Posted in

“Bangun, As! Kamu tidak boleh pergi dulu. Kamu harus bertahan. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Kamu harus menjawabnya!” Kamila terisak di samping Asti yang terbaring lemah dengan perlengkapan medis melekat di tubuhnya.

Tidak ada respon apa pun yang ditunjukkan Asti pada Kamila.

Tidak ingin menyerah begitu saja. Kamila menggoyangkan tubuh Asti, dan kembali berbicara lebih dekat di telinganya.

“Kamu tahu apa yang aku rasakan sekarang, As? Sa kit… Sa kit sekali!” Kamila bergetar.”Sungguh, apa yang kamu dan Mas Surya lakukan tidak bisa kumaafkan.”

“Kamu tahu Mas Surya akan menikahiku, tapi kenapa kamu justru menjalin hubungan dengannya?”

“Kamu sahabatku, As. Kamu orang pertama yang aku beri tahu apa pun tentangku. Tapi kenapa kamu malah berkhia n at?”

Tu buh Kamila berguncang, seiring tangis yang kian menderas.“Aku mau kamu lekas bangun, As. Kamu harus menjawab semua pertanyaanku,” ucapnya, seraya mengusap kedua matanya yang penuh dengan air mata.

Tidak juga mendapat respon dari orang yang diajaknya bicara, Kamila menggerakkan kursi rodanya, berbalik membelakangi Asti.”Antarkan aku ke kamarku, Mas,” pintanya pada suaminya.

Surya yang sejak tadi hanya mematung di belakang Kamila, gegas meraih pegangan kursi roda, dan bersiap mendorongnya.

Namun geraknya terhenti, saat tiba-tiba telinganya mendengar suara parau memanggil nama Kamila.

Surya kembali membalikkan badannya. ”Sus, Mbak Asti sudah sadar!” serunya pada seorang suster jaga.

“Sebentar Pak, saya panggilkan Dokter jaga dulu. Kebetulan dr.Farida baru saja pulang.”

Dengan langkah cepat, suster jaga itu keluar dari ruang ICU.

Sedang Asti yang baru saja tersadar, memberi isyarat pada Surya untuk membuka alat bantu pernapasan yang melekat di sekitar mulut dan hidungnya

Gemetar, Surya melepas nebulizer dari mulut Asti.

Air mata mengalir deras dari kedua mata Asti yang belum terbuka sepenuhnya itu.

Bi birnya bergerak pelan mende siskan permintaan maafnya pada Kamila.”Ma-Maafkan a-aku, Mil.” ucap Asti, lemah dan terbata-bata.

Kamila bergeming. Sa kit di hatinya kian terasa ny eri.

Ia ingin melampiaskan kemarahannya pada wanita yang sudah menghancurkan dongeng indah di keluarga kecilnya. Tapi, mendapati pelaku perusak itu tengah terbaring tidak berdaya. Kamila tidak sampai hati mengeluarkan kata-kata makian yang sudah sejak tadi disusunnya.

Sungguh situasi yang membuatnya semakin didera kepedihan.

“Mil … Aku tahu kamu pasti sangat membenciku. Tapi aku mohon, sekecil apapun itu, semoga masih ada harapan untuk aku mendapatkan Maaf darimu,” lagi, dengan suara yang kian melemah Asti berbicara pada Kamila.”Aku tidak bisa pergi dengan tenang, sebelum aku mendengar kata maaf darimu, Mil.”

Kamila menatap lekat pada Asti, yang juga tengah menatapnya.”Andai saja posisi kita ditukar, apakah kamu akan memaafkan aku, As?” tanyanya, sembari mengusap kedua pipinya yang basah.

“Aku tahu, aku berdosa padamu, Miil. Tapi aku mohon, maafkan a-aku, Mil,” lirih Asti tampak sudah sangat tidak berdaya.

Air mata yang sejak tadi terus berdesakan di pelupuk mata, kembali luruh di kedua pipi Kamila.

Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkannya.

“Mil …, A-a-aku ti-tip Cin-Cintaa, a-anakku … padamu, ya. Aku mohon!” dengan suara terputus-putus, Asti berhasil menyampaikan kalimat terakhirnya.

Beberapa detik kemudian, suara leng kingan dari alat monitor jantung, seperti b o m waktu yang tiba-tiba me le dak.

Kamila yang baru saja hendak beranjak pergi, mengurungkan niatnya. ”Asti…!” pe kiknya tertahan.

Sudah dua minggu terakhir ini, Kamila kembali dihantui bayang-bayang masa lalu yang membuat luka 25 tahun lalu itu kembali basah.

Segala upaya telah dilakukannya, untuk mengubur dalam-dalam kejadian yang sudah memporak-porandakan hatinya itu, namun semuanya sia-sia.

semakin ia berusaha melupakannya, ingatan itu justru semakin sering muncul di kepalanya.

“Mama sudah siap?”

Teguran Dira di ambang pintu kamarnya, menyadarkan Kamila dari lamunan panjangnya.

“Sebentar lagi, kamu duluan saja. Nanti Mama nyusul.” Kamila gegas beranjak dari tempatnya.

“Mama nangis?” Dira mendekat.

Kamila menggeleng cepat.”Tidak, Ra. Mama hanya sedang terharu saja, karena sebentar lagi Mama akan melihatmu dilamar oleh laki-laki yang selama ini kamu harapkan menjadi pendampingmu.”

“Mama tidak sedang berbo h ong padaku, ‘kan?” Dira menelisik.

“Maksud kamu?”

“Mama tidak sedang teringat dengan wanita perusak itu, ‘kan?”

Kamila tersenyum.”Tidak, Ra. Mama sudah tidak ingin mengingatnya lagi. Semua sudah berlalu, Mama sudah menguburnya dalam-dalam.”

Dira menghembuskan napas pelan.”Kalau sampai aku tahu Mama menangis karena mengingat wanita itu lagi, aku tidak akan pernah memaafkan a naknya.”

“Sudahlah, Ra. Jangan dibahas lagi. Lebih baik kita ke ballroom sekarang, acaranya sebentar lagi dimulai.”

Dira mengangguk setuju.

Kemudian, menggamit lengan Kamila dan membawanya menuju ballroom hotel tempat acara pertunangannya dan Adit akan dilangsungkan.

***
Mengenakan gaun rancangan desainer ternama tanah air, Dira tampil memukau di hadapan tamu undangan yang hadir.

Di sampingnya, Adit tampak percaya diri dengan setelan jas mewah dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Di barisan tamu, teman-teman sejawat Adit yang datang menghadiri acara, tampak mulai berbisik-bisik.

“Kok bukan Cinta, sih?” bisik Lita di telinga Aurelia. “Kamu sudah tahu kalau yang dilamar Adit itu Dira, bukan Cinta, Rel?”

“Sudah, jangan bersisik! Ikuti saja acaranya.” Aurelia balik berbisik.

Tak lama, terdengar instruksi dari MC, mengarahkan pasangan yang terlihat serasi itu untuk saling menyematkan cincin di jari manis pasangannya.

Entah disengaja atau tidak. Tiba-tiba saja cincin yang hendak Dira pasangkan di jari manis Adit, terjatuh dan berhenti tepat di bawah kaki Cinta.