Setiap pagi aku bangun tanpa alarm, menikmati kopi di balkon apartemenku yang menghadap Teluk Jakarta. Tidak ada lagi rapat darurat, tidak ada lagi pesan mendadak dari Dominic, dan tidak ada lagi rekan kerja yang pura-pura ramah di depan lalu menusuk dari belakang.
Sementara itu, di Orient-Bright, keadaan justru semakin kacau.
Kontrak kerja sama dengan TechCorp tertunda tanpa batas waktu.
Rianne berkali-kali gagal menjawab pertanyaan teknis dari pihak Amerika. Setiap kali rapat berlangsung, mereka selalu meminta satu nama.
Tala.
Mereka tidak peduli siapa jabatan direktur, siapa kepala departemen, atau siapa penerjemah baru yang dipasang Dominic.
Mereka hanya percaya pada orang yang selama lima tahun membangun komunikasi dengan mereka.
Aku.
Minggu berikutnya, teleponku berdering.
Nomor yang sangat kukenal.
Dominic.
Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Tala…”
Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar arogan.
“Ada apa, Pak Direktur?”
“Tentang proyek TechCorp…”
“Oh, proyek yang menurut Anda bisa diselesaikan tanpa saya?”
Di seberang sana hening.
Aku bisa membayangkan wajahnya yang memerah.
“Kami ingin membicarakan kemungkinan kerja sama kembali.”
Aku tersenyum.
“Maaf, Pak Dominic.”
“Aku sudah bekerja sama dengan pihak yang berbeda sekarang.”
“Apa maksudmu?”
“Artinya, mulai hari ini aku bukan lagi penerjemah.”
Aku menoleh ke arah gedung pencakar langit di seberang jalan.
Di lantai paling atas berkibar logo perusahaan investasiku sendiri.
“Aku adalah klien.”
Telepon langsung sunyi.
Beberapa hari kemudian, aku kembali memasuki ruang negosiasi yang sama.
Namun kali ini bukan sebagai karyawan yang membawa headset dan catatan.
Aku datang sebagai investor utama.
Ketika pintu ruang rapat terbuka, semua orang berdiri.
Termasuk Dominic.
Termasuk Bernardo.
Bahkan Harrison dari TechCorp berjalan menghampiriku lebih dulu dan menjabat tanganku.
“Selamat datang, Ms. Tala.”
Aku duduk di kursi utama.
Kursi yang dulu bahkan tidak boleh kududuki setelah dipecat.
Dominic berdiri di samping meja dengan wajah pucat.
“Tala… soal kejadian waktu itu…”
Aku mengangkat tangan menghentikannya.
“Tidak perlu dijelaskan.”
“Tapi kami berharap Anda bisa mempertimbangkan…”
Aku menatapnya tenang.
“Lima tahun aku bekerja siang malam untuk perusahaan ini.”
“Satu pesan dari HR cukup untuk menghapus semuanya.”
“Kalian tidak kehilangan seorang penerjemah.”
“Kalian kehilangan orang yang memahami seluruh proyek lebih baik daripada siapa pun.”
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada yang berani membantah.
Karena semua orang tahu aku mengatakan kebenaran.
Aku berdiri, merapikan jas, lalu tersenyum tipis.
“Dulu kalian menganggapku mudah diganti.”
“Sayangnya, nilai seseorang sering baru terlihat setelah dia pergi.”
Aku melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, aku berhenti sejenak.
“Oh ya.”
Aku menoleh ke arah Dominic.
“Kali berikutnya saat ingin menyingkirkan seseorang, pastikan dulu dia bukan orang yang menopang seluruh bangunan.”
Lalu aku pergi.
Dan kali ini…
Tidak ada satu pun orang yang berani menyuruhku keluar dari ruangan itu.

Tiga bulan kemudian, berita itu akhirnya menyebar ke seluruh dunia bisnis.
Orient-Bright kehilangan kontrak internasional terbesar dalam sejarah perusahaan.
Nilainya mencapai triliunan rupiah.
Saham perusahaan anjlok selama beberapa hari berturut-turut.
Para pemegang saham menuntut pertanggungjawaban.
Nama Dominic muncul berkali-kali dalam laporan investigasi internal.
Keputusan memecat penerjemah utama di tengah negosiasi dianggap sebagai salah satu kesalahan manajemen paling fatal dalam beberapa tahun terakhir.
Tak lama kemudian, Dominic diberhentikan.
Rianne mengundurkan diri secara diam-diam.
Banyak orang yang dulu memilih menundukkan kepala saat aku diusir satu per satu mengirim pesan kepadaku.
Sebagian meminta maaf.
Sebagian mencoba membangun hubungan kembali.
Sebagian lagi berharap aku bisa memberi mereka pekerjaan.
Aku membaca semua pesan itu.
Lalu menghapusnya tanpa membalas.
Karena aku akhirnya mengerti satu hal.
Ketika aku tidak memiliki kekuasaan, kebaikanku dianggap kelemahan.
Ketika aku kehilangan jabatan, kesetiaanku dianggap tidak berharga.
Tetapi saat aku berdiri lebih tinggi dari mereka, tiba-tiba semua orang mengingat namaku.
Suatu sore, aku menerima undangan acara bisnis tahunan.
Di ballroom hotel bintang lima yang megah, para pengusaha, investor, dan direktur perusahaan berkumpul.
Saat namaku diumumkan sebagai Investor Terbaik Tahun Ini, seluruh ruangan berdiri memberikan tepuk tangan.
Aku melangkah ke atas panggung.
Lampu sorot menyinari wajahku.
Di barisan belakang, aku melihat beberapa wajah yang sangat kukenal.
Dominic.
Bernardo.
Zandro.
Mereka semua ada di sana.
Namun kali ini, posisi kami telah bertukar.
Dulu aku berdiri membawa headset dan menerjemahkan kata-kata orang lain.
Sekarang, orang-orang menunggu untuk mendengar kata-kataku.
Pembawa acara menyerahkan mikrofon kepadaku.
“Apa rahasia terbesar kesuksesan Anda, Nona Tala?”
Aku tersenyum pelan.
Lalu menjawab:
“Jangan pernah takut kehilangan tempat yang tidak menghargaimu.”
“Karena terkadang, pintu yang menutup di belakangmu hanyalah cara hidup menunjukkan bahwa kau pantas mendapatkan panggung yang lebih besar.”
Ruangan kembali bergemuruh oleh tepuk tangan.
Aku memandang ke arah kerumunan.
Tidak ada lagi kemarahan.
Tidak ada lagi dendam.
Karena orang-orang yang pernah menjatuhkanku kini bahkan tidak mampu menyentuh bayanganku.
Aku berbalik meninggalkan panggung.
Di belakangku, tepuk tangan masih terus terdengar.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Aku tidak lagi berjalan sebagai seseorang yang berusaha membuktikan nilainya kepada orang lain.
Aku berjalan sebagai seseorang yang sudah mengetahui nilainya sendiri.