Aku tidak marah. Aku juga tidak membuat keributan.
Aku hanya diam-diam memasangkannya ke ponselku.
Keesokan harinya.
Di lokasi pernikahan adik iparku.
Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari arah tempat duduk pengantin wanita.
1
Suamiku, Arman Hartono, sedang mandi.
Besok adalah pernikahan adiknya, Dimas Hartono. Aku sudah menyiapkan amplop merah berisi Rp30.000.000 sebagai hadiah.
Aku berniat memasukkannya ke dalam tas Arman.
Namun aku merasakan ada benda keras di dalam tasnya.
Aku membuka ritsletingnya.
Bentuknya seperti dua buah remote control.
Yang satu sudutnya membulat.
Yang satu lagi berbentuk kotak.
Entah kenapa, tiba-tiba muncul sebuah dugaan di kepalaku.
Seperti versi pria dan versi wanita.
Ada simbol-simbol aneh di atasnya.
Api. Petir. Tetesan air.
Awalnya kukira itu remote untuk lampu LED, jadi tidak terlalu kupedulikan.
Aku mengambil ponsel dan menggunakan Google Lens untuk mencari gambar yang serupa.
Saat hasil pencarian muncul di layar, seluruh tubuhku langsung membeku.
Remote control untuk perangkat wearable.
Anti-lepas. Auto-lock.
…
Ternyata itu adalah remote untuk mainan dewasa yang biasa digunakan pasangan!
Aku buru-buru memeriksa tas itu lagi.
Tetapi perangkatnya tidak ada.
Sudah enam bulan aku dan Arman tidur di kamar terpisah.
Mustahil benda ini dibeli untukku.
Arman, apakah kau punya wanita lain?
2
Aku menarik napas panjang dan berusaha menenangkan diri.
Aku melihat mereknya lalu mencari manual digitalnya di internet.
Manualnya langsung muncul.
Aku mengikuti langkah-langkahnya, dan hanya dengan beberapa sentuhan, remote itu berhasil terhubung ke ponselku.
Ternyata alat itu biasa digunakan dalam hubungan BDSM.
Saat diaktifkan, alat tersebut akan terkunci secara otomatis.
Untuk membukanya harus menggunakan ponsel.
Aku baru saja hendak mengembalikan remote itu ketika Arman masuk.
Rambutnya masih setengah basah.
Saat melihat tasnya berada di sampingku, wajahnya langsung pucat.
“Kenapa kamu membuka tasku?”
Aku mengangkat amplop merah dan berpura-pura terkejut.
“Aku cuma mau memasukkan amplop hadiah untuk besok. Kenapa kamu marah? Ada sesuatu yang kamu sembunyikan di dalam tas itu?”
Aku menatap matanya.
Dia langsung mengalihkan pandangan dan membentak:
“Walaupun kita suami istri, tetap ada privasi! Apa ibumu tidak pernah mengajarimu untuk tidak mengutak-atik barang orang lain?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menatapnya.
Karena tidak tahan, Arman semakin meninggikan suaranya:
“Aku tidak mau berdebat lagi. Aku mau tidur!”
Dia merebut tasnya dan berjalan ke kamar tamu.
BRAK!
Pintu ditutup keras.
Dadaku terasa berat.
Orang yang merasa bersalah biasanya paling keras bersuara untuk menutupi kebenaran.
3
Pukul dua dini hari.
Aku mendengar suara dengkur dari kamar tamu.
Aku perlahan bangun dan berjalan ke depan pintu.
Aku memutar gagang pintu.
Terkunci.
Namun Arman lupa mencabut kuncinya yang masih tergantung di sisi luar.
Dengan hati-hati aku memutarnya dan masuk.
Arman tidur tengkurap.
Wajahnya tertanam di bantal.
Aku mengambil ponselnya dari meja samping dan membuka kuncinya menggunakan sidik jarinya.
Aku memeriksa riwayat chat.
Tidak ada yang mencurigakan.
Galeri.
Riwayat panggilan.
Email.
Semuanya terlalu bersih.
Seolah-olah ponselnya baru saja dihapus.
Aku mulai bertanya-tanya apakah aku terlalu curiga.
Aku hendak pergi ketika sebuah pesan muncul di bagian atas layar.
Telkomsel Service
[Pelanggan yang terhormat, tagihan bulan ini telah tersedia…]
Seharusnya aku langsung menghapus notifikasi itu.
Namun ada yang aneh.
Mengapa pesan tagihan dikirim pukul dua dini hari?
Karena penasaran, aku membukanya.
Bagian atasnya tampak normal.
Sisa pulsa.
Penggunaan data.
Aku menggulir ke bawah.
Dan kalimat kecil di bagian paling bawah membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.
[Apa kamu benar-benar ingin bermain sekeras itu besok? Aku sedikit takut.]
4
Itu bukan nomor layanan pelanggan.
Aku segera membuka detail pengirimnya.
Tebakanku benar.
Nama kontaknya hanya disamarkan menjadi “Telkomsel Service”.
Nomor aslinya tersembunyi di bawah.
Kode wilayahnya masih dari Jakarta.
Aku langsung mengambil tangkapan layar.
Saat itu Arman bergerak sedikit.
Dengkurnya berhenti.
Tubuhku langsung kaku.
Untungnya dia hanya bergumam sebentar lalu tertidur lagi.
Aku menandai pesan itu sebagai belum dibaca dan meletakkan ponselnya kembali seperti semula.
5
Pagi-pagi sekali keesokan harinya.
Arman sudah pergi.
Mobilnya juga tidak ada di garasi.
Aku menerima pesan darinya:
[Aku saja yang datang ke pernikahan. Kamu tidak perlu datang. Tinggal di rumah dan renungkan kesalahanmu.]
Aku menatap layar dan hampir tertawa karena kesal.
Tidak perlu datang?
Apa yang sebenarnya dia takutkan?
Takut aku melihat sesuatu?
Bagaimana mungkin aku tidak datang?
Aku berganti pakaian, memesan taksi online, lalu langsung menuju hotel.
Aku sudah mengambil keputusan.
Aku akan menceraikannya.
Tetapi aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir semudah itu.
Katanya ingin bermain permainan yang seru?
Baik.
Hari ini aku akan menemani mereka sampai akhir.
6
Di area resepsi.
Dimas melihatku dan langsung terkejut.
“Kak, bukannya katanya kamu sedang tidak enak badan dan tidak bisa datang?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku sudah lebih baik. Ini hari pernikahanmu, bagaimana mungkin aku tidak datang?”
Aku menepuk lengannya.
“Ada yang bisa kubantu?”
Sebelum dia sempat menjawab, ibu mertuaku muncul dari samping.
“Wah, akhirnya sang putri datang juga.”
Dia memandangku dari atas sampai bawah sambil mengunyah kuaci.
“Pintar sekali memilih waktu. Semua pekerjaan sudah selesai baru muncul. Kamu pikir kamu siapa? Ibunya pengantin?”
Para kerabat di sekitar mulai tertawa kecil.
Aku belum sempat menjawab.
Ibu mertua melihat tanganku yang kosong.
Wajahnya langsung semakin masam.
“Kamu bahkan tidak membawa hadiah?”
Dengan tenang aku mengeluarkan amplop merah yang sudah kusiapkan dan memberikannya kepada Dimas.
Namun ibu mertuaku langsung merebutnya.
Di depan semua orang, dia membuka amplop itu dan menghitung uangnya.
“Cuma tiga puluh juta rupiah?”
Dia melemparkan amplop itu ke atas meja.
“Sedang mengejek kami? Kakak ipar itu seperti orang tua kedua. Masa hadiahnya sekecil ini? Bahkan tidak cukup untuk satu sesi mahjongku!”
“Bu!”
Wajah Dimas langsung memerah.
“Apa yang Ibu katakan?!”
Dia menatapku dengan rasa bersalah.
“Kak, maafkan Ibu. Memang begitulah sifatnya. Silakan masuk dan cari tempat duduk dulu.”
Namun ibu mertuaku mencengkeram lenganku.
“Masih mau istirahat? Banyak tamu di sini! Jangan malas-malasan!”
Aku menahan sakit dan bertanya dingin:
“Di mana Arman? Kenapa dia tidak menyambut tamu?”
Wajah ibu mertuaku langsung berubah marah.
“Anakku laki-laki! Tugas menyambut tamu itu pekerjaan perempuan!”
Aku melepaskan tangannya dan pergi.
Di belakangku masih terdengar teriakannya.
“Nanti setelah pulang akan kusuruh Arman mengajarimu sopan santun!”
7
Aku mencari ke seluruh hotel.
Bahkan toilet pun tidak kulewatkan.
Tetapi Arman seperti menghilang begitu saja.
Acara pernikahan sudah dimulai.
Pembawa acara berteriak di atas panggung.
Musik begitu keras hingga kepalaku hampir pecah.
Setelah berputar satu kali penuh dan tidak menemukan apa-apa, aku kembali ke tempat dudukku.
Belum sempat duduk.
Aku kembali mendengar suara ibu mertuaku dari meja sebelah.
“Kalau kerja tidak becus, tapi kalau makan paling cepat.”
Dia hampir menunjuk wajahku.
“Sudah menikah bertahun-tahun masih belum punya anak. Masih berani datang makan di sini?”
Dia sengaja berbicara keras agar semua orang mendengar.
“Tidak seperti Nadia Wijaya, penurut dan rajin membantu keluarga.”
“Dokter sudah bilang bayi yang dikandungnya laki-laki!”
Nadia.
Pengantin wanita hari ini.
Dan kisah itu sebenarnya sangat lucu.
Dulu Dimas punya pacar dari Jakarta.
Hubungan mereka baik-baik saja.
Tetapi ibu mertuaku tidak menyukainya karena dianggap terlalu mandiri dan tidak mudah diatur.
Katanya:
“Kalau perempuan itu masuk keluarga ini, dia akan sama keras kepalanya seperti menantu sulungku.”
Karena itulah dia mencari calon pengganti.
Dan dia menemukan Nadia.
Walaupun Dimas tidak setuju, dia tetap dipaksa.

Namun, tak seorang pun menyadari bahwa saat ibu mertuaku terus memuji Nadia, aku akhirnya menemukan Arman.
Dia berada di ruang rias pengantin.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Dari celah kecil itu, aku melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Arman sedang memeluk Nadia.
Pengantin wanita yang beberapa menit lagi akan menikah dengan adiknya sendiri.
Nadia menangis.
“Aku takut…” bisiknya.
Arman menggenggam wajahnya dengan kedua tangan.
“Tenang. Setelah acara ini selesai, aku akan mengurus semuanya.”
Darah di tubuhku seolah berhenti mengalir.
Ternyata selama ini aku salah.
Perempuan yang menjadi simpanannya bukan orang asing.
Bukan rekan kerja.
Bukan teman lama.
Melainkan calon istri adik kandungnya sendiri.
Pantas saja dia melarangku datang ke pesta pernikahan.
Pantas saja dia begitu panik saat aku menyentuh tasnya.
Dan sekarang aku akhirnya mengerti untuk siapa remote itu sebenarnya.
Aku tidak masuk.
Aku tidak membuat keributan.
Aku hanya diam-diam mengeluarkan ponselku.
Lalu membuka aplikasi yang sudah terhubung dengan remote tersebut.
Jari telunjukku menekan tombol pertama.
Detik berikutnya—
“Aahh!”
Jeritan Nadia langsung terdengar dari dalam ruangan.
Arman terkejut.
“Nadia?! Ada apa?”
Aku tersenyum tipis.
Kemudian menekan tombol kedua.
Jeritan itu menjadi lebih keras.
Kali ini beberapa tamu yang berada di koridor mulai menoleh.
Panik terlihat jelas di wajah Arman.
“Nadia! Tahan sedikit!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Karena saat Nadia berusaha berdiri, sebuah benda kecil jatuh dari bawah gaunnya.
Benda yang bentuknya persis dengan remote yang kutemukan semalam.
Ruangan langsung hening.
Seorang bridesmaid menutup mulutnya.
Seorang makeup artist membelalak.
Dan wajah Arman berubah sepucat kertas.
Dalam hitungan detik, berita itu menyebar ke seluruh aula.
Keluarga mempelai pria marah.
Para tamu mulai berbisik-bisik.
Dimas yang baru saja selesai bersiap untuk akad datang berlari.
Ketika melihat Arman dan Nadia berdiri bersama di ruangan itu, matanya langsung memerah.
“Kalian…”
Suasana berubah menjadi kekacauan.
Ibu mertuaku yang selama ini paling keras menghina orang lain kini menjadi orang yang paling malu.
Dia mencoba menjelaskan.
Mencoba membela.
Mencoba berbohong.
Tetapi bukti sudah ada di depan semua orang.
Pernikahan dibatalkan hari itu juga.
Nadia menangis.
Arman terus mengejar Dimas untuk meminta maaf.
Namun tidak ada lagi yang mau mendengarkan mereka.
Aku berdiri di sudut aula sambil memandang semuanya.
Anehnya, aku tidak merasa marah.
Aku juga tidak merasa puas.
Yang kurasakan hanyalah lega.
Karena akhirnya kebenaran keluar tanpa perlu aku menjelaskan apa pun.
Seminggu kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.
Arman datang ke apartemenku hampir setiap hari.
Dia memohon.
Menangis.
Bahkan berlutut di depan pintu.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Suatu sore, aku menyerahkan surat perceraian kepadanya.
Tangannya gemetar saat menerimanya.
“Aku masih mencintaimu…”
Aku menatap pria yang pernah menjadi seluruh duniaku itu.
Lalu tersenyum tipis.
“Cinta tanpa kejujuran bukanlah cinta.”
“Itu hanya kebohongan yang dibungkus dengan kata-kata indah.”
Untuk pertama kalinya, Arman tidak bisa membantah.
Dia hanya menundukkan kepala.
Dan pergi.
Selamanya.
Enam bulan kemudian, aku membeli sebuah apartemen baru di Jakarta dengan uang hasil kerjaku sendiri.
Aku mendapatkan promosi jabatan.
Hidupku jauh lebih tenang.
Suatu hari aku menerima kabar bahwa bisnis keluarga mantan mertuaku bangkrut akibat skandal yang tersebar luas.
Nadia meninggalkan kota.
Sedangkan Arman menjual mobil dan rumahnya untuk melunasi utang.
Aku membaca kabar itu sambil menikmati secangkir kopi hangat.
Lalu menutup ponselku.
Karena pada akhirnya, balas dendam terbaik bukanlah membuat seseorang menderita.
Melainkan hidup bahagia tanpa mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku benar-benar bebas.