Posted in

Saya tidak akan pernah melupakan hari pemakaman Nenek Elena. Nama saya Clara Santos, usia 27 tahun, dan tepat di depan makam nenek saya, ayah kandung saya sendiri melempar buku tabungan miliknya seperti sampah.

Saya tidak akan pernah melupakan hari pemakaman Nenek Elena. Nama saya Clara Santos, usia 27 tahun, dan tepat di depan makam nenek saya, ayah kandung saya sendiri melempar buku tabungan miliknya seperti sampah.

“Buku kecil itu tidak ada gunanya! Tinggalkan saja bersama si tua itu!” teriak Ayah Ricardo sambil melempar buku tabungan lama ke atas peti jenazah.

Para kerabat tertawa. Saudara tiri saya, Marco, ikut tertawa. Ibu tiri saya, Imelda, juga tertawa. Dan yang paling menyakitkan—Ayah tersenyum sinis seolah menikmati saat saya dipermalukan di depan semua orang.

“Itu warisanmu, Clara,” katanya dengan suara keras. “Sebuah buku tabungan tua. Tidak ada rumah. Tidak ada uang. Tidak ada warisan. Memang begitu nasibmu—anak orang miskin.”

Saya berdiri di depan makam dengan gaun hitam pinjaman, tangan gemetar karena dingin dan amarah. Namun saya tidak menangis. Saya tidak berteriak. Nenek Elena telah mengajari saya untuk tetap kuat bahkan saat hati terluka.

Sebelum meninggal, pesan terakhirnya kepada saya adalah:

“Nak, kalau mereka menertawakanmu, biarkan saja. Setelah itu, pergilah ke bank. Jangan takut.”

Karena itu, saat semua orang sibuk tertawa, saya diam-diam mengambil buku tabungan yang terjatuh di samping peti jenazah. Saya memasukkannya ke dalam tas kecil saya lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.

Saya naik angkutan umum menuju Jakarta. Tubuh saya basah oleh keringat dan air mata ketika akhirnya tiba di sebuah bank besar di kawasan pusat bisnis. Jantung saya berdetak sangat cepat.

“Bu, bisakah saya mengecek yang ini?” tanya saya kepada petugas teller, Bu Linda, sambil menyerahkan buku tabungan lama itu.

Ia membukanya. Hanya beberapa detik.

Lalu wajahnya tiba-tiba pucat pasi.

Seolah-olah ia baru saja melihat hantu.

Tangannya gemetar saat meraih telepon.

“Pak… tolong panggil manajer. Dan petugas keamanan. Kunci pintunya. Ibu ini tetap di sini dulu,” perintahnya kepada rekan kerjanya dengan suara penuh keterkejutan.

Saya terduduk di depan loket. Rasanya dunia berputar.

Buku tabungan yang dibuang ayah saya seperti sampah itu… sebenarnya berisi apa?

Saya tidak tahu bahwa buku tabungan sederhana itu akan mengubah hidup saya selamanya.

Dan saya juga tidak tahu bahwa rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh Nenek Elena akan menjadi kunci untuk merebut kembali semua yang telah dicuri dari kami.

Wajah Bu Linda, sang teller bank, masih pucat pasi saat seorang pria berjas rapi—yang belakangan kuketahui sebagai Manajer Cabang bernama Pak Broto—berlari tergesa-gesa keluar dari ruangannya. Dua petugas keamanan berdiri tegak di dekat pintu masuk utama, memastikan tidak ada yang bisa masuk atau keluar secara mencurigakan.

“Nona Clara Santos?” suara Pak Broto bergetar, namun penuh dengan rasa hormat yang teramat sangat. “Mari, silakan ikut saya ke ruangan privat. Di sini kurang aman untuk Anda.”

Aku melangkah dengan kaki lemas, memeluk tas kecilku erat-erat. Di dalam ruangan VIP yang kedap suara, Pak Broto menyajikan teh hangat, namun mataku hanya tertuju pada buku tabungan tua milik Nenek Elena yang kini berada di atas meja marmer.

“Pak… apa yang terjadi? Apakah ada masalah dengan rekening Nenek saya? Apakah itu uang haram?” tanyaku bertubi-tubi, diselimuti rasa takut.

Pak Broto tersenyum, sebuah senyuman yang mencampurkan rasa takjub dan segan. “Sama sekali bukan, Nona Clara. Rekening ini adalah akun korporasi dan wali amanat (trust fund) tertua yang terdaftar di bank kami. Buku tabungan fisik ini sengaja tidak pernah diperbarui ke digital atas permintaan mendiang Nyonya Elena, demi alasan keamanan.”

Ia memutar layar komputer besarnya ke arahku. “Nenek Anda bukan orang miskin. Beliau adalah salah satu pendiri awal dari konsorsium tekstil terbesar di Indonesia sebelum memalsukan kematian finansialnya tiga puluh tahun lalu untuk menghindari keserakahan keluarga.”

Mataku membelalak menatap angka digital di layar. Jantungku rasanya berhenti berdetak.

“Saldo aktif di dalam rekening utama ini adalah 650 Miliar Rupiah. Dan itu belum termasuk kepemilikan aset berupa 45% saham di perusahaan ‘Villarama & Co’—perusahaan yang saat ini dikelola oleh ayah Anda, Ricardo Santos.”

Aku membekap mulutku sendiri. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah.

Ternyata, selama ini Nenek Elena hidup dalam kesederhanaan bersamaku di sebuah rumah kontrakan kecil bukan karena beliau tidak punya apa-apa. Beliau sedang melindungi kami. Beliau tahu tabiat asli Ayah Ricardo, Ibu tiri Imelda, dan Marco yang gila harta. Beliau sengaja menyimpan “bom waktu” ini, menunggu hingga aku berusia 27 tahun—usia matang yang sah secara hukum untuk menerima seluruh hak waris tunggal.

“Ada satu hal lagi, Nona Clara,” tambah Pak Broto, menyerahkan sebuah surat bermaterai lama yang tersimpan di brankas bank atas nama Nenek Elena. “Dalam klausul perjanjian ini, tertulis bahwa siapa pun yang menyerahkan buku tabungan ini ke bank dengan status Nyonya Elena telah tiada, maka pemegang buku secara otomatis menjadi pemilik mutlak seluruh saham perusahaan. Dan pemilik baru berhak melakukan restrukturisasi total… termasuk memecat jajaran direksi saat ini.”

Mendengar kata ‘memecat’, sebuah kilatan dingin muncul di mataku. Rasa sakit hati saat dipermalukan di pemakaman tadi menguap, digantikan oleh tekad yang membaja.

Dua Hari Kemudian: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

Di ruang rapat utama lantai 20 gedung pencakar langit milik Villarama & Co, Ayah Ricardo sedang tertawa lebar bersama Imelda dan Marco. Mereka sedang merayakan keberhasilan mereka menyingkirkan Nenek Elena dan mendepakku dari silsilah keluarga.

“Hari ini adalah hari baru! Si tua bangka itu sudah mati, dan anak sialan itu pasti sedang mengemis di jalanan!” seru Marco sambil menuangkan sampanye.

“Benar. Akhirnya seluruh perusahaan ini jatuh ke tangan kita sepenuhnya,” sahut Imelda dengan senyum liciknya.

Tepat saat Ricardo mengangkat gelasnya untuk bersulang, pintu ganda ruang rapat dibanting terbuka.

Dua pengacara papan atas Jakarta, diikuti oleh Pak Broto dan barisan pengawal berjas hitam, masuk terlebih dahulu. Di belakang mereka, aku berjalan dengan anggun.

Tidak ada lagi gaun hitam pinjaman yang lusuh. Hari ini aku mengenakan setelan blazer sutra desainer berwarna putih gading, rambutku tersanggul rapi, dan tatapan mataku menghunus tajam.

“Clara?! Bagaimana bisa bocah miskin sepertimu masuk ke sini?! Keamanan! Usir dia!” teriak Ricardo, wajahnya memerah karena amarah.

Marco ikut berdiri, menunjuk wajahku. “Hei anak haram, tempatmu bukan di sini! Pergi sana sebelum aku memanggil polisi!”

Aku tidak bergeming. Salah satu pengacaraku, mengajukan map tebal berisi dokumen legalitas ke atas meja rapat, tepat di hadapan Ricardo.

“Harap jaga ucapan Anda, Tuan Ricardo,” ujar pengacaraku dengan nada dingin. “Mulai jam 10.00 pagi ini, Nona Clara Santos adalah pemilik sah atas 45% saham pengendali Villarama & Co, sekaligus pemilik gedung tempat Anda berdiri saat ini.”

“Apa?! Mustahil! Si tua itu tidak punya apa-apa selain buku tabungan sampah!” jerit Imelda, wajahnya seketika pucat melihat logo bank resmi dan tanda tangan murni mendiang Ibu mertuanya di dokumen tersebut.

Aku berjalan perlahan mendekati kursi utama direksi—kursi yang selama ini diduduki Ricardo dengan angkuh. Aku meletakkan tas kecilku di atas meja, lalu menatap ayah kandungku yang kini gemetar hebat saat membaca angka-angka di dokumen tersebut.

“Buku kecil yang Ayah lempar seperti sampah di atas peti jenazah Nenek… ternyata bernilai 650 miliar, Ayah,” bisikku, suaraku menggema di ruang rapat yang mendadak sunyi senyap. “Dan buku ‘sampah’ itulah yang sekarang memegang kendali atas hidup kalian.”

“Clara… nak… ini pasti ada kesalahpahaman,” suara Ricardo mendadak melembut, matanya menyiratkan ketakutan dan keserakan yang amat sangat. Dia mencoba meraih tanganku. “Kita ini keluarga. Ayah melakukan itu di pemakaman hanya untuk menguji mentalmu—”

“Cukup, Ricardo,” potongku, menghapus kata ‘Ayah’ dari kamus hidupku untuknya.

Aku memundurkan kursi direksi, lalu duduk di sana dengan santai, melipat kakiku.

“Berdasarkan hak prerogatif pemilik saham mayoritas tunggal, hari ini saya mengumumkan restrukturisasi,” kataku, menatap Ricardo, Imelda, dan Marco satu per satu.

“Pertama, Ricardo Santos dicopot dari jabatan CEO secara tidak hormat. Kedua, seluruh fasilitas perusahaan—termasuk rumah mewah yang kalian tempati dan mobil-mobil yang kalian pamerkan—atas nama Villarama & Co akan disita per jam dua siang ini juga. Dan ketiga…”

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, tersenyum sinis, meniru ekspresi yang Ricardo berikan padaku di pemakaman dua hari lalu.

“…Tim audit eksternal saya telah menemukan penggelapan dana perusahaan sebesar 50 miliar yang dilakukan oleh Marco selama dua tahun terakhir. Laporan polisi sudah dibuat. Jadi, Marco, bersiaplah mengenakan baju oranye.”

“Clara! Kamu tidak bisa melakukan ini pada saudaramu!” teriak Imelda histeris, berlutut di lantai sambil menangis, sementara Marco terduduk lemas dengan mata kosong.

“Dia bukan saudaraku. Dan kalian bukan keluargaku,” jawabku dingin.

Aku berdiri, meraih tas genggamku, lalu menatap Ricardo yang kini tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap, menyadari bahwa keangkuhannya telah menghancurkan dirinya sendiri.

Sebelum melangkah keluar dari ruangan itu untuk memulai hidup baruku sebagai wanita paling berpengaruh di perusahaan ini, aku menoleh sekilas ke arah jendela yang menampilkan langit Jakarta yang luas. Di dalam hati, aku berbisik:

“Nenek Elena… aku tidak takut lagi. Aku sudah merebut kembali semuanya. Istirahatlah dengan tenang.”