Aku selalu bermanja-manja padanya, terus mengikuti ke mana pun dia pergi, dan sering melontarkan berbagai rayuan. Namun, dia tetap dingin dan menjaga jarak.
Aku sempat mengira dia adalah tipe pria yang sama sekali tidak tertarik pada hubungan romantis.
Sampai suatu hari, tanpa sengaja aku melihat percakapan di ponselnya.
【Apa kamu tidak terganggu dengan wanita itu yang selalu menempel padamu? Bahkan setiap hari datang ke kantormu. Pakaiannya mencolok sekali.】
Dia menjawab:
【Lumayan mengganggu.】
Tenggorokanku langsung terasa kering.
Aku mengembalikan ponselnya ke tempat semula dan berpura-pura tidak melihat apa pun.
Ketika dia kembali dari rapat, aku segera berdiri.
“Aku pulang dulu.”
Tiba-tiba dia menggenggam pergelangan tanganku dan mengernyit.
“Bukannya tadi kamu bilang perutmu sakit dan ingin aku mengusapnya?”
1
Aku terdiam beberapa detik sebelum menarik tanganku perlahan.
“Aku sudah lebih baik, Om.”
“Mungkin tadi cuma salah makan.”
Pandangan Tristan Pratama jatuh ke tempat tanganku tadi berada.
Lalu dia menatap wajahku seolah sedang meneliti sesuatu.
Aku mengusap tengkukku dan berpura-pura lelah.
“Om juga tahu kan, lambungku memang sensitif. Arga dan teman-temannya juga tahu soal itu…”
Arga adalah keponakan Tristan.
Dan suami dari sahabatku.
Tristan tampak ragu.
Beberapa saat kemudian dia berkata dengan nada datar:
“Yakin sudah tidak sakit?”
“Jangan memaksakan diri.”
Aku mengangguk.
“Sudah tidak sakit lagi, Om.”
“…”
Napas Tristan sedikit tertahan.
Tatapannya menjadi gelap dan alisnya semakin berkerut.
“Apa?”
“Barusan kamu memanggilku apa?”
Sejak aku menyukainya, aku hampir tidak pernah memanggilnya dengan sebutan normal.
Kadang aku memanggilnya sayang.
Kadang baby.
Kadang langsung memanggil namanya.
Sebutan “Om” yang keluar dari mulutku hari ini terdengar sangat asing baginya.
Aku tersenyum santai.
“Om adalah pamannya Arga.”
“Arga adalah suami sahabatku.”
“Menurutku lebih sopan kalau aku memanggil Om.”
Padahal selama ini aku tidak pernah tahu apa itu sopan santun di hadapannya.
Mata Tristan sedikit bergetar.
Dia duduk kembali di kursi kantornya.
“Sesukamu.”
Aku segera mencari alasan untuk pergi.
Di belakangku, Tristan tetap duduk diam.
Tatapannya tertuju pada lipstik yang tertinggal di atas mejanya.
Rahangnya mengeras.
Dia baru saja hendak mengambilnya ketika pintu terbuka lagi.
Aku berlari masuk.
Mengambil lipstik itu.
“Hampir lupa.”
“Dadah, Om.”
“…”
Tristan memperhatikanku pergi terburu-buru.
Untuk pertama kalinya, wajahnya yang selalu tenang memperlihatkan emosi yang sulit ditebak.
Begitu keluar dari gedung kantornya, aku memegang dadaku.
Sesak sekali.
Sakit.
Lumayan mengganggu.
Empat kata itu terus terngiang di kepalaku.
Tidak bisa hilang.
Pria yang pernah terkena segelas wine di wajahnya dan masih tersenyum sambil berkata “tidak apa-apa”…
Ternyata menganggapku mengganggu?
Mungkin selama ini aku memang terlalu berlebihan.
Aku mendongak ke langit Jakarta yang mulai gelap.
Sejak kapan sebenarnya Tristan mulai merasa terganggu olehku?
2
Aku mengenal Tristan di pesta pernikahan sahabatku, Nadia.
Awalnya Nadia ingin pesta sederhana.
Namun suaminya, Arga, bersikeras membuat acara besar.
Karena tidak ingin aku kelelahan, Nadia bahkan tidak menjadikanku bridesmaid.
Dia memberiku kursi khusus di meja utama.
Baru saja aku duduk, seorang pria berjalan mendekat.
Meski hanya mengenakan setelan sederhana, tubuhnya terlihat sempurna.
Pinggang ramping.
Bahu lebar.
Lengan berotot.
Saat aku melihat wajahnya…
Aku langsung terpana.
Matanya tajam.
Hidungnya mancung.
Ada tahi lalat kecil di dekat sudut matanya.
Dan bibir tipis kemerahan yang membuat siapa pun ingin menciumnya.
Saat itu juga aku memutuskan.
Dia calon pacarku.
Kebetulan kursinya tepat di sampingku.
Aku langsung tersenyum lebar.
Memperkenalkan diri.
Menanyakan usia.
Dan apakah dia masih lajang.
Wajahnya tampak bingung.
Namun tetap menjawab dengan sopan.
“Tristan.”
“Dua puluh tujuh tahun.”
“Masih lajang.”
Begitu memastikan semua syarat terpenuhi, aku langsung mengeluarkan ponsel.
“Hebat!”
“Aku juga lajang!”
“Ayo berteman di WhatsApp, Om.”
Tristan sempat ragu.
Tetapi akhirnya tetap memindai kode QR-ku.
Ketika Nadia dan Arga selesai berkeliling menyapa tamu, aku baru mengetahui identitasnya.
Karena Arga memanggilnya:
“Om.”
Aku langsung menoleh ke Nadia.
“Keponakan.”
Nadia terdiam.
Dia melihat Tristan.
Lalu melihatku.
Sebagai sahabat terbaikku, dia langsung tahu apa yang sedang kupikirkan.
Namun bukannya mendukungku, dia justru memperingatkan dengan serius.
“Menurut Arga, Om Tristan itu sangat dingin.”
“Dia hampir tidak pernah tertarik pada hubungan romantis.”
“Umurnya sudah dua puluh tujuh tahun dan masih sendiri.”
“Kamu yakin?”
Tidak tertarik pada hubungan romantis?
Bukankah itu justru lebih menarik?
Sejak pesta pernikahan itu, aku mulai mengejarnya tanpa malu-malu.
Kadang sengaja menyentuh tangannya.
Lengannya.
Atau bahunya.
Bahkan ketika acara hampir selesai, aku merengek agar dia mengantarku pulang.
Setelah itu, aku semakin aktif menghubunginya.
【Om, aku pusing. Bisa tidak jangan terus muncul di pikiranku?】
Dia menjawab:
【Foto】
【Aku sudah memesankan teh hangat untuk mabukmu.】
【Om, badanku panas sekali. Di tempat Om dingin tidak? Boleh aku peluk?】
Dia menjawab:
【Mungkin kamu demam. Minum obat.】
【Om, aku merasa pendengaranku terganggu. Bisa telepon aku supaya aku mendengar suara Om?】
Dia mengirim voice note.
Hanya dua kata.
“Tidak bisa.”
Suaranya dingin.
Tetapi justru membuatku semakin tidak bisa berhenti memikirkannya.
Meskipun dia selalu lambat membalas pesan karena sibuk bekerja, aku tidak pernah peduli.
Aku hanya senang bisa mengganggunya.
Namun sekarang aku mulai berpikir.
Mungkin dia lambat membalas bukan karena sibuk.
Mungkin karena dia memang merasa terganggu olehku.
3
Begitu turun dari taksi, Nadia meneleponku.
“Aku mau cerai!”
Aku memijat pelipisku.
“Alasan apa lagi kali ini?”
“Dia sudah tidak mencintaiku.”
Ini sudah ketiga kalinya bulan ini.
Dan alasannya selalu sama manisnya.
“Setiap hari dia memelukmu.”
“Menghubungimu terus.”
“Masih bilang tidak cinta?”
Namun Nadia tidak mendengarkan.
“Pokoknya datang sekarang!”
“Atau aku yang datang ke rumahmu!”
“Atau kita minum saja di bar!”
“…”
Jadi tujuan sebenarnya memang minum.
Saat tiba di bar, ternyata bukan hanya Nadia yang ada di sana.
Teman-teman kampus.
Senior.
Bahkan Arga yang katanya mau diceraikan juga ada.
Aku sadar kalau aku sudah dijebak.
Aku sebenarnya tidak suka suasana bar.
Namun Nadia selalu memaksaku ikut.
Aku duduk di pojok sambil melihat orang-orang menari seperti orang gila.
Lalu tiba-tiba teringat saat terakhir kali aku datang ke tempat ini.
Saat itu aku bersama Tristan.
Awalnya aku tidak mau datang.
Namun Nadia berkata bahwa jika aku datang, dia akan memanggil Tristan.
Aku langsung setuju.
Aku bahkan mengenakan gaun paling seksi yang kupunya.
Dan berjanji membuat Tristan terpesona.
Begitu melihatnya masuk, aku langsung menempel padanya seperti magnet.
“Om, kebetulan sekali!”
Tristan hanya melirikku.
Menyesap minumannya.
Lalu menjawab singkat.
“Hm.”
Aku tersenyum dan memegang lengannya.
“Kenapa dingin sekali?”
“Apa Om punya wanita lain?”
“Tidak.”
“Om, aku baru periksa ke dokter kemarin.”
Tristan langsung menatapku dari kepala sampai kaki.
“Kenapa?”
“Kamu sakit?”
Aku mengangguk cepat.
“Iya.”
“Aku susah tidur.”
“Dokter bilang aku harus tidur dalam pelukan Om.”
“Boleh?”
“…”
Dia mendorong dahiku dengan ujung jarinya.
“Kalau mau tidur yang nyaman, tidur di kasur.”
Tidak peduli seberapa keras aku merayunya.
Dia selalu seperti gunung es yang tidak bisa mencair.
Dulu aku tidak pernah memikirkan perasaannya.
Aku hanya merasa semua itu menyenangkan.
Sekarang aku mulai bertanya-tanya.
Mungkin sejak dulu dia memang sudah merasa terganggu.
4
Suasana di bar semakin ramai.
Aku mulai sedikit mabuk.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Sebuah pesan WhatsApp masuk.
Nama pengirimnya adalah:
[Tristan (Versi Om)]
Nama itu baru saja kuganti sore tadi.
Sebagai pengingat untuk diriku sendiri.
Bahwa mulai sekarang…
Aku seharusnya berhenti berharap.

5
Tanganku sedikit gemetar saat membuka pesan itu.
Hanya ada satu kalimat.
【Di mana kamu?】
Biasanya, aku akan langsung membalas dalam hitungan detik.
Bahkan mungkin mengirim sepuluh pesan tambahan.
Namun kali ini aku hanya menatap layar tanpa menjawab.
Tidak lama kemudian, pesan kedua masuk.
【Sudah pulang?】
Aku tetap diam.
Beberapa menit kemudian, panggilan masuk.
Nama Tristan berkedip di layar.
Aku menolak panggilan itu.
Untuk pertama kalinya sejak menyukainya.
Di sisi lain ruangan, Nadia yang sedang bersandar di bahu Arga tiba-tiba melirikku.
“Kamu tidak angkat?”
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Tidak.”
Nadia langsung duduk tegak.
Seolah baru melihat hantu.
“Kamu menolak telepon Om Tristan?”
Aku mengangguk.
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Akhirnya otakmu bekerja juga.”
Aku memutar mata.
Namun entah kenapa, dadaku tetap terasa sesak.
Mungkin karena selama bertahun-tahun aku sudah terbiasa mengejar seseorang.
Dan sekarang aku sedang belajar melepaskannya.
6
Malam semakin larut.
Aku keluar dari bar lebih dulu.
Begitu berjalan ke pinggir jalan untuk mencari taksi, sebuah mobil hitam berhenti di depanku.
Jendela perlahan terbuka.
Wajah yang sangat kukenal muncul.
Tristan.
Aku langsung membuang pandangan.
“Aku sudah pesan taksi.”
“Batalkan.”
“Aku tidak mau merepotkan Om.”
Begitu kata-kata itu keluar, suasana langsung membeku.
Tatapan Tristan berubah.
Sangat tajam.
“Aku bilang masuk.”
Biasanya aku pasti menurut.
Tapi malam itu aku hanya tersenyum.
“Om tidak perlu khawatir.”
“Aku sudah dewasa.”
“Dan lagi…”
Aku berhenti sejenak.
“Lumayan mengganggu kalau terus merepotkan Om.”
Wajah Tristan langsung menegang.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, ekspresinya benar-benar berubah.
“Apa maksudmu?”
Aku tertawa kecil.
“Tidak ada.”
“Aku cuma sadar diri.”
Lalu aku berbalik.
Namun baru dua langkah berjalan, pergelangan tanganku ditarik.
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
Saat menoleh, Tristan sudah berdiri di depanku.
Rahangnya mengeras.
Matanya gelap.
“Sekarang jelaskan.”
7
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu mengeluarkan ponselnya yang pernah tertinggal di kantornya beberapa hari lalu.
“Aku membaca chat itu.”
Tubuh Tristan langsung membeku.
“Aku tidak sengaja melihatnya.”
“Tapi aku melihatnya.”
Aku tersenyum pahit.
“Jadi tidak perlu khawatir.”
“Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Untuk beberapa detik, tidak ada suara.
Lalu…
Tristan tiba-tiba tertawa.
Aku mengernyit.
Karena itu pertama kalinya aku melihatnya tertawa seperti itu.
Bukan senyum tipis.
Bukan senyum sopan.
Tapi benar-benar tertawa.
“Aku pusing.”
Katanya sambil memijat pelipis.
“Gara-gara empat kata itu?”
Aku membeku.
Tristan mengeluarkan ponselnya.
Membuka percakapan yang sama.
Lalu menyerahkannya kepadaku.
“Scroll ke bawah.”
Aku menunduk.
Lalu membaca lanjutan pesan yang dulu tidak sempat kubaca.
Temannya bertanya:
【Kalau dia begitu mengganggumu, kenapa tidak usir saja?】
Jawaban Tristan ada tepat di bawahnya.
【Karena kalau dia tidak datang ke kantorku sehari saja, aku malah tidak bisa fokus bekerja.】
Jantungku berhenti berdetak.
Tanganku gemetar.
Aku terus membaca.
【Dia berisik.】
【Menyebalkan.】
【Suka membuat masalah.】
【Tapi setiap kali melihatnya tersenyum, suasana hatiku jadi lebih baik.】
【Jadi biarkan saja.】
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Mataku mulai panas.
Ternyata…
Aku hanya membaca setengah percakapan.
Dan menghabiskan berhari-hari menyakiti diri sendiri karena kesalahpahaman itu.
8
“Aku tidak mengerti.”
Suaraku serak.
“Kalau begitu kenapa selama ini Om selalu dingin?”
Tristan diam cukup lama.
Lalu menjawab pelan.
“Karena aku takut.”
Aku menatapnya.
Pria yang selama ini terlihat sempurna.
Tenang.
Dewasa.
Tidak tergoyahkan.
Ternyata juga bisa takut.
“Aku tujuh tahun lebih tua darimu.”
“Kamu sahabat istri keponakanku.”
“Aku tidak pernah berpikir kamu serius.”
“Aku kira suatu hari nanti kamu akan bosan.”
Mataku langsung memerah.
“Jadi Om sengaja menjauh?”
“Iya.”
“Dan berhasil?”
Tristan tersenyum pahit.
“Tidak.”
Dia melangkah mendekat.
Sangat dekat.
“Dalam tiga tahun terakhir.”
“Aku memeriksa ponselku lebih sering daripada sebelumnya.”
“Hanya untuk melihat apakah ada pesan darimu.”
Dadaku langsung runtuh.
Semua pertahanan yang susah payah kubangun selama beberapa hari terakhir lenyap begitu saja.
9
Enam bulan kemudian.
Aku menghadiri pesta keluarga bersama Tristan.
Kali ini bukan sebagai tamu.
Melainkan sebagai pacarnya.
Saat makan malam, Arga tiba-tiba tertawa.
“Luar biasa.”
“Dulu setiap hari panggil Om.”
“Sekarang sudah panggil sayang.”
Nadia hampir tersedak minumannya karena tertawa.
Wajahku langsung memerah.
Sementara Tristan hanya dengan tenang menggenggam tanganku di bawah meja.
Tidak membantah.
Tidak menyangkal.
Sama sekali tidak malu.
Ketika semua orang sedang bercanda, aku diam-diam menoleh ke arahnya.
Pria yang dulu selalu kupikir tidak mungkin menyukaiku.
Pria yang membuatku mengejar begitu lama.
Seolah merasakan tatapanku, Tristan ikut menoleh.
“Lihat apa?”
Aku tersenyum.
“Tidak ada.”
Aku hanya tiba-tiba teringat satu hal.
Kadang-kadang dalam cinta, hal yang paling menyakitkan bukanlah ditolak.
Melainkan berhenti membaca cerita di tengah jalan.
Karena jika hari itu aku tidak membaca sampai akhir…
Mungkin aku akan kehilangan orang yang diam-diam mencintaiku sama dalamnya seperti aku mencintainya.
Untung saja…
Kali ini takdir memberiku kesempatan untuk membaca halaman berikutnya.