Saat mengobrak-abrik tumpukan buku itu, adikku menemukan sebuah diary tebal—diary cinta rahasia milik Liam (Luong Duat Bach).
Diary itu sangat tebal, ditulis selama tiga tahun, berjumlah tepat 1.096 halaman.
Aku masih merasa canggung dan hendak mengambil buku itu, tetapi adikku tiba-tiba berdeham dan mulai membacanya keras-keras di telingaku dengan nada mengejek:
“1 Maret. Aku memberinya susu stroberi, tapi dia tidak mau. Akhirnya jatuh ke tangan Janine (Zhou Jianyi). Si tukang gosip malah untung.”
“2 Maret. Aku beli dua tiket bioskop. Sayang dia tidak ikut. Jadi supaya tidak rugi, aku ajak Janine saja.”
Ia lalu melompat ke halaman terakhir:
“10 Juni. Ditolak Chloe (Tham Mien). Karena kesal, aku akhirnya menerima Janine.”
Adikku tertawa keras sampai hampir kehabisan napas.
“Janine, kamu nggak malu? Setelah 18 tahun mengejar dia, akhirnya kalian jadian, ternyata cuma dipakai buat bikin cemburu!”
Aku diam, mengepalkan ujung seragam sekolahku.
Tanpa berkata apa pun, aku masuk kamar, mengambil buku wishlist, lalu mencoret impianku masuk UP (University of the Philippines) bersama Liam dengan tinta merah.
Bagian 2: Kebenaran di Balik Layar
Aku memutuskan mengembalikan diary itu.
Aku menghubungi Liam lewat Viber.
Responnya selalu lambat. Kadang 10 jam, kadang sehari penuh.
Bahkan saat kami resmi berpacaran, tidak ada perubahan.
Aku selalu menghibur diri bahwa dia memang seperti itu.
Sampai aku membaca diary itu.
Ternyata dia bisa begadang hanya karena menunggu balasan dari Chloe. Dia bisa berhenti melakukan apa pun hanya untuk membalas dalam satu detik.
Baru saat itu aku sadar—
Bukan dia yang dingin.
Aku saja yang tidak penting baginya.
Aku datang ke rumahnya keesokan pagi.
Dari balik jendela, aku melihat Liam sedang makan sambil berbicara dengan ibunya, Tita Elena (Aunt Luong).
Tangan aku berhenti di tombol bel.
Lalu aku mendengar percakapan itu.
“Aku tidak mau daftar di UP. Mungkin aku pindah ke DLSU (De La Salle University) saja.”
Tanganku langsung mengencang memegang diary.
Tita Elena bertanya:
“Bukankah kamu sudah janji dengan Janine untuk masuk UP bersama?”
“Bukan ide dia. Ini keputusan aku sendiri.”
Suasana langsung berubah.
Liam tiba-tiba membanting sendoknya.
“Kenapa sih harus satu universitas? Itu kuno banget!”
“Lagipula dengan nilai Janine, belum tentu dia bisa masuk UP.”
Dadaku terasa sesak.
Semua janji yang dulu ia ucapkan padaku… ternyata hanya kebohongan.
Aku meletakkan diary di dekat jendela lalu pergi tanpa menoleh.
Bagian 3: Malam Hasil Ujian
Hari pengumuman tiba.
Wi-Fi di rumah Liam mati, jadi ia datang ke rumahku.
Ibuku menyambutnya dengan buah mahal dalam satuan ₱ Peso Filipina, sesuatu yang bahkan jarang aku makan.
Adikku, Zack (Chu Zi Hanh), juga bersikap berlebihan padanya.
Sementara aku duduk sendirian di sudut tanpa apa-apa.
Zack mengejek:
“Jangan nangis ya kalau nilaimu kalah dari Kak Liam.”
Liam tertawa kecil.
Namun tepat pukul 8 malam—
Hasil keluar.
Nilai kami sama persis.
Semua orang terdiam.
Alih-alih bangga, keluargaku malah curiga aku menyontek.
Zack malah mengejek:
“Hebat juga, bisa nyontek tanpa ketahuan.”
Aku akhirnya meledak:
“Aku tidak menyontek! Itu hasil kerja kerasku sendiri!”
Dan untuk pertama kalinya, aku berlari keluar rumah sambil menangis.
Di belakangku, Liam berkata:
“Janine itu rajin. Nilai ini memang pantas untuknya.”
Bagian 4: Keputusan Masa Depan
Di jalan, Liam mengejarku.
“Aku mau daftar di UP.”
Aku terdiam.
Aku menatapnya lama, lalu berkata:
“Kalau begitu, aku juga.”
Padahal aku sudah tahu dia tidak benar-benar menginginkanku di sana.
Dia hanya tidak berani jujur.
Kami berjalan pulang di dua arah berbeda.
Aku tahu—
dia membohongiku.
Dan aku juga membohongi diriku sendiri.
Saat pemilihan kampus, Liam sengaja menjauh dariku.
Aku mengangguk.
Lebih mudah bagiku menjalankan rencanaku.
Setelah selesai, ia bertanya:
“Kamu pilih UP juga kan?”
Aku menjawab tanpa ekspresi:
“Ya.”
“Kalau begitu kita bisa tetap bersama.”
Aku menatapnya lama.
Tapi kata “putus” yang sudah lama kupikirkan… tidak pernah keluar.
Karena aku terlalu takut kehilangan.
Di jalan pulang, kami berpisah di dua tikungan berbeda.
Aku tahu dia tidak ingin bersamaku di universitas yang sama.
Dan aku akhirnya mengerti—
hubungan ini sejak awal sudah tidak benar.
Dan untuk pertama kalinya,
aku memutuskan:
aku akan melepaskan semuanya… tanpa drama, tanpa permintaan maaf.

Malam sebelum konfirmasi pendaftaran kampus, hujan turun sangat deras di Manila.
Aku duduk di meja belajar, menatap layar sistem pendaftaran UP (University of the Philippines) yang masih terbuka.
Hanya satu klik lagi.
Semua bisa kembali ke “rencana” yang dulu selalu disebut Liam.
Tapi kali ini, tanganku tidak lagi gemetar.
Ponselku bergetar.
Liam.
Pesannya singkat:
“Besok kita ketemu di UP ya.”
Aku menatap pesan itu lama sekali.
Lalu… tidak membalas.
Sekilas, bayangan 1.096 halaman diary itu kembali muncul di kepalaku.
Bukan tentang janji.
Bukan tentang cinta.
Tapi tentang fakta sederhana—
aku selalu berada di bagian yang tidak penting.
Aku mematikan layar.
Lalu membuka tab baru.
DLSU (De La Salle University).
Tidak ada suara.
Tidak ada keraguan.
Hanya satu klik kecil.
“Konfirmasi pendaftaran.”
Pagi harinya.
Liam berdiri di gerbang UP, menggenggam ponselnya, matanya mencari di antara kerumunan mahasiswa baru.
Ia menelepon.
Sekali.
Dua kali.
Tidak ada jawaban.
Lalu ia melihat notifikasi di sistem:
Janine: Telah mengonfirmasi pendaftaran – DLSU
Ponselnya jatuh ke tanah.
Tidak pecah.
Tapi suara benturannya terdengar sangat lama.
Di tempat lain, aku berdiri di gerbang DLSU, mengenakan seragam mahasiswa baru, memegang kartu mahasiswa yang masih baru dan dingin.
Bea mengirim pesan:
“Kamu benar-benar pilih beda kampus dari Liam?”
Aku menjawab:
“Iya.”
Sesaat kemudian aku menambahkan:
“Kali ini, aku memilih diriku sendiri.”
Angin pagi menyapu kampus, membawa aroma rumput baru dipotong dan suara tawa mahasiswa.
Tidak ada lagi diary.
Tidak ada lagi perbandingan.
Tidak ada lagi “seandainya”.
Yang tersisa hanya satu hal:
Seseorang yang dulu selalu menunggu di dunia orang lain… akhirnya berjalan keluar dari sana.
Dan untuk pertama kalinya,
aku bukan lagi “opsi cadangan” siapa pun.
Tapi pilihan utama untuk diriku sendiri.