Di kehidupanku yang lalu, begitu masuk universitas, aku langsung terpilih sebagai mahasiswi paling populer di kampus. Adrian berkali-kali membual bahwa cepat atau lambat ia akan mendapatkan hatiku.
Untuk meyakinkan teman-teman sekelas agar membantunya mengejarku, ia membayar seluruh isi keranjang belanja online semua mahasiswa di kelas.
Bahkan, ia juga mengaku akan menyewa satu lantai penuh di Plaza Indonesia, pusat perbelanjaan mewah di Jakarta, agar semua orang bisa berbelanja sepuasnya.
Saat tiba waktunya membayar, aku terkejut melihat kartu tambahan yang dibuatkan ayahku berkurang hampir Rp18 miliar.
Aku langsung menghadapi Adrian di depan banyak orang.
Namun bukan hanya menyangkal, dia malah balik menuduhku.
“Clara, kalau mau pura-pura jadi pewaris keluarga kaya, jangan sampai mengaku-ngaku kartu milikku!”
“Aku tahu kamu cuma berasal dari keluarga biasa. Jadi pacarku saja, aku jamin hidupmu akan nyaman!”
Tetapi saat aku tersenyum sinis dan menyebut nama ayahku, wajahnya langsung berubah.
“Pantas saja kamu tidak pernah terkesan dengan pendekatanku. Ternyata kamu diam-diam membaca data pendaftaranku untuk mendekati ayahku!”
“Kukira kamu wanita pintar. Ternyata cuma pemburu harta!”
Teman-teman sekelasku, demi menjilatnya, bahkan mengikatku dan melemparkanku ke sebuah kamar hotel.
Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari pertama kuliah.
Kembali ke momen saat Adrian sedang menyombongkan diri bahwa dia akan membayar semua keranjang belanja teman-teman sekelas.
“Astaga! Adrian benar-benar dermawan! Laptop Apple yang ada di keranjangku langsung dibayar tanpa berkedip!”
“Jangan panggil dia cuma Adrian! Dia Adrian Wijaya! Siapa yang tidak tahu kalau keluarga Wijaya adalah keluarga terkaya di Jakarta?”
“Itu keluarga elite tingkat atas! Bisa sekelas dengan anggota keluarga Wijaya selama empat tahun adalah keberuntungan besar!”
Ketua kelas berkata sambil tersenyum lebar,
“Adrian, mulai sekarang kami semua jadi pasukanmu. Kalau ada yang perlu dibantu, tinggal bilang!”
Adrian hanya melambaikan tangan, berpura-pura rendah hati.
“Ah, itu tidak seberapa. Anggap saja hadiah pertemanan.”
“Aku akan kuliah di Universitas Indonesia, jadi tentu aku membutuhkan bantuan kalian semua.”
“Tapi… sebenarnya ada satu permintaan kecil.”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, beberapa mahasiswa yang sudah mendengar gosipnya di gerbang kampus langsung tertawa penuh arti.
“Kami sudah tahu!”
“Targetmu Clara, kan?”
“Tenang saja! Begitu Clara datang, kami yang akan membantumu promosi!”
Saat aku masuk ke ruang kelas, kepalaku masih sedikit pusing.
Begitu mengangkat kepala, aku melihat semua mata tertuju kepadaku.
Adrian tersenyum manis.
“Clara, akhirnya kamu datang.”
“Aku sudah membayar keranjang belanja semua teman sekelas kita.”
“Berikan ponselmu. Aku juga akan membayar semua isi keranjangmu.”
Seluruh kelas langsung bersorak iri.
“Clara, susah sekali menemukan pria setampan dan sekaya Adrian. Kenapa kamu masih tidak tersentuh?”
“Benar! Lihat ini, Clara! Boneka Labubu edisi kolektor seharga Rp2 juta di keranjangku langsung dibayar olehnya! Dia benar-benar royal!”
“Terima saja dia!”
Teman sebangkuku bahkan bersemangat menunjukkan layar ponselnya.
Semua orang memandangku penuh harap.
Adrian tersenyum percaya diri sambil mengulurkan tangan, seolah ingin mengambil ponselku.
Namun saat melihat sorot matanya yang penuh perhitungan, bulu kudukku merinding.
Semua kenangan kehidupan sebelumnya kembali menghantam pikiranku.
Di kehidupan lalu, dia membayar semua keranjang belanja demi membeli dukungan seluruh kelas.
Kali ini, aku dengan tenang menghindari tangannya.
“Kalau kamu ingin mengejarku, membayar keranjang belanja saja tidak cukup.”
“Bukankah keluarga Wijaya adalah keluarga terkaya di Jakarta?”
“Kalau begitu, kenapa tidak traktir seluruh kelas belanja di Plaza Indonesia saja?”
“Biar kita lihat seberapa serius dirimu.”
Begitu kata-kataku keluar, ruang kelas langsung gempar.
“Plaza Indonesia itu salah satu mal paling mewah di Jakarta!”
“Barang-barang di sana rata-rata harganya jutaan hingga puluhan juta rupiah!”
“Memborong satu mal? Bahkan di mimpi pun aku tidak pernah membayangkannya!”
“Itu seperti adegan pewaris konglomerat dalam drama!”

Adrian langsung membeku.
Senyumnya yang tadi penuh percaya diri tiba-tiba terlihat kaku.
Namun karena seluruh kelas sedang menatapnya dengan penuh kekaguman, dia tidak bisa mundur.
“Ha… tentu saja bisa.”
Dia tertawa kecil.
“Kalau Clara menginginkannya, aku akan mentraktir seluruh kelas ke Plaza Indonesia.”
Sorak-sorai langsung memenuhi ruangan.
“Adrian keren!”
“Benar-benar anak konglomerat!”
“Aku tahu dari awal dia serius mengejar Clara!”
Aku hanya tersenyum dan duduk di kursiku.
Karena aku tahu persis apa yang akan terjadi berikutnya.
Di kehidupan sebelumnya, uang yang digunakan Adrian untuk membayar semua orang berasal dari kartu tambahan milikku.
Kali ini, kartu itu sudah kublokir sejak pagi.
Tidak ada satu rupiah pun yang bisa dia gunakan.
Sabtu sore.
Seluruh kelas datang ke Plaza Indonesia dengan pakaian terbaik mereka.
Tas mewah.
Sepatu mahal.
Jam tangan premium.
Bahkan beberapa orang sudah membuat daftar barang yang ingin mereka beli.
Adrian berjalan di depan rombongan seperti seorang pangeran.
“Ambil apa saja yang kalian suka.”
“Hari ini semuanya tanggunganku.”
Teriakan kegembiraan langsung meledak.
Dalam waktu kurang dari satu jam, total tagihan sudah mencapai hampir Rp3 miliar.
Para staf butik tersenyum lebar.
Manager pusat perbelanjaan bahkan datang sendiri untuk menyambut Adrian.
Sampai akhirnya…
Mesin pembayaran berbunyi.
“Transaksi ditolak.”
Senyum semua orang membeku.
Kasir mencoba lagi.
“Transaksi ditolak.”
Adrian tertawa gugup.
“Mungkin ada gangguan sistem.”
Dia mengeluarkan kartu kedua.
“Transaksi ditolak.”
Kartu ketiga.
“Transaksi ditolak.”
Kartu keempat.
“Transaksi ditolak.”
Wajah Adrian mulai pucat.
Keringat muncul di dahinya.
Kerumunan mulai berbisik.
“Bukankah dia anak keluarga Wijaya?”
“Kenapa semua kartunya gagal?”
“Apa banknya sedang bermasalah?”
Manager butik mulai kehilangan senyum profesionalnya.
“Tuan Adrian, total tagihan saat ini Rp3,2 miliar.”
“Kami membutuhkan metode pembayaran yang valid.”
Tubuh Adrian langsung menegang.
Saat itulah aku perlahan berdiri.
Lalu berjalan ke depan semua orang.
“Kenapa panik?”
kataku sambil tersenyum.
“Bukankah keluarga Wijaya keluarga terkaya di Jakarta?”
Semua mata langsung tertuju kepadaku.
Adrian menatapku dengan sorot mata penuh kebencian.
Aku mengeluarkan ponselku.
Kemudian menampilkan dokumen resmi dari bank.
“Karena kalian semua tampak penasaran, biar aku jelaskan.”
“Kartu yang selama ini digunakan Adrian bukan miliknya.”
Ruangan langsung sunyi.
“Melainkan kartu tambahan yang terhubung ke rekening keluargaku.”
“Tepat pukul tujuh pagi hari ini, kartu tersebut sudah kublokir.”
Wajah Adrian berubah seputih kertas.
“Tidak mungkin!”
teriaknya.
“Itu bohong!”
Aku tersenyum.
“Lalu kenapa semua kartumu ditolak?”
Tidak ada yang bisa menjawab.
Karena semua orang sudah melihat kenyataannya.
Dalam sekejap, kekaguman berubah menjadi kecurigaan.
Lalu menjadi kemarahan.
Ketua kelas yang paling sering menjilat Adrian adalah orang pertama yang mundur selangkah.
“Kamu… menipu kami?”
Orang kedua melempar kantong belanja ke lantai.
“Kamu bilang semuanya sudah dibayar!”
Orang ketiga langsung mengeluarkan ponselnya.
“Tunggu…”
“Aku baru sadar.”
“Nama keluarga terkaya di daftar Forbes Indonesia bukan Wijaya.”
“Nama ayah Clara yang ada di sana.”
Ruangan meledak.
Semua orang akhirnya mengerti.
Orang yang selama ini mereka puja ternyata pembohong.
Dan gadis yang mereka hina justru pewaris sebenarnya.
Adrian mencoba menjelaskan.
Namun tak seorang pun mau mendengarnya lagi.
Satu per satu orang menjauh darinya.
Persis seperti yang pernah mereka lakukan kepadaku di kehidupan sebelumnya.
Bedanya…
Kali ini, yang ditinggalkan sendirian bukan aku.
Melainkan dirinya.
Aku menatap wajahnya yang penuh kepanikan.
Lalu berkata pelan:
“Adrian.”
“Di kehidupan sebelumnya, kau mengambil uangku, menghancurkan namaku, dan membuat semua orang memusuhiku.”
“Tapi kali ini…”
Aku tersenyum.
“Aku bahkan tidak perlu membalas dendam.”
“Aku hanya perlu mengambil kembali apa yang memang milikku.”
Setelah itu, aku berbalik dan berjalan pergi.
Di belakangku terdengar suara teriakan, kemarahan, dan tuduhan yang saling bersahutan.
Namun untuk pertama kalinya…
Aku tidak menoleh.
Karena beberapa kemenangan tidak membutuhkan tepuk tangan.
Cukup dengan melihat orang yang pernah menjatuhkanmu kehilangan semua topengnya di depan dunia.