Malam itu angin kencang menerpa rumah
kontrakan kecil kami di pinggiran Bandung.
Aku baru saja menidurkan Lumi ketika ponselku
bergetar. Sebuah pesan dari nomor saudara iparku:
“Kami sudah pasrah, mbak. Tulang-tulang yang
ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat sudah
dipastikan milik Mas Raka. Semoga mbak dan
Lumi tetap kuat.”
Pesan itu disertai foto potongan logam pesawat yang hangus terbakar.
Aku menatap layar lama, lalu memeluk bantal.
Sudah empat tahun sejak suamiku, Raka, dinyatakan tewas dalam kecelakaan pesawat domestik menuju Makassar.
Aku menerima uang asuransi yang lumayan besar setiap bulan — sekitar Rp29 juta — untuk membiayai hidup kami berdua.
Semua orang bilang aku perempuan tangguh yang berhasil melanjutkan hidup meski harus membesarkan anak sendirian.

Tapi tak ada yang tahu bahwa akhir-akhir ini aku sering merasa ada yang mengawasi dari dalam rumah.
Sampai malam itu.
Pukul dua lewat, aku terbangun karena Lumi berdiri di samping tempat tidurku, memegang boneka kain yang sudah usang.
Matanya lebar, menatap ke arah dinding belakang
kamar yang menempel dengan bilik kecil kosong
yang tak pernah aku pakai.
“Ma…” bisiknya pelan.
“Ayah di balik dinding itu.”
Aku merasa darahku membeku.
“Lumi, ayah sudah tidak ada sayang…”
Dia menggeleng kecil.
“Ayah bilang dia nggak bisa keluar. Pintu biliknya terkunci. Dia nangis pelan kalau Mama pergi ke warung atau ke sekolahku. Dia panggil nama Lumi berulang-ulang.”
Lumi mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik lebih pelan:
“Tapi Ayah bilang… jangan kasih tahu Mama. Karena Mama yang mengunci pintu itu.”
Angin di luar semakin kencang, dan di tengah deru itu, aku bisa mendengar suara napas pelan yang seolah datang dari balik dinding kamar.