Kupikir rasa sakit terbesar adalah mendengar bahwa kedua kakiku patah karena pria yang kucintai selama sepuluh tahun.
Ternyata aku salah.
Yang lebih menyakitkan adalah menerima telepon dari tetangga yang mengatakan bahwa ayahku yang mengidap Alzheimer tenggelam… karena keluar rumah untuk mencariku.
Dan pria yang menjadi penyebab semuanya hanya berkata:
“Ayahmu sudah tua, Liana. Cepat atau lambat hari itu memang akan datang.”
Aku duduk di ranjang sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Kedua kakiku dibalut gips tebal. Di samping tempat tidur, asisten milik Michael Wijaya berdiri sambil meletakkan sebuah kartu hitam di meja kecil.
“Bu Liana,” katanya pelan, nyaris tak berani menatapku. “Pak Michael bilang beliau tidak sengaja membuat kaki Ibu patah. Di kartu ini ada saldo Rp5 miliar sebagai kompensasi.”
Aku menatap kartu itu seolah seekor ular berbisa.
Lima miliar rupiah.
Harga kedua kakiku.
Harga sepuluh tahun penantian, pengorbanan, dan keyakinan bahwa suatu hari Michael akan memilihku.
“Pak Michael juga meminta agar Ibu tidak lagi mengganggu Nona Bella Santoso,” lanjut sang asisten. “Katanya Nona Bella perlu banyak istirahat.”
Aku tertawa.
Pelan.
Retak.
Hampir tanpa suara.
Bella Santoso.
Wanita yang kutampar di sebuah restoran setelah dia menunjukkan cincin tunangan yang seharusnya menjadi milikku.
Wanita yang menangis di depan Michael seolah dialah korban.
Dan Michael, yang selama sepuluh tahun tak pernah mengangkat tangan kepadaku, menyeretku keluar restoran, mendorongku di tangga, dan ketika aku terjatuh… aku tak pernah bisa berdiri lagi.
Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit.
Dan hadiah darinya adalah Rp5 miliar.
Tanganku gemetar saat mengambil kartu itu.
Sebelum sempat berbicara, ponselku berdering.
Bu Ratna, tetanggaku di apartemen lama di Jakarta Timur.
“Liana…” suara wanita itu bergetar karena tangis. “Nak… Pak Arman…”
Tubuhku langsung membeku.
“Ayah? Kenapa dengan Ayah?”
“Beliau keluar tadi malam. Terus mencarimu. Berkali-kali bilang, ‘Di mana anakku? Dia terluka.’ Kami tidak sadar beliau pergi jauh. Tadi pagi… beliau ditemukan di sungai dekat pasar.”
Aku tak mendengar kalimat berikutnya.
Seolah ada sesuatu yang meledak di dalam dadaku.
Ayah.
Pria yang kadang lupa namaku, tapi tidak pernah lupa bahwa aku adalah putrinya.
Pria yang selalu menyimpan foto kami berdua di saku jaket cokelat tuanya.
Pria yang setiap kali takut akan meraba foto itu dan berbisik,
“Anakku ada di sini.”
Ponselku jatuh ke atas selimut.
Aku tidak menangis keras.
Air mata hanya mengalir tanpa henti.
Seakan jiwaku perlahan mencair.
Aku mengambil kembali telepon itu dan menghubungi Michael.
Lama sekali sebelum dia menjawab.
Di balik sambungan, aku lebih dulu mendengar suara tawa seorang wanita.
“Sayang, siapa itu?” suara Bella terdengar manja.
Aku memejamkan mata.
“Michael,” kataku lirih. “Beri aku Rp50 miliar. Setelah itu aku akan menghilang dari hidupmu selamanya.”
Dia terdiam sesaat.
“Liana, drama apa lagi sekarang?”
“Ayahku meninggal.”
Hening.
Lalu terdengar helaan napas panjang.
“Aku turut berduka.”
“Turut berduka?” Aku tersenyum pahit di tengah air mata. “Karena saat aku terbaring di sini dia mencariku? Karena dia terpeleset dan jatuh saat berusaha menemukan anaknya?”
“Itu kecelakaan,” jawabnya dingin. “Jangan salahkan aku atas semuanya.”
“Kalau kau tidak mematahkan kakiku, aku bisa pulang. Kalau kau tidak memilih air mata Bella dibanding kebenaran, ayahku masih hidup.”
“Liana, cukup.”
Di belakangnya, Bella batuk kecil.
Seketika suara Michael berubah lembut.
“Bella? Kamu tidak apa-apa?”
Aku mencengkeram selimut.
Saat itulah aku menyadari seluruh rasa sakit itu.
Bukan hanya di kakiku.
Tapi di hatiku.
“Michael,” kataku, “aku ingin melihat Ayah.”
“Kamu tidak boleh bangun.”
“Kalau begitu, bawa aku ke sana.”
Dia terdiam.
“Baik. Tunggu aku.”
Tak lama kemudian dia datang.
Dan membawa Bella bersamanya.
Wajah wanita itu pucat, pergelangan tangannya dibalut perban tipis seolah dia korban yang hampir hancur hanya karena sebuah tamparan.
“Aku datang untuk meminta maaf, Kak Liana,” katanya dengan suara bergetar.
Aku menatap Michael.
“Kenapa kau membawanya?”
Dia tidak menjawab.
Bella mendekat ke ranjangku.
“Aku tidak bermaksud membuat Michael marah. Aku hanya takut saat Kakak menamparku.”
Aku mengambil kartu bank itu dan melemparkannya ke lantai.
“Rp5 miliar tidak cukup.”
Wajah Michael menegang.
“Kedua kakiku. Nyawa ayahku. Dan sepuluh tahun hidupku yang kau curi. Setidaknya Rp50 miliar.”
Bella menunduk.
“Cinta tidak bisa dibeli dengan uang, Kak.”
Aku menatapnya.
“Diam.”
Wajah Michael langsung menggelap.
“Liana.”
Aku tertawa.
“Apa? Kau mau melukaiku lagi demi dia?”
Untuk pertama kalinya, dia tak mampu menjawab.
Akhirnya mereka membawaku dengan kursi roda ke rumah duka di Jakarta.
Saat tiba, aku melihat ayahku terbaring di dalam peti yang dingin.
Pucat.
Diam.
Tak ada lagi suara yang memanggilku meski sering salah menyebut namaku.
“Ayah…” isakku sambil menempelkan telapak tangan ke kaca peti. “Aku sudah datang.”
Dari pantulan kaca, aku melihat Michael mendekat membawa tisu.
Namun Bella lebih cepat.
“Kak,” katanya pura-pura menangis, “kasihan sekali Om Arman. Kalau Kakak mau, aku bisa membantu mengurus semua acara duka.”
Aku menepis tangannya.
“Jauhkan dirimu dari ayahku.”
Wajah Bella langsung terluka.
Michael segera memegang lenganku.
“Jangan kasar. Niatnya baik.”
“Baik?” Aku menatapnya tajam. “Apa hak dia berada di sini?”
Michael kemudian memerintahkan orang-orangnya membeli peti termahal, bunga terbaik, dan makam paling mewah.
“Sudahlah,” katanya. “Anggap ini kompensasiku.”
Dia pikir yang kubutuhkan adalah uang.
Di aula duka tergantung foto ayahku.
Beliau duduk di bangku tua depan apartemen.
Mengenakan jaket cokelat kusam favoritnya.
Jaket yang dijahit sendiri oleh ibuku sebelum meninggal.
Aku mencarinya di antara barang-barang ayah.
Tidak ada.
“Di mana jaket Ayah?” tanyaku pada salah satu pekerja yang disewa Michael.
Orang itu menunduk.
Bella yang menjawab.
“Jaket itu sudah sangat tua dan bau, Kak. Jadi aku menyuruh orang membuangnya.”
Dadaku langsung sesak.
Dari belakang aula, aku mencium bau asap.
Aku memaksa kursi rodaku bergerak menuju halaman kecil.
Di sana, di dalam drum besi, kulihat sisa-sisa kain yang terbakar.
Jaket Ayah.
Dan di antara abu itu terdapat separuh foto kami yang hangus.
Aku meraih sisa lengan jaket itu.
Abu hitam mengotori jari-jariku.
“Apa yang kau lakukan?” bisikku pada Bella.
Air mata mengalir di wajahnya.
“Aku hanya ingin semuanya terlihat lebih layak…”
Aku menoleh kepada Michael.
Dan yang dia katakan hanyalah:
“Liana, dia sudah meninggal. Apa kau masih mau ribut hanya karena jaket tua?”
Saat itulah aku sadar.
Semuanya benar-benar sudah berakhir.
Malam itu mereka mengunciku di sebuah kamar kecil di rumah duka.
Dari luar, aku mendengar suara Michael.
“Awasi dia. Besok pagi jangan biarkan dia masuk ke krematorium.”
Aku menggenggam sisa lengan jaket ayahku.
Dan saat meraba bagian dalam lapisannya yang belum tersentuh api…
Aku menemukan sesuatu yang keras.
Sebuah kartu memori lama.
Dan pada saat itu juga, untuk pertama kalinya sejak kematian Ayah, aku tersenyum.
Karena aku tahu…
Apa pun yang tersimpan di dalam kartu itu adalah alasan Ayah menjahit lapisan jaketnya dengan tangan.
Dan jika Michael serta Bella sampai rela membakar barang terakhir milik Ayah…
Maka rahasia di dalam kartu memori itu pasti cukup besar untuk menghancurkan mereka berdua.
Baca kelanjutan kisah lengkapnya di kolom komentar 👇

Tanganku gemetar saat memasukkan kartu memori itu ke laptop tua milik ayah yang masih tersimpan di rumah.
Hanya ada satu folder.
Namanya sederhana.
“Untuk Liana.”
Air mataku langsung jatuh.
Dengan jari yang bergetar, aku membukanya.
Puluhan video muncul di layar.
Video pertama direkam hampir tiga tahun lalu.
Wajah ayahku terlihat lebih muda, meski tanda-tanda Alzheimer sudah mulai tampak.
“Kalau kamu sedang menonton ini, Nak,” katanya sambil tersenyum, “mungkin Ayah sudah lupa banyak hal. Tapi Ayah tidak pernah lupa kalau Ayah sangat mencintaimu.”
Aku menangis tersedu-sedu.
Lalu video berikutnya mulai diputar.
Kali ini kamera mengarah ke sebuah kafe.
Di sana duduk Michael.
Dan di depannya adalah Bella.
Tanggal rekaman menunjukkan bahwa itu terjadi dua tahun sebelum mereka mengumumkan hubungan mereka.
“Aku tidak peduli soal Liana,” suara Michael terdengar jelas.
“Yang penting saham perusahaan itu nanti jatuh ke tanganku setelah kita menikah.”
Bella tertawa kecil.
“Dan perempuan bodoh itu masih percaya kamu mencintainya.”
Darahku seolah membeku.
Video demi video terus berjalan.
Ternyata selama penyakitnya belum terlalu parah, ayahku sering berjalan-jalan membawa kamera kecil yang diberikan mantan teman kerjanya.
Tanpa sengaja, ia merekam banyak pertemuan rahasia Michael dan Bella.
Percakapan tentang perselingkuhan.
Manipulasi.
Pemalsuan dokumen.
Bahkan rencana mereka untuk membuatku menandatangani pengalihan aset setelah pernikahan.
Namun video terakhirlah yang menghancurkan segalanya.
Dalam rekaman itu, Bella berkata:
“Ayah tua itu mulai curiga. Kalau dia terus bicara, semuanya bisa berantakan.”
Michael terdiam beberapa saat.
Lalu menjawab,
“Biarkan saja. Tidak ada yang akan percaya pada orang tua pikun.”
Aku memutar rekaman itu berkali-kali.
Setiap kali, rasa sakit berubah menjadi kemarahan.
Dan kemarahan berubah menjadi keberanian.
Tiga hari setelah kremasi ayahku, aku mengadakan konferensi pers.
Michael dan Bella datang dengan wajah percaya diri.
Mereka mengira aku akan meminta maaf.
Mereka mengira aku sudah kalah.
Sampai layar besar di belakangku menyala.
Video pertama diputar.
Lalu video kedua.
Lalu ketiga.
Dan seterusnya.
Wajah Michael perlahan memucat.
Bella mulai gemetar.
Ruangan yang tadinya sunyi berubah menjadi lautan bisikan.
Para wartawan berdiri.
Kamera-kamera langsung mengarah kepada mereka.
“Apakah rekaman ini asli?”
“Apakah benar ada penggelapan aset?”
“Apakah Anda menipu tunangan Anda selama bertahun-tahun?”
Bella menangis.
Michael mencoba menghentikan pemutaran video.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Dalam hitungan minggu, penyelidikan dimulai.
Investor menarik dukungan.
Mitra bisnis membatalkan kerja sama.
Nama besar Michael Wijaya runtuh seperti istana pasir diterjang ombak.
Bella menghilang dari sorotan publik.
Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun…
Aku berhenti memikirkan mereka.
Enam bulan kemudian, aku datang ke makam ayah.
Kakiku masih belum pulih sepenuhnya.
Aku berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.
Di tanganku ada foto baru kami berdua.
Aku meletakkannya di depan nisan.
“Ayah,” bisikku.
“Ayah selalu takut melupakanku.”
Air mata jatuh membasahi pipiku.
“Tapi ternyata akulah yang hampir lupa siapa diriku.”
Angin sore berembus lembut.
Untuk sesaat, rasanya seperti ayah sedang duduk di sampingku, mengenakan jaket cokelat tuanya dan tersenyum seperti dulu.
Aku tersenyum kembali.
“Ayah tidak kalah.”
“Dan aku juga tidak.”
Karena pada akhirnya, warisan terbesar yang ditinggalkan ayah bukanlah kartu memori itu.
Bukan bukti yang menghancurkan Michael.
Bukan pula kesempatan untuk membalas dendam.
Melainkan keberanian untuk tetap menjadi orang baik… ketika dunia memberiku seribu alasan untuk berubah menjadi jahat.
Aku berdiri perlahan.
Menatap langit yang mulai berwarna keemasan.
Lalu melangkah pergi.
Bukan sebagai wanita yang ditinggalkan.
Bukan sebagai korban.
Tetapi sebagai putri dari seorang ayah luar biasa yang telah melindungiku… bahkan setelah napas terakhirnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Aku benar-benar merasa bebas.