Ibunya tersenyum lalu bercanda kepadaku:
“Kalian berdua pelan-pelan saja, ya. Jangan sampai bikin kejutan dulu. Tante tinggal menunggu kalian lulus kuliah supaya bisa segera punya cucu.”
Namun Raka lebih dulu menjawab:
“Ma, aku sudah menyukai orang lain. Bukan Alya.”
Suasana meja makan langsung membeku.
Wajah kedua orang tuaku seketika berubah tidak enak.
Aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara.
“Tante, sebenarnya aku juga sudah punya pacar.”
Ibuku langsung terkejut.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita pada kami?”
“Dulu aku fokus belajar, jadi tidak memikirkan soal hubungan. Kami baru resmi setelah ujian selesai.”
Raka tertawa sinis.
“Kamu bohong.”
“Memangnya ada yang suka sama kamu?”
Makan malam itu berakhir dengan suasana yang tidak menyenangkan.
Tapi aku tidak berbohong.
Aku memang benar-benar sudah punya pacar.
…
Setelah makan malam selesai, Raka mengejarku keluar rumah.
Dengan suara rendah, dia berkata,
“Sudahlah, Alya. Jangan membuat keributan.”
Aku berhenti dan menatapnya.
Lampu jalan memanjangkan bayangannya di atas trotoar.
Di wajahnya terlihat kesal.
Namun di matanya ada keyakinan yang berlebihan.
Dia mengira aku hanya sedang menjaga harga diri karena ditolak.
“Aku tahu kamu marah.”
“Nilai Natasya kali ini tidak terlalu bagus. Dia sedang sedih, jadi aku harus menemaninya.”
“Jangan asal bicara karena emosi. Pacar? Pacar dari mana? Kalau sampai menyebar, nanti yang malu juga kamu sendiri.”
Aku memandangnya dengan tenang.
Tidak ada lagi gejolak di hatiku.
Sejak Natasya muncul dalam hidupnya, dia selalu menempatkan gadis itu di urutan pertama.
Perasaanku terluka atau tidak, baginya tidak pernah penting.
Selama Natasya baik-baik saja, itu sudah cukup.
Karena itu, aku sama sekali tidak terkejut dengan perkataannya.
“Raka, kamu masih ingat waktu kelas sembilan SMP?”
“Waktu kamu dikeroyok beberapa anak nakal di gang belakang sekolah?”
“Aku yang berlari masuk dan membawamu keluar dari sana, kan?”
Dia terdiam sesaat.
“Lengan kiriku patah waktu itu.”
“Kamu menangis di rumah sakit.”
“Kamu menggenggam tanganku dan berjanji akan menjagaku seumur hidup.”
Raka langsung memotong perkataanku dengan tidak sabar.
“Aku ingat, oke?”
“Jangan mencoba memainkan rasa bersalahku.”
“Aku memang pernah bilang akan menjagamu seumur hidup, dan aku akan menepati janji itu.”
“Tapi sekarang Natasya membutuhkan aku.”
“Aku tidak bisa meninggalkannya.”
“Aku satu-satunya orang yang dia miliki.”
“Aku janji, setelah masalahnya selesai dan aku tidak punya tanggung jawab lagi padanya, aku akan menikahimu dan menjagamu seumur hidup.”
Aku hanya menatapnya.
Tenang.
Setenang permukaan danau tanpa riak.
“Aku tidak membutuhkan itu lagi.”
“Aku sudah bilang, aku punya pacar.”
“Apa yang terjadi dulu tidak perlu kamu jadikan beban.”
“Aku tidak pernah meminta balasan atas semua yang kulakukan.”
“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa kamu tidak perlu merasa berutang padaku lalu memaksakan diri memberikan jawaban.”
Aku tidak akan menunggu.
Aku tidak akan menunggu sampai mereka saling mencintai, saling menyakiti, lalu saling meninggalkan.
Aku juga tidak akan menjadi pilihan cadangan saat semuanya berakhir.
Aku tidak membutuhkan Raka lagi.
Sejak hatinya berubah…
Sejak matanya hanya mampu melihat Natasya…
Aku sudah melepaskannya sepenuhnya.
Dan mulai hari itu, jalan hidup kami akan menuju arah yang berbeda.

Tiga bulan kemudian, hasil ujian masuk universitas diumumkan.
Aku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Nilai yang kudapat bahkan masuk dalam peringkat sepuluh besar nasional.
Hari itu, ponselku tidak berhenti berdering.
Keluarga, guru, dan teman-teman mengirimkan ucapan selamat tanpa henti.
Di tengah puluhan pesan itu, ada satu nama yang lama sekali tidak muncul di layar ponselku.
Raka.
Pesannya hanya satu kalimat.
“Selamat, Alya.”
Aku membacanya, lalu mengunci layar.
Tidak membalas.
Karena beberapa percakapan memang sudah berakhir jauh sebelum kata-kata terakhir diucapkan.
…
Malam itu, aku sedang merapikan koper untuk persiapan kuliah ketika seseorang mengetuk pintu rumah.
Saat kubuka, Raka berdiri di depan pagar.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia tampak gugup.
“Aku cuma ingin mengucapkan selamat secara langsung.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
Suasana menjadi canggung.
Biasanya kami bisa berbicara selama berjam-jam tanpa kehabisan topik.
Namun sekarang, bahkan mencari satu kalimat saja terasa sulit.
Akhirnya dia yang berbicara lebih dulu.
“Natasya tidak lolos.”
Aku tidak terkejut.
Nilainya memang jauh di bawah batas.
“Aku tahu.”
Dia tertawa kecil.
Tawa yang terdengar pahit.
“Selama ini aku selalu berpikir kamu akan menungguku.”
Aku tidak menjawab.
Karena itu memang benar.
Dulu aku memang pernah menunggu.
Menunggu dia menyadari perasaanku.
Menunggu dia melihat semua yang kulakukan untuknya.
Menunggu dia memilihku.
Tapi penantian yang terlalu lama akhirnya berubah menjadi kelelahan.
Dan kelelahan itu berubah menjadi keikhlasan.
“Alya.”
Dia menatapku.
“Mungkin aku salah.”
“Mungkin sejak awal aku sudah salah.”
Angin malam berembus pelan.
Daun-daun di halaman bergesekan satu sama lain.
Aku tersenyum tipis.
“Bukan mungkin.”
“Kamu memang salah.”
Wajahnya langsung membeku.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Kamu selalu bilang ingin membalas budi kepadaku.”
“Tapi sebenarnya aku tidak pernah meminta balasan apa pun.”
“Yang kuinginkan dulu hanya satu.”
“Agar kamu memilihku karena kamu memang menyukaiku.”
“Bukan karena rasa kasihan.”
“Bukan karena rasa bersalah.”
“Bukan karena janji masa kecil.”
Matanya perlahan memerah.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat penyesalan yang sungguh-sungguh di sana.
Sayangnya…
Penyesalan selalu datang terlambat.
“Aku mengerti sekarang.”
Suaranya hampir seperti bisikan.
“Tapi sepertinya aku terlambat.”
Aku tersenyum.
Kali ini lebih tulus.
“Ya.”
“Kamu terlambat.”
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kebencian.
Hanya sebuah kenyataan yang sederhana.
Dia menundukkan kepala.
Lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Di dalamnya ada gelang persahabatan yang dulu kuberikan saat kami berusia lima belas tahun.
Selama bertahun-tahun, dia masih menyimpannya.
“Aku ingin mengembalikan ini.”
Aku menatap gelang itu beberapa detik.
Lalu menggeleng.
“Simpan saja.”
“Anggap itu kenangan.”
“Karena tidak semua kenangan harus dibawa ke masa depan.”
Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya.
Dia cepat-cepat menghapusnya.
Lalu tersenyum.
Senyum yang lebih dewasa daripada yang pernah kulihat sebelumnya.
“Kalau begitu…”
“Selamat tinggal, Alya.”
Aku mengangguk.
“Selamat tinggal, Raka.”
Dia berbalik dan berjalan pergi.
Tidak menoleh lagi.
Dan kali ini…
Aku juga tidak memanggilnya.
Aku berdiri di depan pagar sampai sosoknya menghilang di ujung jalan.
Lalu sebuah mobil berhenti di depanku.
Jendela perlahan turun.
Seorang pria tampan tersenyum hangat dari kursi pengemudi.
“Sudah selesai?”
Aku tertawa kecil.
“Sudah.”
Dia turun, mengambil koperku, lalu menggenggam tanganku.
“Siap berangkat?”
Aku menatap jalan yang gelap di depan.
Kemudian menatap pria yang memilihku tanpa keraguan.
Tanpa syarat.
Tanpa menjadikanku pilihan kedua.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Aku merasa benar-benar bebas.
“Siap.”
Mobil perlahan melaju meninggalkan rumah.
Di kaca spion, kota kecil itu semakin jauh.
Begitu pula masa lalu.
Karena cinta yang terbaik bukanlah seseorang yang datang setelah semua orang pergi.
Melainkan seseorang yang datang, lalu memilih untuk tetap tinggal.
Dan kali ini…
Orang itu bukan Raka.