Posted in

Tiga Tahun Lalu, Setelah Satu Malam yang Mengubah Seluruh Hidupnya, Mia Menghilang Diam-Diam dari Kota Pesisir Tanpa Meninggalkan Jejak.*

*Tiga Tahun Lalu, Setelah Satu Malam yang Mengubah Seluruh Hidupnya, Mia Menghilang Diam-Diam dari Kota Pesisir Tanpa Meninggalkan Jejak.**

Tak seorang pun tahu bahwa…

Dia sedang mengandung anak dari pria paling berkuasa di dunia keuangan — **Ethan Velasco**.

Selama tiga tahun, Ethan mencari wanita yang bersamanya malam itu seperti orang yang kehilangan akal.

Dia ingin tahu siapa wanita itu.

Dan mengapa dia tiba-tiba menghilang.

Namun dia sama sekali tidak menyangka bahwa…

Saat mereka bertemu kembali, wanita itu sudah bersama seorang anak laki-laki yang memiliki mata yang hampir sama persis dengannya.

Dan dengan dingin, anak itu bertanya:

**“Tuan… kenapa wajah Anda mirip denganku?”**

## BAB 1 — WANITA YANG MENGHILANG SETELAH SATU MALAM PENUH HUJAN

Hujan deras menghantam kaca hotel.

Perlahan, pria yang terbaring di atas ranjang membuka matanya.

Kepalanya terasa seperti akan pecah karena sakit.

Cahaya lampu kuning redup menerangi wajahnya yang dingin.

Dia adalah **Ethan Velasco**.

Pemimpin grup keuangan terbesar di negara itu.

Seorang pria yang terkenal kejam dan tidak pernah membiarkan wanita mendekatinya.

Namun pada saat itu—

Kemejanya tergeletak di lantai.

Masih ada bekas lipstik di lehernya.

Dan aroma lembut parfum seorang wanita masih tertinggal di dalam kamar.

Tatapannya langsung menjadi gelap.

Dia menoleh ke sampingnya.

Wanita itu sudah tidak ada.

Yang tersisa hanya gaun berwarna krem yang kusut dan sedikit bercak darah di seprai.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak.

Tepat pada saat itu—

**BRAK!**

Pintu terbuka dengan kasar.

Adrian, asistennya, hampir berlari masuk.

“Pak Ethan! Akhirnya Anda bangun juga!”

Suara Ethan terdengar dingin.

“Apa yang terjadi tadi malam?”

Wajah Adrian langsung pucat.

“Seseorang mencampurkan obat ke dalam minuman Anda di pesta, Pak…”

Suasana langsung membeku.

Ingatan Ethan hanya tersisa dalam potongan-potongan.

Seorang wanita.

Aroma melati yang samar.

Sepasang mata merah yang penuh ketakutan.

Dan tangisan pelannya saat berada di bawahnya malam itu…

Tangannya mengepal kuat.

“Di mana dia?”

Adrian menundukkan kepala lebih dalam.

“Dia pergi sebelum fajar, Pak.”

Ekspresi Ethan semakin dingin.

“Cari dia.”

“Hari ini juga aku ingin tahu siapa dia.”

Tiga jam kemudian.

Seluruh hotel hampir dibongkar untuk mencari petunjuk.

Namun anehnya—

Tidak ada satu pun informasi tentang wanita itu.

Rekaman CCTV saat dia pergi rusak.

Nama yang digunakan saat registrasi ternyata palsu.

Bahkan para pegawai hotel pun tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas.

Seolah-olah…

Kepergiannya sudah direncanakan sejak awal.

Ethan berdiri di depan jendela besar kantornya.

Wajahnya tanpa ekspresi.

Selama tiga puluh dua tahun hidupnya, belum pernah ada wanita yang tidur dengannya lalu menghilang begitu saja.

“Lanjutkan pencarian.”

“Baik, Pak.”

Saat itu juga ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar adalah **Sophia**.

Tunangannya selama dua tahun terakhir.

Begitu panggilan tersambung, suara manja wanita itu langsung terdengar.

“Di mana kamu tadi malam? Aku mencarimu sepanjang malam…”

Ethan memijat pelipisnya.

“Ada urusan yang harus kuurus.”

“Ayah terus mendesak soal pernikahan kita…”

“Kita bicarakan nanti.”

Dia langsung mengakhiri panggilan.

Dia tidak mengerti kenapa…

Tetapi sejak bangun pagi itu, wanita misterius tersebut terus memenuhi pikirannya.

Sementara itu.

Di sebuah terminal kecil yang jauh dari kota.

Mia duduk diam di sudut ruangan.

Wajahnya pucat.

Ponselnya terus berdering tanpa henti.

Saat melihat nama di layar, tangannya langsung gemetar.

**Ibu Tiri.**

Dia segera mematikan panggilan itu.

Namun beberapa detik kemudian, pesan-pesan mulai berdatangan.

> “Kamu di mana?”
>
> “Pulang sekarang juga!”
>
> “Kami sudah menerima uangnya!”
>
> “Jangan lupa dengan siapa kamu seharusnya pergi tadi malam!”

Air mata Mia langsung jatuh.

Ternyata…

Dia hanyalah bagian dari sebuah transaksi.

Ibu tirinya menjualnya kepada seorang pengusaha tua untuk melunasi utang.

Namun karena kekacauan malam itu dan pengaruh obat, dia masuk ke kamar yang salah—

Kamar milik Ethan Velasco.

Pria paling berbahaya di kota.

Dia menggenggam tiket di tangannya dengan erat.

Dia harus pergi.

Sejauh mungkin.

Karena dia tahu—

Jika Ethan menemukannya…

Dia akan kehilangan seluruh kendali atas hidupnya.

Sebulan kemudian.

Di sebuah rumah sakit kecil di wilayah selatan.

Mia duduk diam sambil memegang hasil tes kehamilan.

Dokter tersenyum.

“Selamat. Usia kandungan Anda sudah lebih dari lima minggu.”

Pikirannya langsung kosong.

Hamil…

Dia hamil anak Ethan Velasco?

Tangannya bergetar hebat.

Dia bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika pria itu mengetahui semuanya.

Keluarga Ethan tidak akan pernah menerima wanita biasa seperti dirinya.

Apalagi—

Pria itu sudah memiliki tunangan.

Air mata mengalir perlahan.

Dia tidak pernah merencanakan menjadi seorang ibu.

Namun anak ini…

Adalah satu-satunya keluarga yang masih dia miliki.

Perlahan dia menyentuh perutnya.

“Aku akan melindungimu…”

“Apa pun yang terjadi…”

Tiga tahun kemudian.

Di pusat perbelanjaan terbesar di kota.

Seorang anak kecil mengenakan hoodie hitam sedang duduk diam merakit model robot.

Wajah kecilnya terlihat dingin.

Dan matanya terlalu tajam untuk anak seusianya.

Seorang pramuniaga tersenyum.

“Sayang, kamu datang dengan siapa?”

Anak itu bahkan tidak menoleh.

“Aku bukan bayi.”

“Hah?”

“Umurku tiga setengah tahun.”

Wanita itu langsung tertawa karena tingkahnya yang menggemaskan.

Tepat saat itu—

Suasana mal tiba-tiba menjadi ramai.

Beberapa pria berbaju hitam masuk beriringan.

Orang-orang mulai berbisik.

“Apakah itu dia?”

“Oh Tuhan… Tuan Velasco!”

“Kudengar sifatnya semakin dingin selama beberapa tahun terakhir…”

Seorang pria tinggi berjalan perlahan di tengah kerumunan.

Mengenakan setelan hitam.

Auranya begitu dingin.

Seolah mampu membungkam seluruh tempat hanya dengan satu tatapan.

Dia adalah Ethan Velasco.

Tiga tahun berlalu, tetapi kehadirannya justru semakin menakutkan.

Dan tepat pada saat itu—

Anak kecil itu akhirnya mengangkat kepalanya.

Ethan menoleh.

Dan—

Langkahnya langsung terhenti.

Seolah dunia berhenti berputar.

Karena wajah anak itu…

Hampir merupakan salinan sempurna dirinya.

Dan pada saat yang sama—

Seorang wanita tiba-tiba berteriak dari balik kerumunan.

**“Milo!”**

Begitu mendengar suara itu, mata Ethan langsung membelalak.

Karena wanita itu…

Adalah wanita yang telah dia cari selama tiga tahun.

Suasana di lobi mal megah itu mendadak sunyi senyap, seolah seluruh pasokan udara tersedot habis. Belasan pengawal berbaju hitam yang mengelilingi Ethan langsung ikut berhenti dan memasang posisi waspada, namun pandangan Ethan terkunci sepenuhnya pada wanita yang baru saja berlari menembus kerumunan.

Itu dia.

Aroma melati yang samar, sepasang mata bulat yang selalu terlihat cemas, dan garis wajah yang selama tiga tahun ini hanya bisa dia lihat dalam potongan mimpi buruknya.

“Mia…” bisik Ethan. Suaranya yang biasanya lantang dan penuh otoritas kini tercekat di tenggorokan.

Mia terengah-engah, memeluk erat tubuh mungil Milo ke dalam dadanya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar saat menyadari siapa pria yang berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya. Pria yang paling dia hindari. Pria yang memiliki kuasa untuk melenyapkannya dari kota ini dalam sekejap.

“T-Tuan…” Mia mundur satu langkah, menyembunyikan Milo di belakang tubuhnya yang gemetar. “Maaf, anak saya tidak bermaksud mengganggu jalan Anda.”

Ethan tidak mendengarkan ucapan maaf itu. Matanya beralih dari wajah pucat Mia ke arah anak laki-laki di balik kaki wanita itu. Anak itu tidak menangis, tidak juga takut melihat belasan pria berbadan besar. Dia justru menatap Ethan dengan pandangan menyelidik yang sangat dingin. Mata elang yang tajam, hidung bangir, bahkan kerutan tipis di dahinya—semuanya adalah milik Ethan Velasco.

Milo menarik pelan ujung baju ibunya, lalu mendongak menatap Ethan dengan polos namun menusuk.

“Tuan… kenapa wajah Anda mirip denganku?”

BAB 2 — KEBOHONGAN YANG RUNTUH DALAM SATU DETIK

Pertanyaan polos dari anak berusia tiga setengah tahun itu bagaikan hantaman gada besi di dada Ethan. Adrian, sang asisten yang berdiri di belakang Ethan, sampai menutup mulutnya karena terkejut. Tanpa perlu tes DNA, semua orang di tempat itu tahu siapa anak itu sebenarnya.

“Mia,” suara Ethan merendah, sarat akan amarah yang tertahan selama tiga tahun sekaligus rasa tidak percaya. “Siapa anak ini?”

“Dia… dia anakku, Tuan Velasco,” jawab Mia dengan suara bergetar, mencoba bersikap tegar meskipun lututnya sudah lemas. “Hanya anakku. Dia tidak ada hubungannya dengan Anda.”

“Jangan membodohiku!” Ethan melangkah maju. Satu langkahnya membuat Mia terlonjak mundur. Aura intimidasi pria itu menguar hebat. “Tiga tahun lalu kamu melarikan diri dari kamarku seperti pencuri. Kamu menghapus semua jejakmu, dan sekarang kamu muncul membawa seorang anak yang memiliki wajahku?!”

“Aku tidak sengaja masuk ke kamarmu malam itu!” teriak Mia akhirnya, air matanya tumpah karena rasa takut dan tekanan yang luar biasa. “Aku hanya ingin bertahan hidup, Tuan. Tolong, biarkan kami pergi. Anda sudah memiliki kehidupan Anda sendiri, Anda sudah memiliki tunangan!”

Tepat saat Ethan hendak meraih lengan Mia, sebuah suara melengking yang sangat familier memecah ketegangan dari arah eskalator.

“Ethan! Sayang, kenapa kamu berhenti di sini?”

Sophia berjalan dengan anggun, menenteng beberapa tas belanjaan dari butik mewah. Namun, langkah kakinya langsung melambat ketika melihat Mia. Dan saat matanya turun melihat wajah Milo, tas belanjaan di tangannya jatuh berhamburan ke lantai.

“K-kamu…” Sophia menunjuk Mia dengan jari yang bergetar. “Perempuan jalang dari malam itu… kenapa kamu bisa ada di sini?!”

BAB 3 — REKAYASA MASA LALU

Ethan langsung menoleh tajam ke arah Sophia. “Apa maksudmu, Sophia? Kamu tahu siapa wanita ini?”

Sophia menyadari dia telah salah bicara. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal mendadak pias. “E-Ethan, maksudku… aku tidak tahu. Aku hanya mengira dia salah satu wanita yang mencoba menggodamu…”

“Adrian,” perintah Ethan tanpa mengalihkan pandangan dari Sophia yang mulai panik. “Bawa mereka semua ke mobil. Sekarang. Jika ada satu saja informasi yang bocor ke media tentang hari ini, aku sendiri yang akan menghancurkan karir kalian.”

“Baik, Pak!”

Mia mencoba memberontak saat dua pengawal mendekatinya dengan sopan, namun Ethan maju dan langsung menggendong Milo ke dalam pelukannya. Anehnya, Milo tidak menangis. Anak itu justru mencengkeram kerah kemeja mahal Ethan dengan tangan kecilnya, menatap pria itu dengan tatapan menantang yang persis sama.

“Ikut aku secara sukarela, Mia,” bisik Ethan di telinga Mia, suaranya sedingin es. “Atau aku akan memastikan ibu tirimu dan pengusaha tua yang mencoba menjualmu malam itu membusuk di penjara hari ini juga. Pilih.”

Mia membeku. Dia tahu Ethan tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Dengan pasrah, dia mengikuti langkah besar Ethan menuju lantai bawah tanah mal.

BAB 4 — HAK ASLI YANG KEMBALI

Satu jam kemudian, di dalam ruang kerja pribadi Ethan yang kedap suara di lantai teratas gedung Velasco Tower.

Dokter pribadi keluarga Velasco baru saja keluar setelah mengambil sampel darah Milo dan Ethan untuk prosedur formalitas. Sementara itu, Milo duduk tenang di sofa kulit sambil memakan biskuit yang disediakan sekretaris, seolah tidak terganggu dengan ketegangan tiga orang dewasa di sekitarnya.

Adrian masuk membawa sebuah laptop dan meletakkannya di depan Ethan.

“Pak Ethan, kami berhasil memulihkan file cadangan dari server hotel tiga tahun lalu yang sempat dihapus secara paksa. Kami juga melacak mutasi rekening ibu tiri Nona Mia.” Adrian melirik Sophia yang duduk di sudut ruangan dengan tubuh gemetar. “Ternyata, dalang yang mengacaukan nomor kamar Anda malam itu, dan yang membayar ibu tiri Nona Mia untuk menyembunyikan Nona Mia ke luar kota… adalah Nona Sophia sendiri.”

Ethan perlahan berdiri dari kursinya. Ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi Sophia.

“Jadi…” Ethan menatap Sophia dengan mata yang siap membunuh. “Kamu tahu wanita yang tidur denganku malam itu adalah Mia. Kamu sengaja menyembunyikannya, membiarkanku mencarinya seperti orang gila selama tiga tahun, dan berpura-pura menjadi wanita yang menyelamatkanku malam itu agar bisa menikah denganku?”

“Ethan! Aku melakukan itu karena aku mencintaimu! Perempuan miskin ini tidak pantas melahirkan anakmu!” Sophia merangkak memohon di bawah kaki Ethan.

“Usir dia,” kata Ethan dingin kepada para pengawal, bahkan tanpa memandang Sophia yang mulai diseret keluar sambil menjerit histeris. “Batalkan semua kontrak kerja sama dengan keluarga Villareal. Mulai hari ini, wanita ini tidak boleh menginjakkan kaki di kota ini lagi.”

BAB 5 — PEMILIK SEBENARNYA

Setelah pintu tertutup rapat, ruangan kembali hening. Ethan berbalik, menatap Mia yang masih berdiri kaku di dekat jendela. Pria kokoh yang ditakuti di dunia bisnis itu perlahan mendekat, lalu berlutut di hadapan Mia—sebuah pemandangan yang jika dilihat oleh orang luar akan membuat jagat raya gempar.

Dia meraih tangan Mia yang sedingin es, lalu mengecupnya perlahan.

“Maafkan aku,” bisik Ethan, matanya memancarkan penyesalan dan kerinduan yang amat dalam yang selama tiga tahun ini dia pendam. “Maaf karena membuatmu ketakutan malam itu. Maaf karena terlambat menemukanmu dan membiarkanmu membesarkan anak kita sendirian di tempat terpencil.”

Mia meneteskan air mata, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena beban berat yang selama tiga tahun ini dia pikul sendirian akhirnya luruh.

Milo turun dari sofa, berjalan mendekat, lalu berdiri di antara Ethan dan Mia. Dia menatap tangan ayahnya yang menggenggam tangan ibunya.

“Tuan,” panggil Milo dengan nada bossy-nya yang khas. “Jika Anda membuat Ibuku menangis lagi, aku akan membawa Ibu pergi naik kereta yang sangat jauh.”

Ethan terkekeh pelan, air mata tipis muncul di sudut matanya saat dia menarik tubuh Mia dan Milo ke dalam pelukan hangatnya untuk pertama kali.

“Tidak akan ada kereta yang membawa kalian pergi lagi,” ujar Ethan tegas. “Mulai hari ini, seluruh dunia keuangan yang kubanggakan ini adalah milikmu, Mia. Dan anak ini… adalah satu-satunya pewaris tunggal Velasco Corp.”

Tiga tahun lalu Mia menghilang di bawah guyuran hujan sebagai korban transaksi yang kejam. Namun hari ini, di dalam gedung tertinggi di pusat kota, dia kembali bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai satu-satunya wanita yang berhasil menundukkan pria paling berkuasa di dunia keuangan.