AKU MEMERGOKI IPARKU MENGGUNAKAN REKENING KELUARGA KAMI UNTUK MENTRAKTIR SELURUH TEMAN-TEMANNYA LIBURAN MEWAH DI BALI. YANG LEBIH PARAH, DIA SECARA TERANG-TERANGAN MENGATAKAN BAHWA AKU TIDAK PANTAS MENJADI ISTRI KAKAKNYA. AKU BERDALIH PERGI MEMBELI ES BATU, TAPI DIAM-DIAM AKU MEMBLOKIR SEMUA KARTU TAMBAHAN YANG TERHUBUNG KE REKENING KAMI.

“Mbak, kamu harus coba cocktail di sini. Satu gelas saja harganya setara gaji seminggu pegawai biasa. Tapi santai saja, Kak Arga yang bayar hari ini.”

Marissa tertawa sambil memainkan rambut keritingnya yang tertiup angin pantai Bali. Di sekelilingnya duduk teman-teman sosialitanya. Di atas meja dekat infinity pool berjejer ponsel-ponsel mahal dan tas bermerek.

Aku diam memandangi ponsel yang ia gunakan untuk membayar.

Itu rekening milikku dan suamiku.

Uang yang kami kumpulkan selama empat tahun demi membeli rumah kecil di Jakarta Selatan.

01

Liburan ke Bali ini seharusnya menjadi liburan pertama kami setelah hampir setahun bekerja tanpa henti.

Namaku Nadia Pratama.

Suamiku bernama Arga Wijaya, seorang sales manager di perusahaan elektronik besar di Jakarta. Aku sendiri bekerja sebagai internal auditor di perusahaan logistik.

Kami sudah menikah tiga tahun dan tinggal di apartemen sewaan sederhana di Jakarta. Setiap bulan kami menekan pengeluaran seketat mungkin demi menabung untuk rumah impian kami.

Aku pikir hidup kami sederhana tapi tenang.

Sampai adik perempuan Arga pindah tinggal bersama kami.

Marissa enam tahun lebih muda dari Arga. Baru saja keluar dari pekerjaannya, tapi gaya hidupnya seperti anak konglomerat.

Minggu ini tas desainer baru.

Minggu depan iPhone terbaru.

Kalau aku membahasnya, ibu mertuaku, Bu Ratna, selalu berkata:

“Dia masih muda. Biarkan dia menikmati hidupnya dulu.”

Dan Arga?

Selalu hanya tersenyum canggung.

“Dia adikku. Jangan terlalu dipikirkan.”

Awalnya Marissa hanya meminjam beberapa juta rupiah.

Lalu biaya skincare.

Tiket konser.

Cicilan motor.

Sampai bulan lalu saat aku mengecek rekening tabungan kami.

Hampir Rp300 juta hilang.

Dan semuanya digunakan oleh Marissa.

Malam itu aku berbicara dengan Arga.

Dia lama terdiam sebelum menjawab.

“Aku cuma membantu dia.”

“Membantu?” Aku tertawa sinis. “Membantu seperti apa kalau hampir setiap hari dia makan di restoran mahal?”

Arga memijat pelipisnya.

“Nadia, tolonglah. Dia adikku.”

Aku ingin marah besar malam itu.

Tapi aku menahan diri.

Aku masih berpikir ada batasnya.

Sampai malam ini.

Marissa mengadakan pesta kolam renang mewah di resort Bali.

Dia mengundang seluruh gengnya dari Jakarta dan menyewa area VIP di tepi pantai.

Musik berdentum keras.

Lampu berkilauan di atas air.

Hidangan seafood premium dan minuman impor terus berdatangan.

Aku sempat melihat tagihan sementara di tablet pelayan.

Lebih dari Rp120 juta.

Tanganku langsung terasa dingin.

Tiba-tiba Marissa berbicara sambil memutar gelas wine di tangannya.

“Mbak, seorang perempuan harus tahu tempatnya. Kalau tidak bisa menghasilkan banyak uang, setidaknya harus bisa menyenangkan suaminya. Jangan terlalu mengontrol uang.”

Temannya terkikik.

“Kamu sedang menyindir kakak iparmu?”

Marissa mendengus.

“Aku? Tidak kok. Sayang saja. Kak Arga sesukses itu, tapi menikah dengan perempuan yang begitu biasa.”

Seluruh meja tertawa.

Aku tetap diam.

Arga menggenggam tanganku.

“Jangan dianggap serius. Dia cuma agak mabuk.”

“Biasanya orang mabuk justru mengatakan apa yang sebenarnya mereka pikirkan,” jawabku dingin.

Arga langsung mengalihkan pandangan.

Bu Ratna menaruh gelasnya.

“Nadia, kamu juga harus mengerti Marissa. Dari kecil dia memang dimanja. Itu cuma sedikit uang. Jangan terlalu pelit.”

“Sedikit uang?” ulangku.

Aku menatapnya lurus.

“Itu uang untuk membeli rumah kami.”

Suasana langsung sunyi.

Marissa tersenyum tipis.

“Rumah bisa dibeli nanti. Masa muda cuma sekali.”

Lalu dia memanggil pelayan.

“Tambahkan dua botol champagne paling mahal.”

Wajah Arga langsung pucat.

“Marissa…”

“Tenang saja, Kak.” Dia tersenyum manis. “Aku pakai kartu tambahan kok.”

Saat itulah aku tertawa.

Ada sesuatu yang dingin menjalar di dadaku.

Empat tahun aku bekerja tanpa membeli barang mewah untuk diriku sendiri.

Aku memakai pakaian kantor yang sama berulang kali.

Lembur sampai malam.

Menghemat setiap rupiah.

Sementara mereka?

Menggunakan uang hasil kerja kerasku untuk pamer kepada orang lain.

Marissa menatapku.

“Mbak, jangan bilang kamu benar-benar keberatan?”

Aku diam beberapa saat.

Lalu tersenyum.

“Tidak kok. Bukankah kita semua sedang bersenang-senang?”

Semua orang tampak terkejut melihat perubahan sikapku.

Aku bahkan mengangkat gelas lebih dulu.

“Kita keluarga, kan?”

Arga terlihat lega.

Dia mengira aku mengalah lagi.

Marissa semakin santai dan terus memesan makanan mahal.

Sepuluh menit kemudian aku berdiri.

“Aku mau beli es batu. Kepalaku agak pusing.”

Tidak ada yang menghentikanku.

Aku berjalan keluar menuju lorong resort yang sepi.

Sesampainya di dekat lobi, aku mengeluarkan ponsel.

Tanganku sedikit gemetar.

Tapi suaraku tenang.

“Halo, saya ingin memblokir seluruh kartu tambahan yang terhubung dengan rekening utama saya.”

Pihak bank melakukan verifikasi.

Aku menatap laut yang gelap.

“Baik, Bu. Semua kartu tambahan sudah berhasil diblokir.”

“Terima kasih.”

Begitu telepon ditutup, ponselku langsung bergetar bertubi-tubi.

Transaksi gagal.

Transaksi gagal.

Transaksi gagal.

Aku kembali ke area kolam renang.

Bahkan dari kejauhan aku sudah mendengar teriakan Marissa.

“Kenapa ditolak?!”

Pelayan berdiri di sampingnya dengan wajah canggung.

“Maaf, Bu. Semua kartu ditolak.”

“Tidak mungkin!” teriak Marissa. “Kak Arga punya uang!”

Arga buru-buru membuka aplikasi mobile banking.

Semakin lama wajahnya semakin pucat.

Bu Ratna mulai panik.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Manajer resort datang dengan sikap profesional namun dingin.

“Jika tagihan tidak dibayar dalam lima belas menit, kami terpaksa memanggil petugas keamanan.”

Seluruh teman Marissa langsung terdiam.

Orang-orang yang tadi tertawa sekarang saling berpandangan gelisah.

Marissa berbalik menghadap Arga.

“Kak! Apa yang kamu lakukan?!”

Saat itulah Arga menatapku.

Aku berdiri di bawah cahaya lampu kuning di tepi kolam.

Diam memandangnya.

Lalu aku tersenyum perlahan.

Pada saat yang sama ponselku kembali bergetar.

Pesan baru dari bank.

“Permintaan penutupan rekening tabungan bersama Anda telah berhasil diterima.”

Dan pada detik itu…

Arga berdiri dengan wajah sepucat kertas.

Seolah baru menyadari apa yang sebenarnya telah kulakukan.

Miguel dahan-dahang tumayo.

Hindi siya sumigaw.

Hindi siya nagtanong.

Tinitigan lang niya ako na parang ngayon lang niya ako tunay na nakita matapos ang tatlong taon naming pagsasama.

“Camille…” paos niyang sabi. “Sinara mo ang account?”

Tumango ako.

Sa paligid namin, nagkakagulo na.

Ang manager ng resort ay hawak ang tablet na may nakabukas na bill.

₱428,750.

Halos kalahating milyon.

Namutla si Maris.

“Ano?! Imposible ‘yan! Kuya, sabihin mo sa kanila na may pera tayo!”

“Tayo?” mahinahon kong tanong.

Napalingon siya sa akin.

Ngayon lang yata niya napansing wala na ang dati niyang inaapakang hipag.

“Wala tayong pera, Maris. Ang perang ginastos mo ay pera naming mag-asawa.”

Tumawa siya nang pilit.

“Arte mo naman, Ate. Family tayo.”

“Dati.”

Tumigil ang lahat.

Pati ang biyenan kong si Celia ay napalunok.

“Ano’ng ibig mong sabihin?”

Inilabas ko ang folder mula sa bag ko.

Isang makapal na folder.

Mga bank statement.

Mga transfer record.

Mga screenshot.

Bawat luho.

Bawat concert ticket.

Bawat designer bag.

Bawat resort booking.

Bawat pisong kinuha nila mula sa pinaghirapan naming mag-asawa.

Ipinatong ko iyon sa mesa.

“Nakarecord lahat.”

Tahimik.

“Sa loob ng tatlong taon, umabot sa mahigit ₱3.8 milyon ang ginastos ni Maris gamit ang pera naming dalawa.”

Nabitiwan ni Celia ang hawak niyang baso.

“Ano?!”

“At alam mo kung sino ang nagbayad ng karamihan?”

Tumitig ako kay Miguel.

“Hindi ikaw.”

Napayuko siya.

“Dahil habang nagtatrabaho ka, ako ang nag-o-overtime. Ako ang tumatanggi sa bakasyon. Ako ang paulit-ulit na gumagamit ng lumang damit para makadagdag sa ipon natin.”

Unti-unting namuo ang luha sa mga mata niya.

Alam niyang totoo lahat.

Lahat ng pagkakataong pinili niyang manahimik.

Lahat ng pagkakataong hinayaan niya akong masaktan.

Lahat ng pagkakataong ipinagpalit niya ang kapayapaan sa katotohanan.

Biglang lumuhod si Maris sa harap ni Miguel.

“Kuya! Bayaran mo muna! Nakakahiya!”

Ngunit hindi gumalaw si Miguel.

Hindi niya tinignan ang kapatid niya.

Sa halip, tumingin siya sa akin.

At sa unang pagkakataon sa gabing iyon, nagsalita siya nang matatag.

“Hindi.”

Nanlaki ang mata ni Maris.

“H-ha?”

“Hindi ko na babayaran ang mga utang mo.”

Parang nawalan ng hangin ang paligid.

“Miguel!” sigaw ni Celia.

Ngunit umiling siya.

“Ma, sapat na.”

Tumulo ang luha sa kanyang mukha.

“Labing-isang taon ko siyang kinunsinti.”

“Tatlong taon kong hinayaang masaktan ang asawa ko.”

“Sapat na.”

Natahimik ang biyenan ko.

At doon niya marahil unang naunawaan na nawawala na sa kanya ang kontrol sa anak niyang matagal niyang minanipula gamit ang salitang “pamilya.”

Lumapit si Miguel sa akin.

Dahan-dahan.

Tahimik.

Pagkatapos ay iniabot niya ang wedding ring niya.

Hindi para ibalik.

Kundi para hawakan ko.

“Camille.”

Napuno ng pagsisisi ang mga mata niya.

“Kung may natitira pa akong pagkakataon… gusto kong magsimula ulit.”

Hindi ako agad sumagot.

Hindi dahil galit ako.

Kundi dahil pagod na pagod na ako.

Pagod sa pagpapatawad.

Pagod sa pag-unawa.

Pagod sa pagiging huling prayoridad.

Matagal akong tumingin sa kanya.

Pagkatapos ay sinabi ko ang mga salitang hindi niya inaasahan.

“Hindi mo kailangang pumili sa pagitan ng asawa at pamilya mo.”

Umaasa siyang ngumiti.

Pero nagpatuloy ako.

“Kailangan mo lang matutunang piliin ang tama.”

At sa gabing iyon, si Maris ang naiwan upang harapin ang napakalaking bill na siya mismo ang lumikha.

Ang mga kaibigan niyang kanina’y nakikisaya ay isa-isang umalis.

Ang biyenan kong si Celia ay walang nagawa kundi magmakaawang hulugan ang bayad.

At si Miguel?

Sumama siya sa akin palabas ng resort.

Tahimik kaming naglakad sa tabing-dagat.

Walang salita.

Walang pangako.

Walang kasiguraduhan.

Pero sa unang pagkakataon matapos ang maraming taon, wala nang ibang taong nakatayo sa pagitan naming dalawa.

Tanging ang alon.

At ang katotohanan.

Dahil minsan, ang pinakamahalagang perang naiipon sa isang relasyon ay hindi nasa bank account.

Kundi ang respeto.

At kapag naubos iyon, kahit milyon pa ang laman ng account, para ka pa ring naghihirap.

Ngunit kapag natutunan mo itong ipaglaban, may pagkakataon pang muling yumaman ang puso.