**Selama tiga puluh hari berturut-turut, setiap kali istriku menjemput putra kami, dia langsung masuk ke kamar mandi. Pada hari ke-31, aku bersembunyi di dalam lemari… dan dari celah kecil, aku melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhku mati rasa.**
Aku tidak pernah membayangkan akan sampai pada titik di mana aku harus bersembunyi di lemari rumahku sendiri, menahan napas seperti seorang penjahat, hanya untuk mengawasi istriku saat dia pulang.
Tapi hidup bisa berubah begitu cepat.
Kadang-kadang, tiga puluh hari saja sudah cukup.
Selama sebulan penuh, tingkah istriku, Camille, terasa berbeda.
Setiap hari, tepat pukul 16.15, dia menjemput putra kami yang berusia enam tahun, Nathan, dari program setelah sekolah di Jakarta.
Begitu mereka pulang…
dia hampir tidak berbicara denganku.
Baru masuk rumah, dia langsung naik ke lantai dua dan hampir berlari masuk ke kamar mandi.
Dia mengunci pintu.
Menyalakan keran.
Dan tetap di dalam selama hampir tiga puluh menit.
Awalnya, aku tidak terlalu memikirkannya.
Camille adalah seorang perawat di rumah sakit anak. Aku mengira dia hanya lelah. Mungkin stres karena pekerjaan. Mungkin hanya ingin sedikit ketenangan.
Namun semakin lama…
kebiasaan itu terasa seperti sebuah obsesi.
Dia tidak lagi menjawab pertanyaanku.

Dia melewatiku begitu cepat seolah sedang menghindar.
Kadang-kadang, dia bahkan tidak mengizinkan Nathan bercerita kepadaku sampai dia selesai berada di kamar mandi.
Dan yang paling menakutkan?
Nathan juga berubah.
Dia selalu diam saat perjalanan pulang.
Sering menatap kedua tangannya sendiri.
Dan ketika aku mencoba memeluknya saat mereka masuk rumah…
dia menjauh atau sedikit gemetar.
Seorang ayah tahu ketika ada sesuatu yang salah dengan anaknya.
Dan seorang suami tahu ketika istrinya menyembunyikan sesuatu.
Memasuki hari ke-25…
aku mulai meyakinkan diriku sendiri tentang kemungkinan terburuk.
Ada pria lain.
Perselingkuhan.
Ada sesuatu yang harus dia “bersihkan” setiap kali pulang dari sana.
Tapi Camille bukan wanita seperti itu.
Dia baik.
Lembut.
Sangat setia.
Tipe wanita yang menangis saat menonton drama dan membuat roti pisang untuk para tetangga lansia setiap kali badai datang.
Sudah sepuluh tahun kami bersama.
Dialah yang menopangku saat aku kehilangan pekerjaan selama masa pandemi.
Jadi apa yang sebenarnya dia sembunyikan?
Memasuki hari ke-29, aku hampir tidak bisa tidur.
Dadaku selalu terasa sesak.
Tanganku gemetar setiap kali membuat kopi di pagi hari.
Bahkan rekan-rekan kerjaku menyadarinya.
“Bro, kamu sakit?”
Masalahku bukan flu.
Melainkan ketakutan.
Takut menemukan sesuatu yang tidak sanggup kuterima.
Lalu tibalah hari ke-31.
Dan aku melakukan sesuatu yang pernah kujanjikan tidak akan pernah kulakukan.
Aku pulang lebih awal dari kantor.
Mobilku kuparkir dua rumah dari rumah kami agar tidak mencurigakan.
Aku masuk dengan diam-diam.
Nathan belum pulang.
Aku masih punya waktu.
Aku berdiri di depan kamar kami.
Merasa sangat rendah.
Sangat memalukan.
Namun aku sudah putus asa.
Perlahan aku membuka lemari.
Masuk ke dalam.
Dan membiarkan pintunya sedikit terbuka agar bisa bernapas sekaligus mengintip melalui celah kecil.
Aku menunggu.
Tepat pukul 16.17, pintu depan terbuka.
Aku langsung mendengar suara Nathan.
Dia dengan antusias bercerita tentang gambar yang dibuatnya di sekolah.
Tapi Camille…
terdengar seperti sedang melamun.
Aku mendengar suara kunci.
Langkah kaki menaiki tangga.
Cepat.
Tergesa-gesa.
Seolah ketakutan.
“Nak, masuk ke kamarmu dulu ya? Mommy sebentar saja.”
Nada suara itu.
Nada yang sama selama tiga puluh hari terakhir.
Waktunya kamar mandi lagi.
Dia masuk ke kamar.
Aku mendengar napasnya yang tidak teratur.
Ada sesuatu yang diletakkan di atas tempat tidur.
Seperti tas.
Atau handuk.
Jantungku berdetak begitu keras hingga aku takut dia bisa mendengarnya.
Lalu…
dia berjalan ke arah lemari.
Aku memejamkan mata.
Namun dia tidak membukanya.
Dia hanya mengambil handuk bersih dari rak di samping.
“Mommy sebentar ya, sayang,” teriaknya kepada Nathan.
Langkah kaki.
Pintu kamar mandi tertutup.
**KLIK.**
Aku mendengar kuncinya diputar.
Aku menghitung sampai sepuluh.
Perlahan.
Lalu aku keluar dari lemari.
Diam-diam berjalan ke pintu kamar mandi dan menempelkan telingaku.
Terdengar suara air.
Suara seseorang membongkar sesuatu.
Lalu…
isak tangis.
Seluruh tubuhku membeku.
Dia menangis?
Kemudian…
aku mendengar suara plastik berdesir.
Suara ritsleting.
Seperti seseorang melepas perekat atau plester.
Dan samar-samar aku mendengar Camille berbisik:
“Tolong… jangan terjadi lagi hari ini…”
Tulang belakangku terasa dingin.
Apa maksudnya “lagi”?
Aku tidak sanggup menahan diri.
Aku langsung memutar gagang pintu dan mencoba membukanya.
Terkunci.
“Camille!” teriakku sambil mengetuk keras. “Buka pintunya. Sekarang juga.”
Sunyi.
Lalu terdengar tarikan napas panjang dan tajam.
“R-Renzo? K-Kenapa pulang cepat?”
“Buka pintunya.”
“Jangan dulu… tolong… beri aku lima menit saja!”
“Tiga puluh hari, Camille!” bentakku. “Sudah tiga puluh hari aku memberimu waktu! Buka pintu ini atau aku akan memanggil polisi!”
Mendadak semuanya sunyi.
Lalu…
**KLIK.**
Pintu kamar mandi perlahan terbuka.
Dan apa yang kulihat di hadapanku…
membuat seluruh tubuhku mati rasa.
Camille berdiri di depan cermin, gemetar dan menangis.
Di wastafel…
berserakan puluhan kapas berlumuran darah.
Perban.
Obat-obatan.
Dan di samping bak mandi…
putra kami, Nathan, duduk diam dengan kepala tertunduk.
Perlahan Nathan menggulung lengan seragamnya.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Kedua lengannya penuh memar.
Bekas jari-jari tangan.
Seolah seseorang mencengkeramnya dengan sangat kuat setiap hari.
Aku tidak bisa bernapas.

“A-Apa ini…?”
Camille langsung menangis tersedu-sedu.
Dengan tubuh gemetar, dia mengucapkan kalimat yang menghancurkan duniaku dalam sekejap:
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya kepadamu… tapi guru Nathan melakukan sesuatu terhadap anak kita…”
Pernyataan Camille runtuh bersamaan dengan air matanya yang tumpah ruah. Detik itu juga, ruang kamar mandi yang sempit terasa seperti kehabisan oksigen.
Aku berlutut di depan Nathan, meraih kedua lengan kecilnya yang dipenuhi memar kebiruan. Amarah yang tadinya membakar dadaku karena mengira ada perselingkuhan, kini meledak menjadi insting perlindungan seorang ayah yang luar biasa dahsyat.
“Siapa, Camille?! SIAPA?!” suaraku menggelegar, membuat Nathan sedikit tersentak. Aku langsung menurunkan nada suaraku, memeluk putraku erat-erat sambil membisikkan kata maaf, lalu menatap Camille dengan mata memerah.
Rahasia di Balik Pintu Kamar Mandi
Camille bersimpuh di sampingku, tangannya yang gemetar menggenggam jemariku.
“Pak kepala sekolah yang baru, Renzo… Pak Baskoro,” bisik Camille dengan suara parau. “Tiga puluh satu hari yang lalu, dia memanggilku ke ruangannya. Dia bilang dia menemukan Nathan ‘mencuri’ soal ujian di ruang guru. Itu fitnah, Renzo! Nathan tidak tahu apa-apa!”
“Lalu kenapa kamu tidak bicara denganku? Kenapa memar ini—”
“Karena dia mengancam akan menghancurkan kita!” Camille menjerit pelan, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar ke luar. “Dia tahu aku bekerja di rumah sakit anak di bawah yayasan yang sama dengan sekolah Nathan. Dia bilang, kalau aku melapor atau membuat keributan, dia akan membuat Nathan dikeluarkan dengan catatan kriminal, dan dia akan memastikan izin praktis keperawatanku dicabut.”
Camille menarik napas pendek, dadanya naik turun karena kepanikan.
“Setiap hari, setelah bel pulang, Baskoro menahan Nathan di ruangannya dengan alasan ‘bimbingan disiplin’. Di sana… dia mencengkeram tangan Nathan, menekannya ke meja, mengintimidasinya agar tidak bicara kepadamu. Baskoro bilang, kalau Nathan mengadu pada Papa, Papanya akan masuk penjara.”
Itulah alasan kenapa Nathan selalu gemetar setiap kali aku mencoba memeluknya saat pulang. Anak itu takut sentuhanku akan menyakiti lengannya yang cedera, dan dia ketakutan setengah mati bahwa kehadiranku akan membahayakanku sendiri.
“Lalu kenapa setiap hari kamu langsung ke kamar mandi?” tanyaku, air mata kini mengalir di pipiku.
“Untuk mengobati lukanya, Renzo. Menyamarkan memarnya dengan kompres es dan kosmetik sebelum kamu melihatnya. Aku… aku sangat bodoh dan ketakutan. Aku takut kamu akan seliar ini dan mendatangi sekolah, lalu Baskoro benar-benar menghancurkan keluarga kita. Aku hanya ingin melindungi kalian dengan caraku sendiri… tapi aku gagal.”
Rencana yang Matang
Aku menangkup wajah istriku, lalu beralih mencium kening Nathan.
“Kamu tidak gagal, Camille. Kamu sudah bertahan. Tapi mulai hari ini, biar aku yang maju,” kataku dengan suara yang sangat tenang—ketenangan yang lahir dari kemarahan yang teramat dalam.
Aku tidak langsung mendatangi sekolah hari itu. Sebagai seorang pria, aku tahu bahwa mendatangi Baskoro dengan kepalan tangan kosong hanya akan membuatnya menggunakan hukum untuk menjatuhkanku. Aku harus bermain cantik.
Malam itu, setelah Nathan tertidur, kami mengumpulkan semua bukti.
- Kami memotret setiap senti memar di lengan Nathan secara detail.
- Keesokan paginya, aku membawa Nathan ke rumah sakit lain untuk melakukan visum resmi, memastikan ada dokumen medis legal yang tidak bisa diganggu gugat oleh relasi Baskoro.
- Aku juga menghubungi seorang teman lama yang bekerja di dinas pendidikan dan seorang pengacara perlindungan anak.
Hari ke-33 adalah hari perhitungan.
Hari Pembalasan
Pukul 15.45, lima belas menit sebelum jam pulang sekolah, aku berjalan melewati koridor sekolah Nathan. Tidak ada Camille. Kali ini, aku yang datang.
Tanpa mengetuk pintu, aku mendobrak ruang kepala sekolah.
Baskoro, seorang pria paruh baya dengan pakaian necis yang menyembunyikan jiwa monsternya, mendongak kaget. Di sudut ruangan, Nathan sedang berdiri dengan tubuh gemetar, sementara tangan Baskoro baru saja hendak mencengkeram bahu putraku.
“Pak Renzo? Ada apa ini? Anda tidak sopan—”
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahangnya, membuat Baskoro tersungkur menghantam meja kerjanya. Vas bunga pecah, dokumen berserakan.
“Berani kamu menyentuh putraku lagi, kuberi tahu kamu bagaimana rasanya tidak bisa berjalan seumur hidup,” desisku, berdiri di antara dia dan Nathan.
Baskoro memegangi rahangnya yang berdarah, mencoba tersenyum sombong. “Anda pikir Anda siapa? Saya bisa memenjarakan Anda atas penganiayaan! Dan istri Anda… besok dia akan kehilangan pekerjaannya!”
Aku tidak membalas ancamannya. Aku hanya merogoh saku jaket dan mengeluarkan ponselku yang sedang tersambung dalam panggilan suara yang dialihkan ke pengeras suara eksternal (speakerphone).
Dari balik ponsel, terdengar suara tegas: “Petugas, silakan masuk. Bukti awal dan saksi sudah cukup.”
Pintu ruangan terbuka lebar. Dua petugas kepolisian berseragam bersama perwakilan dari Komisi Perlindungan Anak masuk ke dalam ruangan. Di belakang mereka, ada tiga orang jurnalis dari media berita lokal yang sudah kubayar untuk mengawal kasus ini agar tidak bisa “dibeli” oleh uang Baskoro.
Wajah Baskoro seketika berubah pucat pasi.
“Bapak Baskoro, Anda ditahan atas dugaan kekerasan terhadap anak di bawah umur dan pengancaman,” ujar petugas polisi sambil memborgol kedua tangannya di depan para staf sekolah yang mulai berkerumun di koridor.
Baskoro menatapku dengan mata penuh kilatan dendam saat diseret keluar, namun aku hanya menatapnya kosong. Dia sudah selesai. Dengan laporan visum, kesaksian Nathan yang didampingi psikolog, serta liputan media yang masif, yayasan sekolah langsung memecatnya malam itu juga untuk menyelamatkan nama baik mereka. Pihak rumah sakit tempat Camille bekerja bahkan mengirimkan permohonan maaf resmi dan menjamin posisi Camille aman.
Kehangatan yang Kembali
Sore itu, tepat pukul 16.15, kami bertiga pulang ke rumah bersama.
Tidak ada lagi langkah kaki tergesa-gesa menaiki tangga. Tidak ada lagi suara pintu kamar mandi yang dikunci dari dalam. Tidak ada lagi suara air keran yang dinyalakan untuk menyamarkan isak tangis.
Di ruang tamu yang hangat, aku duduk di sofa. Nathan berjalan menghampiriku, tidak lagi menatap kedua tangannya dengan ketakutan.
Perlahan, lengan kecilnya melingkari leherku. Dia memelukku erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Terima kasih, Papa,” bisiknya pelan.
Camille duduk di samping kami, air matanya menetes lagi, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan kelegaan yang luar biasa. Aku merangkul mereka berdua, berjanji di dalam hati bahwa pintu rumah kami tidak akan pernah lagi menjadi tempat untuk bersembunyi dari rasa sakit, melainkan tempat di mana mereka akan selalu merasa aman.