Di seberang telepon, aku bisa mendengar suara Michael “Miko” Wijaya—sahabat masa kecilku—yang sedang menghadiri pesta kelulusan di sebuah bar bersama Andin. Bukannya marah, dia malah menegurku:
“Andin cuma nggak sengaja. Dia belum berpengalaman. Mungkin tangannya terpeleset. Niatnya baik kok. Kalau perlu, kamu ambil gap year satu tahun saja, kan?”
Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara.
Aku menatap hitung mundur di layar sistem.
1 menit tersisa.
Aku menelepon Miko berulang kali.
Akhirnya dia mengangkat dengan nada sangat kesal.
“Keluarga Andin miskin, nilai ujian masuknya juga tidak terlalu bagus. Dia cuma ingin kuliah bareng kamu. Cobalah lebih pengertian. Kamu tidak akan mati hanya karena kehilangan satu tahun!”
Di latar belakang terdengar tawa teman-teman sekelasku.
“Benar! Anggap saja ini eksperimen sosial buat kamu, Sofi!”
“Keluarga kamu kaya. Kamu bisa daftar lagi tahun depan atau kuliah di luar negeri!”
Tepat saat itu sistem ditutup.
Pilihan jurusanku yang absurd tidak bisa diubah lagi.
Namun aku hanya menurunkan telepon dengan tenang.
Karena rupanya sampai sekarang Miko masih mengira akulah korbannya.
Dia lupa bahwa tadi Andin sempat berkata:
“Akun yang kupakai untuk mengubah pilihan jurusannya aku ambil dari tasnya.”
Masalahnya, di tasku tidak pernah ada kertas berisi nomor peserta atau data pendaftaran.
Satu-satunya dokumen yang ada di sana adalah data milik Miko sendiri.
Dokumen yang dia berikan kepadaku beberapa minggu lalu agar kubantu melakukan registrasi.
Aku penasaran apakah dia masih bisa bersikap “murah hati” setelah melihat hasil penerimaannya sendiri.
…
Setengah jam kemudian, Andin mengunggah surat permintaan maaf panjang di grup angkatan.
Tiga layar penuh.
“Sofi, aku benar-benar minta maaf. Kalau kamu ingin menyalahkan seseorang, salahkan saja aku karena bodoh.”
Katanya itu pertama kalinya dia menggunakan komputer.
Saat membuka sistem pendaftaran universitas, tangannya gemetar.
Karena gugup, dia tidak sengaja mengubah pilihan Universitas Indonesia milikku menjadi Politeknik Vokasi Jakarta Timur.
Dia bahkan mengunggah selfie dengan mata merah dan wajah penuh air mata.
“Keluargaku miskin. Sampai sekarang aku bahkan belum punya komputer sendiri.”
“Aku cuma ingin membantu Sofi mengecek apakah sistemnya lambat.”
“Kalau karena ini dia membenciku atau ingin menghancurkan hidupku, aku akan menerimanya.”
“Bagaimanapun juga aku cuma anak miskin. Aku memang tidak pantas menyentuh barang-barang mahal milik orang kaya.”
Begitu unggahan itu muncul, grup langsung meledak.
“Andin jangan nangis! Kamu cuma nggak sengaja!”
“Hidup orang miskin juga berharga! Sofi, jangan kejam banget!”
Sebelum sempat mengetik, avatar Miko muncul.
“Sofi, berhenti bikin drama di grup.”
“Masalahnya sudah selesai. Andin sudah minta maaf. Apa lagi yang kamu mau?”
“Atau kamu ingin mempermalukannya sampai dia berlutut di depanmu?”
Andin segera membalas:
“Kak Miko, jangan marahi Sofi. Ini memang salahku.”
Miko langsung naik darah.
“Kamu terlalu baik!”
“Itulah kenapa kamu selalu ditindas oleh anak orang kaya manja seperti dia!”
“Sofi! Keluargamu kaya! Kalau harus mengulang satu tahun pun tidak masalah!”
“Tapi Andin berbeda! Demi sekolah saja keluarganya bahkan tidak mampu membelikan adiknya sepatu baru!”
Aku menatap layar ponsel.
Kukuku menancap di telapak tanganku, tetapi aku tidak merasakan sakit.
Ini adalah sahabat masa kecil yang selama delapan belas tahun selalu melindungiku.
Saat kecil ketika lenganku patah, dia menggendongku berlari menyusuri jalan sambil menangis dan bersumpah akan menghajar siapa pun yang menyakitiku.
Namun sekarang, demi seorang gadis yang bahkan belum setahun dikenalnya, dia dengan mudah menginjak semua kerja keras yang kubangun selama dua belas tahun.
Seseorang menandai akunku di grup.
“Hei, anak orang kaya. Bilang sesuatu dong.”
Andin mengirim pesan suara dengan suara lembut dan rapuh.
“Jangan marahi Sofi. Wajar kalau dia marah padaku.”
“Mungkin dia hanya cemburu karena akhir-akhir ini Kak Miko sering mengajariku Matematika.”
Dua detik hening.
Lalu grup dipenuhi emoji tertawa.
“Oh jadi cemburu.”
“Pantas saja dia nggak mau melepaskan masalah pendaftaran.”
Aku membuka chat pribadi Miko.
“Miko, kamu benar-benar yakin aku harus melupakan semua ini begitu saja?”
Dia langsung menjawab seperti seorang pahlawan.
“Kalau tidak, memangnya kamu mau apa?”
“Mau lapor polisi?”
“Sejak kapan kamu jadi sekejam ini, Sofi?”
Aku menggigit bibir dan mengetik pesan terakhir.
“Kalau yang diubah hari ini adalah pendaftaranmu, apakah kamu juga bisa semurah hati itu?”
Chat-nya berhenti selama beberapa detik.
Kemudian dia mengirim pesan suara langsung ke grup.
Suaranya penuh kebanggaan.
“Aku katakan di depan semua orang!”
“Kalau pendaftaranku yang diubah hari ini, aku tidak akan mengatakan hal buruk tentang Andin!”
“Hidupnya sudah susah. Aku tidak egois seperti Sofi!”
“Sofi, belajarlah menjadi orang baik!”
Grup langsung memujinya.
“Miko memang luar biasa!”
“Itu baru mental mahasiswa UI sejati!”
Aku tersenyum pahit, mengabaikan semua hinaan, lalu keluar dari grup.
Keesokan siangnya, saat turun ke ruang tamu, aku melihat Miko dan ibunya sudah duduk di sana.
Ibuku duduk berhadapan dengan mereka dengan wajah pucat.
Di atas meja terdapat beberapa foto buram.
Begitu melihatku, wajah ibu Miko langsung berubah menjadi penuh belas kasihan.
“Sofi, kenapa kamu jadi anak seperti ini?”
“Kami tahu kamu dimanjakan sejak kecil, tapi kamu tidak boleh mempermainkan masa depanmu sendiri!”
Aku melangkah mendekat dan menatap Miko dengan dingin.
“Tante, ada apa sampai datang pagi-pagi begini?”
Ibuku menghela napas lalu menunjuk foto-foto di meja.
“Lihat apa yang sudah kamu lakukan!”
“Miko sudah menceritakan semuanya!”
“Karena seorang laki-laki dari sekolah vokasi, kamu sendiri yang mengubah pilihan jurusanmu!”
“Lalu sekarang kamu malah menyalahkan anak miskin itu! Kamu tidak punya malu?”
Aku mengambil foto-foto tersebut.
Seorang pria berambut pirang berdiri membelakangi kamera.
Di sampingnya ada seorang perempuan yang sedikit mirip denganku.
Mereka tampak sedang bergandengan tangan.
Tapi itu bukan aku.
Aku menatap Miko.
Dia duduk dengan ekspresi pura-pura terluka.
“Tante, jangan salahkan Sofi.”
“Dia hanya tertipu laki-laki itu.”
“Karena emosi, dia sendiri yang mengubah pendaftarannya.”
“Lalu untuk menutupi semuanya, dia memaksa Andin mengaku telah mencuri akun.”
“Andin ketakutan sampai menangis dan mengaku.”
“Aku tidak tahan melihatnya, jadi aku datang untuk mengatakan yang sebenarnya.”
Ibu Miko mengangguk-angguk.
“Tentu saja. Miko tidak pernah berbohong.”
“Andin itu anak baik dan lemah lembut.”
“Mana mungkin dia mencuri?”
“Sofi saja yang terlalu dimanja sampai belajar berbohong dan melempar kesalahan pada orang lain.”
Aku merasa muak melihat mereka.
Aku mengangkat foto itu dan tersenyum dingin.
“Miko, dari mana kamu mendapatkan foto buram ini?”
“Kamu datang ke rumahku hanya untuk menyebarkan fitnah?”
“Wajah perempuan itu bahkan tidak terlihat.”
“Bagaimana kamu bisa yakin itu aku?”
Miko menjawab dengan berani:
“Kamu masih mau menyangkal?”
“Baju yang dipakai perempuan itu persis seperti salah satu bajumu!”
“Berani bilang kamu tidak pergi ke kawasan sekolah vokasi setiap hari?”
Aku tertawa.
“Aku pergi ke sana karena menjadi relawan di penampungan hewan dekat sana.”
“Kamu bukan hanya menuduhku pacaran diam-diam.”
“Kamu juga menuduhku menghancurkan masa depanku sendiri dan memfitnah Andin.”
“Miko, ke mana perginya hati nuranimu?”
Ibu Miko langsung berdiri dan berteriak.
“Kurang ajar sekali mulutmu!”
“Miko sudah berusaha membantumu, tapi ini balasanmu?”
“Kamu sendiri yang menghancurkan masa depanmu!”
“Sekarang gagal masuk universitas bagus, masih saja mencari alasan!”
Ibuku juga berdiri dengan tubuh gemetar karena marah.
“Sofi!”
“Minta maaf sekarang juga kepada Miko dan Tante Citra!”
“Kenapa aku bisa memiliki anak yang tidak tahu malu seperti kamu!”
“Mulai hari ini tidak ada uang saku!”
“Masuk ke kamar dan renungkan kesalahanmu!”
Aku menatap ibuku yang marah besar.
Ini ibuku.
Seorang ibu yang lebih memilih mempercayai kebohongan orang lain daripada mempercayai anak kandungnya sendiri.

Aku menatap ibuku yang sedang marah besar.
Ini ibuku.
Orang yang lebih memilih mempercayai seorang pembohong daripada putrinya sendiri.
Entah sejak kapan, setiap kali berhubungan dengan Andie, aku selalu menjadi pihak yang salah.
Aku perlahan mengeluarkan ponselku.
“Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang sebenarnya berbohong.”
Miggy tiba-tiba mengerutkan kening.
“Sofi, cukup. Jangan membuat keadaan semakin buruk.”
Aku tersenyum tipis.
“Aneh. Bukankah kemarin kamu bilang orang yang tidak bersalah tidak perlu takut pada kebenaran?”
Seketika wajahnya berubah.
Aku membuka rekaman panggilan yang kusimpan malam sebelumnya.
Suara Andie langsung memenuhi ruang tamu.
“…aku mengambil data akun dari tas Sofi…”
“…aku hanya ingin masuk kampus yang sama dengan Kak Miggy…”
“…aku tidak menyangka sistem akan langsung terkunci…”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Wajah Miggy memucat.
Ibunya tertegun.
Bahkan ibuku yang tadi berteriak kini membeku di tempat.
Aku memutar rekaman berikutnya.
Suara Andie terdengar lagi.
“Kak Miggy bilang tidak apa-apa. Katanya keluarga Sofi kaya. Kalau gagal tahun ini, dia bisa daftar lagi tahun depan…”
Kali ini, Miggy benar-benar kehilangan warna wajahnya.
“Miggy…”
Ibunya menoleh perlahan.
“Ini… apa maksudnya?”
Miggy membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Karena tidak ada lagi yang bisa dia jelaskan.
Semua bukti sudah ada.
Aku mengeluarkan amplop lain dari tas.
“Itu belum semuanya.”
Aku meletakkan selembar dokumen di atas meja.
Surat konfirmasi pendaftaran universitas.
Nama yang tercetak di sana membuat semua orang membelalak.
Miguel Reyes.
Program Teknik Mesin.
Politeknik Vokasional Kota Bekasi.
Ibuku menatap dokumen itu dengan bingung.
Sedangkan Miggy langsung berdiri.
“Mustahil!”
Dia merebut surat itu dan membacanya berulang kali.
Tangannya mulai gemetar.
“Aku… aku mendaftar Universitas Indonesia!”
Aku tersenyum.
“Benarkah?”
“Kalau begitu, kenapa akun yang digunakan Andie untuk mengubah pilihan jurusan ternyata akun milikmu?”
Miggy membeku.
Akhirnya dia mengerti.
Saat Andie mencuri data yang katanya milikku, yang dia ambil sebenarnya adalah data pendaftaran Miggy.
Karena sejak awal, aku tidak pernah menyimpan nomor peserta milikku di dalam tas.
Yang kusimpan hanyalah data Miggy yang dia titipkan kepadaku beberapa hari sebelumnya.
Andie ingin menghancurkan masa depanku.
Tapi yang dia hancurkan justru masa depan orang yang paling ingin melindunginya.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Ibunya terduduk lemas.
“Miggy… universitasmu…”
Miggy menatap layar ponselnya dengan mata merah.
Berkali-kali dia masuk ke sistem.
Berkali-kali hasilnya tetap sama.
Tidak bisa diubah.
Tidak bisa dibatalkan.
Tidak bisa diselamatkan.
Persis seperti yang mereka lakukan padaku.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering.
Nama Andie muncul di layar.
Miggy menjawab dengan tangan gemetar.
Dari speaker terdengar suara Andie yang panik.
“Kak Miggy! Aku baru sadar! Akunnya salah! Yang aku ubah itu akun Kakak!”
Tangisan Andie pecah.
Namun kali ini, tidak ada seorang pun yang merasa kasihan.
Karena semua orang akhirnya tahu.
Itu bukan kecelakaan.
Itu pencurian.
Itu sabotase.
Dan itu dilakukan dengan sengaja.
Miggy perlahan mengangkat kepalanya menatapku.
Matanya penuh penyesalan.
“Sofi… aku…”
Aku memotongnya.
“Kalau yang dirugikan adalah aku, kamu bilang aku harus murah hati.”
“Kalau yang kehilangan masa depan adalah aku, kamu bilang aku harus mengalah.”
“Kalau yang menangis adalah Andie, semua orang membelanya.”
Aku berdiri dan merapikan pakaianku.
“Lalu sekarang, Miggy.”
“Apa kamu masih bisa semurah hati itu?”
Bibirnya bergetar.
Namun tidak ada jawaban.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rasa sakit itu tidak menimpa orang lain.
Melainkan dirinya sendiri.
Aku menatap ibuku untuk terakhir kali.
“Nanti aku akan pindah.”
“Aku sudah menerima surat penerimaan dari National University of Singapore melalui jalur prestasi internasional.”
Wajah ibuku langsung pucat.
“Apa?”
Aku mengeluarkan surat penerimaan yang selama ini kusimpan.
“Sebenarnya aku sudah diterima dua bulan lalu.”
“Aku hanya ingin melihat siapa yang akan berdiri di sisiku saat aku jatuh.”
Aku tersenyum pelan.
“Ternyata tidak ada.”
Aku berbalik menuju pintu.
Di belakangku terdengar suara tangis ibuku.
Terdengar pula suara Miggy memanggil namaku.
Namun aku tidak menoleh.
Karena ada beberapa orang yang hanya akan menghargai kehilangan setelah semuanya terlambat.
Dan ada beberapa hubungan yang sekali hancur, tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
Sore itu aku meninggalkan rumah.
Meninggalkan sahabat masa kecil.
Meninggalkan kesalahpahaman.
Meninggalkan pengkhianatan.
Di bandara, saat pesawat mulai lepas landas, aku menerima notifikasi terakhir dari grup angkatan.
Andie dikeluarkan dari daftar penerimaan karena pemalsuan data dan akses ilegal ke akun orang lain.
Miggy memilih mengulang ujian masuk tahun berikutnya.
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun orang yang membelanya.
Aku mematikan layar ponsel.
Di luar jendela, matahari perlahan terbit di atas lautan awan.
Masa depan yang pernah mereka rampas dariku kini kembali berada di tanganku sendiri.
Dan kali ini…
Aku tidak akan memberikannya kepada siapa pun lagi.