Nama saya Aditya. Usia saya tiga puluh lima tahun. Setiap pagi, saya harus menatap cermin dan melihat sosok lelaki yang hancur, namun harus tetap tegar demi Putri, putri kecil saya yang baru berusia lima tahun. Istri saya, Ningsih, telah berpulang ke hadapan Sang Pencipta setahun yang lalu. Sejak saat itu, dunia saya hanya berputar pada Putri. Kami hidup sederhana, sangat sederhana. Hari ini adalah ulang tahun Putri yang keenam. Kami baru saja pulang dari kegiatan sukarela di panti asuhan di pinggiran Jakarta, tempat saya sering menyumbangkan tenaga untuk membersihkan area taman. Baju saya hanya kaos oblong yang sudah belel, celana jins yang warnanya sudah memudar karena sering dicuci, dan sepatu kets yang solnya hampir lepas. Putri? Dia hanya mengenakan gaun katun murah yang ada sedikit noda cat poster di bagian bawahnya karena dia baru saja bermain melukis di panti tadi pagi.
Kami berjalan kaki melewati kawasan Senayan, tempat berdirinya ‘Grand Nusantara Mall’, pusat perbelanjaan paling elit di Jakarta. Matahari terik, namun semangat saya menyala hanya karena satu alasan: ingin membahagiakan Putri. Tiba-tiba, Putri menarik tangan saya. Matanya berbinar menatap balik kaca etalase sebuah butik high-end bernama ‘La Mode Elite’. Di sana, terpajang sebuah gaun berwarna merah muda dengan taburan kristal yang gemerlap.
“Papa, lihat! Gaun itu cantik sekali,” seru Putri dengan suara melengking bahagia. “Putri ingin sekali memakainya untuk pesta ulang tahun Putri nanti, Papa. Boleh, ya?”
Hati saya seperti diremas. Saya tahu, gaun itu mungkin seharga gaji saya selama dua tahun. Tapi melihat senyum Putri, ego saya sebagai ayah runtuh. “Tentu, Sayang. Apapun untukmu,” jawab saya mantap, sambil menggenggam jemari kecilnya. Kami melangkah masuk ke dalam butik. Udara di dalam sangat dingin, kontras dengan teriknya Jakarta. Wangi parfum mahal menusuk hidung. Namun, belum sampai sepuluh langkah kami masuk, aura butik itu berubah. Para pegawai yang tadinya sedang bercanda, langsung berhenti. Mereka menatap kami seolah-olah kami adalah hama yang masuk ke dalam ruang steril.
Putri, dengan kepolosannya, berlari kecil menuju gaun impiannya. Tangannya yang mungil terulur, ingin menyentuh kain sutra itu. PLAK!
Suara keras itu menghentikan waktu. Saya terbelalak. Seseorang memukul tangan Putri dengan majalah mode yang tebal. Putri menjerit kesakitan, air matanya langsung tumpah membasahi pipinya yang bulat. “Aduh! Sakit, Papa!” Putri segera berlari ke balik punggung saya, gemetar hebat.
“Heh! Dasar anak tidak tahu diri! Jangan sentuh gaun itu! Kamu mau mengotori gaun seharga seratus juta dengan tangan kotor penuh noda cat itu?!” bentak seorang wanita dengan dandanan menor yang tebal sekali. Di seragamnya yang ketat, tersemat nametag: ‘Ratih – Store Manager’.
Darah saya mendidih. Rasa sakit di dada saya jauh lebih hebat daripada pukulan fisik manapun. “Bu, tolong bicara yang sopan. Anak saya hanya ingin melihat,” ujar saya dengan nada menahan amarah yang luar biasa.
Ratih tertawa sinis, suara tawanya melengking tinggi, membuat pengunjung lain—wanita-wanita kaya yang sedang belanja—berhenti dan menatap kami dengan tatapan menghina. “Lihat? Dia bilang ‘beli’. Mas, sadar diri! Ini butik eksklusif, bukan pasar loak di pinggir jalan! Kamu, dengan pakaian gembel seperti itu, bahkan tidak layak untuk menyentuh lantai toko ini, apalagi gaunnya!”

“Ya Tuhan, jijik sekali melihat mereka,” sahut seorang wanita paruh baya bertabur emas di lehernya, yang sedang dilayani Ratih. “Ratih, cepat usir mereka sekarang juga! Bau keringat dan debu jalanan mereka menempel di udara butik ini. Aku jadi tidak selera belanja!”
“Maafkan saya, Ibu Melinda. Segera saya tindak lanjuti,” jawab Ratih dengan nada menjilat. Dia kemudian melangkah maju ke arah saya, wajahnya yang penuh bedak terlihat sangat mengerikan saat marah. “Dengar ya, pria gembel! Kamu dengar sendiri apa kata pelanggan VIP kami? Sekarang juga, keluar! Atau saya panggil satpam untuk menyeret kalian keluar seperti sampah yang memang tempatnya di luar sana! Jangan sampai kalian mengotori lantai marmer kami dengan kaki kotor kalian itu!”
Putri makin erat memeluk kaki saya, isak tangisnya semakin kencang. “Papa, ayo pulang… Putri tidak mau gaun itu lagi, Putri takut…”
Saya menatap Ratih, menatap matanya yang penuh kesombongan, menatap wanita kaya di belakangnya yang tertawa mengejek. Saya menarik napas dalam-dalam. Ya Allah, beri saya kesabaran. Namun, kesabaran saya ada batasnya. “Bu Ratih,” suara saya dingin dan berat. “Anda akan menyesali kata-kata Anda hari ini. Anda pikir uang bisa membeli segalanya, termasuk martabat?”
Ratih meludah ke lantai, tepat di depan sepatu saya. “Martabat? Kamu bicara tentang martabat? Kamu itu cuma debu di mata kami! Satpam! Sini kalian! Seret bapak dan anak ini keluar sekarang juga! Saya tidak mau melihat mereka satu detik pun lagi di butik saya!”
Dua orang satpam bertubuh besar mendekat, wajah mereka siap melakukan tindakan kasar. Saya menatap Putri, lalu menatap Ratih lagi. Tiba-tiba, pintu depan butik terbuka lebar. Seseorang berpakaian jas hitam rapi, dikawal oleh dua orang pria berbadan tegap, berjalan masuk dengan terburu-buru. Wajahnya pucat pasi saat melihat keributan di dalam. Itu Pak Bram, General Manager seluruh mall Grand Nusantara. Matanya menyapu ruangan, berhenti tepat di wajah saya, lalu beralih ke wajah Putri yang sedang menangis, dan terakhir ke arah tangan Ratih yang masih memegang majalah bekas memukul tadi…