“Manajemen Grand Adhitama baru saja menelepon. Mereka menambah pesanan secara dadakan! Acara ‘Pesta Rakyat’ itu membengkak undangannya!”
Baskara tidak bergerak, matanya hanya mengikuti gerak-gerik Koh Haris dengan tenang.
“Berapa banyak tambahannya?”
“Mereka butuh tambahan lima ribu ekor ayam kampung asli! Harus berukuran seragam! Dan satu ton rempah organik khusus bumbu rujak!” Koh Haris menekan pangkal hidungnya, wajahnya merah padam.
“Dari mana saya bisa dapat barang mentah sebanyak itu dalam waktu dua minggu?! Peternak langganan utama saya di Sukabumi baru saja telepon, mereka gagal panen karena cuaca buruk minggu lalu! Gudang saya kosong, Mas!”
Baskara menatap tumpukan kertas Purchase Order (PO) yang berserakan di meja itu dengan mata elangnya.
Otak bisnisnya—yang dulu terbiasa memproses dan mengelola triliunan rupiah di bursa saham internasional dalam hitungan detik—kini berputar dengan kecepatan mematikan.
Ini dia. Momen ini. Celah sempit yang ia tunggu-tunggu siang dan malam akhirnya terbuka lebar di depan matanya.
Baskara sengaja mengulurkan waktu. Ia mengetukkan jemarinya di atas meja, menciptakan ritme yang kian membuat Koh Haris gelisah.
“Dua minggu, Koh?” tanya Baskara, suaranya teramat tenang, hampir seperti bisikan.
“Iya, Mas! Dua minggu! Kalau kita gagal memenuhi PO ini, Grand Adhitama bukan cuma membatalkan kontrak, tapi kita harus bayar penalti tiga kali lipat! Nama baik perusahaan saya taruhannya!” Koh Haris mengebrak meja frustrasi. “Kenapa kamu malah tenang-tenang saja?!”
Baskara tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. “Karena saya punya barangnya, Koh.”
Koh Haris menghentikan langkahnya. Matanya membelalak. “Apa? Jangan bercanda, Bas! Lima ribu ayam kampung asli dengan ukuran seragam? Dalam dua minggu? Kamu mau sulap?!”
“Bukan sulap, Koh. Tapi investasi,” jawab Baskara lugas. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. “Satu bulan lalu, sebelum cuaca buruk melanda Sukabumi, saya sudah mengendus pergerakan pasar. Saya diam-diam mengamankan pasokan dari tiga tengkulak besar di daerah Jawa Tengah. Mereka punya stok ayam kampung organik dengan kualitas premium. Semuanya siap kirim.”
Koh Haris terperangah. Ia menatap Baskara seolah-olah pria di hadapannya ini adalah hantu, atau mungkin dewa penyelamat. “Kamu… kamu sudah memprediksi ini?”

Jeratan untuk Keluarga Adhitama
Baskara tidak menjawab pertanyaan itu. Otaknya sudah melompat jauh ke depan. Grand Adhitama—nama itu membuat darahnya berdesir panas. Itu adalah jaringan hotel mewah milik keluarga kandungnya, keluarga yang telah membuangnya dan membiarkan ibu kandungnya telantar hingga harus mengais makanan di tong sampah demi bertahan hidup.
‘Pesta Rakyat’ yang mereka adakan bukan sekadar acara biasa. Itu adalah pesta perayaan atas keberhasilan Adhitama Group merebut proyek pembangunan megah di ibu kota. Pesta di atas penderitaan ibunya.
“Saya akan urus semua pasokan ayam dan rempah organiknya, Koh. Koh Haris tidak perlu pusing,” kata Baskara sambil mengambil kertas PO dari meja.
“Ya Tuhan, Baskara! Kamu penyelamatku! Berapa harga yang mereka tawarkan? Kita bisa ambil untung besar!” Koh Haris tampak luar biasa lega.
Baskara menatap nomor kontak Manajemen Grand Adhitama yang tertera di pojok kertas. Kilat balas dendam berkilat di matanya.
“Kita tidak akan mencari untung dari harga ayamnya, Koh,” ujar Baskara dengan nada dingin yang membuat Koh Haris merinding. “Kita akan menaikkan harga rempah organik khusus bumbu rujak itu hingga lima kali lipat dari harga pasar.”
“Lima kali lipat?! Mereka pasti menolak, Bas! Mereka bisa cari vendor lain!”
“Mereka tidak akan bisa,” potong Baskara cepat. “Rempah organik dengan formulasi bumbu rujak itu hanya diproduksi oleh satu klaster petani di kaki Gunung Slamet, dan hak eksklusif distribusinya sudah saya beli minggu lalu. Grand Adhitama sudah telanjur menyebarkan menu acara kepada para pejabat tinggi yang akan hadir. Jika menunya berubah, mereka akan dipermalukan. Mereka harus membelinya dari kita, berapapun harganya.”
Baskara meremas kertas di tangannya perlahan.
“Ini baru permulaan, Adhitama. Kalian meminta lima ribu ekor ayam, tapi akulah yang akan menyembelih kesombongan kalian di pesta itu nanti.”
Pertemuan yang Tak Terhindarkan
Sore harinya, Baskara melangkah keluar dari gudang Koh Haris. Langkah kaki membawanya kembali ke kawasan kumuh di pinggiran kota, tempat di mana ia pertama kali menemukan wanita tua ringkih yang selalu menangis di dekat tong sampah—ibu kandungnya.
Setiap kali melihat wajah ibunya yang dipenuhi kerutan penderitaan, rasa bersalah dan amarah di dada Baskara kian membuncah. Seseorang dari masa lalunya harus membayar setiap tetes air mata wanita itu.
Saat Baskara sedang menyuapi ibunya bubur hangat, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Baskara menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya tanpa bersuara.
“Halo? Apakah ini dengan pihak perwakilan dari vendor Koh Haris?” suara di seberang telepon terdengar angkuh, sangat familiar di telinga Baskara. Itu adalah suara Arka Adhitama, saudara tirinya yang kini menjabat sebagai Direktur Operasional Grand Adhitama.
Baskara menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum penuh kemenangan di wajahnya.
“Ya, benar. Dengan saya, Baskara,” jawabnya dengan suara bariton yang tegas.
Di seberang sana, Arka sempat terdiam beberapa detik, seolah merasa asing sekaligus terkejut dengan karisma dari suara sang vendor. “Baik, Baskara. Mengenai tambahan pesanan dadakan untuk Pesta Rakyat… kami ingin mengadakan pertemuan langsung besok pagi di kantor pusat Adhitama Group. Kita tanda tangani kontrak barunya di sana.”
Baskara menatap ibunya yang tertidur pulas dengan baju lusuh.
“Tentu,” jawab Baskara dingin. “Saya akan datang. Pastikan ruang rapat kalian cukup besar untuk menampung kejutan yang saya bawa.”
Apakah penyamaran Baskara sebagai vendor biasa akan terbongkar saat bertemu Arka esok hari? Dan taktik apa lagi yang disiapkan Baskara untuk mempermalukan keluarga Adhitama di ‘Pesta Rakyat’ tersebut?