“Pak, pasien harus segera dipindahkan ke ruang rawat inap.”
Aku berdiri di depan ruang IGD dengan kepala penuh suara bising. Bau obat menusuk hidung. Lampu putih rumah sakit membuat mataku terasa perih sejak tadi malam.
Ayah masih terbaring lemah di atas ranjang dorong. Selang oksigen terpasang di wajahnya.
“Dokter bilang sesaknya dipicu kelelahan dan tekanan darahnya naik,” lanjut perawat itu.
Aku mengusap wajah kasar.
“Iya, pindahkan saja.”
“Administrasinya bisa diselesaikan dulu, Pak.”
Aku mengangguk pelan lalu berjalan menuju meja pembayaran. Tanganku masih gemetar saat menerima rincian biaya awal rawat inap.
13 juta.
Aku langsung mengernyit.
“Kenapa sebanyak ini?”
Petugas administrasi menjelaskan satu per satu biaya obat, tindakan darurat, ruang rawat, dan pemeriksaan tambahan.
Biasanya aku tidak pernah mengurus beginian. Semua selalu selesai sendiri. Atau lebih tepatnya, diselesaikan Rania tanpa banyak bicara.
Aku mengeluarkan kartu debit lalu mencoba membayar.
Transaksi gagal.
Aku menatap mesin itu beberapa detik.
“Coba sekali lagi.”
Petugas itu mengulang.
Tetap gagal.
Dadaku mulai panas.
Aku membuka aplikasi mobile banking. Saldo rekening utamaku jauh lebih sedikit dari yang kukira.
Aku langsung terdiam.
“Pak?” tanya petugas pelan.
“Iya, tunggu sebentar.”
Aku menjauh sambil membuka mutasi rekening.
Tagihan rumah, tagihan listrik, air, internet, obat Ayah dan suransi. Semua pembayaran rutin ternyata bukan berasal dari rekeningku.
Melainkan rekening Rania.
Aku membaca layar itu berulang kali. Selama ini aku bahkan tidak tahu pengeluaran rumah sebesar itu. Aku cuma transfer uang bulanan seperlunya lalu merasa semua sudah cukup.
Tanganku terasa dingin.
“Mas Arga!”
Suara Vina membuatku menoleh cepat.
Perempuan itu datang dengan wajah kusut. Rambutnya berantakan dan matanya penuh kesal.
“Aku capek banget di rumah sakit.”
“Kamu baru datang.”
“Iya, tapi tempat ini bikin pusing.”
Aku menahan emosi.
“Pelan ngomongnya.”
Vina mendekat sambil menurunkan suara.
“Ayah tadi marah-marah terus nyariin Rania.”
Dadaku kembali terasa sesak mendengar nama itu.
“Aku juga nggak ngerti harus ngapain,” lanjut Vina. “Aku nggak biasa urus orang sakit.”
Aku memejam mata sebentar. Biasanya semua memang dilakukan Rania.
Mengganti baju Ayah.
Menyiapkan obat.
Mengatur jadwal kontrol.
Bahkan bicara dengan dokter pun selalu dia. Dan sekarang aku seperti orang asing di hidupku sendiri.
“Aku mau pulang aja nanti malam,” kata Vina lagi.
Aku langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku nggak nyaman tidur di rumah sakit.”
“Ayah nggak bisa sendirian.”
“Ya kamu jagain.”
Aku tertawa pendek karena kesal.
“Aku juga kerja.”
“Terus aku harus gimana?”
Aku tidak menjawab. Untuk sekian kalinya aku merasa lelah mendengar keluhan Vina.
Biasanya aku selalu menurutinya. Tapi sekarang kepalaku terlalu penuh.

Pagi harinya aku tetap masuk kantor setelah memastikan Ayah tertidur. Tubuhku terasa berat. Kemeja yang kupakai bahkan belum sempat disetrika rapi.
Begitu masuk ruang kerja, dua staf langsung menghentikan pembicaraan mereka.
Aku pura-pura tidak peduli lalu duduk di kursi.
Belum lima menit, Seno dari divisi audit masuk membawa beberapa map.
“Pak Arga, data revisi cabang Medan belum selesai.”
“Kerjakan saja.”
“Biasanya Bu Rania yang bantu cek final.”
Aku langsung mengangkat kepala.
“Sekarang Rania nggak ada.”
Seno tampak ragu.
“Tapi format revisinya cuma Bu Rania yang paham.”
Aku mulai kesal.
“Kalian ini kerja sama saya atau sama istri saya?”
Ruangan mendadak sunyi.
Seno menunduk sebentar lalu berkata pelan, “Kalau Bu Rania nggak bantu, cabang ini udah hancur dari dulu.”
Kalimat itu membuat dadaku panas. Aku berdiri cepat.
“Maksud kamu apa?”
“Saya cuma ngomong jujur, Pak.”
Aku menatapnya tajam. Tapi anehnya, aku tidak bisa membantah. Karena beberapa hari terakhir semuanya memang berantakan sejak Rania pergi.
Seno keluar perlahan meninggalkan ruanganku.
Aku menjatuhkan tubuh ke kursi. Mataku melihat meja kerja yang kosong. Biasanya ada catatan kecil tulisan tangan Rania di sana.
Jadwal meeting.
Data yang harus diperiksa.
Pengingat pembayaran.
Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kuanggap penting, sekarang semuanya hilang.
Ponselku berdering.
Melisa.
Aku langsung mengangkatnya.
“Kamu di mana?”
“Di kantor.”
“Kamu jadi jemput aku nanti?”
Aku memijat pelipis.
“Kayaknya nggak bisa.”
Hening beberapa detik.
“Lagi?” suara Melisa mulai dingin.
“Ayah masih di rumah sakit.”
“Arga, aku capek dengar masalah rumah kamu terus.”
Aku langsung diam.
“Kita ketemu pasti ngomongin Rania, rumah sakit, atau kantor. Kamu berubah.”
“Aku lagi banyak pikiran.”
“Semua orang juga punya masalah.”
Nada suaranya membuat kepalaku semakin sakit.
“Aku telepon nanti aja.”
“Udah nggak usah.”
Telepon langsung mati.
Aku menatap layar ponsel beberapa saat. Satu per satu semuanya mulai menjauh. Dan aku tidak tahu harus memperbaiki dari mana.
Menjelang sore,
Aku membuka email kantor sambil menunggu laporan masuk. Puluhan pesan belum terbaca memenuhi layar.
Salah satunya email dari kantor pusat dengan tanda prioritas tinggi.
Aku langsung membukanya. Isi email itu pendek.
Mulai minggu ini seluruh sistem keuangan cabang resmi diambil alih tim pusat demi proses audit dan penyesuaian internal.
Aku membaca cepat sampai mataku berhenti di satu nama.
Konsultan Utama Keuangan:
Rania Maheswari.
Tanganku langsung diam di atas mouse. Aku membaca nama itu sekali lagi.
Rania. Istriku Konsultan Utama?
Tidak.
Dadaku terasa kosong. Jadi selama ini… bukan cuma aku yang membutuhkan Rania.
Perusahaan ini juga bergantung padanya??