“Dina, tolong buatkan reservasi untuk jamuan bisnis kita besok.”
Di kehidupan sebelumnya, ketika seorang anak magang menggunakan AI untuk melakukan reservasi, aku dengan baik hati mengingatkannya bahwa AI tidak bisa melakukan pemesanan langsung ke restoran-restoran eksklusif seperti itu.
Akibatnya, karena ia baru mencoba memesan menjelang jam pulang kantor, seluruh tempat sudah penuh.
Dia langsung berubah sikap dan membuat keributan di kantor:
“Kalau saja Bu Clara tidak melarang saya menggunakan AI, pasti kita sudah dapat reservasi! Sekarang kontrak ini gagal gara-gara dia!”
Tunanganku dan rekan-rekan kantor ikut menyalahkanku.
“Kenapa AI tidak bisa?”
“Dia benar! Semua kerugian proyek ini harus ditanggung Clara!”
Di tengah kekacauan itu, tunanganku mendorongku dari lantai atas gedung kantor.
Aku jatuh hingga tewas.
Saat membuka mata lagi, aku kembali ke saat ketika Dina sedang menggunakan AI untuk membuat reservasi.
Kali ini, aku tidak akan menghentikannya.
Biarkan saja dia menyuruh AI bekerja.
Aku ingin melihat bagaimana AI membantunya memesan restoran dan menegosiasikan kontrak dengan klien.
1
“Teman-teman, lihat ini!”
“AI benar-benar luar biasa!”
“Aku cuma bilang ingin ruang VIP untuk delapan orang dengan pemandangan taman di Hotel Mulia Jakarta besok malam, dan dalam satu detik langsung terkonfirmasi!”
Dina, gadis muda berambut kuncir kuda, memamerkan layar ponselnya kepada para peserta magang lainnya.
Di layar tertulis:
【Reservasi ruang VIP untuk 8 orang di Hotel Mulia Jakarta pada pukul 18.00 besok telah berhasil dikonfirmasi. Harap datang tepat waktu.】
Aku berdiri di ambang pintu kantor.
Punggungku seakan masih merasakan rasa sakit saat terjatuh dari gedung di kehidupan sebelumnya.
Aku mengepalkan tangan erat hingga kuku menusuk telapak tangan.
Dina lalu mengirimkan tangkapan layar itu ke grup departemen.
Pujian langsung berdatangan:
【Hebat sekali, Dina! Dengan AI, efisiensi kerja kita meningkat dua kali lipat!】
【Generasi muda memang luar biasa. Tidak seperti sebagian orang yang masih berpikiran kuno.】
Belum sempat aku selesai membaca, seseorang sudah menandai namaku.
Itu adalah Adrian Wijaya.
Tunanganku.
Sekaligus Wakil Direktur perusahaan.
【Adrian Wijaya: @Clara Santoso, kamu juga harus belajar dari anak-anak muda. Sekarang zamannya AI. Jangan terlalu kolot sampai tertinggal zaman.】
Nada sindiran itu persis seperti kehidupan sebelumnya.
Dina segera menimpali dengan nada pura-pura polos:
【Dina: Kalau Bu Clara memang tidak suka saya menggunakan AI, lain kali saya tidak akan memakainya lagi. Kalau negosiasi besok gagal, saya yang akan bertanggung jawab. Jangan sampai tim ikut terkena masalah ya~】
Setiap kata yang dia tulis seolah menggambarkanku sebagai atasan yang sempit pikiran.
Di kehidupan sebelumnya aku berdebat.
Dan akhirnya aku yang disalahkan.
Namun kali ini hatiku sudah sedingin batu.
Aku mengetik balasan:
【Clara Santoso: Silakan gunakan metode apa pun yang kamu mau. Tapi kalau kontrak ini gagal, semua tanggung jawab dan kerugian ada di tanganmu sendiri.】
Grup langsung sunyi.
Bahkan Adrian tidak membalas lagi.
Aku membuka chat pribadi Adrian dan mengirim satu kalimat:
【Kita putus.】
Setelah itu aku melepas cincin tunangan yang diberikannya.
Aku berjalan ke tempat sampah kantor.
Lalu menjatuhkannya ke dalam.
Cling!
Suara logam yang nyaring membuat seluruh kantor terdiam.
Aku memblokir Adrian dari semua kontak.
Kemudian aku diam-diam menggunakan akun pribadiku untuk membuat reservasi asli di Hotel Mulia.
Aku membayar uang muka, mencatat seluruh detail klien, lalu menghapus semua riwayat transaksi.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan muncul di grup:
【Adrian Wijaya: @Clara Santoso, rapat besok akan dipimpin oleh Dina. Kamu cukup membantu dari belakang.】
Aku hanya membalas:
【Baik.】
2
Keesokan paginya, saat masuk ke kantor, aku melihat Dina sedang duduk di kursiku.
Dia bahkan menggunakan komputerku seolah-olah ruangan itu miliknya.
Aku berjalan mendekat dan berkata dengan dingin:
“Ambil barang-barangmu dan keluar dari kantorku.”
Mata Dina langsung membesar.
“Tapi Pak Adrian sudah mengizinkan saya duduk di sini!”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Pak Adrian bukan pemilik perusahaan.”
“Dan kantor ini masih berada di bawah wewenangku.”
Wajahnya langsung memerah.
Namun sebelum dia sempat membalas, telepon dari klien utama kami masuk.
Aku melirik layar.
Jamuan bisnis akan dimulai dalam beberapa jam lagi.
Dan aku tahu persis…
Pertunjukan sebenarnya baru akan dimulai.

3
Pukul 17.30 sore.
Dina mengenakan blazer baru dan berdandan lebih rapi dari biasanya.
Adrian berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kebanggaan.
“Jangan gugup.”
“Setelah kontrak ini berhasil, aku akan mengusulkanmu menjadi karyawan tetap.”
Dina tersipu malu.
“Terima kasih, Pak Adrian.”
Seluruh tim berangkat menuju Hotel Mulia Jakarta.
Aku ikut berada di belakang rombongan.
Namun tidak seorang pun mengajakku berbicara.
Di mata mereka, aku hanyalah manajer kuno yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman.
Ketika sampai di hotel, Dina dengan percaya diri berjalan menuju meja resepsionis.
“Halo, saya memiliki reservasi ruang VIP atas nama PT Nusantara Capital.”
Resepsionis tersenyum sopan.
“Mohon tunggu sebentar.”
Ia mengetik beberapa saat.
Lalu senyumnya perlahan menghilang.
“Maaf, Bu.”
“Kami tidak menemukan reservasi atas nama perusahaan Anda.”
Senyum Dina membeku.
“Apa?”
“Tidak mungkin.”
“AI sudah mengonfirmasinya.”
Resepsionis terlihat bingung.
“AI?”
“Maaf, Bu. Hotel kami hanya menerima reservasi melalui sistem resmi, telepon, atau pembayaran uang muka.”
“Tidak ada reservasi yang tercatat.”
Wajah Adrian langsung berubah.
“Apa maksud Anda tidak ada reservasi?”
“Klien kami akan tiba lima belas menit lagi!”
Resepsionis menggeleng.
“Semua ruang VIP malam ini sudah penuh.”
Dina mulai panik.
“Mustahil!”
“AI bilang reservasinya berhasil!”
Resepsionis menjawab dengan tenang:
“AI tidak memiliki akses untuk memesan ruangan di sistem hotel kami.”
“Kemungkinan besar itu hanya simulasi jawaban otomatis.”
Suasana langsung hening.
Para rekan kerja saling memandang.
Wajah mereka pucat.
Karena semua orang akhirnya mengerti apa yang terjadi.
AI tidak pernah melakukan reservasi.
AI hanya memberi jawaban yang terdengar meyakinkan.
Dan Dina mempercayainya begitu saja.
4
Lima belas menit kemudian.
Klien utama kami tiba.
Dipimpin oleh Direktur Utama perusahaan investasi terbesar di proyek tersebut.
Begitu mengetahui tidak ada ruangan yang tersedia, ekspresi mereka langsung berubah dingin.
“Jadi Anda mengundang kami makan malam tanpa reservasi?”
“Kami terbang dari Surabaya untuk ini.”
“Apakah perusahaan Anda memang tidak profesional seperti ini?”
Adrian berkeringat dingin.
Dina hampir menangis.
“Kami… kami bisa menjelaskan…”
Namun tidak ada yang mau mendengar.
Klien langsung berbalik untuk pergi.
Pada saat itulah aku melangkah maju.
“Mohon tunggu sebentar.”
Semua mata langsung tertuju kepadaku.
Aku mengeluarkan ponsel.
Lalu menelepon seorang manajer hotel.
Beberapa detik kemudian, seorang pria berjas berlari keluar.
“Selamat malam, Bu Clara.”
“Semuanya sudah siap.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau begitu silakan antar tamu kita.”
Manajer hotel segera membungkuk.
“Dengan senang hati.”
Semua orang membeku.
Adrian menatapku dengan tidak percaya.
“Siap?”
Aku mengeluarkan bukti reservasi.
“Ruang VIP Orchid Hall.”
“Reservasi untuk delapan orang.”
“Dibayar penuh sejak kemarin.”
Wajah Dina langsung kehilangan seluruh warna.
“A-Anda sudah memesannya?”
“Tentu saja.”
Aku menatapnya tenang.
“Karena seseorang di perusahaan ini masih harus benar-benar bekerja.”
5
Malam itu.
Kontrak berhasil ditandatangani.
Nilainya mencapai lebih dari Rp85 miliar.
Setelah makan malam selesai, Direktur Utama klien berdiri dan mengangkat gelasnya.
“Terus terang, hari ini kami hampir membatalkan kerja sama.”
“Untung masih ada Manajer Clara.”
“Kalau tidak, kontrak ini tidak akan pernah terjadi.”
Semua orang menoleh ke arahku.
Tidak ada lagi senyum meremehkan.
Tidak ada lagi tatapan mengejek.
Yang ada hanya rasa malu.
Karena mereka akhirnya sadar.
Teknologi memang penting.
Tetapi kemampuan berpikir jauh lebih penting.
6
Keesokan harinya.
Dina dipanggil ke ruang HR.
Karena sesuai perjanjian tertulis di grup perusahaan, seluruh tanggung jawab atas kegagalan reservasi ada padanya.
Status magangnya langsung dihentikan.
Saat keluar dari kantor, matanya merah karena menangis.
“Bu Clara…”
“Aku cuma percaya AI.”
Aku menatapnya.
“Kesalahanmu bukan karena menggunakan AI.”
“Kesalahanmu adalah tidak melakukan verifikasi.”
“Teknologi adalah alat.”
“Bukan pengganti otak manusia.”
Dina terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak masuk perusahaan, ia benar-benar memahami arti profesionalisme.
7
Sementara itu, nasib Adrian jauh lebih buruk.
Dewan direksi mengetahui bahwa ia telah mengabaikan prosedur perusahaan hanya demi mendukung seorang peserta magang yang disukainya.
Selain itu, rekaman percakapan dan berbagai keputusan tidak profesionalnya mulai diperiksa.
Dalam waktu satu bulan.
Jabatannya sebagai Wakil Direktur dicabut.
Pada hari terakhirnya bekerja, ia datang ke ruanganku.
Wajahnya tampak jauh lebih tua.
“Clara…”
“Aku salah.”
“Bisakah kita mulai lagi dari awal?”
Aku menatap pria yang pernah menjadi tunanganku selama lima tahun.
Dulu aku mungkin akan menangis mendengar kata-kata itu.
Namun sekarang tidak lagi.
Aku tersenyum sopan.
Lalu meletakkan dokumen pengunduran dirinya di depannya.
“Adrian.”
“Aku berterima kasih karena hari itu kamu memilih berpihak pada orang lain.”
Ia terdiam.
“Karena kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah sadar.”
“Sadar apa?”
Aku menatapnya tenang.
“Sadar bahwa orang yang benar-benar menghargai diriku… seharusnya tidak pernah membuatku membuktikan nilainya sejak awal.”
Wajah Adrian langsung pucat.
Aku berdiri.
Membuka pintu ruanganku.
Sebuah tanda bahwa percakapan telah berakhir.
Beberapa menit kemudian, ia pergi membawa kotak barang pribadinya.
Sendirian.
Persis seperti saat ia meninggalkanku dulu.
Epilog
Setahun kemudian.
Aku dipromosikan menjadi Direktur Operasional.
Perusahaanku menjadi salah satu yang pertama mengintegrasikan AI secara resmi ke dalam sistem kerja.
Namun setiap karyawan baru selalu mendengar kalimat yang sama dariku:
“Gunakan AI semaksimal mungkin.”
“Tapi jangan pernah menyerahkan tanggung jawab berpikir kepadanya.”
Karena aku sudah melihat sendiri bagaimana seseorang bisa menghancurkan kariernya hanya karena terlalu percaya pada jawaban yang terdengar benar.
Di depan gedung kantor yang tinggi, aku memandang langit Jakarta yang cerah.
Ponselku bergetar.
Sebuah notifikasi masuk.
Sistem AI perusahaan mengirim laporan otomatis.
Aku membacanya lalu tersenyum.
Teknologi memang luar biasa.
Tetapi pada akhirnya, yang menentukan hasil tetaplah manusia yang menggunakannya.
Dan kali ini…
Aku tidak lagi takut tertinggal oleh masa depan.
Karena aku telah belajar cara berjalan berdampingan dengannya.