Posted in

Budhe melarangku melihat akad nikah sepupuku. Katanya aku cuma pembantu numpang di rumah itu. Namun saat penghulu menyebut nama mempelai pria, tubuhku langsung lemas. Nama itu milik tunanganku sendiri.

“Kai?” Suaranya berat dan penuh ketidakpercayaan. “Apa-apaan ini?”

Wajah Kaira langsung tegang, begitu pula Budhe Hapsari. Kedatangan Mas Azka membuat keluarga pengantin saling berpandangan

“Apa maksudnya, Kai?” Mas Azka menggelengkan kepala. “Ka-kamu menikah dengan orang lain?”

Ada luka yang jelas terpancar di netra lelaki itu. Dia pasti tak percaya dengan apa yang ia lihat kini. Sama halnya denganku, tapi kenyataannya … semua sudah terjadi. Mas Arka dan Kaira sudah sah menjadi sepasang suami istri.

“Iya, aku menikah dengan Arka, Mas,” jawab sepupuku lantang, tak ada penyesalan di sana.

“Aku ke sini untuk melamar kamu, Kai. Ta–tapi, ini yang aku dapat? Sebuah pengkhi a na tan?” ucap Mas Azka seraya menahan amarah.

Pakde Sosro mendekat, menatap sinis pada lelaki yang memakai kemeja berwarna biru muda itu.

“Harusnya kamu tahu diri, Azka. Koe ora pantas menjadi mantuku.”

Mas Azka masih diam, meski kedua tangannya mengepal hebat. Aku tahu dia merasa terh i n a karena dipermalukan di muka umum.

“Benar kata mereka, Bro. Kamu harusnya ngaca!” Mas Arka menatap lelaki itu dari atas hingga ke bawah. Senyum sinis penuh hi n aa n tergambar jelas di sana. “Orang miskin gak pantas mendapatkan Kaira. Hanya aku yang cocok untuk dia.”

Da d aku bergemuruh mendengar kata-kata yang diucapkan mantan tunanganku itu. Seolah apa yang mereka perbuat itu benar. Hanya karena kami m i s kin, mereka merasa berhak mengi n j ak-in j ak h a rga diri kami.

Aku mendekat.

PLAAK!

Sebuah tamparan mengenai pipi Mas Arka.

“Tutup mulutmu, Mas! Kamu gak lebih baik dari Mas Azka. Kamu dan Kaira sama-sama pengkhi an at! Pecv n dang!”

“Kamu!” Mas Arka menunjuk wajahku. Dia tak terima dengan tamparan yang baru saja kuberikan di pipinya. Tangannya pun melayang ke atas, hendak membalas tamparanku.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku. Lalu, tangan itu juga yang menc3 n gkr am lengan Mas Arka.

“Beraninya sama perempuan?” kata Mas Azka seraya men e pis tangannya. “Dasar pecv n dang!”

“Br 3 ngs e k!”

Suasana di dalam rumah semakin kacau. Warga yang sejak tadi berbisik-bisik mulai saling pandang. Beberapa bahkan terang-terangan menatap Mas Azka yang masih berdiri tegak di sampingku dengan rahang mengeras.

Sementara itu, Kaira justru tertawa sinis. Tawa yang membuat d ad aku terasa sesak.

“Aku benar-benar gak habis pikir,” ucapnya sambil melipat kedua tangan di dada. “Masih aja kamu maksa datang ke sini, padahal sudah jelas aku gak mungkin nikah sama Mas.”

Mas Azka menatap lurus ke arah perempuan itu. “Aku datang untuk memenuhi janjiku melamarmu.”

“Janji?” Kaira mencibir. “Yang janji itu kamu, Mas. Aku gak pernah mau!”

Pakde Sosro langsung tersenyum mendengar ucapan putrinya.

“Kamu benar, Kaira. Mana mungkin kamu mau nikah sama orang k e r e seperti Azka. Mempermalukan keluarga.”

Mendapat dukungan dari orang tuanya membuat Kaira kehilangan kendali.
Tatapannya turun naik menilai penampilan Mas Azka dengan penuh penghi na an.

“Memangnya Mas Azka punya apa?” lanjutnya ta ja m. “Mobil aja entah pi nj am dari siapa. Datang bawa buket bunga hanya untuk menutupi kenyataan kalau hidup Mas biasa-biasa aja.”

Aku menunduk pelan. Ucapan itu terasa terlalu k e ja m untuk didengar banyak orang.

Beberapa tetangga mulai berbisik tidak nyaman. Tetapi, Kaira belum berhenti.

“Aku itu mau hidup enak!” bentaknya. “Bukan hidup susah sama laki-laki yang bahkan gak jelas masa depannya.”

Mas Azka masih diam. Diam yang justru membuat suasana semakin tegang.

“Kaira!” bentakku “Cukup!”

Namun, perempuan itu malah menunjuk ke arahku.

“Kalau Mas Azka mau cari pasangan, lebih cocok sama dia saja!” katanya lantang.

Aku tersentak.

“Kaira!”

“Iya kan?” Kaira tertawa meremehkan. “Kalian cocok. Sama-sama miskin. Sama-sama biasa. Jadi gak usah mimpi terlalu tinggi.”

Ucapan itu seperti ta m pa ran k erbas di depan banyak orang. Wajahku panas menahan malu.

Aku bisa merasakan tatapan warga mengarah kepadaku. Rasanya ingin sekali menghilang dari tempat itu. Sayangnya, tubuhku justru terasa terpatri.

Mas Azka perlahan mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya, lelaki itu terlihat benar-benar marah.

“Cukup, Kaira! Kamu sudah keterlaluan!” ucap Mas Azka seraya menahan amarahnya.

Kaira mendecak. “Kenapa? Tersinggung?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Mas Azka menatap lurus ke arahnya. Tatapan yang membuat Kaira perlahan kehilangan senyum sinisnya.

“Aku cuma baru sadar,” ujar lelaki itu pelan, “kalau selama ini aku datang ke rumah yang salah.”

Suasana mendadak hening. Semua mata kini tertuju pada lelaki itu.

Pak Penghulu yang sejak tadi menunggu akhirnya menghela napas panjang. Beliau menutup mapnya lalu berdiri.

“Karena tugas saya sudah selesai. Saya mohon pamit.”

Pakde Sosro mendekat. “Kenapa buru-buru, Pak. Bapak saja belum menci ci pi hidangannya.”

Namun Pak Penghulu menggeleng pelan. “Saya sudah kenyang.”

Beliau lalu berpamitan pada semua orang sebelum berjalan meninggalkan rumah.

“Tunggu, Pak.”

Seketika Pak Penghulu menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah sumber suara.

“Ada apa, Mas?” tanyanya bingung.

Mas Azka menarik napas pendek sebelum menjawab mantap. “Saya mau dinikahkan.”

Semua kepala langsung menoleh.
Aku yang sejak tadi hanya diam pun ikut mengangkat wajah perlahan. Jantungku kembali berdegup tidak nyaman saat mendengar Mas Azka mengatakan hal tersebut.

Suasana mendadak senyap. Bahkan, bisik-bisik warga langsung terputus begitu saja.

Pak Penghulu terlihat terdiam beberapa saat, jelas kebingungan dengan ucapan itu.

“Dinikahkan?” ulang beliau pelan.

“Iya, Pak.”

“Dengan siapa?”

Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak. Entah mengapa, firasat buruk perlahan merayap masuk.

Mas Azka tiba-tiba mengangkat tangannya. Menunjuk lurus ke arahku.

“Dengan dia,” ucapnya tegas.

Aku membel a lak saat semua tatapan langsung beralih kepadaku.

Mas Azka melanjutkan kalimatnya tanpa ragu sedikit pun.
“Saya mau menikah dengan Azzalea.”

DEG!

Tubuhku langsung menegang.

“A-apa?” Suaraku nyaris tidak terdengar.