Angka di timbangan digital menunjukkan 85 kg.

Sahabatku, Nadia Pratama, langsung panik.

“Berhenti makan terus-terusan dong!”

Aku hanya tersenyum pahit.

“Terserah. Aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku.”

Nadia memiliki sebuah sistem misterius bernama Weight Swap System.

Setiap kali aku berhasil menurunkan berat badan, berat badan yang hilang akan berpindah kepadanya. Dan setiap kali dia makan, lemaknya akan berpindah ke tubuhku.

Sebagai seorang streamer mukbang terkenal, Nadia bisa makan apa saja tanpa menjadi gemuk. Sementara aku mati-matian diet, tetapi tubuhku justru semakin membesar.

Dia bahkan sering berkata sambil berpura-pura peduli:

“Tenang saja, Mina. Yang penting kamu sehat. Terus saja diet, suatu hari pasti kurus kok.”

Kali ini aku memutuskan pergi berkeliling Jakarta dan mengunjungi berbagai restoran terkenal.

Kalau memang itu yang dia inginkan…

Baiklah.

Mari kita bertukar nasib sepenuhnya.

1

Sudah dua tahun aku dan Nadia tinggal bersama di sebuah apartemen di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Selama dua tahun itu, berat badanku bertambah hampir 30 kilogram.

Padahal aku tidak pernah ingin menjadi gemuk.

Setiap hari aku makan seperti burung.

Pernah mencoba liquid fasting.

Pernah menjalani diet keto.

Pernah melakukan puasa intermiten 16:8.

Karena terlalu lapar, sering kali lambungku terasa sakit di tengah malam hingga aku harus minum kopi hitam agar nafsu makanku hilang.

Tetapi angka di timbangan terus naik seperti orang gila.

Sementara Nadia?

Dia hidup dari makan.

Ayam goreng.

Martabak.

Seblak.

Sate.

Buffet hotel bintang lima.

Di depan kamera, dia tertawa manis sambil melahap semuanya.

Kolom komentarnya selalu penuh dengan pujian.

“Kok bisa makan sebanyak itu tapi tetap kurus?”

“Tubuh impian banget!”

Dan memang benar.

Tinggi Nadia 165 cm.

Berat badannya selalu stabil di angka 45 kg.

Pinggangnya ramping seperti model.

Padahal kami tinggal bersama.

Makan dari dapur yang sama.

Namun hasil akhirnya sangat berbeda.

Dia seperti peri.

Sedangkan aku seperti pegulat sumo.

Aku sudah memeriksakan hormon, tiroid, hingga resistensi insulin di rumah sakit besar di Jakarta.

Semua hasilnya normal.

Dokter melihat hasil pemeriksaanku lama sekali.

Lalu berkata dengan hati-hati:

“Mungkin… Anda perlu mengurangi makan?”

Aku menjelaskan bahwa aku hampir tidak makan.

Dokter hanya diam.

Tatapan matanya seolah berkata:

“Kalau mau kurus, berhentilah berbohong.”

2

Suatu malam aku pulang lembur hampir pukul sebelas.

Saat membuka pintu apartemen, pintu kamar Nadia tidak tertutup rapat.

Dari dalam terdengar suara yang aneh.

“Kalori yang dikonsumsi host hari ini telah melampaui target harian.”

Suara AI yang dingin terdengar jelas.

“Berat badan target bertambah 0,3 kilogram. Total transfer berat: 30,1 kilogram.”

“Sistem sedang melakukan upgrade.”

“Upgrade selesai.”

“Level 3 terbuka.”

“Host memperoleh kemampuan baru: Calorie Blocking.”

Nadia tertawa girang.

“Apa itu Calorie Blocking?”

AI menjawab:

“Seluruh kalori yang dikonsumsi host tidak lagi disimpan sebagai lemak pada tubuh host.”

“Kalori tersebut akan langsung ditransfer kepada target.”

“Proses pertukaran berat badan akan menjadi permanen.”

“Maksudnya aku bisa makan apa saja?”

“Tepat.”

Aku berdiri membeku di luar kamar.

Tanganku mencengkeram tas begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih.

Jadi selama ini…

Semua dietku.

Semua rasa laparku.

Semua penderitaanku.

Hanya menjadi bahan bakar untuk menjaga tubuh Nadia tetap langsing.

3

Keesokan paginya Nadia mengetuk pintuku.

“Mina, bangun.”

“Aku sudah membuatkan sarapan sehat.”

Salad dada ayam tanpa saus.

Aku tersenyum.

“Makasih.”

Begitu dia pergi, seluruh salad itu langsung kubuang ke tempat sampah.

Mulai hari ini…

Aku tidak akan lapar demi dirinya lagi.

Aku langsung pergi ke restoran buffet premium di Jakarta.

Di hadapanku ada lima piring penuh.

Ayam goreng.

Pasta carbonara.

Daging panggang.

Kentang goreng.

Dessert.

Makanan yang selama dua tahun selalu kuhindari.

Hari itu aku menghabiskannya tanpa rasa bersalah.

Dua jam kemudian aku pulang.

Di tangan ada sekaleng cola biasa.

Nadia mengira itu minuman zero sugar.

Padahal itu bom kalori.

4

Orang pertama yang menyadari perubahan itu adalah Nadia sendiri.

Dia berdiri lama di depan cermin ruang tamu.

Gaun bunga favoritnya mulai terasa sempit di bagian pinggang.

Dia mencubit perutnya berulang kali.

Saat aku lewat, dia memanggilku.

“Mina…”

“Kamu merasa aku bertambah gemuk?”

Itulah pertama kalinya selama dua tahun aku mendengar kata gemuk keluar dari mulutnya.

Aku menatapnya dengan serius.

Pipinya memang mulai membulat.

Lengannya juga sedikit lebih besar.

Aku hampir tertawa.

“Ya.”

“Sedikit.”

“Mungkin kamu kebanyakan makan?”

Wajahnya langsung pucat.

5

Sejak hari itu Nadia mulai mengontrol makananku dengan gila-gilaan.

Isi kulkas berubah total.

Hanya ada selada.

Mentimun.

Yogurt rendah lemak.

Dia bahkan membeli timbangan makanan digital.

Setiap gram makanan yang kumakan dia hitung.

Aku mengangguk dan berpura-pura menurut.

Namun setiap kali dia keluar rumah…

Aku pergi makan.

Banyak sekali.

Sekarang aku bisa makan untuk tiga orang sekaligus.

6

Dua minggu berlalu.

Berat badan Nadia bertambah 10,5 kilogram.

Kecemasannya semakin terlihat.

Dia menimbang berat badan tiga kali sehari.

Pagi.

Siang.

Malam.

Setiap kali angka timbangan naik, wajahnya semakin buruk.

Sementara aku?

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun…

Aku mulai tersenyum saat melihat angka di timbangan.

Karena akhirnya…

Orang yang mencuri hidupku mulai merasakan akibat dari perbuatannya sendiri.

7

Sebulan kemudian, Nadia hampir kehilangan akal sehatnya.

Berat badannya sudah mencapai 58 kilogram.

Bagi orang biasa, angka itu masih tergolong normal.

Tetapi bagi Nadia yang selama bertahun-tahun hidup dengan tubuh 45 kilogram dan menjadikan penampilannya sebagai sumber penghasilan, itu adalah bencana.

Jumlah penontonnya mulai menurun.

Kolom komentar yang dulu penuh pujian berubah menjadi ejekan.

“Kok sekarang mukanya bulat?”

“Bukannya dia terkenal karena makan banyak tapi tetap kurus?”

“Filter kamera rusak ya?”

Malam itu aku pulang dan melihat Nadia menangis sendirian di ruang tamu.

Timbangan digital tergeletak di lantai.

Angkanya menunjukkan 59,2 kilogram.

“Mina…”

Matanya merah.

“Aku takut.”

Aku memandangnya tanpa ekspresi.

Takut?

Selama dua tahun aku hidup dalam ketakutan.

Takut melihat timbangan.

Takut melihat cermin.

Takut keluar rumah.

Takut mendengar orang menertawakan tubuhku.

Saat itu, dia tidak pernah takut untukku.

8

Beberapa hari kemudian, aku sengaja pulang lebih awal.

Dari balik pintu, aku mendengar Nadia berbicara dengan sistemnya.

“Apa yang terjadi?”

“Mengapa berat badanku terus bertambah?”

Suara AI menjawab:

“Host telah mengaktifkan pertukaran permanen.”

“Seluruh proses tidak dapat dibatalkan.”

Nadia berteriak:

“Tidak mungkin!”

“Aku hanya ingin tetap kurus!”

AI menjawab dengan dingin:

“Setiap keuntungan memiliki harga.”

“Host memperoleh tubuh ideal dengan memindahkan beban kepada target.”

“Sekarang sistem menilai keseimbangan harus dipulihkan.”

Aku tersenyum tipis.

Jadi bahkan sistem itu pun akhirnya menganggap apa yang terjadi tidak adil.

9

Hari demi hari berlalu.

Tubuhku berubah.

Angka 85 kilogram turun menjadi 78.

Lalu 72.

Lalu 65.

Kulitku kembali sehat.

Wajahku kembali tirus.

Pakaian lamaku kembali muat.

Sementara Nadia terus bertambah berat.

Dia berhenti melakukan siaran mukbang.

Berhenti keluar rumah.

Bahkan menutupi semua cermin di apartemen.

Suatu malam dia datang ke kamarku.

Untuk pertama kalinya sejak kami tinggal bersama, dia berlutut.

“Mina…”

“Tolong bantu aku.”

Aku menutup laptop perlahan.

“Membantu bagaimana?”

“Aku tahu kau sudah tahu tentang sistem itu.”

“Maafkan aku.”

“Aku hanya iri padamu.”

“Aku iri karena kau pintar.”

“Iri karena semua orang menyukaimu.”

“Aku hanya ingin menjadi lebih baik sekali saja.”

Air matanya jatuh.

Namun anehnya, aku tidak merasa puas.

Aku juga tidak merasa kasihan.

Yang kurasakan hanyalah lelah.

Sangat lelah.

10

Aku berdiri dan berjalan menuju jendela.

Lampu-lampu Jakarta berkilauan di kejauhan.

“Nadia.”

“Selama dua tahun aku berpikir ada yang salah dengan tubuhku.”

“Aku membenci diriku sendiri.”

“Aku kelaparan.”

“Aku menangis.”

“Aku bahkan pernah berpikir hidupku sudah selesai.”

Suaraku tetap tenang.

“Tapi ternyata masalahnya bukan tubuhku.”

“Masalahnya adalah seseorang yang mengkhianatiku.”

Nadia menangis semakin keras.

Aku melanjutkan:

“Aku memaafkanmu.”

Wajahnya langsung terangkat penuh harapan.

Tetapi aku tersenyum tipis.

“Aku memaafkanmu bukan karena kau pantas mendapatkannya.”

“Aku memaafkanmu karena aku tidak ingin membawa kebencian ini seumur hidup.”

“Lalu bagaimana dengan kita?”

Aku menatapnya.

“Tidak ada lagi kita.”

11

Sebulan kemudian aku pindah dari apartemen itu.

Aku menyewa unit baru di pusat Jakarta.

Pada hari terakhir, aku menyerahkan kunci kepada pemilik apartemen.

Saat keluar dari gedung, aku menoleh sekali lagi.

Di balkon lantai dua belas, Nadia berdiri sendirian.

Tubuhnya jauh berbeda dari dulu.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.

Penyesalan.

Aku mengangguk pelan.

Lalu pergi.

Tanpa menoleh lagi.

Epilog

Setahun kemudian.

Aku berdiri di depan cermin.

Berat badanku 54 kilogram.

Sehat.

Normal.

Bukan karena diet ekstrem.

Bukan karena menyiksa diri.

Tetapi karena akhirnya aku hidup untuk diriku sendiri.

Saat membuka media sosial, aku melihat akun lama Nadia.

Tidak ada lagi mukbang.

Tidak ada lagi konten pamer tubuh.

Ia kini membuat video tentang kesehatan mental dan menerima tubuh apa adanya.

Video terakhirnya memiliki jutaan penonton.

Di akhir video, ia berkata:

“Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mencuri kebahagiaan orang lain demi mendapatkan kebahagiaanku sendiri.”

“Aku baru sadar, apa pun yang diperoleh dengan mengambil milik orang lain, suatu hari pasti akan diminta kembali.”

Aku menutup video itu.

Lalu tersenyum.

Karena akhirnya aku mengerti satu hal.

Balas dendam terbaik bukanlah melihat orang lain hancur.

Melainkan melihat dirimu sendiri pulih, bangkit, dan hidup jauh lebih baik daripada saat mereka menjatuhkanmu.