Selama dua tahun, aku rela bangun jam 5 pagi dan tidur jam 12 malam, hanya demi mempertahankan tahta sebagai peringkat 1 seluruh angkatan.
Hanya demi satu kalimat itu——
“Cassy God memang beda!”
Di luar, aku terlihat dingin dan tidak peduli. Tapi di dalam hati… aku benar-benar menikmati semuanya.
Aku sangat menikmatinya!
Sampai masuk Grade 12, si bad boy sekolah—Ethan, siswa yang selalu ranking paling bawah—tiba-tiba melesat ke posisi teratas.
Setiap hari dia hanya tidur di meja, atau main Mobile Legends saat istirahat.
Tapi anehnya, setiap ujian, nilainya selalu tepat 10 poin lebih tinggi dariku.
Para guru memujinya:
“Anak laki-laki kalau serius memang beda. Ethan sebenarnya pintar, cuma malas saja.”
Para teman sekelas juga heboh:
“Dibanding perjuangan Cassy, Ethan itu benar-benar ‘dewa’!”
Di dalam hati, aku hampir meledak karena iri.
1
Hari itu, aku masih mimisan karena belajar terlalu keras.
Tiba-tiba grup chat kelas berbunyi.
Guru mengirimkan ranking ujian terbaru.
Aku membuka dengan cepat.
Peringkat 2 lagi.
Dan Ethan… lagi-lagi tepat 10 poin di atasku.
Grup langsung heboh:
“Ethan God keren banget!!!”
“Kasih tips dong!”
Ethan malah mengirim screenshot game:
“Rahasia aku? Main game terus biar otak aktif 😎”
Aku hampir melempar HP-ku.
2
Guru mengirim pesan:
“Tidur yang cukup ya anak-anak. Jangan tiru Ethan kalau tidak punya bakat alami.”
Grup jadi sepi.
Tapi di mataku muncul komentar aneh:
【Male lead selalu +10 poin dari female lead. Ini cheat system!】
【Female lead cuma batu loncatan!】
Aku mengepalkan tangan.
“Jadi aku cuma alat?”
3
Di ujian bahasa Inggris, aku sengaja menjawab asal untuk menguji sesuatu.
Hasilnya keluar.
Aku 60 poin.
Ethan… 70 poin. Tepat +10 lagi.
Guru menghela napas:
“Ethan pintar, tapi jangan main-main dengan ujian.”
Ethan tersenyum santai:
“Aku ketiduran tadi.”
Aku menggertakkan gigi.
4
Aku sadar sesuatu.
Jika aku ingin mengalahkannya, aku butuh bantuan seseorang yang benar-benar “monster akademik”.
Josh Mendoza.
Usia sama denganku, tapi sudah diterima di University of the Philippines (UP) tanpa usaha.
Skor nasional: 741 poin. Peringkat 1 Filipina.
Percakapan Video Call (dalam Peso Filipina context)
Aku menatapnya di layar.
Dia baru selesai mandi, rambut masih basah.
“Josh… aku mau jadi ranking 1 nasional.”
Dia mengernyit:
“Bukannya kamu sudah selalu ranking 1?”
Aku terdiam.
LANJUTAN CERITA – PENUTUP (ENDING BARU)
Josh mengirim semua nilai dan hasil ujianku ke layar laptopnya.
Dia berkata pelan:
“Masalahmu bukan kurang pintar.”
“Tapi kamu terlalu fokus membuktikan diri pada orang yang tidak perlu kamu kalahkan.”
Aku terdiam.
Di luar jendela, hujan turun di Manila.
Nilai di kepalaku bukan lagi soal Ethan (10 poin selisih), bukan lagi soal ranking.
Tapi tentang satu hal:
Apakah aku benar-benar ingin hidup sebagai “peringkat”, atau sebagai diriku sendiri?
Aku menutup laptop.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun…
Aku tersenyum tanpa memikirkan ranking.

Hari itu, aku tidak langsung menjawab Josh.
Di layar laptop, data nilainya masih terbuka: 741 poin — peringkat 1 nasional Filipina.
Orang seperti dia… terlalu jauh untuk dijadikan “alat bantu belajar”.
Aku menutup laptop perlahan.
“Josh,” kataku akhirnya, “kalau aku bilang aku ingin mengalahkan Ethan… itu bukan cuma soal 10 poin lagi.”
Dia diam, menunggu.
Aku menarik napas.
“Ini soal aku tidak mau lagi hidup sebagai orang yang selalu dibandingkan.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Josh tertawa kecil, pelan.
“Kalau begitu, kamu sudah mulai paham sesuatu yang lebih penting dari nilai 741.”
100 HARI MENUJU EXAM NASIONAL
Aku menghilang dari semua kebisingan sekolah.
Tidak lagi peduli ranking.
Tidak lagi membuka grup chat yang dipenuhi pujian untuk “Ethan God”.
Setiap malam, aku belajar bukan untuk mengejar 10 poin itu…
tapi untuk mengejar diriku sendiri yang dulu hilang.
HARI UJIAN
Gedung ujian nasional di Manila dipenuhi ribuan siswa.
Uang beasiswa pemerintah: ₱150,000 untuk top scholar, terpampang di papan pengumuman.
Semua orang tegang.
Ethan duduk di barisan depan.
Dia tidak menoleh ke siapa pun.
Tapi untuk pertama kalinya… dia tidak tersenyum santai seperti biasanya.
SETELAH UJIAN
Grup sekolah kembali ramai.
Pengumuman skor keluar.
Tiba-tiba, chat berhenti total.
Nama pertama yang muncul di layar papan digital:
CASSY GOD — 742 POIN
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu seluruh ruang meledak.
“APA?! DIA NAIK 20+ POIN?!”
“ETHAN KALAH?!”
“ITU NGGAK MUNGKIN!!”
Ethan berdiri di tempatnya.
Untuk pertama kalinya, dia tidak berkata apa-apa.
Aku berjalan melewatinya.
Langkahku pelan.
Tidak ada senyum kemenangan.
Tidak ada ejekan.
Hanya tenang.
Saat melewatinya, aku berkata pelan:
“Dulu aku pikir aku harus menang darimu.”
Aku berhenti sebentar.
“Ternyata aku cuma harus berhenti mengejarmu.”
EPILOG
Beasiswa ₱150,000 itu masuk ke rekeningku.
Aku tidak menggunakannya untuk pamer.
Aku pakai untuk masuk program riset medis di UP, bersama Josh.
Di kampus itu, tidak ada lagi “Ethan God”.
Tidak ada lagi sistem aneh yang menentukan siapa lebih tinggi 10 poin.
Yang ada hanya satu hal:
orang-orang yang benar-benar belajar untuk masa depan mereka sendiri.
Dan Ethan?
Dia tidak mengejar siapa pun lagi.
Karena untuk pertama kalinya…
dia sadar bahwa menjadi “lebih tinggi 10 poin” bukanlah kemenangan yang sebenarnya.