Malam sebelum suamiku, Renato, berangkat ke luar negeri, aku memeluknya erat sepanjang malam.
Pagi harinya, dia menghisap rokok terakhirnya dan berkata:
“Selama tiga tahun aku di luar negeri, tolong jaga ibuku ya.”
“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan minta bantuan ke adikku, Renan.”
Saat aku bersandar di dadanya, tiba-tiba muncul tulisan aneh di hadapanku.
【Dia tidak tahu bahwa kepergian Renato ke luar negeri adalah untuk memberi “kesempatan adil” pada wanita lain.】
【Dia akan dikhianati, diceraikan, lalu hidupnya berakhir tragis.】
Aku langsung membeku.
Tanpa banyak berpikir, aku segera minum dua pil kontrasepsi darurat.
Jika cerita ini benar, maka aku tidak akan memberi mereka “kesempatan” untuk mengubah hidupku.
1
Keesokan harinya, Renato sudah siap berangkat.
Dia pergi ke bandara dari kantor tanpa mengantarku.
Aku diam-diam membuka ponselnya.
Dan aku menemukan percakapan yang menghancurkan segalanya.
“Tiga tahun ini adalah masa ‘fair competition’. Jika aku tidak memilihmu, kita selesai.”
Nama wanita itu: Lia, intern di perusahaannya.
Aku tertawa pelan.
“Fair competition?”
Jadi aku ini apa? Boneka percobaan?
2
Renato akhirnya benar-benar pergi.
Sebelum naik pesawat, dia mentransfer 1.000.000 peso Filipina ke rekeningku sebagai uang bulanan.
Aku menatap angka itu lama.
Lalu tertawa.
“Jadi beginilah cara membeli kesetiaan?”
3
Malam itu, telepon dari Renan masuk.
“Aku di dekat rumahmu, kak. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja.”
Dia selalu seperti itu.
Baik. Terlalu baik.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu yang “ditulis” di udara itu.
Kalau Renato bisa “fair competition”…
Kenapa aku tidak?
4
Beberapa hari kemudian.
Aku pura-pura terpeleset di kamar mandi.
“AAAA—Renan!”
Dia langsung panik masuk ke rumah.
“Apa kamu baik-baik saja, Kak?!”
“Pergelangan kakiku… sepertinya terkilir…”
Dia langsung menutup mata karena panik dan malu.
“Aku panggil ambulans!”
“Jangan,” kataku pelan. “Aku malu kalau orang datang.”
Dia ragu.
Lalu aku menarik tangannya.
“Bantu aku saja. Aku tidak bisa bergerak.”
Wajahnya langsung merah.
“A-aku… kak… ini tidak pantas…”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa. Kamu kan keluarga.”
Dan saat dia perlahan membuka mata…
Dia tidak tahu bahwa sejak saat itu, permainan “fair competition” sudah dimulai.

Beberapa minggu setelah insiden itu, rumahku mulai terasa berbeda.
Renato masih mengirim uang setiap bulan.
Renan masih sering datang “sekadar membantu”.
Lia… semakin sering muncul di lingkaran hidup mereka.
Dan aku?
Aku mulai berhenti bereaksi.
Sampai suatu malam, tulisan itu muncul lagi di udara.
【Final phase dimulai. Pilihan akhir akan menentukan siapa yang menang.】
Aku tersenyum.
“Menang?”
Aku berdiri, mengambil ponsel, lalu menekan satu tombol: transfer balik semua uang Renato ke rekeningnya.
Termasuk satu juta peso itu.
Tak lama, teleponnya langsung masuk.
“Kenapa kamu mengembalikan uang itu?”
Suaranya dingin seperti biasa.
Aku menjawab tenang:
“Karena aku bukan bagian dari kompetisi kamu.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan:
“Kalau kamu ingin ‘fair competition’, silakan. Tapi jangan taruh aku di dalamnya.”
“Aku bukan hadiah. Bukan pilihan. Dan bukan orang yang harus ditunggu hasilnya.”
Di seberang, sunyi.
Untuk pertama kalinya, tidak ada jawaban cepat dari Renato.
Keesokan harinya, aku mengajukan dokumen perceraian.
Tanpa drama. Tanpa menangis. Tanpa menunggu “pilihan akhir”.
Renan datang ke rumah dengan panik.
“Aku bisa jelasin semuanya, Kak—”
Aku menggeleng.
“Tidak perlu menjelaskan. Aku sudah paham cukup.”
Dia membeku.
Aku menatapnya sebentar, lalu berkata pelan:
“Dan kamu juga tidak perlu ikut permainan ini.”
Beberapa hari kemudian, Lia dikabarkan keluar dari perusahaan.
Bukan karena kalah.
Tapi karena tidak ada lagi “permainan” yang bisa dimainkan.
Renato tidak mengejar.
Mungkin dia mengira aku akan kembali seperti sebelumnya.
Atau mungkin… dia baru sadar bahwa tidak semua orang mau dijadikan bagian dari eksperimen perasaan.
Hari terakhir sebelum aku pindah rumah, aku berdiri di depan jendela.
Angin malam Makati masuk pelan.
Aku akhirnya mengerti satu hal:
Cinta yang harus “dikompetisikan” sejak awal, sebenarnya sudah tidak layak diperjuangkan.
Aku mematikan lampu.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama…
Tidak ada suara siapa pun yang mengatur hidupku lagi.