Sejak aku memasuki tahun keempat kuliah, setiap akhir pekan dia selalu menyuruhku pergi membersihkan rumah Bibi—tanpa pernah absen.
“Bibi kamu tinggal sendirian. Rumahnya seperti kandang anjing saking kotornya. Pergi bantu bersihkan.”
Bibi yang dimaksud adalah Kakek Artemio, tinggal di kompleks perumahan lama di bagian tua kota. Rumahnya sederhana—tiga kamar tidur, ruang tamu, dan perabotan tua. Bahkan televisinya masih LCD lama yang sudah berumur lebih dari sepuluh tahun.
Dia terlihat seperti pensiunan pejabat biasa.
Setiap kali aku datang, dia biasanya sedang membaca di perpustakaan kecilnya, atau menyiram tanaman di balkon. Kadang dia mengajakku bicara tentang buku atau berita terbaru.
Aku pikir dia hanya kesepian.
“Tuan, buku di perpustakaan Anda banyak sekali. Saya butuh setengah hari hanya untuk membersihkan debunya.”
Dia hanya tersenyum.
“Banyak membaca tidak pernah merugikan.”
Selama dua tahun aku “mengabdi” di sana. Dalam dua tahun itu, sering ada tamu datang. Ada yang berseragam, ada yang datang dengan mobil mewah, bahkan ada yang membawa teh mahal.
Ibuku selalu berkata:
“Jangan banyak tanya. Kerjakan saja bersih-bersihmu.”
Aku menuruti.
Sampai hari wawancara CPNS (Pegawai Negeri Sipil Kota).
Aku mendapat peringkat tiga di ujian tertulis. Ibuku terlihat lebih tenang daripada aku sendiri.
“Siapkan diri baik-baik. Jangan gugup.”
Hari wawancara, aku mengenakan setelan navy biru. Di ruang tunggu ada lebih dari dua puluh kandidat.
Seorang wanita di sebelahku memperkenalkan diri—Clarissa. Tas Chanel, jam Cartier Ballon Bleu, percaya diri berlebihan.
“Peringkat berapa kamu?” tanyanya.
“Tiga.”
“Aku nomor satu,” katanya sambil tersenyum tipis.
Dia berbisik ke orang di sebelahnya:
“Kepala panel hari ini Deputy Commissioner Santos. Ayahku pernah makan malam dengannya.”
Dia melirikku.
“Di sini, kemampuan cuma setengah. Sisanya koneksi.”
Aku tidak menjawab.
Saat namaku dipanggil, aku masuk.
Di dalam ada lima penguji.
Dan aku membeku selama setengah detik.
Tiga dari mereka… aku kenal.
Deputy Commissioner Antonio Santos—yang sering datang ke rumah Kakek Artemio sambil membawa teh mahal.
Division Chief Reyes—yang bulan lalu bahkan makan malam di sana.
Dan Julian—yang selalu memanggil Kakek Artemio “Guru.”
Mereka semua menatapku.
Sejenak ruangan menjadi canggung.
“Silakan mulai,” kata Santos.
Aku menjawab dengan tenang, tanpa menunjukkan bahwa aku mengenal siapa pun.
—
Hasil keluar hari itu.
Peringkat 1: Niña — 92,6 poin
Peringkat 2: Clarissa — 87,3 poin
Clarissa menatap kertas itu lama.
“Tidak mungkin.”
Dia menoleh padaku.
“Kamu punya koneksi, ya?”
Aku menjawab datar:
“Tidak.”
Dia tidak percaya.
—
Malam itu aku pulang dan bertanya pada ibuku:
“Nak, sebenarnya Kakek Artemio itu siapa?”
Ibuku berhenti makan.
“Dia hanya pamanmu. Pensiunan biasa.”
“Kenapa tiga penguji mengenalnya?”
Ibuku menutup topik itu.
“Makan saja.”
—
Keesokan harinya aku diterima di Dinas Perencanaan Kota—posisi dengan tingkat persaingan 217 banding 1.
Gajinya setara sekitar Rp 12–18 juta per bulan, tapi lebih dari itu, ini jabatan bergengsi yang banyak diperebutkan.
Di kantor, rekan-rekanku mulai berbisik.
“Ada yang bilang Clarissa gagal karena tidak punya ‘jalur dalam’.”
“Niña itu siapa sebenarnya?”
Aku tidak peduli.
Sampai suatu hari, Julian datang ke kantor.
“Laporan dari Deputy Commissioner Santos,” katanya.
Dia berhenti sejenak saat melihatku.
Aku juga melihatnya.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada pengakuan.
Dia hanya mengambil dokumen itu dan pergi.
Liza di sebelahku berbisik:
“Kamu kenal dia?”
Aku menjawab pelan:
“Tidak.”
Tapi untuk pertama kalinya… aku mulai sadar.
Mungkin yang selama ini disebut “membersihkan rumah” itu bukan pekerjaan.
Dan mungkin… aku baru saja melewati sesuatu yang tidak pernah ibuku jelaskan sedikit pun.

Beberapa hari setelah Julian datang ke kantor, tidak ada lagi kabar tentang Kakek Artemio.
Tidak ada lagi pesan dari ibuku yang menyuruhku pergi setiap akhir pekan.
Seolah-olah rutinitas dua tahun itu… diputus begitu saja.
Aku mulai bekerja seperti biasa di Dinas Perencanaan Kota. Dokumen, rapat, proyek pembangunan—semuanya berjalan normal. Tapi setiap kali aku melihat nama “Santos” di tanda tangan laporan, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Bukan takut.
Lebih seperti… ada bagian cerita yang belum selesai.
Sampai suatu sore, aku dipanggil ke ruang kepala dinas.
Di dalam, hanya ada satu orang.
Deputy Commissioner Antonio Santos.
Dia tidak langsung berbicara. Hanya menaruh sebuah map di meja.
Di sampulnya tertulis:
“Artemio Santos – File Internal Khusus”
Aku menatapnya.
“Siapa sebenarnya beliau?” tanyaku akhirnya.
Santos menghela napas pelan.
“Orang yang tidak seharusnya kamu kenal dengan cara yang sederhana.”
Aku diam.
Dia melanjutkan:
“Selama dua tahun kamu membersihkan rumahnya, kamu juga secara tidak langsung membantu satu hal—memastikan tidak ada orang luar yang menyadari dia masih aktif mengawasi beberapa proyek strategis kota.”
Aku mengerutkan kening.
“Jadi… semua itu memang sengaja?”
Santos mengangguk pelan.
“Termasuk wawancaramu.”
Ruangan terasa lebih dingin.
“Nilai 92,6 itu bukan kebetulan. Tapi juga bukan hadiah.”
Dia menunjuk map itu.
“Dia ingin melihat apakah kamu tetap stabil, meski ditempatkan di situasi yang tidak kamu pahami.”
Aku tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya.
“Dan kalau saya gagal?”
Santos menatapku lama.
“Kalau kamu gagal, kamu tidak akan pernah sampai di sini.”
—
Malam itu aku pulang lebih lambat dari biasanya.
Rumah terasa terlalu sunyi.
Ibuku sedang duduk di ruang tamu, seperti sudah menungguku.
“Ada yang ingin kamu tanya lagi?” katanya tanpa menoleh.
Aku duduk di seberangnya.
“Semua itu… ujian?”
Ibuku mengangguk.
“Bukan ujian yang kamu pikirkan. Tapi ujian apakah kamu bisa hidup di dunia yang tidak pernah menjelaskan dirinya sendiri.”
Aku terdiam lama.
“Kenapa saya?”
Ibuku akhirnya menatapku.
“Karena kamu tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika kamu tidak mengerti apa tujuan akhirnya.”
—
Beberapa minggu kemudian, aku menerima surat resmi penempatan baru.
Bukan hanya sebagai staf biasa.
Tapi masuk ke tim khusus proyek kota—di bawah pengawasan langsung Deputy Commissioner Santos.
Gaji naik menjadi sekitar Rp 25 juta per bulan, tapi tidak ada lagi yang menjelaskan apa pun secara terbuka.
Hari terakhir sebelum pindah kantor, aku kembali ke rumah Kakek Artemio.
Pintu tidak dikunci.
Di dalam, perpustakaan kecil itu masih sama. Rapih. Tenang. Seperti tidak pernah ditinggalkan.
Di meja ada satu catatan kecil.
Tulisan tangan.
“Selamat datang di sisi yang sebenarnya.”
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya satu kalimat.
Aku menutup catatan itu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar—
aku tidak pernah benar-benar “membersihkan rumah itu”.
Aku sedang dipersiapkan untuk masuk ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah aku bayangkan.