Andi Pratama akhirnya menyadari bahwa aku tidak lagi meminta pendapatnya untuk setiap hal dalam hidupku.

Ketika perusahaan membuka kesempatan untuk penugasan jangka panjang di luar kota, aku menandatangani dokumen persetujuan bahkan sebelum teringat bahwa aku belum memberi tahu dirinya.

Ketika sahabatku mengundangku ke pesta pernikahannya dan memintaku datang bersama pacarku, aku hadir sendirian dan hanya meninggalkan amplop tebal berisi hadiah uang.

Bahkan ketika aku harus menjalani operasi.

Aku mendaftar rumah sakit dan mengatur jadwal operasi sendiri tanpa mengganggunya sedikit pun.

Andi, yang berprofesi sebagai dokter, langsung mengernyit saat mengetahui hal itu.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit? Berikan rekam medisnya padaku, aku yang akan mengurus jadwalnya.”

Aku menjawab spontan, sesuai kebiasaanku sekarang.

“Aku bisa mengurusnya sendiri. Tidak perlu repot-repot. Terima kasih.”

Begitu kalimat itu keluar, kami berdua sama-sama terdiam.

Karena baru dua minggu yang lalu…

Di depan orang lain, dia masih menyebutku sebagai gadis manja yang terlalu bergantung padanya.

Mulai dari memilih pakaian untuk kencan sampai menentukan menu makan siang, aku selalu bertanya kepadanya terlebih dahulu.

“Bukankah operasinya bisa ditunda beberapa hari?”

Dokter yang menangani mengembalikan berkas medis sambil tampak heran.

“Setahuku Dokter Andi besok sudah pulang dari perjalanan dinas. Kamu bisa menunggu sampai dia kembali.”

Aku menyelanya pelan.

“Ini urusanku sendiri. Aku bisa mengatasinya.”

Dokter itu terlihat terkejut.

Memang wajar.

Di rumah sakit ini, semua orang mengenalku sebagai pacar Dokter Andi yang manja. Bahkan saat hanya pilek atau sakit kepala, aku selalu mencari alasan agar dirawat olehnya.

Begitu keluar dari ruang konsultasi, aku langsung bertemu sosok yang sangat familiar.

Andi berdiri di sana dengan koper di tangannya.

Sepertinya baru tiba dari bandara dan langsung menuju rumah sakit.

Di belakangnya, seperti biasa, ada Alya Putri.

Di atas jas dokternya, tersampir mantel kasmir hitam milik Andi.

Mantel yang kubelikan untuknya saat ulang tahun hubungan kami yang ketiga.

Andi mengerutkan kening.

“Kenapa kamu ada di sini? Sakit lagi?”

Lagi.

Nada tidak sabar yang begitu akrab dan menyakitkan.

Seolah-olah aku hanyalah masalah yang harus segera diselesaikan.

Dia mengambil rekam medis dari tanganku, membaca beberapa baris, lalu berkata:

“Besok aku ada jadwal.”

“Penyakitmu tidak terlalu serius. Tunda saja operasinya minggu depan. Nanti aku temani.”

Aku menjawab dengan tenang.

“Aku bisa mengurusnya sendiri. Tidak perlu repot-repot. Terima kasih.”

Sikapku yang terlalu formal membuat Andi membeku sesaat.

Tentu saja.

Karena aku sudah bukan diriku yang dulu.

Dulu, bahkan ketika jariku terluka karena kertas, aku akan mencarinya untuk meminta perhatian.

Saat memilih pakaian.

Saat menentukan makanan.

Saat mengambil keputusan besar maupun kecil.

Aku selalu bertanya kepadanya.

Namun sekarang, aku akan menjalani operasi seorang diri tanpa memberitahunya.

Jika kami tidak bertemu di rumah sakit hari ini, mungkin pria yang selama ini kusebut pacar bahkan tidak akan tahu bahwa aku akan masuk ruang operasi besok.

Saat mengambil kembali rekam medisku, tanpa sengaja aku menyenggol kotak obat yang dipegang Andi hingga jatuh ke lantai.

Tulisan pada kemasannya langsung terlihat jelas.

Pil kontrasepsi.

“Jangan salah paham.”

Andi memungut kotak itu dan menjelaskan dengan nada datar.

“Alya sering mengalami nyeri haid berat. Obat ini biasa dipakai untuk mengurangi gejalanya.”

Alya segera menarik mantel di bahunya sambil tersenyum canggung.

“Maaf, Kak Siska. Sebenarnya Dokter Andi harusnya sudah pulang ke rumah. Tapi aku sedang kesakitan, jadi beliau menemaniku membeli obat.”

Dia berhenti sejenak lalu menatapku dengan kagum.

“Andai aku bisa setangguh dan semandiri Kak Siska. Jadi aku tidak perlu merepotkan Dokter Andi seperti ini.”

Aku langsung teringat.

Suatu kali aku mengalami sakit perut hebat dan mengirim pesan kepada Andi untuk bertanya harus pergi ke poli mana.

Apa jawaban dokter neurologi termuda dan paling terkenal di rumah sakit ini?

‘Aku tidak tahu.’

Ketika aku mengeluh bahwa dia terlalu cuek, dia hanya memijat pelipisnya dengan lelah lalu berkata:

“Masalah sekecil itu tidak bisa kamu cari sendiri di internet?”

“Kamu sudah dewasa. Belajarlah mandiri.”

“Aku bukan orang tuamu. Aku tidak punya kewajiban mengajarkan semua hal dasar dalam hidupmu.”

Lucu sekali.

Kepada pacarnya sendiri dia begitu pelit perhatian.

Namun kepada dokter junior yang baru masuk, dia rela mengantar ke rumah sakit dan mencarikan obat.

Kalau orang lain melihatnya, mereka pasti mengira Alyalah pacarnya.

Jika ini terjadi beberapa bulan lalu, mungkin aku sudah marah besar.

Namun sekarang aku hanya menjawab singkat.

“Oh.”

Lalu dengan nada tenang aku berkata:

“Kalau begitu jangan cuma beli obat.”

“Kamu juga bisa memijat titik akupresurnya, menemani tidurnya, dan menghangatkan tangan serta kakinya sepanjang malam.”

Wajah Alya langsung memerah.

“Kak Siska, aku tidak bermaksud…”

Namun Andi menganggap kalimatku sebagai sindiran.

Nada suaranya langsung mendingin.

“Kamu masih marah karena aku pergi dinas tanpa memberitahumu?”

Dua minggu lalu adalah hari ulang tahunnya.

Aku bekerja lembur selama berhari-hari untuk menukar jadwal cuti.

Aku memasak makanan favoritnya.

Aku mengambil hadiah yang sudah kupesan jauh-jauh hari.

Dan dengan penuh semangat menunggu kepulangannya.

Namun sampai lewat tengah malam, dia tidak pulang.

Aku baru mengetahui bahwa dia berada di luar negeri setelah melihat unggahan Alya di media sosial.

Tetapi menurut Andi, semua itu hanyalah masalah sepele.

“Aku cuma pergi dinas.”

“Tidak perlu melaporkan semuanya kepadamu.”

“Ulang tahun datang setiap tahun.”

“Tapi program pertukaran akademik seperti ini hanya sekali seumur hidup.”

“Kukira kamu cukup dewasa untuk memahami mana yang penting dan mana yang tidak.”

“Kamu tidak punya urusan sendiri?”

“Kenapa harus terus mengawasi jadwalku?”

Saat itu semua kekecewaan yang kupendam akhirnya meledak.

“Jadi dalam daftar prioritasmu…”

“Apakah aku selalu berada di posisi paling akhir, Andi?”

Berbeda dengan emosiku yang meluap.

Andi hanya menjawab tenang lalu menutup telepon.

“Kamu sedang tidak tenang.”

“Kita bicarakan setelah aku pulang.”

Setelah benar-benar tenang, aku menandatangani surat mutasi kerja.

Atasanku bahkan mencoba menghentikanku.

“Mutasi ini berarti kamu harus pindah ke kota lain.”

“Ini keputusan besar.”

“Kamu sebaiknya membicarakannya dengan pacarmu terlebih dahulu.”

Namun aku tetap menandatanganinya.

“Tidak perlu.”

Karena aku masih ingat.

Saat menerima dua tawaran pekerjaan terbaik beberapa tahun lalu, aku membawanya kepada Andi dan meminta pendapatnya.

Dia hanya melihat sekilas lalu berkata:

“Itu hidupmu.”

“Jangan memaksaku mengambil keputusan untukmu.”

Tetapi orang yang sama bisa dengan sabar membantu Alya memilih jurusan kuliah.

Membimbingnya hingga diterima di fakultas kedokteran terbaik di Indonesia.

Lalu menjadikannya dokter junior di bawah bimbingannya.

Andi selalu mengeluh bahwa aku terlalu bergantung padanya.

Terlalu manja.

Terlalu melekat.

Dia bisa memakai earphone dan mendengarkan podcast medis saat aku bersemangat menceritakan hal-hal menarik dalam hidupku.

Seolah aku tidak ada.

Dia bisa menolak mengantarku ke kantor saat aku hampir terlambat karena tidak ingin jadwalnya terganggu.

Dia juga pernah menyuruhku membangun lingkaran pertemananku sendiri ketika aku ingin ikut berkumpul bersama teman-temannya.

Dulu aku benar-benar percaya bahwa sifat Andi memang dingin kepada semua orang.

Dan aku selalu berpikir…

Jika aku cukup berusaha,

suatu hari nanti aku akan menjadi satu-satunya pengecualian dalam hidupnya.

Namun, setelah operasi itu, sesuatu dalam diri Khương Doanh benar-benar berubah.

Ia tidak lagi menunggu pesan dari Hagen setiap malam.

Tidak lagi memeriksa status online-nya berulang kali.

Tidak lagi memasak makanan favoritnya saat ulang tahun tiba.

Dan yang terpenting, ia tidak lagi menjadikan Hagen sebagai pusat hidupnya.

Dua minggu kemudian, surat mutasi resmi disetujui.

Khương Doanh pindah ke Surabaya untuk memimpin cabang baru perusahaan. Kota baru, pekerjaan baru, dan kehidupan baru membuat harinya begitu sibuk hingga ia bahkan hampir melupakan nama pria yang pernah begitu ia cintai.

Sementara itu, Hagen mulai merasa ada sesuatu yang hilang.

Apartemennya menjadi terlalu sunyi.

Tak ada lagi pesan “Sudah makan belum?”

Tak ada lagi foto makanan yang dikirim setiap siang.

Tak ada lagi suara ceria yang menceritakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.

Awalnya ia mengira dirinya hanya belum terbiasa.

Namun seiring waktu berlalu, ia mulai sadar.

Yang hilang bukan kebiasaan.

Melainkan seseorang yang selama bertahun-tahun diam-diam mengisi seluruh kehidupannya.

Suatu malam, Hagen membuka ponselnya dan melihat foto ulang tahunnya yang belum pernah ia buka sebelumnya.

Foto meja makan yang penuh hidangan.

Kue ulang tahun yang sudah meleleh.

Dan sebuah hadiah yang masih terbungkus rapi.

Tanggal pada foto itu adalah hari ketika ia pergi ke luar negeri bersama Lina tanpa memberi tahu Khương Doanh.

Untuk pertama kalinya, hatinya terasa sesak.

Ia akhirnya mengerti.

Bukan karena Khương Doanh terlalu bergantung padanya.

Melainkan karena selama ini ia terlalu yakin bahwa perempuan itu tidak akan pernah pergi.

Ketika seseorang mencintaimu tanpa syarat terlalu lama, kau mulai menganggap semua pengorbanannya sebagai sesuatu yang wajar.

Sampai hari ketika ia berhenti mencintaimu.

Dan saat itulah kau menyadari betapa berharganya dirinya.

Tiga bulan kemudian, Hagen terbang ke Surabaya.

Ia berdiri di depan gedung kantor Khương Doanh selama hampir satu jam sebelum akhirnya melihat sosok yang dikenalnya.

Namun perempuan itu tidak datang sendirian.

Di sampingnya berdiri seorang pria yang membawakan tas dan payungnya.

Mereka tertawa sambil berjalan keluar.

Khương Doanh tampak jauh lebih bahagia daripada saat bersama dirinya.

Hagen ingin melangkah maju.

Ingin memanggil namanya seperti dulu.

Tetapi langkahnya berhenti.

Karena ia tiba-tiba sadar bahwa dirinya sudah kehilangan hak itu.

Orang yang selalu menunggunya telah berhenti menunggu.

Orang yang selalu mengejarnya telah memilih berjalan ke arah lain.

Dan orang yang pernah menganggapnya sebagai seluruh dunia kini telah menemukan dunianya sendiri.

Hagen hanya bisa berdiri diam.

Menyaksikan Khương Doanh masuk ke dalam mobil dan pergi.

Perlahan-lahan, mobil itu menghilang di ujung jalan.

Sama seperti cinta yang pernah begitu tulus diberikan kepadanya.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hagen menyesal.

Namun ia juga tahu bahwa ada beberapa orang yang akan terus menunggumu setelah kau melukai mereka.

Dan ada beberapa orang yang, setelah pergi sekali saja…

tidak akan pernah kembali lagi.

Sedangkan Khương Doanh termasuk golongan yang kedua.