Namaku Lucia Pratama.
Di kelas 12 SMA Garuda Jakarta, aku terkenal sebagai murid dengan nilai terburuk.
Nilai-nilaiku benar-benar aneh.
Matematika: 98.
Fisika: 99.
Kimia: 97.
Tetapi Bahasa Indonesia: 15.
Sejarah: 18.
Sosiologi: 16.
Jika dijumlahkan, total nilaiku menjadi yang paling rendah di kelas.
Guru wali kelas bahkan memindahkan mejaku ke pojok ruangan, tepat di samping tempat sampah.
Hari itu, seluruh kelas menertawakanku.
“Lucia, kamu yakin orang Indonesia? Nilai Bahasa Indonesia cuma 15?”
“Jangan-jangan dia mata-mata dari negara lain!”
Gelak tawa memenuhi ruangan.
Aku hanya menunduk sambil memainkan pulpen.
Sudah terbiasa.
Keesokan harinya, seorang siswi baru dipindahkan ke kursi di sebelahku.
Namanya Lila Maheswari.
Nilainya bahkan lebih aneh daripada milikku.
Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Sosiologi hampir sempurna.
Tetapi Matematika, Fisika, dan Kimia benar-benar hancur.
Wali kelas menunjuk kami berdua sambil mencibir.
“Kalian berdua sama-sama beban kelas.”
“Kalau tidak bisa belajar, setidaknya jangan mengganggu murid lain.”
Seluruh kelas kembali tertawa.
Namun saat aku melihat lembar nilai Lila…
Jantungku hampir berhenti.
Aku cepat-cepat menyandingkan raporku dengan miliknya.
Dan aku langsung tersenyum.
Karena aku menemukan sesuatu yang luar biasa.
Jika nilai terbaik kami digabungkan…
Kami bahkan melampaui peringkat satu sekolah.
Aku menepuk bahu Lila.
“Mau jadi ranking satu?”
Dia menatapku seolah aku gila.
“Bagaimana caranya?”
Aku mendorong dua lembar rapor ke arahnya.
“Sendirian, kita dianggap bodoh.”
“Tapi bersama-sama…”
“…kita adalah dewa perang.”
Sejak hari itu, kami membuat perjanjian.
Aku mengajari Lila Matematika, Fisika, dan Kimia.
Lila mengajariku Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Sosiologi.
Setiap hari sepulang sekolah kami belajar di perpustakaan.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang peduli.
Karena di mata semua orang, kami hanyalah dua murid gagal yang duduk di dekat tempat sampah.
Namun justru karena dianggap gagal, kami bisa belajar tanpa tekanan.
Kami mulai menganalisis pola soal para guru.
Mencatat kebiasaan mereka.
Memprediksi materi yang kemungkinan besar keluar saat ujian.
Sedikit demi sedikit, nilai kami naik.
Satu bulan kemudian, hasil ujian bulanan diumumkan.
Guru wali kelas berdiri di depan kelas sambil membawa setumpuk kertas.
Wajahnya terlihat bingung.
Sangat bingung.
“Mustahil…”
gumamnya.
Seluruh kelas menjadi hening.
Beliau mengangkat kertas pertama.
“Peringkat kedua kelas…”
“Lila Maheswari.”
Ruangan langsung gaduh.
Murid-murid menoleh ke arah pojok kelas.
Ke arah kursi dekat tempat sampah.
Lila berdiri perlahan.
Tangannya gemetar.
Air matanya hampir jatuh.
Lalu guru itu mengangkat kertas berikutnya.
“Peringkat pertama kelas…”
Beliau berhenti beberapa detik.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“LUCIA PRATAMA.”
Seluruh kelas membeku.
Beberapa murid bahkan berdiri karena terkejut.
Anak yang selama ini ditertawakan.
Anak yang dianggap paling bodoh.
Tiba-tiba menjadi peringkat satu.
Guru wali kelas menatapku tajam.
“Kamu menyontek?”
Aku berdiri.
Untuk pertama kalinya sejak masuk kelas itu, aku menatap langsung ke matanya.
“Tidak, Bu.”
“Kami hanya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk belajar.”
Hari itu, tidak ada seorang pun yang tertawa.
Karena mereka akhirnya menyadari sesuatu.
Nilai rendah tidak selalu berarti bodoh.
Kadang-kadang seseorang gagal hanya karena tidak menemukan guru yang tepat.
Dan aku…
telah menemukan guru terbaikku.
Sahabat yang duduk di sebelah tempat sampah.
Lila.
Enam bulan kemudian, hasil ujian masuk universitas keluar.
Aku diterima di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Lila diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Saat upacara kelulusan, wali kelas datang menghampiri kami.
Beliau terlihat jauh lebih tua dibanding sebelumnya.
“Aku pernah salah menilai kalian.”
Aku dan Lila saling berpandangan.
Lalu tersenyum.
Karena kami sudah tidak marah lagi.
Orang-orang boleh mengingat kami sebagai dua murid dengan nilai terburuk.
Tetapi kami akan selalu mengingat diri kami sebagai dua anak yang saling menyelamatkan.
Dua murid yang pernah dibuang ke sudut kelas.
Namun berhasil membuktikan bahwa bahkan dari samping tempat sampah sekalipun…
mimpi tetap bisa tumbuh.
Dan kadang-kadang, dua orang yang dianggap paling lemah…
justru bisa menjadi pasangan “Dewa Perang” yang tak terkalahkan.

Lima tahun kemudian.
Aula utama Universitas Indonesia dipenuhi para mahasiswa baru.
Di atas panggung, seorang dosen sedang memperkenalkan dua alumni muda yang baru saja memenangkan kompetisi riset tingkat nasional.
Ketika layar besar menampilkan foto mereka, seluruh ruangan langsung bertepuk tangan.
“Peraih penghargaan tahun ini adalah Lucia Pratama dan Lila Maheswari.”
Di barisan belakang, seorang wanita paruh baya langsung meneteskan air mata.
Dia adalah mantan wali kelas kami.
Orang yang dulu memindahkan meja kami ke samping tempat sampah.
Orang yang pernah menyebut kami sebagai beban kelas.
Kini ia duduk diam sambil memandangi panggung.
Matanya merah.
Bukan karena malu.
Melainkan karena bangga.
Dan juga menyesal.
Setelah acara selesai, beliau menghampiri kami.
Rambutnya sudah mulai memutih.
Tangannya gemetar saat menyerahkan sebuah amplop.
“Aku menyimpan ini selama bertahun-tahun.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada foto kelas saat SMA.
Foto yang hampir kulupakan.
Di pojok paling belakang, dekat tempat sampah, ada dua anak perempuan yang sedang tertawa.
Aku dan Lila.
Bukan murid paling pintar.
Bukan murid paling populer.
Bahkan bukan murid yang diperhatikan siapa pun.
Namun justru dua anak itu yang akhirnya berdiri paling jauh.
“Aku minta maaf,” kata wali kelas kami pelan.
“Aku terlalu cepat menilai kalian.”
Lila tersenyum.
Aku juga tersenyum.
Karena bertahun-tahun lalu, kami sudah memaafkannya.
“Bu,” kata Lila lembut.
“Kalau waktu bisa diputar kembali, kami tetap akan memilih duduk di tempat itu.”
Beliau tertegun.
“Kenapa?”
Aku menatap sahabatku.
Lalu menjawab:
“Karena kalau kami tidak dipindahkan ke samping tempat sampah…”
“…kami tidak akan pernah bertemu.”
Malam itu, kami berdua kembali ke gedung SMA lama kami.
Lapangan masih sama.
Koridornya masih sama.
Bahkan tempat sampah di sudut kelas itu masih ada.
Kami berdiri di depan kursi lama kami.
Lila tertawa sambil menunjuk.
“Ingat? Di sini kita pertama kali membuat rencana menjadi ranking satu.”
Aku tertawa.
“Padahal saat itu kita bahkan tidak punya uang cukup untuk membeli buku latihan.”
“Dan semua orang menganggap kita bodoh.”
“Ternyata mereka salah.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Mereka tidak salah.”
Lila menatapku bingung.
Aku tersenyum.
“Mereka hanya melihat nilai kita.”
“Tapi mereka tidak pernah melihat perjuangan kita.”
Sebelum pulang, kami menempelkan sebuah catatan kecil di bawah meja tua itu.
Catatan sederhana untuk murid mana pun yang suatu hari akan duduk di sana.
Isinya hanya satu kalimat:
“Jika hari ini tidak ada yang percaya pada kemampuanmu, tidak apa-apa.
Teruslah belajar.
Karena suatu saat, hasil kerja kerasmu akan berbicara lebih keras daripada ejekan siapa pun.”
Saat kami meninggalkan kelas, matahari sore masuk melalui jendela.
Cahayanya jatuh tepat di kursi paling belakang.
Tempat yang dulu dianggap sudut untuk murid gagal.
Namun bagi kami…
itu adalah tempat lahirnya sebuah persahabatan.
Tempat lahirnya dua mimpi.
Dan tempat lahirnya dua “Dewa Perang” yang mengubah nasib mereka sendiri.
Karena pada akhirnya, bukan posisi tempat duduk yang menentukan masa depan seseorang.
Bukan juga nilai terendah.
Melainkan keberanian untuk terus bangkit ketika seluruh dunia sudah menyerah pada kita.
Dan terkadang…
orang yang duduk paling dekat dengan tempat sampah hari ini,
adalah orang yang akan berdiri paling tinggi di masa depan.