Karena tidak ingin membangunkan siapa pun, aku turun sendiri ke apotek yang berada di lantai dasar apartemen untuk membeli plester penurun demam.
Saat membayar, aku menggunakan kartu kesehatan milik suamiku.
Namun baru saja keluar dari pintu apotek, seorang staf menghentikanku dan menuduhku menyalahgunakan dana tunjangan kesehatan perusahaan.
Bahkan sebelum aku sempat menjelaskan apa pun, teleponku berdering.
Yang menelepon adalah sekretaris suamiku.
Nada suaranya penuh ejekan.
“Nyonya Devara, saya yang melaporkan Anda.”
“Tuan Devara bekerja keras setiap hari untuk menghasilkan uang, bukan supaya Anda bisa menghamburkannya dan berpura-pura sakit.”
“Sesuai instruksi Tuan Devara, semua pengeluaran rumah tangga yang dianggap tidak wajar harus melalui persetujuan saya terlebih dahulu.”
“Kalau Anda ingin membeli obat, kirimkan laporan pengajuan minimal satu bulan sebelumnya. Panjangnya tidak boleh kurang dari delapan ribu kata dan harus menggunakan bahasa yang sopan serta formal. Setelah saya pelajari, baru saya putuskan apakah akan disetujui atau tidak.”
Aku memegangi perutku yang semakin berat.
Tubuhku menggigil karena demam dan keringat dingin terus mengalir.
Di seberang telepon, wanita itu malah tertawa.
“Oh ya, satu lagi.”
“Kuota pengeluaran Anda bulan ini sudah habis.”
“Kalau memang ada masalah kesehatan, tahan saja sampai bulan depan ketika kuotanya diperbarui.”
Aku sampai tertawa karena terlalu marah.
Yang dia sebut sebagai “Tuan Devara” hanyalah suami yang tinggal di rumahku dan hidup dari hartaku.
Dana kesehatan perusahaan itu aku yang mendirikannya.
Jaringan apotek ini juga milikku.
Bahkan BPJS, asuransi, dan gaji bulanan sekretaris itu semuanya berasal dari rekeningku.
Siapa sebenarnya yang memberinya keberanian untuk “menyetujui” pengeluaranku?
1
Angin malam di luar apotek terasa menusuk tulang.
Demamku semakin tinggi hingga pandanganku mulai kabur.
“Nyonya, ada laporan bahwa Anda menggunakan fasilitas kesehatan perusahaan secara ilegal,” kata staf apotek dengan hati-hati.
Aku menatap kotak plester demam yang ada di tanganku.
Harganya hanya Rp150.000.
Aku hampir tertawa.
“Jadi menurut kalian aku mencuri dana kesehatan perusahaan untuk membeli plester demam seharga seratus lima puluh ribu rupiah?”
Di telepon, wanita itu masih terus berbicara.
“Tentu saja saya yakin. Saya melihat sendiri dia menggunakan kartu milik Tuan Devara.”
“Tunjangan kesehatan itu hanya diperuntukkan bagi jajaran eksekutif perusahaan, bukan untuk ibu rumah tangga penuh waktu seperti dirinya.”
Aku bersandar pada meja kasir.
Perutku tiba-tiba mengencang karena kontraksi.
Manajer toko yang mengenalku langsung berubah pucat.
“Nyonya Devara… apakah Anda baik-baik saja?”
“Tolong panggil ambulans.”
“Bawa saya ke Rumah Sakit Siloam.”
Suasana apotek langsung panik.
Namun dari telepon, suara wanita itu masih terdengar nyaring.
“Nyonya Devara, jangan gunakan kehamilan untuk menakut-nakuti kami.”
“Hamil itu bukan penyakit.”
“Kalau memang ingin membeli obat, kirim dulu foto termometer Anda.”
“Kalau suhu tubuhnya di bawah 38,5 derajat, saya tidak akan menyetujui pengeluarannya.”
Aku menarik napas panjang.
“Siapa namamu?”
“Aku Sheila.”
“Sekretaris baru Tuan Devara.”
“Sekarang aku yang mengatur jadwal, akun perusahaan, dan seluruh pengeluarannya.”
“Kalau hidupmu ingin tenang, belajarlah untuk mematuhi aturan.”
Kesabaranku akhirnya habis.
“Serahkan telepon ini kepada Devara.”
“Beliau sedang beristirahat.”
Nada suaranya terdengar bangga.
“Hari ini kami bekerja bersama menyelesaikan proyek penting. Beliau sangat lelah.”
Aku tertawa dingin.
Suamiku yang bahkan tidak memiliki satu lembar saham perusahaan atas namanya sendiri…
Sekarang rupanya sudah punya sekretaris yang berani mengatur pemilik perusahaan.
Baiklah.
Karena mereka berdua begitu menyukai kekuasaan, aku akan memberi mereka kesempatan merasakannya.
Namun setelah malam ini berakhir…
Mereka juga akan belajar bagaimana rasanya kehilangan semuanya dalam satu malam.

2
Ambulans tiba lima menit kemudian.
Saat para perawat mendorong tanduku menuju ambulans, aku masih sempat berkata kepada manajer apotek:
“Mulai sekarang, bekukan seluruh akses kartu kesehatan atas nama Devara.”
Manajer itu tertegun.
“Maaf, Nyonya… maksud Anda?”
Aku tersenyum tipis.
“Maksud saya, seluruh aksesnya.”
Telepon langsung ditutup.
Di dalam ambulans, kontraksiku semakin sering datang.
Dokter yang mendampingiku mulai terlihat cemas.
“Nyonya Devara, kemungkinan Anda akan melahirkan lebih cepat.”
Aku memejamkan mata.
Namun sebelum kehilangan kesadaran, aku masih sempat mengirim satu pesan singkat kepada direktur sumber daya manusia perusahaan.
[Mulai sekarang, nonaktifkan seluruh akses sistem milik Arga Devara dan sekretarisnya, Sheila. Berlaku segera.]
Lalu aku mematikan ponsel.
3
Saat aku membuka mata lagi, langit sudah terang.
Bau antiseptik memenuhi ruangan.
Tangisan bayi terdengar di samping tempat tidur.
Perlahan aku menoleh.
Seorang bayi perempuan kecil sedang tertidur nyenyak di inkubator transparan.
Air mataku langsung jatuh.
Putriku.
Anakku akhirnya lahir dengan selamat.
Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka.
Ayahku masuk lebih dulu bersama beberapa anggota dewan direksi perusahaan.
Wajah mereka terlihat serius.
“Bagaimana keadaan Sheila dan Devara?” tanyaku pelan.
Ayahku mendengus dingin.
“Lucu sekali.”
“Tiga jam setelah akses mereka dicabut, keduanya baru sadar kalau semua kartu kredit, rekening perusahaan, mobil dinas, bahkan akses masuk ke kantor sudah tidak bisa digunakan.”
Aku tersenyum tipis.
Memang butuh waktu lama bagi seseorang untuk menyadari kenyataan ketika terlalu lama hidup dalam kebohongan.
“Dan suamiku?”
Ayahku melemparkan sebuah map ke meja.
“Dia sedang menunggu di luar sejak subuh.”
“Katanya ingin meminta maaf.”
Aku bahkan tidak membuka map itu.
Karena aku sudah tahu isinya.
Surat pengunduran dirinya.
4
Sore harinya, Arga akhirnya masuk ke kamar rawat.
Pria yang biasanya selalu tampil rapi kini terlihat berantakan.
Matanya merah.
Wajahnya pucat.
Begitu melihatku, dia langsung berlutut.
“Laras…”
Suara pria itu bergetar.
“Aku salah.”
“Aku benar-benar salah.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Salah yang mana?”
“Waktu membiarkan sekretarismu menghinaku?”
“Waktu membiarkannya mengatur uangku?”
“Atau waktu kau menikmati kekuasaan yang bukan milikmu?”
Tubuhnya membeku.
Karena semua itu benar.
Selama ini dia tahu.
Dia hanya memilih diam.
Dan diam adalah bentuk persetujuan yang paling pengecut.
Air mata mulai jatuh dari matanya.
“Aku tidak pernah berpikir semuanya akan sejauh ini.”
Aku tertawa pelan.
“Tapi aku sudah hampir kehilangan nyawaku.”
Ruangan langsung sunyi.
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar dipenuhi penyesalan.
5
Seminggu kemudian.
Sheila resmi dipecat.
Audit internal menemukan bahwa selama beberapa bulan terakhir ia menggunakan nama Arga untuk mencampuri urusan keuangan perusahaan, menyalahgunakan fasilitas, dan menerima berbagai keuntungan pribadi.
Semua bukti lengkap.
Tidak ada jalan keluar.
Sedangkan Arga kehilangan seluruh jabatannya.
Bukan karena aku memecatnya.
Tetapi karena dewan direksi memutuskan bahwa seseorang yang tidak mampu membedakan batas antara keluarga dan perusahaan tidak layak memegang posisi penting.
Dalam waktu kurang dari satu minggu, semua yang selama ini mereka banggakan lenyap begitu saja.
Jabatan.
Kekuasaan.
Pengaruh.
Semuanya hilang.
6
Sebulan kemudian.
Aku kembali ke kantor sambil menggendong putriku.
Seluruh karyawan berdiri di sepanjang koridor.
Mereka menyambutku dengan tepuk tangan.
Saat itu aku akhirnya mengerti satu hal.
Orang tidak menghormatimu karena siapa suamimu.
Mereka menghormatimu karena apa yang telah kau bangun dengan tanganmu sendiri.
Aku menatap putriku yang tertidur pulas.
Lalu tersenyum.
Ada orang-orang yang mengira kekuasaan bisa dipinjam.
Ada juga yang mengira kekayaan bisa dirampas.
Namun mereka lupa.
Pemilik sebenarnya tidak pernah kehilangan miliknya.
Dan ketika sang pemilik akhirnya kembali mengambil alih…
semua orang yang pernah berdiri di tempat yang salah akan jatuh bersamaan.