamnya dengan gerakan cepat tanpa emosi.

Tidak ada gunanya meratapi lelaki yang bahkan tidak mampu mengontrol tangannya sendiri.

Setelah memastikan semua barang pribadiku aman, kutarik ritsleting koper dengan sentakan tegas.

Selesai.

Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit bagiku untuk menghapus jejak kediamanku di rumah ini.

Aku membuka pintu kamar, menyeret koper besarku keluar. Ruang tengah seketika senyap saat sosokku kembali muncul. Tanpa berniat mengucapkan sepatah kata pun atau berpamitan pada manusia-manusia bermuka dua di ruangan ini, aku terus melangkah menuju pintu keluar.

Namun, langkahku terhenti tepat di depan meja televisi. Mataku menangkap sebuah kunci mobil berlogo lingkaran biru putih khas BMW yang tergantung manis di sana.

Sambil tersenyum tipis, kuulurkan tangan dan mengambil kunci tersebut.

“Hei! Mau kamu bawa ke mana kunci mobil anakku!” teriak Mama mertua histeris, suaranya melengking tinggi, sukses memecah keheningan.

Ia bahkan sampai bangkit berdiri, menatapku dengan pandangan seolah-olah aku adalah seorang pencuri.

Aku menghentikan langkah, lalu perlahan berbalik. Alih-alih meladeni teriakan wanita tua itu, pandanganku langsung tertuju tegak lurus pada Mas Reno yang berdiri tidak jauh di samping ibunya.

“Mas, benar ini mobilmu?” tanyaku teramat santai, sembari menggoyang-goyangkan gantungan kunci di udara hingga menimbulkan suara gemerincing yang nyaring.

Mas Reno tidak menjawab. Lelaki yang beberapa menit lalu membentakku dengan begitu gagah berani, kini mendadak bungkam. Wajahnya seketika pias, tenggorokannya naik-turun seperti orang yang baru saja menelan batu. Ia tergagap, menatap kunci di tanganku dengan tatapan penuh kepanikan.

Melihat reaksi anaknya yang mendadak bisu, Mama mertua semakin tidak sabar. Ia dengan kasar menggoyang-goyangkan lengan Mas Reno, mendesak lelaki itu untuk segera bertindak. “Reno! Ayo cegah dia! Kenapa kamu diam saja? Cepat ambil kuncinya, Reno!”

Namun, Mas Reno tetap memaku. Jangankan merebut kunci, menatap mataku saja dia sudah tidak berani. Dia tahu betul status kepemilikan mobil itu, dan dia jauh lebih tahu siapa yang membayar lunas seluruh tagihannya.

Aku tersenyum sinis, menatap pemandangan menyedihkan di depanku dengan rasa muak yang tuntas. Tanpa membuang waktu lagi, aku berbalik dan melangkah mantap keluar dari rumah penuh sandiwara itu, meninggalkan Mas Reno yang kini mulai gemetar menghadapi kebohongannya sendiri.